
Nathan kalang kabut menyaksikan Dara yang meronta-ronta di dalam air, nampak jelas tubuhnya terbawa ombak yang sedang pasang malam itu. Tanpa pikir panjang pria itu langsung melempar botol minuman dalam genggamannya dan segera mendekat ke air.
Setelah melepaskan jaket yang dikenakan, ia cepat-cepat masuk ke dalam air berusaha mengejar Dara yang posisinya belum terlalu jauh dari daratan. Beruntung Nathan adalah seorang perenang yang cukup handal, dengan berani membelah gelombang air di depannya demi menyelamatkan sang istri yang sudah gelagapan.
Tak butuh waktu lama, Nathan berhasil meraih tubuh Dara yang mulai lemah. Wanita itu hampir pingsan, mungkin karena juga mendapat serangan panik. Perlahan tapi pasti ia membawa Dara mencapai daratan, sembari bersyukur dalam hati bahwa istrinya masih bisa diselamatkan.
Nathan merebahkan tubuh Dara yang telah kehilangan kesadaran di atas pasir pantai, dan memberikan pertolongan pertama untuknya. Ia memeriksa pernapasannya dan langsung melakukan CPR guna mengompresi dada, dengan memberi tekanan pada bagian tengah dari dada milik Dara.
Kurang dari lima menit kemudian wanita itu memberi respon dengan langsung terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. Wajahnya yang membiru juga berangsur normal kembali. Ia telah mendapatkan kesadarannya, dan Nathan merasa sangat lega dengan apa yang dilihatnya.
"Kamu nggak apa-apa? Jawab jika sudah benar-benar sadar" Ucap Nathan.
Dara menjawab dengan anggukan yang lemah. Napasnya masih terengah-engah.
"Kamu tuh.. Aduh.. Ngapain sih malam-malam nyebur ke laut begitu? Aneh-aneh aja!" Protes Nathan. Selain khawatir, ia juga cukup jengkel dengan apa yang dilakukan Dara. Karena bukan tidak mungkin hal itu akan membahayakan nyawanya sendiri.
"Maaf.." Ucap Dara singkat. Ia masih berusaha mengatur napasnya yang sempat berhenti barusan.
"Bosan hidup? Atau gimana? Kalau memang mau bunuh diri, jangan pas lagi pergi sama aku dong. Aku nggak mau ya kalau nanti di tanya-tanya polisi, disalahin ibu kamu, bunda, karena kamu kenapa-napa. Aduh.. Ya ampun.." Nathan masih gemas dengan terus mengutarakan rasa kesalnya pada Dara yang bahkan belum mampu banyak bicara.
"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. Maaf" Sementara hanya kata maaf yang bisa diucapkan Dara.
Nathan berusaha membangunkan tubuh Dara yang lemah, sembari menutupi bagian belakangnya dengan jaket yang di lemparnya tadi karena Dara mulai terlihat kedinginan. Kemudian pria itu langsung mengangkat tubuh Dara, menggendongnya, dan membawa masuk ke dalam kamar.
Ia mendudukkan Dara di atas kursi, sementara dirinya mengambil pakaian baru yang masih bersih dan kering untuk Dara kenakan di dalam koper.
"Ini.. Gantilah pakaianmu. Bisa sendiri kan?" Ucap Nathan sembari menyodorkan satu stel pakaian tidur milik Dara.
Wanita itu meraihnya dan mencoba membuka pakaian yang masih dikenakannya di depan Nathan.
"Eh.. Eh.. Mau ngapain kamu?"
"Ganti baju.." Sahut Dara dengan tatapan lemah.
"Jangan disini, di kamar mandi sana!" Perintah Nathan.
"Aku lemas Nath, takut nanti terpeleset kalau ke kamar mandi" Sahut Dara mengiba.
"Aduh.. Ampun" Gerutu Nathan sembari menepuk keningnya. "Yasudah.. Aku akan berbalik. Beri tahu kalau sudah selesai"
Pria itu membelakangi Dara dan membiarkannya mengganti pakaian yang sangat basah.
"Sudah belum?"
"Belum"
Dara menurunkan celananya yang basah dan menggantinya dengan yang baru.
"Sudah?" Tanya Nathan tak sabaran.
"Ya.."
Nathan berbalik dan mendapati sang istri yang telah selesai berganti pakaian. Wajah Dara terlihat masih pucat.
"Tok.. Tok.. Tok.."
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Nathan menebak bahwa yang datang itu adalah Vincent, ia langsung menghampiri dan membuka pintunya.
"Halo kak.. Maaf lama ya. Makanannya datang.. Mau makan disini atau di ruang makan?" Tanya Vincent memberi dua pilihan.
"Disini saja"
"Oke.. Here we go" Vincent menyerahkan bungkusan berisi makanan yang dibawa. Aromanya semerbak harum tercium oleh Nathan dan membuatnya mendadak kelaparan.
"Ini bill nya kak"
"Oke.. Sebentar" Nathan mengambil dompetnya yang berada di dalam koper, kemudian memberi beberapa lembar uang kertas pada Vincent.
"Wah.. Ini kelebihan seratus kak"
"Ambil saja"
"Terimakasih banyak kak. Semoga kakak menyukai makanannya. Salam untuk istri kakak ya"
"Ya.."
"Saya pamit ya kak. Saya akan kesini lagi besok" Salam Vincent.
Nathan menutup kembali pintu kamar dan menghampiri Dara dengan membawa makanan untuknya. Kini, Dara telah berpindah ke atas ranjang. Ia duduk dengan menyandarkan punggung pada dipan.
"Nih. Kamu makan dulu" Ucap Nathan.
"Kamu aja"
"Ya kamu juga harus makan. Kalau sakit gimana?" Protes Nathan.
Nathan tersenyum sinis.
"Hanya dengan menyelamatkanmu, lalu kamu langsung merasa bahwa aku peduli denganmu?"
"Harusnya kamu biarkan saja aku tenggelam" Sahut Dara sembari membuang muka dari arah Nathan berdiri.
"Inginnya begitu. Tapi karena aku berperikemanusiaan, nggak mungkin dong ada orang tenggelam malah aku tontonin. Lagipula, aku malas berhubungan lagi dengan kepolisian. Kalau kamu mati, pasti aku yang diincar. Karena kamu sedang bersamaku" Ucap Nathan panjang lebar, sementara Dara tak memberi tanggapan apapun.
"Sudahlah, ayo makan!" Sambungnya lagi.
Dara menggelengkan kepala.
"Ck.. Ayolah, nggak usah ngambek!"
"Aku nggak ngambek" Sahut Dara.
"Yasudah makanlah kalau memang nggak ngambek" Nathan makin hilang kesabaran.
"Aku nggak lapar"
"Duh.. Terserah ya Dara, terserah!" Nathan meletakkan kotak makanan di atas nakas samping ranjang.
"Aku letakkan disini, kalau-kalau kamu berubah pikiran. Aku mau makan dulu. Aku kehabisan tenaga setelah menyelamatkanmu" Ucap Nathan seraya beranjak dari kamar sembari membawa bungkus makanan menuju ruang makan.
Dara tertunduk lesu. Padahal baru saja ia menyangka bahwa Nathan mulai perhatian dengannya. Tapi daripada itu, dia masih merasa shock atas kejadian yang baru saja menimpanya. Tenggelam di lautan pada malam hari, jadi hal paling menyeramkan sepanjang kehidupannya.
...***...
Pagi datang terasa begitu cepat, rasanya baru saja Dara memejamkan kedua mata. Posisi tidurnya tepat menghadap ke arah pemandangan laut yang sungguh indah, ada sekelebat trauma yang datang kala ia menatapnya.
Dara membangunkan tubuhnya dengan malas, sembari mencepol rambut panjangnya ke atas. Ia menggemeretakkan lehernya yang terasa pegal, kemudian merenggangkan tubuhnya. Matanya mengedar ke seluruh sisi dalam ruangan, ia tak menemukan keberadaan Nathan disana. Kemanakah pria itu?
Ia memaksa tubuhnya untuk meninggalkan ranjang, meski saat ini dirinya masih ingin berbaring disana. Tapi naluri nya sebagai istri melawan. Dia harus bangun dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Entah apa yang dapat di temukannya di dapur, yang penting bangun saja dulu.
Perlahan Dara membuka handle pintu kamar, lalu keluar dan tak lupa menutup rapat kembali pintu tersebut. Ia berjalan santai menuju dapur, dan setiba nya di ruang tengah, nampak Nathan tengah tertidur di atas sebuah sofa empuk berbentuk letter L.
Ternyata semalaman dia tidur disana. Baiklah, karena ini bukan hal yang pertama, maka Dara merasa apa yang Nathan lakukan sama sekali bukan masalah. Lagipula, sofa itu juga terlihat empuk dan nyaman untuknya.
Dara tersenyum tipis sambil memandangi suaminya yang begitu terlelap. Sembari berpikir, akan lebih baik jika nanti ia mengucapkan terimakasih karena Nathan telah menyelamatkan nyawa nya semalam. Karena seingatnya, belum ada kata terimakasih darinya sejak tadi malam.
Ddrrrtt.... Ddrrrtt... Ddrrrtt....
Suara getaran yang cukup keras dari ponsel Nathan akhirnya membangunkannya. Dara terkesiap, ia langsung cepat-cepat pergi dari tempat berdirinya yang menghadap ke arah Nathan, khawatir pria itu akan menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang tengah memperhatikannya tidur.
Jantungnya berdegup cukup kencang. Kini, ia telah sampai di dapur. Dara berdiri di depan wastafel. Kemudian memutar kerannya, lalu membasuh wajah untuk sedikit menghilangkan rasa gugup nya barusan. Beruntung Nathan tak sempat melihatnya disana.
"Huft.." Hembusan napas berat keluar dari mulutnya.
Terdengar samar-samar suara Nathan berbicara lewat telepon. Tapi tak dapat terdengar dengan jelas apa yang diucapkannya. Dara tak ingin tahu dan juga tak ingin menguping, jadi dia memutuskan untuk membuka lemari es disana dan mencari bahan yang bisa di masaknya.
Tak banyak yang tersedia, hanya ada satu kotak telur, susu cair plain dan juga roti. Sedangkan sayur, ia menemukan selada, tomat, mentimun dan jagung. Sambil berpikir ia mengeluarkan semua isi dalam lemari es tersebut. Matanya sempat terpusat pada botol-botol minuman disana.
Ia meraihnya dan membaca tulisan di botol itu. Beberapa detik kemudian, ia baru menyadari bahwa itu adalah minuman beralkohol.
"Kenapa ada minuman begini?" Ucapnya bagai bicara dengan diri sendiri.
Dara meletakkan balik botol tersebut di tempatnya semula. Kini, sebuah ide telah didapatnya. Dia akan membuat sandwich untuk sarapan suaminya. Kebetulan Nathan juga begitu menyukai sandwich.
Suara ketukan kaki terdengar mendekat ke arahnya. Itu pasti Nathan, pikirnya. Sepertinya dia telah selesai menelepon. Dara bersiap, dan berusaha untuk tetap tenang, sambil menyiapkan kata-kata yang akan diucapkan pada pria itu.
"Bikin apa?" Sapa Nathan.
"Ehm.. Hai Nath. Aku mau bikin sandwich untuk sarapan. Kamu mau?"
"Ya.." Sahut Nathan sambil menenggak air mineral yang tersaji di meja dapur.
"Oke.. Aku akan segera buatkan" Ucap Dara, melanjutkan kegiatan memasaknya. Ia melupakan niatnya yang baru saja direncanakan barusan.
"Eee.. Nath!" Panggil Dara.
Nathan menoleh.
"Aku.. Aku mau ngucapin terimakasih.. Terimakasih banyak karena kamu sudah menolongku semalam" Ucap Dara canggung.
Nathan diam sembari memandangi Dara dengan tatapan entah macam apa.
"Kalau nggak ada kamu. Mungkin aku sudah benar-benar tenggelam.. Terimakasih ya, sekali lagi" Sambung Dara.
"Sama-sama.." Sahut Nathan singkat. Ia melangkahkan kaki, berjalan menjauh dari dapur.
Dara menghembuskan napas lega, ia telah melaksanakan niatnya. Dan bersyukur sekali lagi, karena masih diberi kesempatan bertemu dengan hari ini. Juga kesempatan melihat wajah Nathan tentunya.