
"Lo kenapa sih Nath! Argh..." Nathan menggebrak gagang setir mobilnya sendiri dengan gusar. Usai membujuk Dara, ia langsung bergegas pergi dari apartment. Walau belum ada tujuan dia merasa lebih baik mengurung diri di dalam mobil ketimbang tetap di apartment nya.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan dalam hatinya, antara kesal, malu dan jengkel. Moodnya sangat berantakan. Penolakan Dara yang dinilai sangat menyebalkan itu membayangi pikirannya. Terlebih kalimat menohok yang juga dilontarkannya.
"Memangnya sejak kapan kamu merhatiin aku?"
Hanya ada 6 kata, tapi terasa menusuk hatinya. Ya, Nathan mengakui, selama satu tahun lebih pernikahan berjalan dirinya memang sangat amat kurang perhatian pada Dara. Tapi maksudnya, semestinya dia tak mengatakan secara terang-terangan juga. Hal itu membuatnya merasa bersalah.
"Ngapain coba repot-repot bujuk dia. Kurang kerjaan apa?! Huft.." Nathan terus mengumpat geram.
Ddrrtt... Ddrrtt..
Getaran dari ponselnya mengalihkan perhatiannya seketika. Ia baru akan turut menghardik si penelepon yang menghubunginya di waktu tidak tepat itu, namun ketika melihat nama siapa yang tertera disana Nathan langsung mengurungkan niatnya.
Mana mungkin dia bisa melampiaskan emosinya pada seseorang yang dicintai?
"Hei.." Ucapnya memulai percakapan.
"Hai honey.. Aku punya berita baik untukmu" Ujar Monica dari seberang.
"Oh ya? Apa itu?" Nathan berusaha menarik napas untuk mengeluarkan semua energi negatif dalam dirinya.
"Aku sudah mendapatkannya! Surat cerai kamu. Baru aku ambil dari pengacara kita. It's been one step closer honey"
"Oh, begitu ya?" Tanggap Nathan datar.
"Hari ini kita ketemu ya. Aku yang datangi kamu atau mau kamu yang kerumahku?"
"Uhm.. Kita ketemuan di cafe saja. Aku kesana sekarang, kamu nyusul ya" Jawab Nathan.
"Noted. Sampai ketemu honey.."
"Oke honey.. See ya!"
Pria itu menutup panggilan dan langsung meletakkan ponsel di jok sebelahnya. Kemudian dengan malas menghidupkan mesin mobil lalu memacu lambat kendaraannya. Perasaannya masih tak tentu arah, kabar soal surat cerai yang sudah dipegang Monica malah membuat ia makin tak berselera untuk melakukan apapun.
Benarkah dia akan bercerai dengan Dara? Selalu pertanyaan itu yang berputar-putar di kepalanya. Sejujurnya, kalau saja bisa dia ingin menikahi Monica tanpa harus berpisah dengan Dara. Ya, itu memang egois. Tapi itu permintaan konyol dari hatinya sendiri.
Nathan hanya merasa terlalu kejam jika harus menceraikan Dara tanpa alasan yang tidak mudah diterima. Hanya-karena-belum-mencintainya?
...***...
Seorang wanita nampak masuk ke sebuah cafe sambil celingukan, mencari-cari satu wajah yang dikenalinya. Beberapa menit mengedarkan pandangan di sekeliling ruangan bertema klasik tersebut, sebelum akhirnya ia melambaikan tangan ketika sudah menemukan apa yang dicari.
Ya, dia Monica. Datang dengan membawa berkas yang tersimpan dalam sebuah map folder hitam di tangannya. Wajahnya sumringah dan semangat ketika menghampiri sang kekasih yang sudah menunggunya sejak tadi di salah satu sudut ruangan.
Pria itu tampak baru saja selesai melayani dua orang remaja laki-laki untuk berfoto bersama. Pemandangan yang cukup familiar bagi Monica sepanjang ia menjalin hubungan dengannya. Sikap humble yang di miliki Nathan selalu jadi daya tariknya tersendiri.
"Hei.. Sudah lama?" Sapa Monica seraya mendaratkan kecupan di pipi sang kekasih. Ia mengambil posisi di sebelah Nathan yang memilih duduk di sofa yang mampu menampung dua orang di atasnya.
"Nggak kok.." Sahut Nathan hangat. "Mau minum apa?" Sambungnya.
"Apa aja"
"Oke" Nathan memberi isyarat pada pelayan cafe agar segera menghampirinya.
Usai memesan minuman untuk Monica ia kembali fokus dengan wanita di sampingnya itu. Wajahnya begitu berseri, sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Nampak jelas suasana hatinya sedang bahagia.
"Here we go" Ucap Monica sembari menyerahkan map di tangannya pada Nathan. "Tinggal kamu dan Dara tanda tangani"
Nathan tersenyum tipis sembari membuka lembar surat itu. Sudah tertulis lengkap namanya dan Dara di atas selembar kertas putih tersebut. Hanya tinggal satu langkah lagi hal yang diimpikannya akan segera terwujud. Menghabiskan sisa umurnya bersama orang yang dicintai.
Tapi, kenapa mendadak ada pergolakan batin yang dirasakannya? Harusnya dia bahagia sebagaimana mestinya. Seperti Monica.
"Honey, what's up? Kok diam?"
"Uhm.. Ya.. Aku lagi fokus baca. Sorry"
Monica menyambar lengan sebelah kanan Nathan dan menyandarkan kepalanya pada pria disebelahnya dengan manja.
"I love you Nath. Akhirnya kita akan mendapatkan kembali masa depan yang kita impikan"
Nathan mengecup puncak kepala Monica dengan hangat. "I love you too. Tapi mungkin ini nggak akan mudah honey"
Pria itu mengangguk ragu.
"Tapi jangan khawatir. Aku pasti akan perjuangkan kamu" Ucap pria itu seraya membelai lembut pipi Monica.
"Aku percaya kamu. Tapi tolong, jangan kecewakan aku lagi ya?"
"Kamu bisa pegang janjiku"
Monica mengangkat lagi kepalanya. Ia menoleh dan memandangi wajah Nathan penuh harap. Pria itu membalasnya, tapi detik itu juga Monica merasa bahwa ucapan Nathan bagai tak sepenuhnya dari hati. Dia yakin betul ada hal yang di sembunyikan darinya.
Tapi apapun itu, Monica memilih untuk mengabaikannya.
...***...
Nathan bolak balik membuka dan menutup map berisi surat cerainya. Ia duduk gontai di sofa ruang tengah basecamp sambil menunggu temannya yang lain datang. Sambil menghisap rokok elektrik di tangannya, dan membuat kepulan asap sebanyak-banyaknya.
"Gue kenapa sih?" Gumamnya seraya menghisap rokoknya lagi.
"Ce.. Cerai.." Seseorang tiba-tiba menginterupsi nya dari arah belakang. Membaca sepotong tulisan yang tercetak di atas lembaran kertas dalam map di pangkuannya yang masih terbuka.
Nathan cepat-cepat menutup kembali map tersebut. Sementara Mike langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelah Nathan yang tampak kikuk.
"Nath, itu..? Lo mau cerai?" Mike yang datang tanpa disadari cukup mengagetkannya.
"Apa sih" Sahut Nathan yang berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia sangat ingin menjotos puncak kepala Mike yang sembarangan membaca privasi orang lain.
"Serius nanya gue Nath. Lo mau cerai? Sama Dara?!"
"Nggak usah kencang-kencang bisa nggak?" Bisik Nathan. Setelah kepergok Mike, ia juga tak ingin kepergok oleh kawannya yang lain. Apalagi Regy yang punya mulut penceramah itu.
"Sorry.. Sorry.. Kenapa sih Nath? Ada apa? Kenapa sampai begini?" Tanya Mike yang makin penasaran.
"Seharusnya lo sudah tau jawabannya"
"Sudah lewat satu tahun Nath. Masa masih belum bisa punya perasaan ke dia? Lo normal nggak sih?"
"Ya normal lah. Gila lo"
"Pasti.. Karena, Monica ya?" Tebak Mike ragu-ragu.
Nathan menghisap rokoknya lagi, lalu meletakkannya di atas meja.
"Tapi.. Kayaknya lo nggak bener-bener serius ya?"
"Nggak serius gimana? Ini udah ada buktinya"
"Bukan. Maksud gue.." Mike menggantung kalimatnya, membuat Nathan jadi ingin tahu apa yang akan diucapkan kawannya tersebut. Ia memasang telinga baik-baik, tak ingin salah dengar.
"Gue yakin Nath, sebenarnya lo udah punya perasaan kan ke Dara? Munafik kalau lo jawab belum"
Nathan diam, tebakan Mike diluar ekspektasinya.
"It's none of your bussiness. Udahlah Mike"
"Ya sorry sebelumnya, gue bukan mau ikut campur Nath. Cuma sayang aja. Kenapa harus cerai?"
Mike menepuk bahu Nathan.
"Bro, mending dipikir-pikir lagi. Sebagai teman, gue cuma nggak mau lo sampai nyesel" Lanjut Mike mencoba memberi saran yang bijak. Meskipun ia juga tak berharap banyak Nathan akan mendengarkan sarannya.
Mike bangkit dari sofa, meninggalkan Nathan menuju ruang studio yang sudah disambangi Regy sejak tadi. Sedangkan Nathan, dia masih kalut. Ucapan Mike barusan mungkin bisa jadi ada benarnya. Tanpa disadari, dirinya mulai menyimpan rasa pada Dara.
Jika di cocokkan dengan ketika ia merasa khawatir saat mengetahui bahwa Dara sedang sakit, perasaan gembira yang seakan tertahan ketika akhirnya ia berhasil mendaftarkan gugatan cerai, agaknya sudah cukup dijadikan bukti bahwa mungkin benar, dia sudah sedikit punya rasa cinta untuk Dara.
Tapi bagaimana bisa? Apa karena Dara mampu memenangkan hatinya lewat masakannya yang selalu sedap dirasa? Atau Karena parasnya yang cantik, tatapan teduh dan wajah yang damai ketika ia terlelap? Jika hanya karena fisik, itu adalah jawaban yang klise.
Lalu apa? Sejak kapan? Ia bahkan tak menyadarinya sama sekali. Nathan menggaruk kepalanya dengan kasar sembari mengumpat gusar. Urusan percintaan ini benar-benar membuatnya kehilangan gairah bahkan hanya untuk sekadar menyentuh gitarnya.
Dilemparnya map berisi surat gugatan cerai tersebut ke atas meja.
"Argh!" Erangnya. Bersamaan dengan wajahnya yang berubah merah padam.