An Angel From Her

An Angel From Her
65# Keraguan



Nyatanya, hingga malam hari pun Nathan masih saja terbayang soal Dara. Padahal seharian ini, dia sudah meninggalkan jejak di mana-mana. Cafe, mall, tempat pemotretan dan terakhir restoran Jepang yang tengah disambangi nya bersama Monica. Tapi tak ada satupun dari kegiatannya yang dapat mengalihkan pikirannya dari wanita itu.


Diam-diam wanita seksi yang kini duduk bersebrangan dengan Nathan itu mengamati semua bahasa tubuh sang kekasih. Pria yang di wajahnya masih banyak luka bekas perkelahian semalam itu nampak lebih banyak melamun, sepertinya juga sembari memikirkan sesuatu yang entah apa. Bahkan ketika menemani Monica menjalani sesi pemotretan, Nathan tak sedikitpun menaruh perhatian padanya.


Biasanya, Nathan akan selalu antusias saat melihat proses pemotretan Monica yang juga berprofesi sebagai model tersebut. Pakaian-pakaian mini dan menantang yang dikenakan selalu berhasil memikatnya. Tapi hari ini, pria itu bagai tak punya gairah.


"Nath.." Monica menyentuh punggung tangan Nathan dengan lembut. Menyita langsung perhatian pria itu.


"Ya.. Ada apa sayang?" Nathan menatapnya kosong.


"Apa ada masalah denganmu?"


"Masalah?" Ulang Nathan pada bagian inti.


"Aku perhatikan sedari tadi kamu banyak melamun. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu"


"Aku nggak mikirin apa-apa"


"Nath!" Nada suara Monica meninggi. Membuat pria itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Aku kenal kamu bukan baru kemarin sore ya. Jadi jangan coba-coba bohong denganku" Sorot mata Monica begitu tajam menatap pria di depannya.


"Ya.. Hanya.. Sedikit. Ada.. Sedikit yang kupikirkan, tapi bukan apa-apa kok" Nathan terpaksa berbohong. Tak ingin merusak mood kekasihnya.


"Jujurlah! Aku nggak ingin menghabiskan waktu dengan orang yang bahkan pikirannya sedang tidak ada bersamaku"


"Aku.."


"Kamu mikirin Dara kan?" Potong Monica.


"Kenapa sih, kamu selalu menyebut dia?"


"Aku nggak akan sebut-sebut namanya kalau tingkahmu nggak aneh gini Nath!"


"Iya.. Oke! Aku memang sedikit kepikiran tentang dia. Tapi serius, ini bukan hal yang penting!" Aku Nathan sebelum Monica mencecarnya habis-habisan. Dia tahu, wanita macam Monica pasti akan menguliti nya untuk mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya.


"Aku benar kan.."


"Tolong dengarkan dulu. Kamu jangan salah paham"


Monica tak menjawab. Ia segera menarik tangannya yang hendak di genggam Nathan.


"Honey?" Panggil pria itu mengiba. "Ehm.. Jadi begini" Nathan menghela napas sejenak sebelum memulai kalimatnya.


"Aku sama sekali nggak ingat tentang apapun yang kulakukan tadi malam sesampainya di apartment. Apakah aku langsung tidur, atau sempat berbicara dulu dengan Dara. Itu benar-benar terlupakan. Bahkan sampai sekarang"


Monica mulai tertarik dengan apa yang dibicarakan Nathan. Ia memusatkan kedua bola matanya pada pria itu. Sembari menerka-nerka, adakah pendar kebohongan yang bermain di matanya.


"Dan tadi pagi, aku menemukan keanehan pada Dara. Dia seperti.. Kesakitan"


"Aku hanya takut secara tidak sadar melakukan kekerasan padanya. Menampar nya, atau mungkin memukulnya. Aku nggak ingin menyakiti wanita manapun.." Ungkap Nathan.


"Ya itu lah.." Monica angkat bicara. "Sudah ku bilang agar kalian bercerai" Sambungnya.


"Itu.. Aku.."


"Ya aku tau. Kamu belum kepikiran. Kamu nggak tega. Kamu.."


"Nggak. Bukan!" Potong Nathan. Nampak keseriusan dari raut wajahnya.


"Aku sudah memikirkan ini. Dan aku nggak keberatan dengan saran darimu" Sambungnya.


"Jadi?" Tatapan Monica penuh interogasi.


"Aku akan bercerai dengan Dara"


...***...


Ada banyak pergolakan batin yang meliputi isi hati Nathan seiring dengan dibahasnya soal rencana perceraiannya dengan Dara. Semua telah dirundingkan dan Monica juga menyumpah akan membantunya menghadapi seluruh proses hingga nanti tiba saatnya untuk ketok palu.


Wanita itu amat menggebu, tak sabar ingin merebut kembali posisi yang seharusnya jadi miliknya. Sementara Nathan, sejujurnya ada setitik keraguan di lubuk hatinya yang paling dalam. Dara, adalah amanah dari bunda yang semestinya ia jaga.


Dara adalah jodoh pilihan bunda. Jika bunda sudah memilih untuknya, sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah yang sebaik-baiknya pilihan. Lalu sekarang, dia akan membuangnya, dan menggantikan dengan wanita yang dicintainya. Wanita yang tak sedikitpun mendapat restu dari bunda.


Nathan merasa de ja vu. Perasaan ini sama dengan yang waktu itu. Ketika dia harus cepat membuat keputusan untuk memilih salah satu dari dua pilihan yang sebetulnya kurang layak disebut pilihan. Setelah hidup tenang selama beberapa waktu, ia mengira perasaan ini takkan lagi kembali.


Ternyata lagi-lagi dia harus berhadapan dengan hal yang membuatnya harus mengambil keputusan secepat mungkin. Dia amat mencintai Monica, jika Dara tak segera pergi dari kehidupannya, bukan tidak mungkin Monica akan kembali meninggalkannya. Ia tak ingin itu terjadi.


Sesampainya di apartment, Dara sudah terlelap dibuai mimpi dengan setengah tubuhnya yang di tutupi selimut diatas ranjang. Nathan menghampiri, ia berdiri tepat di sebelah ranjang, sambil menatap dalam-dalam wajah sangat istri yang selalu nampak cantik.


"Apa keputusanku benar? Haruskah ku buang dia dari hidupku? Biar bagaimanapun, dia yang sudah menemaniku satu tahun belakangan ini. Merawatku disaat sakit, dan menyiapkan semua kebutuhanku. Apa aku akan jadi orang yang setega itu demi mempertahankan cinta pertamaku?" Batin Nathan.


"Tapi setidaknya dia akan bisa mendapatkan orang yang mencintainya dengan tulus jika dia berpisah denganku. Dia takkan lagi merasakan tekanan batin akibat perbuatanku. Dan yang terpenting, suami barunya nanti nggak akan rugi. Karena aku belum melakukan 'itu' dengannya"


Nathan menghela napas. Meneguhkan hati dan perasaannya agar semakin mantap dengan keputusan itu. Dia harus berpisah dengan Dara, dan kembali bersama Monica. Meskipun itu bertentangan dengan kehendak bunda. Semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.


Dia adalah lelaki dewasa yang punya pilihan sendiri. Ia sangat yakin bunda pasti akan bisa legowo menerima keputusannya. Ya, semoga.


Dara tidur sangat nyenyak, sampai tak menyadari bahwa suaminya tengah memperhatikan dari jarak yang sangat dekat. Raut wajahnya damai, dengan napasnya yang naik turun teratur. Ia mengenakan piyama bahan satin warna peach, nampak begitu cocok dengan warna kulitnya yang terang.


Segaris senyum tipis tersungging di bibir Nathan tanpa ia sadari. Refleks disaat ia menatap Dara begitu dalam. Sembari menggumam dalam hati membuat pengakuan bahwa Dara mampu jadi istri yang baik, dan itu takkan ia lupakan sampai kapanpun.


Tapi, jika Dara mampu, apakah Monica juga demikian?


Pria itu mengusap kesal wajahnya sendiri. Benci dengan keraguan yang diam-diam tersimpan tanpa izin di dalam hatinya tentang masa depannya bersama Monica. Bagaimana bisa? Dia mengenal Monica lebih dulu daripada Dara. Dia yang paling tahu wanita seperti apa makhluk bernama Monica itu.


Dia cantik, memiliki tubuh yang tinggi dan seksi. Dia juga memiliki perasaan yang tulus untuknya, mau bertumbuh bersamanya selama empat tahun. Kata sempurna sangat pantas disematkan padanya. Lantas keraguan macam apa lagi yang mesti di pikirkan?