An Angel From Her

An Angel From Her
39# Rasa Yang Tak Berharga



Niat Nathan untuk menemukan kembali cintanya yang tengah tersesat begitu menggebu. Ia tak sedikitpun memikirkan dirinya sendiri, begitu juga dengan sang istri yang saat ini justru sedang sibuk berusaha menjadi pasangan yang bisa dicintainya.


Pria itu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, sembari meraba jalan menuju villa. Dia sedikit melupakan arahnya, karena saat menuju kesana, Monica lah yang mengambil kendali. Pun saat ia meninggalkan tempat itu, perasaan khawatir tentang keadaan ibunya membuat ia hanya mampu melangkahkan kaki tanpa sempat menghafal tiap kelok yang di lewati.


Yang dapat diingatnya hanya kawasan sepi, dan di samping kanan kiri terdapat hutan-hutan dengan pohon yang menjulang tinggi. Kini, ia telah menjamah kawasan tersebut. Tugasnya sekarang tinggal memaksa otaknya untuk dapat bekerja keras mengingat tikungan mana saja yang mesti di ambilnya.


Hari mulai gelap, ia memperhatikan keadaan di sekitar. Atmosfer disana terasa seperti sedang berada di pulau terpencil, sepi, gelap, tak ada penerangan di jalan. Dia sudah setengah jalan, tak mungkin kembali dengan sia-sia hanya karena suasana seperti ini.


Nathan hanya perlu percaya pada dirinya sendiri, pada ingatan dan keyakinannya. Dengan yakin ia terus menjalankan mobilnya melewati jalan itu, hingga tak berapa lama kemudian akhirnya ia sampai di depan gerbang villa. Begitu lega terasa di hatinya. Mungkin saja Monica dapat kembali ke pelukannya. Ia begitu yakin wanita itu ada disana.


Langit menampakkan siluetnya, pergantian dari sore ke malam hari. Namun nampak pula awan mendung yang sedari siang tadi masih enggan menumpahkan bebannya. Angin yang berhembus terasa dingin, di lokasi villa yang jaraknya tak jauh dengan laut itu.


Nathan turun dari mobil, sembari menutup pintunya dengan keras. Ia mendorong gerbang yang cukup tinggi itu, namun percuma saja. Gerbang itu di kunci. Hanya ada satu jalan yang bisa dia lewati. Melompat lewat pagar yang sama tingginya dengan gerbang.


Yang ada di bayangannya sekarang hanyalah Monica, membuat semangatnya kian membara. Ia tak peduli meski harus menyebrangi gunung dan menyelami laut, asalkan bisa bertemu dia yang dicintai semua akan terasa mudah dan mampu dilewatinya.


"Huh.. Huh.." Nafasnya terengah-engah seiring dengan berhasil dilewatinya pagar yang menjulang tinggi tersebut. Kini ia telah masuk ke dalam villa, selangkah lagi menuju bagian dalam rumah.


Ia setengah berlari mencapai teras. Semua lampu tampak menyala, namun terlihat sepi. Nathan menggapai handle pintu dan berusaha membukanya, lagi-lagi ia harus berhadapan dengan pintu yang terkunci. Sampai di titik ini, ia mulai ragu soal keberadaan Monica disana. Di depan gerbang pun tak ada satupun penjaga seperti tempo hari.


"Monica.. Mon ini aku, Nathan. Apa kamu ada di dalam?" Ucap Nathan sambil mengetuk pintu.


"Sayang.. Tolong jawab jika kamu ada disini. Aku datang untukmu"


Sekeras apapun Nathan berteriak, nyatanya tak ada yang menyahut ataupun keluar dari sana. Tapi bukan Nathan namanya kalau langsung menyerah begitu saja. Ia mengingat saat kali pertama datang ke tempat ini, sempat dirinya menaruh perhatian pada Monica yang merogoh salah satu pot tanaman besar yang terpajang di sisi kiri dan kanan pintu masuk. Disana ia mendapatkan kunci.


Nathan mencoba melakukan hal yang sama. Ia mencari kunci di pot tersebut, sesuai dengan yang waktu itu. Dan voila! Kunci pintu untuk masuk ke dalam memang tersimpan disana.


"Kalau dia di dalam, nggak mungkin bisa ada kuncinya disini. Apa dia juga nggak ada disini ya?" Gumamnya bagai bicara pada diri sendiri.


Ia menimbang lagi tentang apa yang akan dilakukannya sekarang. Masuk ke dalam, atau kembali dan pulang dengan rasa penasaran karena tidak mengecek kondisi yang ada di dalam terlebih dahulu.


Meski kelihatannya villa itu memang kosong, namun pada akhirnya Nathan tetap maju, membuka pintu dengan kunci dalam genggamannya dan menghambur ke dalam. Ia memeriksa seluruh ruangan disana, barangkali ada jejak petunjuk yang dapat di temukannya.


Nathan sampai pada kamar utama yang sempat di tempatinya bersama Monica beberapa waktu lalu. Memori tentang hari itu kembali terngiang, membuat rasa kehilangan dalam hatinya semakin menyesakkan. Ia duduk dengan gontai di atas ranjang yang sprei nya tertata sangat rapi.


Jika dilihat dari kondisi di dalam, sepertinya memang tak ada jejak aktifitas apapun. Semua masih tertata rapi di tempatnya masing-masing. Tak ada ranjang berantakan bekas pakai, tak ada serpihan atau remahan bekas makanan yang berserakan di sekeliling ruang makan.


Pria itu mulai putus asa, berlama-lama berada disana semakin membuatnya merindukan sosok Monica. Tentu hal ini sungguh menyiksa. Ia memutuskan untuk keluar dari sana, kembali mengunci pintu dan mengembalikan kuncinya ke tempatnya semula.


Kakinya melangkah dengan lemah, perlahan meninggalkan villa tersebut. Rintik hujan mulai turun setetes demi setetes, mengenai kepala Nathan yang tengah berjalan menuju pintu gerbang. Ia menengadah, melihat tetesan air hujan yang turun kian deras hanya dalam hitungan detik.


Air hujan itu mengalir deras di wajahnya, turun bersamaan dengan air mata yang tiba-tiba saja keluar dari pelupuk matanya tanpa izin. Perasaannya begitu kalut, hingga tak mampu lagi menahan semua gejolak dalam dirinya. Emosi negatif yang tentu memang lebih baik di keluarkan meski harus beriringan dengan air mata.


"Aaarrgghhh....." Erang Nathan sekuat tenaga.


Dia terlalu sibuk memikirkan Monica, tanpa menyadari ada seorang wanita yang sedang menunggunya dengan setia meski dia tahu, orang yang diharapkan akan sulit untuk membalas perasaannya. Dari sebuah kamar yang hangat dan nyaman Dara tengah memandangi hujan yang turun begitu deras disertai kilatan petir yang menyambar.


Jendela dengan design yang lebar itu membuatnya dapat melihat jelas betapa derasnya hujan yang membasahi kawasan ibu kota malam ini. Entah bagaimana tiba-tiba saja terlintas Nathan dalam fikirannya. Ia mulai mengkhawatirkan sang suami yang entah berada dimana.


Dara sangat ingin menghubungi Nathan dengan ponselnya, tapi ada satu hal yang menyadarkannya. Dia bahkan tak memiliki nomor suaminya sendiri. Waktu itu Nathan meneleponnya menggunakan ponsel bunda, jadi tak ada riwayat panggilan dari nomor pribadi Nathan.


Hatinya mulai gundah, ia berjalan mendekati jendela dengan niat untuk menutup gordennya. Petir yang terus menyambar terasa cukup mengerikan baginya, tapi tak sama sekali berpengaruh bagi sang suami yang masih membiarkan tubuhnya kedinginan di guyur hujan badai yang semakin deras.


...***...


Setelah cukup lama meratapi rasa kehilangan di bawah guyuran hujan, Nathan akhirnya menyerah untuk hari ini dan memutuskan untuk pulang. Ia mengendarai mobil dengan fikirannya yang tak luput dari Monica. Seluruh tubuh dan pakaiannya sangat basah, tapi dia tak peduli.


Ia juga tak menaruh seluruh konsentrasinya saat menyetir. Biarlah fikirnya, akan lebih bagus jika mobil ini membawanya pada ajal yang mungkin datangnya bisa di percepat. Nathan benar-benar tak ingin hidup tanpa wanita itu.


"Cukup untuk hari ini, besok aku akan meneruskannya. Monica, aku pasti akan mendapatkanmu kembali. Aku takkan membiarkanmu pergi dariku" Gumam Nathan.


Tangannya yang mulai keriput nan bergetar memegang setir dengan asal. Kecepatan laju mobilnya juga tak diturunkan sedikitpun meski jalan yang dilaluinya mulai ramai dengan kendaraan lainnya. Sebenarnya ia sangat kedinginan, tapi semua rasa itu bagai terlupakan.


Tuhan belum mentakdirkannya untuk mati di malam itu, meski sebrutal apapun gaya menyetirnya. Dia sampai di apartment dengan selamat. Air dari pakaiannya yang basah terus menetes mengikuti arahnya berjalan, bagai meninggalkan jejak.


Ia sampai di depan pintu masuk apartment miliknya dan segera menekan tombol password. Tubuhnya semakin menggigil, wajahnya nampak pucat dengan bibirnya yang membiru. Dara yang menyadari pintu apartment dibuka seseorang langsung menaruh perhatian ke arahnya.


Dia sedikit terkejut dengan tampilan Nathan di depannya. Rambut yang acak-acakan, sekujur tubuh basah serta wajah yang pucat.


"Nath.. Kamu kok basah begini? Kamu darimana?" Nada bicara Dara terdengar begitu khawatir. Namun tak ada satupun jawaban dari mulut Nathan.


Pria itu berjalan melewatinya tanpa mengindahkan perasaan sang istri yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.


"Nath.. Kenapa bisa begini? Kamu main hujan-hujanan atau gimana? Apa kamu nggak bawa mobil?"


Nathan acuh. Ia terus melangkahkan kaki menaiki tangga menuju kamar. Sementara Dara mengikuti dari belakangnya.


"Nathan.. Jawab aku please. Aku khawatir banget"


"Diam!" Bentak Nathan.


Dara menghentikan langkahnya, ia tak menyangka akan dibentak oleh orang yang di khawatirkannya sejak tadi.


"Aku begini gara-gara kamu. Jadi tolong jangan sok tulus di depanku. Kamu khawatir pun nggak ada arti apa-apa untukku. Jadi nggak perlu capek-capek melakukannya" Ucap Nathan ketus.


Pria itu meneruskan langkahnya sementara Dara memandanginya dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang kecewa.