
Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar, menjalani peran sebagai orang tua seorang diri. Nathan telah melewati takdirnya dengan lapang dada, menerima semua yang sudah digariskan untuknya.
Walau dalam hati ia begitu menyukai Michelle dan keberadaannya, tapi sejujurnya ia tak pernah memikirkan soal pernikahan sama sekali, sebelum hari itu, di malam tepat di tanggal kelahirannya, saat putrinya Angel mendesak agar ia segera menikahi wanita itu.
Tentu pikirannya bercabang sedemikian rumit, memikirkan semua dalam satu waktu. Ia hanya khawatir tak mampu menjaga Angel dengan baik lagi jika pada akhirnya ia memiliki istri.
Ia sudah berjanji, terutama pada Dara untuk menjaga putri mereka sebaik mungkin sebagai ganti atas kelalaiannya dulu. Meski di menit terakhir, ia memutuskan demi menggenapkan keinginan Angel agar dirinya melamar Michelle.
Dan sekarang beginilah yang terjadi, lamaran malam itu justru malah merenggangkan hubungannya dengan wanita yang disukainya. Sudah satu bulan lamanya, sejak peristiwa penolakan itu, Michelle tak pernah lagi berkabar dengannya.
Beberapa kali Nathan mengirim pesan, namun ia tak pernah menjawabnya. Pun dengan panggilan telepon yang terakhir justru di tolak setelah berdering beberapa kali. Membuat pria itu kian menyesali keputusannya.
Berlaku juga ketika ia datang berkunjung kerumahnya. Michelle tak pernah nampak di sana, entah memang tidak ada, atau tak sudi membukakan pintu dan bertemu dengannya.
"Thank you, come again.." Ucap Nathan pada pelanggan tokonya. Siang ini, ia baru saja kedatangan dua orang remaja laki-laki yang membeli sebuah gitar akustik di sana.
Senyum ramah yang barusan merekah sempurna lambat laun berubah jadi sebuah kemurungan. Nathan termenung sembari menyangga kedua tangan di atas etalase dengan kedua matanya yang entah sedang menatap apa.
Sampai hari ini, dia masih tak menyangka bahwa akan merasakan patah hati karena sebuah penolakan yang justru begitu ironi mengingat bahwa ini adalah kali pertamanya. Ia tak pernah ditolak wanita manapun sebab dulu, di masa kejayaannya, ia mengalami kisah cinta yang terbilang mulus.
Yang mana dengan mudahnya ia menjalin hubungan bersama Monica yang ditaksirnya, juga mendapat istri secantik dan sebaik Dara. Seolah ia mendapat privilege dari Tuhan agar tak perlu bersusah payah mendapatkan pasangan.
Namun Michelle, lebih parah lagi. Dia justru menggantungnya tanpa kepastian.
Nathan berpikir untuk menyudahi ini semua, agar ia tak perlu lagi merasa serba salah, tak bersemangat dan larut dalam kegundahan. Maka begitu sore hari datang, ia segera tancap gas menuju rumah Michelle setelah sebelumnya menitipkan toko pada salah satu anak buahnya. Sambil berharap dalam hati wanita itu sudi menemuinya walau hanya sebentar.
Ia berkendara dengan penuh keyakinan, mengarahkan setir menelusuri jalan yang lumayan padat. Tak lupa ia juga menyiapkan hati jika ternyata Michelle benar-benar menolak tanpa memberinya kesempatan.
Tidak lama dari itu, antara setengah dan sepenuhnya sadar, Nathan telah sampai tepat di depan rumah Michelle, meski belum memarkir mobilnya di halaman. Ia masih berada di belakang setir di dalam mobil yang masih berada di atas aspal. Sementara kedua matanya menangkap pemandangan yang menyita perhatiannya.
Nampak Michelle yang berdiri di teras rumahnya bersama seorang pria bule. Tidak jelas terlihat bagaimana wajahnya, tapi yang pasti, dia jauh lebih muda darinya, mungkin sepantar dengan Michelle dan sepertinya dia adalah orang yang dekat dengan Michelle jika dilihat dari keakraban yang terlihat jelas di antara keduanya.
Binar-binar dari raut wajah Michelle saat ia memandang pria itu sungguh membuat hatinya berdenyut nyeri. Apalagi ketika menyadari senyum tulus dan lesung pipi mempesona itu dia hadiahkan untuk lawan bicara yang sudah jelas menunjukkan ketertarikan padanya.
Nathan menyaksikan itu semua, dari dalam mobil. Tanpa Michelle sadari.
Sekarang sudah jelas mengapa wanita itu menggantung kepastiannya, Nathan mengambil kesimpulan bahwa karena ia sudah memiliki pria lain selain dirinya. Bahkan kini, mereka berdua terlihat pergi bersama. Michelle menaiki mobil milik pria itu yang terparkir di halaman rumahnya.
Entah kemana tujuannya, Nathan tak lagi peduli.
"Sudah ku bilang Nathan! Nggak usah terlalu berharap! Meski dia adalah reinkarnasi Dara sekalipun, dia sudah punya kehidupannya sendiri! Melanjutkan kisah cintanya dengan yang lain!," Umpat Nathan pada dirinya sendiri. Jemarinya menggenggam dengan kuat batang setir mobil seraya berusaha meredam emosi.
"Inilah saatnya, aku harus benar-benar belajar merelakan bahwa Dara memang telah pergi dari kehidupanku. Dan meninggalkan sebagian dari dirinya dalam sosok Angie, putriku," Ungkapnya.
...***...
Malam telah larut, Nathan yang masih diliputi perasaan kecewa (pada dirinya sendiri) menghampiri Angel yang tentu saja sudah tertidur dengan lelap di kamarnya. Ia membuka perlahan pintu kamar putrinya, dan mendapati wajah Angel yang begitu damai di buai mimpi dengan setengah tubuhnya yang dibalut selimut hangat.
Dengan langkah hati-hati Nathan berjalan mendekat pada gadis itu. Kemudian duduk di pinggir ranjang tepat di samping Angel. Sorot matanya melembut, sembari tangannya membelai penuh kasih sayang puncak kepala putrinya.
Ada perasaan bersalah yang kembali merundungnya, apalagi ketika menyadari ia gagal menuruti keinginan Angel.
"Nngghh.." Nathan sedikit terperanjat saat tiba-tiba merasakan Angel menggeliat. Gadis itu sepertinya menyadari bahwa ada seseorang yang menyentuh kepalanya.
Angel membuka mata sambil sedikit menengadahkan kepala. "Dad?," Panggilnya pelan.
"Hei sweet heart. Maaf ya bikin Angie kaget," Ucap Nathan lembut.
"It doesn't matter," Sahutnya. Angel bangkit mendudukkan diri sambil menyandarkan punggung nya ke dipan. "Daddy kenapa?,"
Nathan menggeleng sambil tersenyum manis, "That's okay baby,"
"Apa soal Michelle?," Tebakan Angel sungguh tepat sasaran, dan seketika mampu membungkam Nathan.
"Dad?," Panggil Angel setelah sekian detik ayahnya membisu.
"Ya?"
"Tebakan ku benar kan?"
Nathan mengangguk ragu. "Angie, daddy sudah berusaha. Tapi Angie lihat sendiri bagaimana hasilnya. Jadi menurut daddy sudah cukup ya? Biarkan Michelle bahagia dengan pilihannya."
Sorot mata gadis itu melemah. Ia kurang sependapat dengan Nathan, dan merasa jika Michelle benar-benar sosok yang ditakdirkan Tuhan untuk mengisi kekosongan hati ayahnya.
"Seperti yang pernah daddy bilang, Angie jangan khawatir, meski tidak menikah lagi, daddy nggak akan kesepian. Kalaupun nanti Angie ingin merantau ke kota lain, atau mungkin Angie punya rencana untuk kembali ke Indonesia, daddy juga nggak keberatan sama sekali nak,"
Gadis itu termenung, sebentar. Sambil menatap wajah ayahnya. "Thanks dad, karena sudah berusaha," Ada banyak kata yang ingin ia ucapkan, namun lidahnya terasa enggan mengeluarkan semuanya.
Apalagi saat memandang wajah Nathan yang begitu tulus. Laki-laki pertama yang dikenalnya (walau yang pertama kali dilihatnya adalah Keenan saat berada di kamar operasi), laki-laki yang mencintainya tanpa syarat, laki-laki yang rela menyerahkan seluruh hidup untuknya.
Dalam hati ia bersyukur memiliki ayah sehebat Nathan. Tak ada lagi yang ia cintai sebegitu banyak selain dirinya, Angel paham dengan suasana hati ayahnya bahkan ketika ia hanya mengamati tatapan dan bahasa tubuhnya.
Dia tahu, ayahnya sedang patah hati.