An Angel From Her

An Angel From Her
102# Menepati Janji



Nathan menepati janji yang sempat dibuatnya soal mengantar dan menemani Dara membeli perlengkapan untuk bayi mereka. Di sebuah toko yang cukup besar dan terkenal di bilangan Jakarta, mereka begitu antusias membeli semua perintilan yang akan dibutuhkan untuk bayi.


Mulai dari baju hangat, selimut, topi bayi, kaus kaki, hingga peralatan besar seperti tempat tidur dan kereta dorong bayi tak luput dari keranjang belanja.


Mereka memilih tone warna unisex dari setiap perlengkapan itu, mencari warna yang aman untuk dipakai oleh bayi laki-laki maupun perempuan. Karena memang keputusan mereka yang ingin mengetahui jenis kelamin bayi nya di hari kelahirannya nanti.


Namun lagi-lagi Dara juga membeli dua pasang pakaian bayi perempuan yang cantik.


"Kenapa baju anak perempuan lucu-lucu semua ya" Ucap Dara sembari memandangi sebuah dress bayi perempuan di tangannya.


"Iya" Sahut Nathan. "Aku jadi membayangkan kalau nanti kita punya anak perempuan, dengan wajahnya yang cantik seperti kamu. Lalu memakai dress se cantik ini. Mungkin aku akan jadi daddy yang sangat protektif"


"Kamu sudah jadi suami yang sangat protektif. Lalu ketika nanti punya anak perempuan yang cantik seperti bayanganmu, sama sekali nggak terbayang dalam benakku kamu akan jadi manusia macam apa"


Nathan terkekeh, "mengerikan" Imbuhnya. Lalu mereka tertawa bersama.


.


.


"Fiuuhh.. Bagaimana bisa kita membeli barang sebanyak ini?" Ucap Nathan ketika selesai memasukkan semua barang yang baru dibelinya ke dalam mobil.


Tampak barang-barang itu saling berdesakan di kabin belakang, memenuhi hampir seluruh ruang.


"Kamu selalu bilang 'beli saja' pada setiap barang yang ku perlihatkan. Ya beginilah jadinya"


"Oh ya. Kamu benar juga" Pria itu menggaruk-garuk kepala.


Nathan membuka pintu mobil bagian depan, mempersilahkan Dara untuk masuk. Wanita itu naik perlahan, dan Nathan segera menutup pintunya ketika ia telah duduk dengan sempurna dan memasang seat belt.


"Nath, makasih ya sudah menemani ku belanja ini semua" Ucap Dara pada Nathan yang telah menempatkan diri di belakang kemudi.


Pria itu mengusap puncak kepala Dara.


"Sama-sama sweetheart" Ia memandangi senyum istrinya yang mempesona, dan jatuh cinta berkali-kali padanya.


...***...


Sesampainya di apartment mereka tak dapat menahan diri untuk segera merakit ranjang bayi yang dibelinya, menempatkan barang itu di kamar tamu yang kosong, berpikir untuk menyulap nya jadi kamar bayi.


Nathan mengamati dengan saksama petunjuk pemasangannya, lalu mengikuti tahapan sesuai keterangan yang tertera. Sedikit kesulitan karena ia sama sekali tak punya pengalaman rakit merakit barang selain keahlian dalam memperbaiki senar gitar.


Dengan penuh perhatian Dara membantunya sesekali, memegang beberapa bagian yang perlu dipegangi. Lalu setelah itu datang dengan segelas jus jeruk dingin untuk Nathan. Kemudian menyeka peluh yang mulai berjejak di dahi suaminya.


Cukup lama mereka berdua berkutat dalam kamar itu, hingga Nathan sanggup mengabaikan belasan panggilan telepon serta pesan yang masuk ke ponselnya yang di setel dengan mode getar saja.


Mereka melakukan pekerjaan bersama, disisipkan dengan candaan dan guyonan yang dilontarkan satu sama lain.


Hari berganti malam, ketika akhirnya kamar tamu itu berubah fungsi jadi kamar bayi. Namun ranjang yang lama tetap berada pada tempatnya, Nathan sengaja tak memindahkan karena apartment itu tidak memiliki gudang besar khusus penyimpanan barang.


Dara berdiri sejajar dengan Nathan sambil memandangi ranjang bayi yang telah selesai di rakit. Pria itu merangkul istrinya dan mendekatkan tubuhnya.


"Jadi nggak sabar ya Nath" Ujar Dara dengan sorot mata yang berbinar.


"Iya. Apartment ini nanti pasti akan ramai dengan suara anak-anak" Sahut Nathan. "Nggak pernah terbayangkan, akhirnya aku akan punya anak"


"Semua orang akan punya anak. Kalaupun tidak, pasti setidaknya akan selalu ada penerusnya"


"Tapi awalnya, punya anak itu nggak masuk dalam daftar perjalanan hidupku Ra.."


"Kenapa?" Dara mendongakkan kepala nya pada Nathan yang menjulang tinggi di sebelahnya.


"Se simple karena memang aku nggak ingin" Jawab Nathan. "Aku punya karier yang cemerlang, pergi kesana kemari mengisi acara. Kalau punya anak, aku pikir itu akan sangat merepotkan. Dan aku nggak akan bisa banyak meluangkan waktu untuknya. Nggak yakin akan bisa jadi ayah yang baik" Sambung nya.


"Apa kamu masih merasa begitu sampai sekarang?"


"Aku yakin, kamu pasti akan jadi ayah yang baik untuknya"


Nathan menatap Dara lembut. "Ajari aku ya" Lalu mengecup kilat bibir istrinya.


Mereka memandangi lagi kamar itu, Sama-sama hanyut dalam bayangannya masing-masing. Dengan Nathan yang masih belum bisa mengerti perubahan dari perasaannya sendiri.


...***...


Dara membaca ulang hasil pemeriksaan lab yang di peroleh nya saat kontrol bulanan beberapa hari yang lalu. Sembari duduk di atas ranjang, bersama Nathan yang telah terkulai lebih dulu.


Dara menyadari ada sesuatu yang tidak beres sedang di alaminya.


Ia berpikir sangat banyak, mungkin lebih dari seribu kali untuk mengatakan hal ini pada Nathan. Dara tidak ingin membuat satu orang pun mengkhawatirkan nya, dan lagi, ia pasti akan merasa bersalah jika harus membebani Nathan yang bahkan telah rela merubah rencana hidup demi dirinya.


Pria itu sudah sangat baik, mampu mengisi tangki cintanya hingga penuh bahkan meluber. Membangun kepercayaan diri untuknya, membuat ia merasa jadi istri paling bahagia, dan beruntung.


Matanya bolak balik membaca dan memahami isi dari selembar kertas di tangannya, berusaha memberi afirmasi positif untuk dirinya yang sedikit diliputi rasa takut. Bukan takut hal ini akan membahayakan nya, ia hanya khawatir takkan bisa benar-benar menjaga bayi dalam kandungannya hingga waktunya tiba.


Dara ingin mencoba menyelesaikan permasalahannya sendiri, tanpa melibatkan siapapun. Dan berharap Tuhan meridhoi niatnya.


Dilihatnya Nathan yang tertidur lelap dengan wajah damai di sebelahnya. Sungguh membuat kehangatan menjalar ke seluruh relung hatinya. Dara berpikir, apa ia akan bisa terus menemani pria itu?


Merawatnya saat sedang sakit, mengurus dan menyiapkan semua keperluannya seperti biasa. Melihat ekspresi puasnya saat selesai menyantap makanan buatannya.


Mendadak matanya terasa panas, dengan hati bagai di tusuk oleh belati yang menyakitkan. Beberapa detik berlalu dan air mata itu jatuh membasahi wajahnya secara perlahan, hingga makin deras.


Dara terisak, sendiri, merasa amat takut berpisah dari Nathan. Waktu seakan berhenti, dia sangat mencintai pria itu, dan bermimpi untuk menua bersamanya. Tapi, jika kondisi nya seperti ini, mungkinkah?


...***...


"Aku janji akan pulang cepat hari ini sayang" Ucap Nathan sambil memakai jaket kulit hitam yang baru saja diserahkan Dara. Ia sedikit merapikan nya sambil bercermin.


"Bekerjalah dengan penuh konsentrasi sayang. Jangan kecewakan penggemarmu. Aku baik-baik saja disini" Sahut Dara lembut.


Nathan berbalik, pada Dara yang berbicara di belakangnya. Ia meraih kedua tangan istrinya dan menggenggamnya hangat. Wajah teduh dan suara lembutnya, selalu mampu menenangkan hati.


"Baiklah. Tapi aku akan tetap berusaha untuk pulang secepat mungkin"


"Iya Nath.." Dara terlihat menarik napas dalam, sedikit menunjukkan sesuatu yang tengah dirasakannya.


"Sayang, are u okay?" Nathan meletakkan telunjuknya di atas dagu Dara dan menaikkannya sedikit.


"Uhm.. Hanya sedikit pusing. Tapi nggak masalah Nath. Ku rasa akan hilang kalau dibawa tidur"


"Aku nggak jadi berangkat saja kalau begitu"


"Nggak Nath. Jangan. Aku baik-baik aja. Kamu tau, ibu hamil memang seringkali kurang tidur karena sulit memposisikan tubuh dan perut yang besar. Jangan khawatir, setelah istirahat pasti akan lebih baik. Lagipula disini kan ada mbak Asih yang menemani" Dara berusaha meyakinkan Nathan yang mulai menunjukkan ke khawatirannya.


"Kamu yakin?" Terka Nathan seraya mengamati adakah kebohongan yang tergambar di wajah istrinya.


"Ya. Aku yakin sayang. Berangkatlah"


Nathan diam beberapa detik sebelum akhirnya mengiyakan ucapan Dara.


"Oke. Tapi janji, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya!"


Wanita itu setuju, dan mengangguk dengan patuh. "Aku janji!" Ikrarnya.


"Aku berangkat ya, nggak usah menemani sampai depan. Langsung istirahat sekarang" Nathan membungkuk lalu mencium perut istrinya. "Daddy pergi dulu. Baik-baik ya nak, jangan buat susah ibumu"


Dara membelai rambut suaminya sembari mengukir senyum. Dan Nathan juga turut mengecup bibirnya, kemudian melenggang pergi keluar dari kamar.