
Nathan berusaha mencerna kata-kata yang membuatnya terkejut, kata-kata yang paling tidak ingin di dengarnya. Bunda ternyata masih belum menyerah, nampaknya ia sangat ingin memiliki cucu darinya.
Ia melirik Dara yang berdiri di antara dirinya dan bunda. Sepertinya wanita itu juga sama terkejutnya. Tak sepatah katapun keluar dari bibir merah alami miliknya, ia hanya mematung sambil memasang tampang penuh kebimbangan.
Entah apa yang ada dipikiran wanita itu, senang kah atau justru juga merasakan hal yang sama dengannya.
"Maaf sekali bun. Tapi sekarang aku sedang sibuk, ada project pembuatan album baru yang belum kelar-kelar. Jadi sepertinya nggak mungkin aku pergi bulan madu" Sanggah Nathan. Ia dapat dengan jelas melihat ketidak setujuan yang tersirat dari ekspresi wajah bunda.
"Benarkah?" Tanya bunda bagai tak percaya. Sorot matanya ditujukan pada Regy dan kawan-kawannya yang lain.
"Mas Regy?" Sambung bunda.
Merasa namanya dipanggil, Regy langsung siaga menatap balik bunda di seberangnya. Ia sedikit salah tingkah.
"Emm.. Ya.. Ya memang benar sih, kita sedang ada project album baru. Tapi nggak apa-apa kok tante. Nathan bisa ambil cuti satu, atau dua minggu juga boleh.. Kalau soal manggung, nanti bisa digantikan sementara"
Pandangan mata Nathan langsung terpusat pada Regy. Ia tak menyangka Regy malah memberi lampu hijau dengan mengizinkannya mengambil cuti dan pergi berbulan madu. Ingin rasanya ia mencabik-cabik si bapak-bapak menyebalkan itu sekarang juga.
"Dan, kita juga bisa pakai rumah saya sementara untuk bekerja. Nggak perlu studio dulu, ya kan gy?" Tambah Mike.
"Iya bener.. Bisa kok tante" Sahut Regy.
Nathan makin membara, sambil mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya Regy dan Mike sekongkol untuk membuatnya menjalankan hal yang sama sekali tak ingin dijalaninya. Tak pernah terbayang, bagaimana bisa ia berbulan madu bersama wanita yang tak dicintainya?
Sorot mata pria itu bagai berapi-api. Meskipun menyadari hal tersebut, namun Regy dan Mike memilih untuk mengabaikannya. Karena memang mereka setuju dengan rencana bunda, Nathan harus pergi berbulan madu bersama Dara. Mungkin dengan begitu, ia akan bisa sedikit memiliki perasaan pada istrinya.
"Tuh.. Kamu dengar sendiri kan? Teman-temanmu juga sudah setuju. Jadi mau buat alasan apa lagi?" Tantang bunda pada Nathan yang membisu.
"Bunda sudah siapkan semua akomodasi. Tiket, hotel, kendaraan. Bahkan guide yang akan menemani kalian berjalan-jalan. Kalian akan berangkat lusa, jadi sebaiknya kamu packing barang-barang dari sekarang" Perintah bunda.
Nathan merasa begitu lemah, tak ada yang berpihak padanya. Lagi lagi ia harus mau mengikuti keinginan bunda, dengan setuju untuk melaksanakan bulan madu bersama istrinya. Dara hanya diam, dengan tak memberi tanggapan apapun.
Padahal ia sedikit berharap, wanita itu menyuarakan keinginannya dan menolak perintah bunda. Dia pasti tidak ingin juga kan? Pikirnya.
"Dara, kamu pakai barang-barang ini ya saat bulan madu nanti" Ucap bunda pada dara di sebelahnya. Wanita itu hanya menjawab dengan anggukan dan segaris senyum terpaksa, ia bagai kehilangan banyak kosa katanya sendiri.
"Ck.." Decak Nathan sambil tertunduk lesu. Semua benar-benar diluar kendalinya. Ia benci jadi dirinya, ia benci dengan semesta yang bahkan tak berpihak padanya.
.
.
.
Dara mengemas beberapa barang-barang miliknya, memilah apa-apa saja yang akan dibawa. Sementara baju yang baru dibelinya bersama bunda tadi hendak dicuci terlebih dahulu.
Ia terlalu fokus berkemas hingga tak menyadari Nathan baru saja masuk ke dalam kamar dan berdiri tak jauh darinya. Pria itu menatap malas wanita di depannya yang tengah sibuk membereskan barang-barangnya.
Nathan menghembuskan napas berat sebelum memulai kalimatnya.
"Ra.." Panggilnya. Dara mengerjap, matanya langsung mengarah pada Nathan yang tengah berdiri di samping sofa.
"Iya Nath? Mau aku bereskan sekalian barang-barangmu?"
"Kenapa sih kamu nggak menolak saja permintaan bunda?" Kata-kata protes itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Aku tahu, kamu juga pasti nggak mau kan? Jadi tolonglah kerjasamanya. Bilang pada bunda kalau kamu ada urusan apa kek, bohong sedikit bukan masalah" Lanjut Nathan.
Dara menatapnya tanpa berkedip. Bibirnya nampak hendak membalas ucapan Nathan barusan.
"Aku mau kok Nath. Aku mau menghabiskan waktu berdua denganmu. Karena setelah menikah, sampai setengah tahun ini, kamu selalu sibuk, jarang ada disini. Bahkan kita juga belum pernah..." Kata-katanya berhenti sejenak sembari menelan ludah, tapi Nathan sudah dapat menebak apa yang akan diucapkan istrinya itu.
"Kamu masih ngarep Ra?" Sambungnya.
"Ya.. Ku rasa nggak ada salahnya kok.." Sahut Dara.
"Aku nggak habis pikir. Ada ya cewek seperti kamu.. Ck.."
Nathan bertolak pinggang sembari berjalan bolak balik bagai orang yang sedang frustasi, sementara Dara menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja memenuhi dadanya.
"Terserah ya Ra, kamu mau berbuat apa. Aku nggak peduli. Jika pada akhirnya nanti kamu akan kecewa, aku nggak sama sekali berminat untuk bertanggung jawab atas perasaanmu itu" Ucap Nathan ketus.
Dara berbalik arah, dan membelakangi Nathan, ia mengizinkan bulir-bulir air yang mulai menyembul di kedua pelupuk matanya untuk keluar dan membasahi wajahnya. Tapi tak ingin Nathan sampai melihatnya.
"Semenjak kita menikah, aku sudah berteman dengan rasa kecewa. Sebenci apapun kamu kepadaku, hal itu nggak akan ada pengaruhnya. Aku akan terus berjuang, aku nggak akan menyerah. Tapi mungkin.. hanya sampai nanti, ketika tiba saatnya, ragaku tak mampu lagi bertahan" Ucap Dara dengan segenap tenaga menahan getaran dari suaranya.
Kalimat itu terasa cukup dalam menyentuh perasaannya. Nathan hampir goyah, sebenarnya ia tak ingin menyakiti Dara, tapi wanita itu tampak seperti memaksakan kehendak tanpa memikirkan perasaan orang lain. Menurut sudut pandangnya, Dara juga begitu egois.
Nathan enggan berlama-lama berdebat dengan Dara, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas singgasananya, sofa kesayangan. Sambil berusaha dengan keras memejamkan matanya. Tapi entah kenapa kedua mata itu bagai enggan diajak kerjasama.
Sementara Dara masih belum berpindah dari posisi nya. Ia duduk di tepi ranjang dengan sebuah baju yang masih di genggamnya. Wanita itu berusaha tetap tegar, sekuat tenaga menahan air mata yang terus mendesak hingga hampir membanjiri wajahnya. Ia mencoba menghalau perasaan sedih dengan terus memberi afirmasi positif dalam pikirannya.
Dari kejauhan, dia memandangi Nathan yang tengah terbaring di atas sofa. Walau seringkali mendapat perlakuan kurang mengenakkan darinya, ia memilih untuk tetap menyayangi pria itu.
...***...
Suasana sarapan bersama di pagi hari terasa begitu hangat dengan kehadiran bunda di tengah-tengah pasangan yang lebih cocok disebut teman satu kost ketimbang sepasang suami istri. Sesekali Dara melirik Nathan yang duduk di sebelahnya sementara bunda berada di sebrang.
Hari ini adalah kali pertama Dara duduk dan makan bersama dalam satu meja dengan Nathan, setelah melewati setengah tahun pernikahan. Ia merasa sedikit canggung dengan keberadaan sang suami di sampingnya, sementara Nathan tampak masa bodoh.
"Kalian sudah berkemas?" Tanya bunda membuka obrolan.
"Sudah bunda.." Jawab Dara lebih dulu.
"Pesawat kalian akan berangkat besok siang, yah.. Lebih santai sih. Tapi sebaiknya di persiapkan dengan matang ya" Tutur bunda. Ia menatap putranya yang sama sekali tak tertarik dengan obrolan ini, pria itu hanya fokus dengan makanan di depannya.
"Kalian akan ke Bali" Ucap bunda yang langsung mengalihkan perhatian Nathan seketika.
"Bali?" Ulang Nathan.
"Iya.." Sahut bunda.
Nathan teringat dulu, dia pernah sekali berlibur ke Bali bersama Monica. Melewati hari-hari yang indah disana, kebersamaan dengan orang tercinta sungguh membuatnya jadi makhluk paling bahagia di bumi.
Dan kini, ia harus mengulang untuk pergi kesana, ke pulau dengan sejuta pesona keindahan serta suasana romantisnya bersama Dara? Wanita yang bahkan tak ingin di sentuhnya sama sekali. Ia merasa bunda sudah kelewatan.
"Ya ampun bun. Bisa nggak diganti saja? Yang dekat-dekat saja deh. Aku lagi nggak pingin ke Bali" Nathan mengeluarkan argumennya yang tentu tak bisa diterima bunda begitu saja.
"Tidak bisa Nath. Semuanya sudah disiapkan. Penginapan kalian juga sudah bunda booking, yang paling bagus. Tidak bisa di batalkan begitu saja" Sahut bunda.
"Ck.." Nathan mengumpat dalam hati.
"Memangnya kenapa sih? Bali itu kan tempat paling cocok untuk berbulan madu. Kalian pasti akan menyukainya, apalagi villa yang bunda pesan ini.. Duh.. Perfect deh" Ucap bunda yang tampak excited sendiri.
Nathan memilih untuk diam. Sementara Dara hanya mampu tersenyum.
"Persiapkan diri kalian ya. Bunda tak sabar mendapat kabar kehamilan Dara sepulangnya kalian dari sana.." Sambung bunda.
Nathan merasa semakin muak dengan obrolan ini, moodnya berantakan seketika. Ia beranjak dari kursi, dan meninggalkan makanan yang bahkan belum dihabiskannya. Bunda menatap keheranan putranya yang tampak kesal itu menjauh dari sana.
Tapi begitulah Nathan, ketika tak mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya, ia pasti akan langsung bereaksi sedemikian rupa. Hal itu tak terasa aneh sama sekali bagi bunda, begitupun dengan Dara yang pelan-pelan mulai terbiasa dengan perangai suaminya.