
"Nath!." Regy menepuk bahu Nathan cukup keras hingga mampu membuyarkan lamunannya. Mereka tengah menunggu di lounge area bandara, baru saja selesai check in.
"Apaan sih gy! Ngagetin!." Ucap Nathan gusar. Perasaannya gundah dengan tak henti nya memikirkan Dara.
"Ngelamun aja."
Nathan berdecih kesal sementara Regy nampak tak berdosa. Berkali-kali ia mencoba untuk menghubungi mbak Asih, namun nomor teleponnya tak juga aktif. Sebentar lagi mereka akan berangkat, meninggalkan ibu kota. Nathan ingin memastikan kondisi Dara baik-baik saja agar dapat pergi dengan tenang.
Terbesit pikiran untuk membatalkan perjalanan ini dan kembali ke apartment, tapi beberapa menit kemudian ia mengurungkan lagi niatnya. Bagai tak punya pendirian, ia terus mengubah pemikirannya sendiri berulang kali, mencoba menelaah mana yang lebih baik. Meski raganya tetap tak berpindah dari sana.
"Minum Nath." Mike datang dan duduk di kursi sebelahnya, menyodorkan satu buah kaleng minuman bersoda untuk Nathan yang tampak dipenuhi beban pikiran.
"Thanks." Nathan menerima dan langsung membuka penutup kaleng untuk segera meneguk isinya.
"Ada yang lagi di pikirin Nath?." Tebakan Mike seringkali tepat sasaran. Bagai bisa membaca pikiran sahabatnya.
"Ada sih.. Cuma.." Nathan menggantung kalimat. "Udahlah nggak usah dibahas. Bukan apa-apa kok."
"Dara baik-baik aja kan?,"
Sepasang mata cokelat terang itu terpusat pada kawannya yang tiba-tiba menyebut Dara. Nama yang sedari tadi terus menggelayuti pikirannya.
"Ya.. Dia baik-baik aja."
"Syukurlah."
Nathan mencoba untuk lebih tenang dan menanamkan pemikiran positif meski hatinya melawan. Dilihatnya jam yang melingkar di tangannya, pukul 18:30, dan pesawat nya akan berangkat satu jam lagi. Gemuruh yang mendadak terdengar dari langit jadi pertanda bahwa hujan akan mengguyur wilayah ibu kota sebentar lagi.
Juga seakan memberi tanda bahwa ada seorang ibu yang sedang berjuang mempertahankan napasnya demi bayi dalam kandungannya di meja operasi.
Dokter segera mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk menunjang proses operasi caesar begitu memastikan kondisi Dara yang tak dapat lagi melahirkan Pervaginam.
Ia mengalami perdarahan, serta kejang akibat komplikasi eklampsia yang mana adalah kelanjutan dari preeklampsia. Selama ini Dara sudah menyadari kemungkinan buruk yang akan menimpa nya, namun ia tetap mencoba untuk percaya semua akan baik-baik saja.
Meski pada akhirnya ia harus mengalami kenyataan yang jauh dari harapannya.
"Siapkan dua kantong darah untuk transfusi. Serta suntikan MgSO4 untuk kejangnya." Perintah dokter kepada salah seorang suster.
"Baik dok."
"Apa yang terjadi dok?." Tanya Keenan yang ikut serta dalam proses persalinan, ia dengan sukarela menjadi dokter anak yang akan menangani calon keponakannya.
"Pasien mengalami eklampsia, ditandai dengan kejang yang di alami. Kita harus segera mengeluarkan bayinya karena dia juga mulai melemah."
"Saya serahkan semua pada dokter, tolong dibantu yang paling maksimal. Dia adik saya dok, dan ini adalah keponakan pertama saya."
"Baik dokter Keenan, mari kita sama-sama berusaha dan jangan lupa berdo'a."
Keenan mengangguk lemah, begitu patah hati menyaksikan kondisi Dara yang memprihatinkan. Tapi ia tetap optimis dan yakin bahwa Dara beserta bayinya bisa di selamatkan. Dari balik masker medis, penutup kepala dan surgical gown yang dikenakan, Keenan hampir tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
...***...
Empat puluh menit berlalu, proses persalinan darurat berjalan penuh ketegangan. Dara masih tak sadarkan diri, ia bahkan tidak menyaksikan ketika bayinya lahir, keluar dari perut yang jadi tempat bernaungnya selama sembilan bulan.
Bayi itu masih kurang berat badan, lahir dalam keadaan biru, tak ada tangis dan denyut nadi yang melemah. Keenan segera mengambil alih, memberi pertolongan pertama dengan menepuk-nepuk punggung, mencubit kecil telapak kaki serta memberi oksigen. Menyedot cairan dari hidung dan kerongkongan agar ia bisa bernapas dengan leluasa.
Segala upaya dilakukan demi mempertahankan hidup keponakan kecilnya. Keenan optimis bayi itu pasti akan bertahan, selamat dan tumbuh menjadi gadis kecil yang bahagia.
"Ayo sayang.. Semangat. Ini paman Keenan, kamu pasti kuat gadis cantik." Ucap Keenan seakan bayi kecil lemah itu dapat mengerti apa yang dikatakannya.
Sementara obgyn masih sibuk menjahit luka sayatan di perut ibunya, usaha Keenan akhirnya membuahkan hasil. Putri kecil Dara menunjukkan respon yang bagus, jika dilihat dari tubuhnya yang berangsur memerah. Kaki dan tangan kecilnya meronta, dan tidak lama dari itu tangisannya terdengar. Melengking kuat, memecah atmosfir menegangkan di ruang operasi.
Keenan memahat senyum dari balik masker medis yang menutup setengah wajahnya. Melihat keponakannya mampu bertahan tak terasa air mata haru jatuh dari ujung matanya.
"Terimakasih anak manis, karena sudah bersedia untuk bertahan." Keenan mendekap tubuh kecil yang masih dipenuhi vernix caseosa dalam pelukannya.
Ia menoleh ke arah meja operasi tempat Dara terbaring. Bersamaan dengan obgyn yang juga menoleh dan memandangnya. Keenan menyadari sorot matanya yang mengisyaratkan suatu hal kurang baik.
"Pasien atas nama Dara, koma."
Hatinya begitu nyeri, dipandanginya bayi kecil yang masih menangis meronta dengan nanar. Mungkinkah dia takkan pernah merasakan pelukan ibunya?.
...***...
"Keenan!." Bunda menghampiri putra sulungnya yang baru saja keluar dari ruang operasi.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Keenan menyempatkan diri terlebih dahulu untuk mengabari bunda tentang persalinan Dara yang mendadak. Suatu kebetulan bunda juga sedang berada di Jakarta, dan tak lama setelah itu ia langsung meluncur ke rumah sakit.
Wanita paruh baya itu terus bertanya-tanya sebab melihat cucu kecilnya dibawa tergesa-gesa oleh suster menuju ruang NICU. Ia menduga ada sesuatu yang tidak beres.
"Keenan, ini ada apa sih? Tadi suster bilang bayinya akan dibawa ke ruang NICU. Ada masalah apa? Dara bagaimana? Baik-baik saja kan?," Bunda tampak sangat khawatir, terlebih ketika melihat sorot mata Keenan yang lemah.
"Dara.." Keenan menjeda, tidak begitu yakin akan menyampaikan berita kurang baik ini.
"Iya Dara kenapa? Ada apa Keenan? Jawab!"
Pria itu menatap wajah ibunya, sembari melepaskan masker yang menutupi area hidung dan mulut sepanjang operasi berlangsung. Ia menghela napas dan bersiap menjawab pertanyaan bunda.
"Dara koma."
Bunda nampak shock, menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangan. Jawaban Keenan mengguncang nya seketika.
"Koma.." Gumam bunda. Ia mundur beberapa langkah. Tampak mbak Asih juga sama terguncang nya.
Tangisnya pecah, bunda tidak menyangka sama sekali hal ini akan menimpa menantu kesayangannya. Sementara itu, Keenan justru murka. Pada Nathan yang dinilai amat bodoh.
Ia menepi sejenak, mengambil jarak dari bunda untuk menelepon Nathan. Cepat-cepat ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel yang di switch off. Lalu segera melakukan panggilan yang ditujukan pada adiknya.
Beberapa kali berlangsung, tak ada satupun panggilannya yang di terima. Nathan yang menyadari Keenan meneleponnya merasa tak sudi menerimanya. Ia mengabaikan meski tersirat satu pertanyaan. Ada apa?.
Karena tak biasanya Keenan begitu ngotot meneleponnya. Bisa saja saat ini terjadi sesuatu yang penting.
"Guys.. Delay!." Teriak Regy pada anak-anak asuhnya yang masih menunggu keberangkatan pesawat hingga hampir kehilangan kesabaran.
Semuanya berdecak kesal kecuali Nathan yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia memandangi layar ponselnya. Satu pesan tiba-tiba datang, dan itu masih dari Keenan.
"NATH, TOLONG JAWAB. INI PENTING! DARA MELAHIRKAN!."
Nathan tersentak membaca pesan teks yang dikirim kakaknya. Bola matanya membulat dengan jantungnya yang nyaris lompat dari tempatnya.
Panggilan telepon kembali masuk ke ponselnya, kali ini Nathan tak melewatkannya. Ia menerima dan memasang telinga baik-baik mendengarkan penjelasan dari Keenan.
Tangannya gemetar menyangga ponsel yang menempel di telinga. Dugaannya tak meleset, inilah penyebab perasaannya dilanda gundah yang tak berkesudahan.
Dara telah melahirkan, mengantar separuh dari dirinya berjumpa dengan dunia.
...***...
.
.
.
.
.
.
.
Haaii.. maaf telat upload yaa dear. Kemarin mendadak pikiran Rose stuck, bener² nggak dapat apapun buat di tulis 😀 Makasih untuk yg masih setia menunggu yaa..
Love u all 🖤🌹