An Angel From Her

An Angel From Her
12# Keputusan



Sinar matahari pagi masuk menyesap melalui jendela kamar yang tak ditutup gordennya. Menyilaukan mata Nathan yang tengah tertidur pulas tergeletak di lantai.


Semalam, setelah puas memakai 'barang haram' itu, dia bahkan tak lagi memiliki tenaga hanya untuk sekadar merebahkan tubuh nya di atas ranjang. Ia membiarkan begitu saja dirinya terbaring di lantai, tepat di depan ranjang nya.


Perlahan ia membuka matanya yang terasa berat. Efek dari semalam masih dapat dirasakannya hingga sekarang.


"Ugh.. Jam berapa sekarang" Gumamnya. Ia berusaha membangkitkan tubuhnya sedikit demi sedikit.


"Hhahhh...." Nathan melepaskan nafas berat ketika akhirnya berhasil mendudukkan tubuhnya.


Ia memandangi pantulan dirinya sendiri lewat cermin besar yang ada di depan ranjangnya. Cermin itu terdiri dari tiga buah lembaran yang saling berdempetan, membentuk tatanan yang estetik.


Tampilannya berantakan, dengan masih mengenakan kaos kutung dan celana panjang yang dibuat sobekan pada beberapa bagian. Ia bahkan belum mengganti pakaian sejak tadi malam. Hanya sekedar membuka jaket kulit yang ia kenakan saat manggung.


Tiba-tiba ponsel yang berada disebelahnya berdering, mengacaukan lamunannya. Nama Regy tertera pada layar ponsel tersebut.


"Halo.. Nath, lo dimana?" Tanya Regy dari balik telepon.


"Di kamar" Jawab Nathan enteng.


"Haduh.. Dapat berapa ronde lo semalam?" Ledek Regy.


"Pak tua Regy ada perlu apa telpon saya pagi-pagi, ganggu orang aja" Ucap Nathan.


"Heh anak kurang ajar. Gue belum tua! Lagian ini udah siang, pagi-pagi darimana" Protes Regy.


Nathan tertawa pelan.


"Masih jam setengah sepuluh. Masih pagi lah.. Ada apa sih gy?"


"Ke basecamp ya hari ini" Sahut Regy.


"Tiap hari juga gue kesana. Kenapa mesti nelfonin segala coba" Ucap Nathan.


"Yaa.. Kan semalam kita balik udah larut. Lo juga pulang sama Monica. Gue antisipasi aja, takutnya lo malah pergi sama dia" Jelas Regy.


"Ya udah, nanti siangan gue kesana" Ucap Nathan seraya mengakhiri panggilan telepon.


Usai menerima telepon dari Regy, ia memutuskan turun ke lantai satu untuk mengambil minuman. Kerongkongannya mulai terasa kering sejak bangun tidur.


Ia mendapati makanan yang sudah tersaji di meja makan sesampainya di dapur. Nampaknya mbak Asih sudah menyiapkannya sejak tadi.


"Mas Nathan.. Anu.. Ini sarapannya sudah saya siapkan. Mungkin sudah dingin juga, apa mau saya hangatkan dulu mas?" Sapa mbak Asih.


"Buat mbak Asih saja. Saya gak lapar" Jawab Nathan sembari menuangkan jus jeruk dingin yang baru saja dia ambil dari dalam kulkas ke gelas di genggamannya. Lalu meneguknya segera.


"Eh.. Begitu mas?" Tanya mbak Asih.


"Iya. Makanlah!" Sahut Nathan.


"Yo wis kalau gitu mas. Saya makan nanti" Ucap mbak Asih seraya mengambil kembali makanan yang awalnya disuguhkan untuk tuan mudanya.


Ia lalu menyimpannya dalam laci di salah satu kitchen set yang berada di area dapur untuk dikonsumsinya pada siang hari nanti.


Usai meminum jus jeruk kesukaannya, Nathan kembali menuju kamar nya untuk bersiap. Tentu juga dengan niat ingin membereskan bekas pesta pribadinya tadi malam yang masih berserakan di lantai. Karena akan sangat berbahaya jika malah mbak Asih yang membersihkannya.


***


Beberapa notes dan buku-buku bertumpuk di meja kerja bunda. Ia juga sedang sibuk merekap beberapa pesanan catering yang di catatnya dalam laptop. Jemarinya dengan lihai menari di atas keyboard, mencatat setiap data yang diperlukan untuk operasional.


Sesekali ia menyeruput teh hangat yang tersaji di sampingnya. Meja kerja bunda, berada di salah satu ruangan dalam rumahnya yang menghadap langsung ke luar. Dapat terlihat dengan jelas pemandangan gunung dan hamparan rumah-rumah kecil di sekelilingnya.


Rumah bunda yang berada di Bandung memang terletak di dataran tinggi. Jadi wajar jika pemandangan alam yang di dapat dari sana sangat menyejukkan mata. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk menyulap ruangan yang semula adalah kamar tamu itu jadi ruang kerja untuknya.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, ia langsung menutup laptopnya. Lalu menghabiskan teh chamomile yang tersisa setengah cangkir. Matanya menatap rimbunnya pemandangan gunung di hadapannya. Itu adalah siang hari yang cerah, dihiasi dengan awan-awan yang bergerak perlahan mengikuti angin.


Membuat dirinya sedikit mengingat pertengkaran dengan Nathan tadi malam. Ia masih tidak menyangka, putranya yang selama ini selalu bersikap manis dapat berubah jadi seseorang yang kasar. Hanya karena membela wanita yang bahkan belum ada setengah abad dikenalnya.


Bunda meraih sebuah foto yang terbungkus dalam bingkai kecil yang ia letakkan di meja. Itu adalah foto dirinya, bersama dua orang putra kesayangannya, Nathan dan Keenan. Foto itu kira-kira di ambil sesaat sebelum Keenan terbang ke Jerman untuk melanjutkan studi kedokterannya disana.


Yang mana saat ini artinya, sudah tahun ke lima dirinya belum berjumpa lagi dengan Keenan si putra sulung. Kerinduan yang telah lama dipendam seperti sampai pada puncaknya, bunda menitikkan air mata sembari memanjatkan do'a pada sang khalik agar dapat segera berkumpul lagi dengan anak-anaknya.


Dering ponsel memecah konsentrasinya. Tangannya meraba, berusaha mendapatkan kacamata yang ia letakkan usai menginput data ke laptop tadi. Lalu ia segera mengenakannya kembali dan membaca nama kontak yang melakukan panggilan padanya. Nama Dara ternyata.


"Halo.. Dara, bagaimana kabarnya nak?" Sapa bunda dengan hati yang gembira.


"Dara baik. Bunda sendiri bagaimana? " Sahut Dara dari telepon.


"Bunda juga baik. Lama tidak ketemu ya Dara. Beberapa kali bunda mampir, tapi waktu itu warungnya tutup. Lalu ketika bunda kerumah, kamu sedang keluar. Bunda rindu nak" Ucap bunda.


"Iya bunda, aku juga" Timpal Dara.


"Ada hal apa ini Dara? Apa ada yang ingin disampaikan?" Tanya bunda.


"Oh. Iya, ini.. Mmm.. Bunda sekarang dimana?"


"Di rumah nak. Rumah di Bandung"


"Oh di Bandung ya. Bunda, kapan mau ke Jakarta?" Tanya Dara lagi.


"Belum tahu ini Dara. Bunda belum ada keperluan. Memangnya Dara ingin bertemu?"


"Niatnya begitu. Ada yang ingin Dara sampaikan" Jawab Dara.


"Bagaimana kalau besok? Bunda akan usahakan. Kamu mau?" Tawar bunda. Otaknya mulai menerka-nerka tentang apa yang ingin di sampaikan gadis itu.


"Apa tidak merepotkan bunda?"


"Tentu saja tidak. Oke, besok kita ketemuan ya. Bunda ke rumah atau warung nak?"


"Emm.. Kita ketemuan diluar saja bunda. Gimana?" Tanya Dara.


"Oh boleh, nanti Dara infokan dimana kita bisa ketemu ya. Bunda pasti akan langsung kesana" Jawab bunda.


"Baik bunda" Ucap Dara.


Tak lama kemudian panggilan berakhir, namun tidak dengan semangat bunda yang tiba-tiba menggebu. Ingin rasanya cepat-cepat esok hari karena ia merasa sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan Dara.


Sembilan puluh sembilan persen dirinya yakin Dara akan memberikan keputusan terkait perjodohan. Meski dirinya juga tak tahu entah itu adalah penerimaan, atau penolakan. Ia tak ingin lagi berharap banyak.


***



Dara memesan secangkir cappucino sembari menunggu kedatangan bunda. Sesekali ia mengecek ponselnya, kalau-kalau ternyata bunda menghubunginya.


Selang setengah jam kemudian, seorang wanita paruh baya berpenampilan elegant melambaikan tangannya dari kejauhan. Bunda telah datang. Dara segera beranjak dari kursi dan menyambut bunda dengan pelukan hangat.


"Hai nak.. Sudah lama ya?" Ucap bunda sembari memeluk Dara dan mengusap-usap bahunya.


"Belum lama kok bunda" Sahut Dara.


"Haduuh.. Bunda rindu sekali sama anak perempuan bunda ini" Ucap bunda seraya melepaskan pelukannya.


"Dara juga rindu bunda" Timpal Dara.


"Ayo.. Ayo duduk nak. Kamu sudah pesan minuman?"


"Sudah bunda, maaf tidak menunggu bunda dulu karena Dara agak haus" Ujar Dara.


"Iya nak.. Tidak apa-apa. Sebentar ya" Ucap bunda.


"Mbak.." Panggil bunda sambil melambaikan tangannya kepada salah satu waitress yang ada disana.


"Iya ibu, apa ada yang mau di pesan? Eh.. Ini bu Erina kan?" Ucap waitress tersebut.


"Iya betul" Jawab bunda.


"Wah.. Bu Erina tumben sekali datang tanpa mengabari dulu"


"Iya.. Saya kesini hanya karena janjian dengan anak saya ini" Ucap bunda sembari melirik ke arah Dara.


"Oh.. Ini anak ibu.." Ucap si waitress.


"Tolong buatkan saya lemon tea ya mbak, dan beberapa dessert yang best seller disini" Pinta bunda.


"Baik, ditunggu sebentar ya bu. Permisi" Pamit gadis waitress itu.


"Jadi, ini.. Cafe bunda?" Tanya Dara keheranan, karena sebelumnya ia tak mengetahuinya. Cafe yang pernah ia datangi kemarin bukanlah seperti ini.


"Iya Dara. Ini salah satu cafe milik bunda, sebenarnya join sih, dengan kawan baik. Jadi yaa milik berdua lah begitu. Di Jakarta ini bunda punya dua cafe, yang salah satunya ya ini" Jelas bunda.


Dara mengangguk pelan.


"Mmm.. Dara, jadi.. Apa yang ingin Dara sampaikan pada bunda?" Tanya bunda membuka obrolan.


"Oh. Iya.. Mmm.. Dari mana ya Dara mulainya" Jawab Dara sedikit grogi.


"Darimana saja yang paling mudah nak" Jawab bunda ramah.


"Begini bunda, soal.. Perjodohan yang bunda tawarkan waktu itu.."


Bunda diam dan menyimak dengan serius wajah Dara yang duduk di seberangnya.


"Dara sudah memutuskan kalau.." Sambung Dara lagi, dengan nada yang ragu.


"Kalau.."


"Iya?" Bunda merespon karena sudah sangat penasaran.


"K-kalau Dara.. Dara.. Mau menerimanya" Ucap Dara.


Bunda tertegun sejenak. Kata-kata yang keluar dari mulut Dara barusan membuat hatinya begitu lega dan ada perasaan ingin teriak saking gembiranya. Dara mau menikah dengan Nathan!


"Kamu yakin Dara?" Tanya bunda.


"Yakin bunda" Jawab Dara dengan mantap.


Bunda segera beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghambur ke arah Dara serta memeluknya erat.


"Terimakasih Dara.. Terimakasih banyak. Bunda pasti akan menyayangimu sama seperti bunda menyayangi anak-anak bunda sendiri. Terimakasih.." Ucap bunda haru.


"Sama-sama bunda" Jawab Dara.


"Kita harus mengatur waktu secepatnya. Bunda akan mempertemukan kamu dengan Nathan, bunda yakin, Nathan pasti suka sama kamu"


Dara diam dan tersenyum tipis pada bunda yang terlihat begitu semangat.


"Besok ya? Gimana?"


"Ha? Besok?" Ucap Dara kaget.


"Iya.. Besok.. Bunda mengundangmu datang ke apartment tempat tinggal Nathan. Kita makan malam bersama ya? Dara mau kan?" Ucap bunda sedikit memaksa.


"Uhm.. Besok ya bunda. D-dara.."


"Bisa kan?"


"Ah.. Bi-bisa bunda. Dara.. Akan usahakan ya" Jawab Dara pasrah.


"Ahh.. Baiklah.. Besok bunda akan minta pak Eko untuk menjemput kamu kerumah. Persiapkan dirimu ya" Ucap bunda dengan riang.


"Iya bunda"


"Silahkan bu, lemon tea dan menu dessert yang paling best seller disini" Ucap waitress tadi membawakan pesanan bunda. Menggubris pembicaraan bunda dan Dara.


"Terimakasih mbak" Jawab bunda.


"Ayo kita makan dulu Dara. Ini yang paling enak disini lho" Ajak bunda.


"Iya bunda" Jawab Dara seraya mengambil salah satu makanan yang tersaji.


Disaat yang bersamaan, ada perasaan lega di hati Dara karena telah memberi kejelasan pada bunda, namun entah mengapa, ada pula keraguan yang tersirat di dalamnya.


Namun ia akhirnya memilih untuk mengabaikan semua rasa ragu itu dan melanjutkan bercengkrama menghabiskan senja hari bersama calon ibu mertuanya.