An Angel From Her

An Angel From Her
11# Mencari tahu



Ada pepatah yang mengatakan, bisa karena terbiasa. Lalu jika sepasang suami istri menikah dari hasil perjodohan, akankah akhirnya mereka bisa saling mencintai apabila terbiasa dengan kebersamaan?


Bunda bagai menjungkir balikkan hidup Dara, dari yang awalnya enjoy menjalani hidup tanpa memikirkan pernikahan, kini ia harus berfikir keras untuk membuat keputusan.


Hari-harinya penuh dengan kebimbangan semenjak tawaran itu sampai padanya. Hingga dua bulan lamanya, Dara menggantung kejelasan dari perjodohan tersebut yang mana hal itu juga membuat bunda merasa hopeless.


Namun hari ini, dirinya terfikirkan satu hal. Diam-diam ia ingin mencari tahu tentang bunda lewat kacamata orang-orang yang lebih dulu mengenalnya.


Untuk membuktikan bahwa apakah benar bunda adalah seseorang dengan kepribadian yang baik dan senang memberi sesuatu tanpa embel-embel meminta imbalan, juga tak ada niat buruk yang terselubung dari rencana perjodohan itu.


Dan target Dara adalah para karyawan yang bekerja di beberapa rumah makan milik bunda di kawasan ibu kota. Sebelum melancarkan rencananya, ia mengumpulkan beberapa nama gerai rumah makan dan cafe yang ia ketahui bahwa itu adalah milik bunda beserta alamatnya sebagai bekal penyelidikan.


Usai berpamitan pada ibu dan Lisa yang saat itu tengah berada di warung makan Dara segera menaiki angkutan umum menuju lokasi targetnya yang pertama.


15 menit kemudian sampailah ia di sebuah rumah makan khas Padang milik bunda. Dengan percaya diri ia turun dari angkutan dan masuk ke rumah makan tersebut, menyamar sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan.


"Mau pesen apa mbak?" Sapa karyawan rumah makan itu pada Dara yang baru saja menduduki salah satu kursi disana.


"Maaf mbak, sebenarnya saya mau tanya-tanya. Bisa minta waktunya sebentar?" Tanya Dara.


"Bisa mbak. Mau tanya apa?" Jawab karyawan itu.


"Apa disini sedang ada lowongan pekerjaan?" Tanya Dara lagi.


"Kalau untuk lowongan, sekarang sih lagi nggak ada mbak. Eh sebentar. Kalau tidak salah seingat saya, waktu itu kayaknya owner lagi cari orang buat posisi apa gitu, aduh saya lupa. Nanti coba saya tanyain lagi ya mbak" Jawab karyawan tersebut.


"Iya, boleh mbak, minta tolong ya? Atau kalau boleh saya mau ketemu ownernya, ada kah?" Ucap Dara.


"Kebetulan sedang tidak ada disini mbak. Ownernya jarang sih kesini, karena rumahnya jauh mbak, di Bandung. Paling kalau kesini sesekali aja. Ketemu sama kepala bagian disini"


"Oh begitu. Mm.. Mbak, ownernya gimana sih orangnya? Galak gak?" Tanya Dara mulai menginterogasi.


"Wah, nggak sama sekali mbak. Rumah makan ini, adalah tempat kerja saya yang ke sekian. Dari semuanya, cuma pemilik tempat ini yang baik banget. Oh ya, ownernya ibu-ibu, janda. Namanya bu Erina. Denger-denger juga, putranya bu Erina itu anak band terkenal. Cuma saya gak tahu siapa namanya" Jelas si karyawan.


"Anak band?"


"Iya"


"Lalu, bu Erina ini gimana ya mbak orangnya?"


Semakin si karyawan itu bercerita tentang bunda, semakin penasaran Dara dibuatnya. Satu per satu kebenaran tentang bunda terbuka dan mematahkan prasangka buruk Dara padanya.


Gadis itu sedikit merasa bersalah karena telah berfikir yang bukan-bukan soal bunda padahal ia sendiri baru belum lama mengenalnya. Satu hari itu ia habiskan untuk keliling ibu kota menyambangi satu per satu rumah makan dan cafe milik bunda disana.


Dari semua tempat yang ia gali informasinya, jawaban mereka rata-rata sama. Kesimpulan yang berhasil dirangkum adalah bunda memang benar-benar orang yang baik dan tulus, persis seperti apa yang pernah ibu bilang.


Rasa lelah mulai menjalari tubuh Dara, setelah selesai dengan urusannya ia memutuskan langsung kembali ke warung makan ibunya untuk membantu ibu juga Lisa bersiap tutup warung.


Dara tiba sekira pukul 19:00 disana. Terlihat ibu sudah siap-siap merapikan perabotan dan Lisa yang tengah membereskan meja beserta kursinya.


"Maaf Dara lama ya bu" Ucap Dara seraya menghampiri ibu.


"Tidak apa-apa nak. Dara ada urusan apa memangnya? Sampai jam segini baru selesai?" Tanya ibu.


"Bukan apa-apa bu. Cuma ketemu teman lama saja. Jadi banyak cerita-cerita, lupa waktu deh" Ucap Dara.


Ibu tersenyum sembari membelai rambut putrinya dengan lembut.


"Yasudah, ayo kita pulang" Ajak ibu.


Setelah semuanya rampung, mereka pun bergegas menutup rolling door dan meninggalkan warung makan menuju rumah dengan menggunakan angkutan umum.


***



Malam ini, black romance bersama alunan musik rock nya mengguncang Ibu kota. Meski gerimis mengiringi di tengah-tengah konser, tak menyurutkan para fans untuk tetap stay di tempat hingga konser usai.


Beberapa dari fans wanita bergemuruh meneriakkan nama Nathan ketika ia maju ke barisan depan dan menampilkan kelihaiannya memainkan gitar. Hal tersebut makin membesarkan hatinya dan berjanji tak akan pernah meninggalkan group band itu.


Tepat pukul 00:00 konser berakhir, dan membuat para fans wanita bergerombol menghampiri Nathan untuk minta foto bersama. Nathan sedikit kewalahan dengan banyaknya gadis-gadis yang menyerbunya, hingga petugas pengamanan turun tangan membatasi jumlah fans yang bisa bertemu langsung dengan sang gitaris idola.


"Gila.. Gak kering tuh gigi" Ejek Nico ke arah Nathan yang masih sibuk berfoto dengan gadis-gadis itu.


"Mon, gimana itu? Cewek semua itu Mon, kamu gak cemburu?" Ucap Regy mengompori Monica yang saat itu ikut bersama Nathan.


"Ha..ha.. Gak lah bang. Udah ku segel hatinya" Jawab Monica enteng.


"Kan bisa di gunting Mon segel nya" Ledek Mike.


Monica terkekeh pelan.


"Tuh kan, mau ketemu cewek satu dunia pun, dia tetap tahu jalan pulang" Ucap Monica ketika Nathan akhirnya selesai melayani fans nya dan menghampiri lalu memeluk hangat wanitanya.


"Hah? Kenapa nih? Lagi bicarain aku ya?" Tanya Nathan.


"Itu si Regy ngomporin Monica. Katanya lo mau selingkuh Nath" Sahut Nico.


"Sembarangan lo gy" Protes Nathan pada Regy yang tengah duduk santai di kursi lipat dalam tenda.


"Heh.. Gue gak ngomong gitu ya. Bohong tuh si Nico" Bantah Regy.


"Bener Nath si Nico. Regy bilang lo mau selingkuh" Ucap Adly menimbrung.


"Astaga, punya anak-anak asuh pada songong semua ye. Awas lo pada, insentifnya gue tahan" Ancam Regy.


"Ha..ha..ha.. Becanda gy, baper banget lo" Ucap Mike sembari menepuk bahu Regy.


"Jangan dengarkan hasutan roh halus ya honey. Aku selalu mencintaimu, dirimu tak akan terganti" Rayu Nathan seraya mendaratkan ciumannya pada pipi sebelah kiri Monica.


"Roh halus katanya" Sahut Adly mengejek Regy yang memilih tidak lagi menanggapi anak-anak asuh nya itu. Yang lain tergelak tak mampu lagi menahan tawa.


"Aku percaya kamu honey" Balas Monica.


"Yuk?" Ajak Nathan.


"Sudah selesai memangnya?" Tanya Monica.


"Sudah. Tidak ada urusan lagi disini" Jawab Nathan.


"Bro, gue duluan ya" Pamit Nathan pada teman-temannya.


Nathan menggandeng mesra tangan Monica, meninggalkan belakang panggung menuju tempat parkir. Ia lalu membukakan pintu mobil Jeep nya yang terparkir gagah itu untuk pujaan hatinya.


"Makasih honey" Ucap Monica seraya melangkahkan kakinya ke dalam mobil.


"Honey, makasih ya udah menemani konserku hari ini. Kamu yang terbaik" Ucap Nathan ketika baru saja menempati posisinya di belakang kemudi. Tangannya meraih tangan Monica yang duduk di sebelahnya.


"Kamu selalu mengatakan itu tiap aku temani. Sama-sama honey" Sahut Monica.


"Ke apartment ya. Temani aku lagi. Boleh?" Tanya Nathan.


"Anything for you" Jawab Monica.


Setelah mendapat persetujuan dari kekasihnya, Nathan segera memacu mobilnya dengan kecepatan yang lumayan kencang. Bagai orang yang sedang diburu waktu. Monica duduk dengan tenang di sebelahnya sambil sesekali melirik Nathan yang tengah fokus mengemudi.


Jarak lokasi konser dan apartment yang lumayan jauh, membuat mereka harus menempuh waktu hampir dua jam. Meski rasa kantuk menyerang, namun Monica tetap harus terjaga demi Nathan.


"Silahkan masuk ratuku" Ucap Nathan sesampainya di apartment mempersilahkan Monica untuk masuk terlebih dahulu.


Monica tersenyum manis seraya berlalu melewati Nathan. Tapi betapa terkejutnya ia ketika berhadapan dengan sepasang mata yang menatap dengan ganas ke arah nya.


Gadis itu mematung di ambang pintu, tak mampu lagi melangkahkan kaki untuk masuk lebih dalam.


"Honey, kok berhenti?" Tanya Nathan yang baru saja menutup pintu.


Serupa dengan sang kekasih, Nathan pun terperanjat saat menyadari bahwa bunda ternyata sedang berada disana. Matanya menggambarkan amarah yang memuncak. Tak ada sedikitpun raut wajah ramah seperti biasanya di wajah bunda.


"Bunda?" Ucap Nathan gelagapan.


"Darimana kamu?" Tanya bunda dengan nada interogasi.


"Ada konser tadi. Bunda kok tiba-tiba ada disini?"


"Kenapa memangnya? Tidak boleh?" Ucap bunda ketus.


Nathan diam.


"Sudah punya istri sekarang?" Lanjut bunda lagi.


"Maksudnya?" Tanya Nathan tak mengerti.


"Perempuan ini, malam-malam ikut bersamamu kesini. Lalu kalian akan tidur bersama? Bukankah hal seperti itu hanya dilakukan oleh pasangan suami istri?" Sahut bunda.


"Ak.."


"Monica, apa kamu tidak diajarkan aturan dan sopan santun oleh orangtuamu?" Ucap bunda menyerobot Nathan yang baru akan berbicara.


"Maaf tante"


"Saya memang tidak suka kamu sejak awal. Saya fikir itu hanya sementara karena saya baru mengenal kamu. Tapi ternyata makin kesini saya malah membencimu, karena kelakuanmu yang seperti ini. Tidakkah kamu mempunyai harga diri?!" Hardik bunda.


"Bunda!" Mendengar kata-kata bunda barusan memancing sedikit emosi Nathan. Ia merasa tak terima jika wanita yang dicintainya di sakiti oleh orang lain, termasuk bunda.


"Ada apa Nathan? Kamu tidak terima?" Tanya bunda. Ia maju beberapa langkah agar posisinya tak terlalu jauh dari Nathan dan Monica dibelakangnya.


"Tolong jaga kata-kata bunda" Perintah Nathan.


"Cih.. Untuk apa? Untuk menjaga perasaan pacarmu itu? Kenapa bunda harus melakukannya? Lagipula apa yang bunda bilang itu benar kan. Perempuan baik-baik mana ada yang masih keluyuran sama laki-laki di jam segini? Lalu apa namanya kalau bukan dia adalah perempuan yang tidak punya harga diri!" Balas bunda yang semakin memanas.


"Cukup bunda, cukup!" Bentak Nathan yang sudah mencapai batas kesabarannya.


Bunda terdiam sepersekian detik berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya. Putra bungsunya baru saja membentaknya, kehilangan sikap hormat pada dirinya. Malam itu, bunda seperti bukan melihat Nathan yang sesungguhnya.


"Kamu bentak bunda?" Ucap bunda lirih.


Nathan diam dengan nafasnya yang terengah-engah menahan emosi yang hampir tak terkendali. Sementara Monica, tak menggeser posisinya sedikitpun dari belakang Nathan.


"Kamu.. Sebegitunya membela perempuan yang baru belum lama dikenal, dan lupa dengan siapa kamu berbicara sekarang? Apa sih artinya dia bagi kamu?" Lanjut bunda, suaranya bergetar.


"Bunda yang berjuang merawatmu, di tengah keterbatasan bunda. Bunda berusaha memberikan yang terbaik untukmu agar kamu dapat hidup dengan layak. Bunda tidak minta dibayar. Bunda tidak butuh apresiasi. Yang bunda inginkan adalah, anak yang mau mendengar lalu menjalankan apa yang di minta orangtuanya" Ucap bunda, matanya berbinar memandang ke arah putranya yang tertunduk menyesali perbuatannya tadi.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Bunda serahkan padamu. Jalani saja apa yang menurut kamu itu baik. Tapi ingat satu hal Nathan, jangan lagi libatkan bunda dengan masalahmu. Uruslah, bersama orang yang kamu bela mati-matian itu" Sambung bunda.


Wanita paruh baya itu kemudian menghubungi sopir pribadinya yang sedang menunggu di mobil yang terparkir pada basement. Meminta untuk disiapkan semuanya agar ia bisa kembali pulang ke Bandung malam ini juga.


Ia merasa tak tahan melihat kelakuan Nathan yang kian sulit di atur. Suara bentakan yang tidak hanya memekikkan telinga, namun juga menghancurkan hatinya itu terasa terus terngiang menembus sanubarinya.


Usai menelepon sopirnya, bunda segera melangkahkan kaki keluar dari apartment. Melewati Nathan tanpa pamit. Ia menghentikan langkah nya saat berpapasan dengan Monica. Matanya melirik tajam perempuan yang telah memonopoli putranya, lalu bergegas melanjutkan langkahnya dan cepat-cepat menjauh dari sana.


Nathan berbalik arah dan berusaha menenangkan Monica yang tertunduk lesu.


"Ayo duduk dulu" Ajak Nathan.


"Aku pulang saja Nath" Ucap Monica yang saat itu juga langsung beranjak keluar dari sana.


"Hey.. Sayang. Tunggu, mau kemana kamu?" Nathan mengejar seraya meraih lengan Monica.


"Aku mau pulang. Aku sudah tidak mood lagi"


"Tolong maafkan bunda ya. Aku tidak tahu bunda ada disini. Dia tidak mengabari, dan tadi pagi juga tidak ada disini"


"Sudah cukup aku dihina-hina seperti itu. Sabarku juga ada batasnya Nath! Aku mau pulang sekarang" Monica melepaskan genggaman tangan Nathan sekuat tenaga.


"Sayang.. Monica.. Tapi ini sudah hampir pagi. Setidaknya izinkan aku untuk mengantarmu, ya?" Pinta Nathan sembari mengikuti langkah Monica yang hendak menuju lift.


"Aku tidak ingin melihat wajahmu saat ini. Karena membuatku teringat akan hinaan yang terlontar dari mulut ibumu. Tinggalkan aku. Aku bisa pulang sendiri"


Ting...


Pintu lift yang ditekan tombolnya oleh Monica terbuka lebar. Gadis itu segera masuk ke dalamnya, dan menekan tombol pada bagian dalam agar pintunya kembali menutup.


Nathan mencoba menghalau namun tak sempat. Pada akhirnya ia membiarkan Monica berlalu dan pergi meninggalkannya, membatalkan semua rencana mereka malam ini.


"Aaaarrrgghh...!!" Erangnya. Ia menonjok dinding dengan kepalan tangannya sekuat tenaga untuk melampiaskan emosi yang masih menguasainya.


Bunda dan Monica, keduanya sama-sama egois. Keduanya sama-sama memikirkan perasaan mereka sendiri tanpa sedikitpun memahami perasaannya. Ia merasa terabaikan, dibuang bak barang yang tak berharga.


Di tengah kerisauan hatinya, ia lalu memutuskan untuk kembali menggunakan 'barang haram' itu sendiri, dikamarnya. Merasakan tubuh nya bagai melayang, tenang, dan damai. Melupakan segenap emosi yang mencabik-cabik perasaannya.