
Satu bulan yang melelahkan berhasil dilewati Dara, jika dihitung kini usia kehamilannya memasuki bulan ke dua. Namun saat ini dia memang belum sempat untuk memeriksakan diri lagi ke dokter. Bunda memaksa Nathan untuk mendampingi Dara, tapi pria itu malah makin sibuk dengan kegiatannya.
Sejak mengetahui bahwa menantu kesayangannya tengah berbadan dua, bunda memutuskan untuk lebih banyak pulang ke apartment dan menemaninya di kala Nathan sedang tak ada disana. Seperti hal nya hari ini, Nathan belum juga pulang dari luar kota.
Mengisi acara kesana kesini membuatnya semakin jarang ada di apartment, padahal tentu disaat seperti ini Dara begitu butuh perhatian darinya. Tapi bukan Dara namanya jika tak mau mengerti kondisi Nathan, dia dengan ikhlas menerima suaminya yang bahkan tak pernah meluangkan waktu untuknya sejak awal kehamilan dan mual muntah menyerangnya.
Namun di sisi lain Dara beruntung karena memiliki ibu mertua se-baik bunda yang selalu menghadiahi nya dengan curahan kasih sayang. Juga ibu yang tak pernah melupakan putri sulungnya itu meski jarak memisahkan mereka.
"Iya, bu.." Ucap Dara yang tengah berbincang dengan ibu lewat panggilan telepon. Setelah kabar ini sampai pada ibu tentu ia begitu bahagia. Hampir tiap hari ia menanyakan kabar Dara dan calon cucunya.
Ibu belum sempat menjenguk Dara dikarenakan sedang banyak pesanan catering. Jadi satu-satunya cara agar ia bisa selalu terhubung dengan putrinya adalah melalui telepon.
"Iya, ibu juga sehat-sehat ya.. Jangan terlalu diforsir tenaganya. Kalau nanti ada waktu, Dara pasti akan kesana"
"Makasih ya pak.." Ucap bunda pada seseorang yang membantunya membawa koper besar entah milik siapa. Hal itu menyita perhatian Dara yang baru saja menyelesaikan panggilan telepon nya dengan ibu.
Dara yang sedari tadi tengah duduk di sofa ruang keluarga itu langsung bangkit, berjalan perlahan menghampiri bunda yang masih membereskan beberapa barang di ambang pintu.
"Bunda.." Panggil Dara.
"Hei nak.. Sedang apa?" Sahut bunda dengan tanpa mengalihkan perhatian dari barang-barang di depannya.
"Habis telepon ibu. Dara bantu ya bunda"
"Eits.. Kamu mau ngapain? Jangan nak.. Kamu kan sedang hamil. Biar mbak Asih yang bantu. Dimana dia? Mbaak.." Panggil bunda.
Mbak Asih segera datang dengan langkah terburu-buru mendengar suara melengking dari majikannya. Ia membantu bunda membawa masuk barang-barang itu ke dalam.
"Ini.. Semua barang-barang bunda?"
"Oh, ini.."
"Sudah semua ya bun.." Ucap seseorang yang baru saja datang dan bergabung dengan bunda dan Dara. Suara berat dari seorang pria itu terdengar masih asing di telinganya.
"Iya nak.." Jawab bunda.
Dara menatap pria di hadapannya dengan sebuah pertanyaan di kepalanya. Siapa dia? Pria matang yang tampan, rapi dan tubuhnya tinggi sebelas duabelas dengan Nathan. Dia juga memiliki wajah blasteran, tapi memiliki perpaduan wajah mirip bunda dan Nathan.
"Nah.. Dara, ini Keenan. Anak sulung bunda. Kakaknya Nathan" Ucap bunda memperkenalkan Dara pada Keenan. Sekaligus secara tak langsung menjawab pertanyaannya.
"Ya ampun. Maaf, Dara pikir siapa. Kenalin kak.. Aku Dara" Ujar Dara seraya menjulurkan tangannya pada Keenan.
Pria itu memandangi Dara tanpa berkedip bak jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia bahkan belum menyadari Dara yang memberi isyarat jabat tangan padanya. Keenan hanya terlalu mengagumi makhluk cantik di depan mata yang sialnya takdir justru memilihnya untuk menjadi adik iparnya.
"Keenan?" Panggil bunda, membuyarkan lamunan Keenan seketika.
"Uhm? Oh.. Iya.. Sorry, sorry.. Aku Keenan. Salam kenal ya Dara. Maaf waktu kalian menikah aku nggak sempat datang. Jadi baru kenal kamu sekarang" Ucap Keenan salah tingkah.
"Nggak apa-apa kak.. Mari kak, silahkan masuk"
"Iya.." Keenan menggaruk-garuk kepalanya berusaha mengusir rasa groginya usai menyentuh telapak tangan Dara yang terasa lembut. Ia mengikuti instruksi Dara yang mempersilahkannya duduk di sofa.
"Mbak Asih, kopernya biar disitu dulu saja. Tolong buatkan minum dulu ya" Ucap bunda pada mbak Asih yang masih sibuk dengan barang-barang milik Keenan.
"Baik bu"
"Nak, apa Nathan belum pulang?" Tanya bunda pada Dara usai menempatkan diri duduk di sebelah Keenan.
"Belum bunda" Jawab Dara.
"Kemana Nathan bun?" Keenan menimbrung.
"Ah.. Itu anak memang ada saja kegiatannya. Bunda juga nggak paham dia bilang mau ke kota mana kemarin itu. Istri lagi hamil kok ditinggal-tinggal begitu. Entah kemana arah pikirannya" Ucap bunda jengkel.
"Hamil?" Nada bicara Keenan terdengar kaget pada bagian 'hamil' dari kalimat bunda barusan.
"Bunda belum cerita ya?" Ucap bunda. "Sampai lupa. Keenan, Dara ini sedang hamil. Sebentar lagi kamu akan punya keponakan! Haduuh.. Nggak sabar bunda ini"
Namun cepat-cepat bunda menariknya kembali. Tak mungkin, Keenan pasti hanya menyukai Dara karena paras dan kepribadiannya saja. Pria matang yang cerdas seperti Keenan pasti akan lebih bijaksana perilakunya.
"Kamu apa nggak kepingin juga Nan? Setiap hari menangani anak-anak, apa nggak terbesit keinginan untuk memiliki anak sendiri?"
Mbak Asih datang membawakan minuman untuk Keenan dan bunda, memotong pembicaraan bunda yang mulai mengarah pada hal yang sama sekali tak ingin dibahas Keenan. Pria itu adalah korban patah hati yang hingga saat ini masih enggan membicarakan soal lawan jenis.
Meski sederet wanita dengan beragam karakter seringkali datang silih berganti dalam hidupnya, tapi belum ada satupun yang mampu menawan hatinya. Tapi anehnya, saat bertemu dengan Dara, perasaannya yang dingin dan hampir mati itu seakan mulai bangkit perlahan.
"Belum terpikir bun" Sahut Keenan singkat.
"Jawaban kamu selalu begitu.."
"Uhm.. Kak Keenan ini dokter ya?" Ucap Dara memulai obrolan. Suara lembutnya entah mengapa terdengar begitu menenangkan Keenan. Bagai candu, pria itu ingin terus menerus mendengar suaranya.
"Iya, Dara. Kakak dokter spesialis yang menangani masalah kesehatan anak-anak"
"Wow.. Kakak hebat sekali" Sanjung Dara, yang sukses membuat Keenan tersipu. Wajahnya mendadak merah hanya karena seorang wanita mengagumi profesinya.
"Permohonan untuk pindah praktek dari Jerman ke Indonesia baru saja disetujui, kebetulan dia akan praktek dirumah sakit dekat sini. Bunda sangat senang dengar kabar baik ini. Sekarang kita bisa berkumpul bersama lagi" Ucap bunda sembari mengusap lembut lengan sebelah kanan putra sulungnya.
Dara terus menatap kagum sosok Keenan yang dimatanya begitu hebat. Salah satu cita-citanya adalah menjadi seorang dokter, dan ternyata dia memiliki kakak ipar dengan profesi impiannya tersebut. Namun Dara hanya memandang Keenan tanpa ada perasaan yang lain. Berbeda dengan sang ipar.
"Aku nggak nyangka, bisa punya kakak laki-laki hebat seperti kak Keenan"
"Biasa saja, Dara.." Ujar Keenan makin grogi.
Bunda, Dara dan Keenan yang kian larut dalam perasaan anehnya melanjutkan obrolan hangat mereka. Nampak jelas sekali bunda begitu bahagia dengan kedatangan putra sulungnya yang sudah bertahun-tahun tinggal berjauhan darinya.
Tak lama berselang Nathan tiba di apartment, masuk dengan menyeret kopernya, serta tas gitar yang ia letakkan di bagian atas koper. Dari kejauhan dia mendapati Keenan dengan tatapan lain yang ditujukan pada Dara. Nathan adalah pria sejati yang sudah pasti paham dengan isyarat mata seorang lelaki pada wanita yang menjadi lawan bicaranya.
Mereka terlalu hanyut dalam obrolan yang nampaknya sangat seru hingga tak menyadari Nathan datang menghampiri. Entah kenapa saat melihat Keenan menatap Dara dengan tatapan seperti itu membuatnya sangat risih.
"Wah.. Ada tamu nih.." Ucap Nathan yang langsung ikut bergabung dengan keluarganya. Ia menempatkan diri duduk di samping Dara.
"Nathan.. Kamu sudah pulang? Kapan masuk? Kok kita nggak dengar ya" Kata Dara dengan matanya yang berbinar. Dia nampak senang suaminya telah kembali pulang.
"Baru saja" Jawabnya sambil melemparkan sorot matanya pada Keenan. Ia melakukannya agar pria itu berhenti menatap Dara.
"Ada acara apa nih kumpul-kumpul? Aku telat ya"
"Nak.. Ini ada kakakmu lho. Kok tidak disapa? Kalian kan sudah lama tidak bertemu"
Nathan menatap Keenan sinis. Dia lupa kapan terakhir kali akrab dengan sang kakak, karena memang sudah sangat lama sekali Nathan menjauhkan diri dari Keenan yang selalu jadi bahan kebanggaan bunda. Dia yang selalu mendapat pujian dan dibanggakan bunda, didukung apapun yang menjadi minatnya. Bahkan dia juga sempat merasakan kasih sayang dari papa yang tak pernah didapatnya.
Nathan merasa semuanya tidak adil. Mengingat bagaimana bunda selalu menentang hal apapun yang dilakukannya.
"Hai Nath.. Gimana kabarmu? Sepertinya makin sukses ya" Ucap Keenan ramah.
"Ya.. Seperti yang kak Keenan lihat. Namaku makin terkenal, aku makin sukses.." Sahut Nathan.
"Oh iya, belum dijawab nih.. Lagi pada ngobrolin apa sih?" Nathan menyambar cangkir berisi teh yang awalnya di suguhkan untuk Keenan dan langsung menyeruputnya sampai habis.
"Nath.. Itu punya kakakmu. Kan bisa minta dibuatkan sama mbak Asih" Protes bunda.
"Sorry, haus banget. Lagipula minuman nya masih utuh. Yang disuguhin kebanyakan bengong" Sindir Nathan sambil melirik ke arah Keenan yang salah tingkah.
Bunda menggelengkan kepala atas kelakuan Nathan yang kekanakan.
"Yasudah, karena kamu sudah disini. Ada yang mau bunda bicarakan kepada kamu dan juga Dara, mengenai kakakmu yang sudah pindah tugas ke Indonesia. Dia akan praktek dan tinggal di Jakarta" Ucap bunda memulai percakapan. Sementara Nathan menyimak.
"Karena rumah Keenan masih dalam tahap pembangunan, tentu belum bisa ditempati. Jadi untuk sementara waktu, hanya sampai rumahnya rampung. Keenan bunda minta untuk tinggal disini. Bersama kalian. Dia bisa menempati kamar tamu yang biasa bunda tempati"
"Apa?! Tinggal disini?!" Ucap Nathan dengan suara lantang.