An Angel From Her

An Angel From Her
55# Dara dan Monica



"Dara.." Panggil Nathan ke arah Dara yang tengah sibuk dengan hidangan di depannya. Nampak jelas sekali dia menyukai apa yang dipesankan Nathan untuknya.


"Hhm? Ada apa Nath?" Sahut Dara sambil mengunyah.


"Aku ada hadiah untukmu" Nathan merogoh saku blazer yang dikenakannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam.


Mendengar hal itu, Dara cepat-cepat meletakkan sendok dan garpu dalam genggamannya ke atas piring. Kini, ia menaruh perhatian sepenuhnya pada apa yang akan Nathan berikan.


"Ini.."


Dara tertegun kala Nathan menyerahkan sebuah kotak perhiasan ke tangannya. Ia membuka perlahan, dan mendapati sebuah kalung berlian yang sangat berkilau dan sedikit menyilaukan matanya.


"Ini.. Ini apa Nath?" Tanya Dara dengan suara yang bergetar.


"Hadiah. Untukmu yang sudah bersedia sabar menghadapi ku selama satu tahun ini"


Dara benar-benar kehilangan banyak kosa kata. Bagai mimpi, ia hampir tak percaya dengan apa yang dilakukan Nathan saat ini. Pria itu, yang dulu tampak membencinya sekarang justru bersikap begitu baik padanya. Semua hadiah ini, ia merasa tak pantas mendapatkannya.


"Sudah satu tahun ya.."


"Dara.. Aku memang belum mencintaimu. Tapi kurasa, kamu pantas mendapatkan ini"


Dara menatap nanar kedua mata Nathan.


"Biar ku pakaikan kalungnya"


Nathan beranjak dari kursi dan segera memakaikan kalung berlian itu ke leher Dara dari arah belakangnya. Seketika tampilannya berubah, tingkat kecantikannya bertambah kala berlian itu menempel sempurna di lehernya.


"Kalung itu cocok untukmu"


"Nathan.. Ini.." Ucap Dara terbata-bata. "Aku rasa ini terlalu berlebihan.. Apa aku pantas mendapatkan ini darimu?" Lirih Dara.


"Kenapa tidak?"


"Ini indah sekali Nathan.. Terimakasih banyak, untuk semua.." Bulir air mata menyembul dari ujung pelupuk mata Dara. Ia begitu terharu dengan moment tak terduga ini.


"Kenapa kamu menangis?"


Dara terdiam, air matanya menetes dan sedikit membasahi pipinya. Sementara Nathan menatapnya heran. Ia juga tak menyangka bahwa apa yang dilakukannya sangat berarti untuk Dara. Sebenarnya, hal seperti ini juga pernah diberikannya untuk Monica. Tapi responnya sangat berbeda dengan Dara.


"Kamu mau menerima pernikahan kita saja sudah membuatku sangat bersyukur. Dan sekarang, kamu memberiku hadiah seperti ini.."


Nathan terkekeh pelan.


"Sudahlah Dara.. Kamu nggak perlu menangis lagi. Ayo di lanjutkan makannya.. Aku tahu kamu pasti suka"


Dara menyeka sendiri air matanya yang tersisa. Sembari menenggak minuman untuk melegakan kerongkongannya yang tercekat oleh rasa harunya. Ia menetapkan, malam ini masuk ke dalam daftar malam favoritnya bersama Nathan.


Melihat bagaimana Dara bereaksi sungguh membuat perasaan Nathan lega dan ikut merasakan suka cita. Meski di benaknya, tak dapat hilang begitu saja soal peristiwa sore tadi ketika Monica menampakkan dirinya lagi.


Setelah satu tahun menghilang tanpa kabar, dan membiarkannya sedikit melupakan semua memori tentang kebersamaan mereka, wanita itu dengan seenaknya muncul. Mengacaukan perasaannya. Memaksanya untuk memilih, kembali ke masa lalu, atau tetap bertahan pada niatnya untuk berusaha mencintai Dara.


Tapi, sanggupkah dia untuk mematahkan perasaan Dara lagi? Setelah semua yang telah ia berikan untuknya?


...***...


Nathan dan Dara sampai di apartment sekitar pukul 21:00. Mereka masuk ke kamar beriringan dengan Dara yang berjalan duluan. Sejak dari resto tadi, Dara tak hentinya tersenyum bahagia sambil sesekali menyentuh kalung berlian yang terpasang di lehernya.


Dia tak pernah berharap sampai sejauh ini. Tapi Tuhan maha baik dengan memberikan malam berharga ini untuknya. Dara menghentikan langkah ketika sampai di dalam kamar. Dan Nathan yang berjalan di belakangnya juga ikut berhenti.


Wanita itu berbalik arah, menghadap Nathan yang juga menatapnya. Kedua pipinya bersemu pink, salah satu hal yang disukai Nathan darinya.


"Sekali lagi.. Terimakasih untuk malam ini Nath.. Aku bahagia" Ucap Dara.


Senyum ramah tersungging di bibir Nathan ketika mendengar ucapan terimakasih dari Dara yang entah sudah yang keberapa kalinya.


"Sama-sama Dara.. Aku turut senang kalau kamu bahagia"


Nathan maju beberapa langkah di depan Dara. Membuat posisi mereka hanya berjarak sekitar satu jengkal.


"Ra.." Panggil Nathan. Ia meraih tangan sebelah kanan Dara dengan tangan kirinya, kemudian menggenggamnya sambil mengusap dengan lembut.


Ada perasaan yang mendorong dirinya untuk mencoba lebih dekat dengan Dara. Ia telah bertahan selama satu tahun tanpa menyentuhnya karena memang waktu itu dia tak sama sekali memiliki rasa dan berminat untuk melakukan yang lebih dengan Dara. Kini, saat hatinya mulai hampir berlabuh padanya, rasa untuk menyentuh Dara kian kuat.


Nathan menatap lekat-lekat wajah Dara yang nampak kikuk di depannya. Sambil sedikit menundukkan kepala karena postur tubuh Dara yang mungil. Perlahan telapak tangan sebelah kanannya menyentuh pipi Dara dan membelainya penuh perasaan.


Dara semakin gugup , bahkan Nathan dapat merasakan telapak tangan Dara yang mulai dingin. Wanita itu tak dapat mengontrol perasaannya sendiri ketika sentuhan dari tangan suaminya mendarat di bagian tubuhnya. Ini adalah kali pertama seorang pria menyentuh tangan dan wajahnya.


Dering ponsel Nathan yang melengking tiba-tiba memecah suasana romantis diantara keduanya, membuyarkan konsentrasi Nathan yang baru berniat untuk memberi kecupan pada salah satu bagian dari wajah Dara. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Dara, dan berdecak kesal.


Membayangkan saja dia tak sanggup, apalagi jika harus merasakannya sendiri.


"Angkat saja dulu Nath.. M-mungkin penting" Ujar Dara yang masih gugup.


Nathan mengiyakan ucapan Dara dan segera meraih ponselnya yang berada di saku blazer bagian dalam yang masih dikenakannya.


"Nomor nggak di kenal" Ucapnya pada Dara sambil memperhatikan layar ponselnya.


"Mungkin nomor baru dari temanmu" Tebak Dara.


"Kamu nggak apa-apa kalau aku terima panggilan ini?"


"Ya.. Terimalah.." Ucap Dara bernada penuh keyakinan.


"Baiklah.. Tunggu sebentar ya"


Nathan langsung berlalu dari hadapan Dara yang seketika menghembuskan napas lega. Ia duduk di tepi ranjang sembari memegangi dadanya tempat jantung yang berdetak tidak karuan.


"Hampir saja.." Gumam Dara sambil mengatur napas.


Sementara Nathan menjauh dari kamar menuju lantai satu untuk menerima panggilan telepon yang baru saja mengganggunya.


"Halo.." Ucapnya.


"Halo Nathan.." Ucap seseorang dari sana.


Deg!


Suara ini, Nathan sangat familiar dengannya.


"Monica?" Tembak Nathan.


"Ahh.. Kamu memang belum bisa melupakanku ya Nath.."


"Ini nomor mu?"


"Yeah, honey.. Ups.." Goda Monica.


"Ada perlu apa telepon malam-malam?"


"Basa basi dulu lah Nath.. Tidak usah terburu-buru begitu.."


"Maaf Mon, tapi aku sedang lelah.."


"Lelah habis jalan-jalan ya sama istri kamu?" Ucapan Monica seketika membungkam Nathan.


"Nath, aku rindu sekali. Boleh kita bertemu besok?"


"Aku sedang banyak kegiatan. Jadi, aku nggak bisa janji"


"Dulu kamu selalu meluangkan waktu untukku. Nath, aku ingin minta maaf padamu.."


"Aku sudah memaafkanmu"


"Tapi aku ingin bertemu. Boleh ya? Please.."


Mendengar rengekan Monica yang dulu bagai candu terasa mengembalikan semua kenangan yang hampir berhasil dihapusnya. Cinta pertama memang sangat sulit untuk dilupakan begitu saja.


"Aku akan mengabarimu kalau nanti ada waktu"


"Benar ya? Jangan bohong!" Tegas Monica.


"Iya.. Aku janji"


"Yeay.. Thanks honey.. I miss you, kabari aku secepatnya. Aku tunggu lho.."


"Oke.."


"Bye honey.."


Nathan langsung menutup panggilan tanpa membalas kata-kata terakhir Monica padanya. Kini, perasaannya jadi campur aduk tidak karuan. Sejujurnya, rasa cinta pada Monica memang tak pernah bisa hilang. Meskipun berusaha sekuat tenaga untuk membenci, tapi rasa itu justru makin kuat dan tak mudah untuk dimusnahkan.


Pria itu dilema, dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Cintanya telah kembali, disaat dia mulai membuka hati untuk Dara sang istri sah yang telah dinikahinya selama satu tahun. Nathan juga tak ingin egois dengan memilih dua-duanya. Dan lagi, apakah Dara akan sanggup jika harus di duakan?


Semua yang dipikirkan membuatnya pusing. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar dan menghampiri Dara yang mungkin masih menunggunya. Dengan langkah gontai kakinya menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dan masuk ke dalam kamar sesampainya disana.


Tapi kenyataan lain mematahkan ekspektasinya. Dara sudah terlelap duluan di atas ranjang, ia tak menunggunya. Nathan mengusap wajahnya dengan gusar sambil menjatuhkan diri ke atas sofa. Dara, dan Monica. Dua wanita yang mampu menawan hatinya, kini sedang mengacak-acak perasaannya dalam waktu yang bersamaan.