An Angel From Her

An Angel From Her
84# Ingin Menyentuhnya



Di sepanjang perjalanan pulang Dara tak banyak bicara. Dia mengunci rapat-rapat lisannya yang mendadak mengalami kemunduran berbahasa. Pertemuan pertama secara face to face dengan Monica, sedikit mengganggu pikirannya. Ada rasa nyeri di dada dan insecure yang datang bersamaan, menoreh luka baru untuknya.


Dara duduk bersebelahan dengan Nathan di kabin kedua, sementara bunda di depan bersama pak Eko sopir pribadinya. Suasana di dalam mobil terasa tidak ramah, masing-masing dari mereka tenggelam dalam lamunan. Kecuali pak Eko yang harus menaruh perhatian penuh pada jalanan.


Sesekali Nathan melirik Dara yang tampak asyik memandangi pemandangan diluar. Dia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah istrinya saat ini. Yang jelas, Dara pasti tengah mengalami pergolakan batin atas pertemuannya dengan Monica tadi.


Nathan mengutuki dirinya sendiri atas semua yang terjadi, secara ajaib hatinya ikut merasakan sakit yang entah bagaimana datangnya. Mungkin berempati dengan perasaan Dara, atau kesal atas perkataan kejam bunda pada Monica.


.


.


.


"Nath, tunggu sebentar!" Panggil bunda pada Nathan yang hendak naik ke lantai dua sesampainya mereka di apartment. Pria itu menghentikan langkah.


"Kemana sih, perginya hati nurani kamu? Bisa-bisanya sampai sekarang masih berhubungan dengan Monica. Apa kamu nggak mikirin perasaannya Dara?" Intonasi bunda terdengar tegas dan serius. Wajahnya juga mengisyaratkan demikian.


Nathan tak mampu menjawab, membalas tatapan bunda saja tak sampai. Bunda berhasil menyihir nya jadi batu.


"Bunda pikir, setelah waktu itu dia datang kesini dan bunda tegaskan bahwa Dara sedang hamil anak kamu, wanita itu akan menyerah dan pergi dari hidupmu. Tapi ternyata, dia masih saja nekat"


Kalimat bunda mengagetkannya. "Apa?! Jadi.. Sebelum tadi, Monica sudah tau kalau Dara lagi hamil?"


"Dia perlu tau Nath!"


Nathan mendengus dan memikirkan bagaimana perasaan Monica waktu itu. Namun, kenapa dia tidak meminta validasi apapun darinya? Jika dia sudah tahu, apakah hal itu tak menyakitinya? Oh, ini sungguh rumit. Hubungan asmaranya, hidupnya, semua yang di takdirkan untuknya terasa menyesakkan.


"Minta maaflah pada Dara, kamu sudah mengkhianati nya. Dan sekarang dia sudah mengetahui fakta yang ada. Mengakulah bahwa kamu bersalah, biar bagaimana pun dia istrimu. Kalau saja bunda tau kamu akan jadi suami se jahat ini, bunda tidak akan jodohkan Dara denganmu. Lebih baik dia menikah dengan laki-laki yang bisa menghargainya" Tukas bunda.


Usai menumpahkan semua gejolak di hati pada putra bungsunya, bunda segera melenggang pergi menjauh dari Nathan yang merasa tertampar. Menyadari betapa semua yang keluar dari mulut bunda adalah kebenaran. Sedikit menyesali atas perilakunya pada Dara selama ini.


Wanita bertubuh mungil itu memiliki hati yang besar, mengingat dia bahkan mampu bertahan hingga satu tahun lamanya menghadapi sikap buruknya. Mungkin jika bukan Dara, sekarang ia sudah menyandang gelar sebagai duda menyedihkan.


Nathan mengusap gusar wajahnya yang terasa kasar, bulu-bulu janggut sudah memenuhi area dagunya. Dia lupa kapan terakhir kali bercukur, agaknya raut wajah blasteran nya itu sudah seperti gelandangan. Kusut, semrawut, penuh beban.


...***...


Nathan naik ke lantai dua, masuk ke dalam kamar yang sudah lama tak di singgahinya. Rindu, ia langsung merebahkan diri di atas sofa empuknya, menyadari betapa nikmatnya tidur di kamar ini. Dua bulan menempati ruangan ala kadarnya, beralaskan kasur yang sangat tidak nyaman membuat Nathan sadar akan satu hal.


Yang selama ini terasa biasa bahkan tidak istimewa sama sekali, bisa menjadi hal yang akan dirindukan di lain hari.


Matanya yang terpejam seketika terbelalak ketika menyadari sesuatu. Nathan membangunkan tubuhnya, duduk setegak tongkat. Matanya mengedar, mendapati Dara yang sedang meringkuk di atas ranjang. Penasaran, Nathan perlahan mendekat ke arahnya.


Dara sudah tertidur lelap, wajahnya nampak lelah. Nathan cukup takjub, bagaimana bisa dia tertidur secepat itu? Mereka masuk apartment berbarengan, dan Nathan hanya berbicara kurang dari sepuluh menit dengan bunda. Lalu ketika masuk kamar, dia sudah dibuai mimpi entah telah sampai langit keberapa.


Secara reflek bibirnya memahat senyum, mengamati Dara yang amat *****. Apa semua ibu hamil memiliki kebiasaan yang sama?Ngomong-ngomong soal hamil, perut Dara terlihat sudah lebih menonjol sekarang. Entah bagaimana Nathan bisa melewatkan yang satu itu. Mengingat selama di penjara, Dara lumayan sering menjenguknya.


Oh, selain jadi suami yang buruk Nathan juga merangkap jadi calon ayah yang buruk.


Pria itu terus menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang sebenarnya dengan sadar dilakukan.


Sorot matanya mendadak terhenti pada satu titik, dimana masih tersisa nya jejak air mata di salah satu sudut mata istrinya. Benaknya merangkai pertanyaan yang sudah bisa dijawab sendiri. Mutlak terjadi, ketika seorang istri bertemu dengan selingkuhan suaminya, derai air mata pasti akan membanjiri sisi wajah si istri.


Pria itu semakin mendekat, dan menjadikan lutut sebagai tumpuannya. Kini posisi nya hanya beberapa centi dari Dara yang nampak tak terganggu sedikitpun. Perlahan tangannya di arahkan ke bagian kepala Dara, mencoba merapikan sedikit rambutnya yang berantakan.


Helaian dari rambut itu terasa halus dibawah kulit jemari Nathan, wanita memang selalu pandai merawat diri. Kedua matanya mengamati wajah cantik teduh tersebut lekat-lekat. Dia cantik, bukan. Tapi sangat cantik. Entah kenapa Dara terlihat berpuluh kali lipat lebih cantik dari biasanya.


Dia memang memiliki kecantikan alami, mungkin sejak lahir. Tanpa di poles make up pun wajahnya sudah sedap di pandang. Berbeda dengan Monica yang terlalu ketergantungan pada make up. Seakan dia takkan bisa hidup tanpanya. Padahal, dia pun juga sama cantiknya dengan Dara. Hanya saja kulitnya lebih eksotis dan tentu, seksi.


Nathan menepuk kepalanya sendiri karena sembarangan memikirkan wanita lain di depan istrinya, sementara baru belum lama ia menyesali perbuatannya karena telah 'selingkuh' di belakang Dara.


Untuk kesekian kali Nathan memaki diri sendiri karena memiliki sifat yang labil.


"Ra.. Maafin aku, ya?" Ucap Nathan yang suaranya lebih mirip orang bergumam. Dia tahu, Dara takkan mendengar ucapannya. Tapi tak apa pikirnya, ia belum mau meminta maaf secara terang-terangan karena terhalang ego, dan gengsi. Meski ada rasa bersalah begitu besar yang bernaung di hati.


Bagian perut Dara lebih jelas terlihat di deplan mata, dia adalah type wanita dengan tubuh dan perut yang ramping. Dan sekarang sudah membesar agak bulat. Nathan tidak tahu sudah berapa bulan usia kandungannya. Yang pasti, bayi itu bertumbuh dengan baik selama beberapa bulan ini. Satu hal yang cukup ia syukuri.


Entah ada angin yang datang darimana, mungkin naluri nya sebagai seorang ayah mulai muncul. Nathan merasa penasaran, ingin sekali menyentuh perut bulat itu. Sedari awal, Nathan memang belum pernah menghadiahi calon bayinya dengan sentuhan di atas kulit ibunya. Ia merasa perlu sesekali melakukannya.


Perlahan ia menggerakkan tangan, sambil memperhatikan wajah Dara. Khawatir dia terkejut dan secara tidak sengaja bangun dari tidurnya. Nathan tak ingin Dara tahu apa yang dilakukannya.


"Mmmhh.." Dara menggeliat tiba-tiba di sela tidur lelapnya. Nathan tersentak dan berusaha menjauhkan tangan serta mundur secepat kilat dengan gerakan mengesot. Suara jantungnya ramai di dalam sana memainkan orkestra semrawut.


Semesta belum mengizinkan pria dengan gengsi yang tinggi itu menyentuh calon anak nya sendiri, ditandai dengan gangguan yang kedua. Ada panggilan telepon dari seseorang yang membuat bunyi nyaring keluar dari ponselnya.


Nathan gelagapan, cepat-cepat merogoh saku celana dan menerima panggilan yang ternyata dari Regy si pengganggu, setelah sebelumnya beranjak dan keluar dari kamar. Dia tidak ingin Dara benar-benar bangun dan menguping pembicaraannya.


"Halo!" Ucap Nathan kasar.


"Bro.. Ya ampun.. Lo udah bebas? Surprised banget gue dengernya!"


"Udah. Baru beberapa jam yang lalu. Lo mau apa gy? Ganggu aja"


"Ganggu kenapa? Eh, ngomong-ngomong besok ada konferensi pers. Media minta lo klarifikasi soal kejadian ini. Ngebersihin nama baik lo juga Nath. Karena kan lo memang bener-bener udah tobat"


"Nggak bersih juga nggak apa-apa lah. Gue udah nggak terlalu mikirin nama baik. Masa bodoh para fans mau kabur atau kemana kek. Justru dari sini kan, kita bisa menilai mana yang benar-benar tulus" Ucap Nathan yang terdengar serius.


Dia sudah pusing dengan masalah pribadinya, dan tidak berminat untuk menambah beban masalah soal karirnya.


"Tumben lo kedengeran hopeless gini Nath. Menurut gue, lo ikutin ajalah.. Kalau udah Konferensi pers tapi mereka tetap pergi ya udah, berarti bukan rezeki. Ya Nath? Ini bukan soal lo doang soalnya. Ini soal kita bersama!" Tukas Regy sedikit memaksa.


"Ya sudahlah gy, atur aja!"


"Oke, gue atur jadwal ya. Yaudah gitu aja Nath. Istirahat lagi gih. Sorry ganggu ya!"


"Hhmmm.." Sahut Nathan singkat sambil mengakhiri panggilan.


Nathan menarik napas dalam, lalu menghembuskan pelan-pelan. Ia merasakan bulu janggutnya yang berat menggelayuti dagu. Selain itu rambutnya juga sudah mulai panjang tak berbentuk. Tentu dia perlu sedikit permak penampilan, mengingat besok juga akan di adakan konferensi pers.


Pria itu memutuskan untuk mendatangi hair stylish yang biasa mendandani rambutnya.


Meninggalkan Dara, mengurungkan niat untuk menyentuh bayi di perutnya. Mungkin lain kali, dia akan melakukannya.