An Angel From Her

An Angel From Her
107# Kontraksi Dini



Nathan terperanjat, panik dan khawatir dalam waktu yang bersamaan sebab mengetahui Dara tengah bertemu dengan Monica hanya berdua di sebuah cafe.


Salah seorang penggemarnya yang juga berada di sana, entah sedang ada angin apa tiba-tiba mengirim pesan lewat sosial media pribadinya. Memotret diam-diam sosok dua orang wanita yang ada di hidupnya. Dan membubuhkan kalimat tambahan dalam pesan tersebut.


Dia tak lagi memikirkan Regy juga kawan-kawan yang memandang heran dengan kepergiannya yang mendadak. Dalam isi kepalanya hanyalah Dara, dan bagaimana caranya agar dapat secepat mungkin sampai di cafe itu.


Darah yang berdesir, jantung yang berdetak dan mengalami peningkatan tempo mengiringi nya hingga tiba di sana. Membuatnya tak mampu menahan diri ketika sorot matanya menangkap sosok Dara yang hendak keluar dari cafe.


Ia menghadang dan menyadari bahwa Monica nampaknya sudah tidak berada di sana. Dara sendiri, dan ia amat bersyukur sebab melihat Dara dalam kondisi baik. Tak ada satupun yang terluka maupun kurang darinya.


Namun ketika Dara mengajukan pertanyaan seputar bagaimana ia bisa berada di sana secara tiba-tiba, Nathan enggan menjawab dengan detail.


Dan sesuai dengan instruksinya, Dara benar-benar menjalankan syarat yang dijabarkannya. Demi mendapat pengampunan sang suami, dan menebus rasa bersalahnya.


Dengan telaten Dara memijit punggung Nathan yang bertelanjang dada ketika malam tiba. Dalam kamar mereka, ditemani lampu temaram dan wewangian dari aromaterapi yang di uap. Diletakkan di atas nakas sebelah ranjang.


"Apa tenaganya kurang kuat?"


"Ahh.. Cukup sayang" Sahut Nathan yang tengah menikmati pijatan Dara sambil duduk di tengah ranjang. "Coba ke kiri sedikit." Pintanya.


"Jadi, kamu se marah itu tadi siang, dan aku hanya harus memijit untuk memenuhi syaratnya?"


"Menurut kamu?" Nathan bertanya balik.


"Ya.. Aku pikir kamu akan minta dibuatkan bermacam-macam makanan favoritmu, atau.."


"Atau apa?," Pria itu menarik salah satu tangan Dara. Menghentikan pijatan yang terasa membelai-belai punggungnya.


"Atau"


"Sebenarnya bukan cuma ini." Potong Nathan, ia berbalik arah, menghadap Dara yang bersimpuh di belakangnya.


"Jadi.. Benar? Kamu mau aku masakin-apa?" Dara mendadak gugup sebab Nathan memandangnya dengan tatapan yang 'berbeda'.


Nathan menggeleng, terus menatap Dara yang semakin kikuk. Wajah cantik menenangkan itu, entah kenapa berubah jadi sangat menggoda di malam hari.


Ia melupakan sesi pijat memijat dan berniat menggantikan dengan permainan selanjutnya.


"Nath.." Dara mundur beberapa senti menyadari Nathan kian mendekat ke arahnya. Berniat untuk kabur, tapi Nathan takkan membiarkannya menjauh.


Pria itu menyerangnya, lagi. Mencium bibir Dara yang kelu. Meski berusaha meronta, namun ia tahu akan selalu kalah. Dara membiarkan Nathan melakukan apa yang ingin dilakukannya.


Termasuk membiarkan pria itu melucuti pakaiannya, mencumbu keseluruhan tubuhnya yang polos dengan bagian perut menonjol besar.


Dara hanya mampu mengerang sesekali, menatap langit-langit kamar, menoleh ke arah cermin besar yang menampilkan visual sepasang suami istri dengan permainannya di atas ranjang, dan sejumlah pengalihan lainnya.


"Aku cinta kamu sayang" Nathan tiba-tiba berhenti mencumbu, melontarkan kalimat ungkapan yang terasa tulus di dengar.


"Aku juga cinta kamu Nath.."


"Seandainya ada kata yang lebih dari cinta, itulah yang pantas ku ungkapkan untukmu" Ia mengecup bibir istrinya yang mengukir senyum mempesona, melanjutkan malam indah mereka.


...***...


Dara merasakan kram ringan di bagian perutnya secara mendadak. Ia meringis menahan sakit yang makin lama makin intens. Perlahan ibu hamil itu menempatkan diri duduk dan bersandar di atas sofa ruang keluarga, sambil mengusap-usap perutnya berharap bayinya bisa di ajak bekerjasama.


Ia hanya berdua dengan mbak Asih di apartment karena Nathan sudah berangkat sejak pagi. Namun sang asisten nampaknya masih sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak menyadari majikannya tengah terkulai menahan sakit.


"Sshh.. Auh.. Kenapa tiba-tiba sekarang jadi sakit begini ya?" Dara menggigit bibir bawahnya, menahan kram yang di alaminya.


"Nak.. Ada apa sayang? Kenapa kamu membuat perut ibu sakit?." Jemarinya mengusap lembut perut yang terasa kencang dan mendadak keras. Dara tidak tahu pasti apakah benar ini yang di namakan kontraksi.


Peluh nya mulai berjatuhan, menetes perlahan dari bagian dahi menelusuri wajahnya hingga mencapai rahang. Sudah sepuluh menit berlalu, kram itu masih terasa intens menekan perutnya. Namun ia masih kuat dan merasa mampu bertahan.


Dara baru akan mencoba untuk bangkit dan berdiri ketika mendengar suara langkah kaki terburu-buru dari arah belakangnya. Mbak Asih datang, dan baru menyadari majikannya tengah menahan sakit sendirian.


"Non Dara, ini ada apa non? Non Dara kenapa?." Wajahnya jelas tampak khawatir.


"Saya nggak tau pasti mbak, tapi rasanya perut saya kontraksi."


"Hah? Ko-kontraksi non? T-tapi.. Bukannya persalinan nya masih lama ya non?"


"Semestinya begitu, masih ada tiga sampai empat minggu lagi."


Mbak Asih cepat-cepat merangkul Dara, membantunya untuk berdiri.


"Kita ke rumah sakit saja ya sekarang non."


Dara hampir tak mampu lagi berucap, ia menjawab hanya dengan anggukan dan ekspresi kesakitan nya yang masih melekat. Bayi itu, seakan hendak keluar secara paksa dari perutnya sekarang juga. Mendorong kuat-kuat jalan keluarnya dari bawah.


Dara di bawa menggunakan ranjang yang memiliki roda di bawahnya menuju instalasi gawat darurat maternal, mengingat kondisinya yang tengah hamil tua dan memerlukan pertolongan pertama secepatnya.


Mbak Asih menunggu dengan harap-harap cemas di luar ruangan, berjalan mondar mandir berusaha menghilangkan rasa panik yang justru makin mengular. Mencoba bersabar menanti kabar baik dari majikannya tersebut. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain diam dan menunggu, berharap Dara akan keluar dalam keadaan yang normal.


Dia sangat ingin memberi kabar pada Nathan, namun dua masalah menghadangnya. Yang pertama adalah karena ia tak membawa ponsel, dan yang kedua karena memang Dara memintanya untuk tidak memberi tahu Nathan tentang hal ini.


Mbak Asih tidak tahu menahu apa yang dipikirkan Dara, meski sangat penasaran dengan alasan yang logis ketika seorang suami tak di perbolehkan mengetahui keadaan istrinya sendiri.


Dara nampak jelas menutupi sesuatu dari Nathan, entah apa itu, tapi mbak Asih pada akhirnya memilih untuk berpura-pura tak peduli. Meski sejujurnya ia sangat mengkhawatirkan keadaan Dara, si nyonya muda.


...***...


"Non Dara, bagaimana kondisinya sekarang?." Mbak Asih yang sudah di perbolehkan menjenguk Dara langsung menghambur ke dalam ruangan, memastikan keadaan ibu hamil tersebut.


Nampak Dara yang masih lemah terkulai di atas ranjang. Selang infus masih melekat di punggung tangannya yang putih cerah. Wajahnya juga nampak pucat namun jelas sekali ia berusaha mati-matian untuk tidak terlalu menunjukkannya.


"Saya baik-baik saja mbak. Sudah boleh langsung pulang juga."


"Sebaiknya non Dara di rawat dulu ya non.. Saya khawatir non nanti kontraksi lagi"


Dara menggeleng dengan cepat.


"Dokter bilang saya sudah boleh pulang kok mbak. Jangan khawatir ya."


"Kalau begitu, tolong izinkan saya untuk mengatakan hal ini pada mas Nathan ya non. Biar dia jemput non disini."


"Mbak.. Masih ingat dengan apa yang saya bilang tadi kan?."


Mbak Asih diam, mendengar nada bicara Dara yang terdengar serius membuatnya tak punya nyali untuk membantahnya lagi.


"Iya non Dara, maaf."


Dara menghela napas, kontraksi yang dirasakannya tadi sirna. Dokter telah memberinya obat penurun tensi dan mengatasi kontraksi dini yang di alaminya.


Masih ada sekitar tiga minggu lagi waktu untuk melahirkan bayinya. Meski di samping itu, ada kemungkinan yang mencapai persentase cukup besar, bahwa bayi yang dikandung nya akan lahir dalam waktu dekat ini.


.


.


.


Dokter menyarankan agar Dara diopname beberapa hari, untuk memastikan kondisi ibu dan bayinya tetap baik. Namun lagi-lagi ia bersikeras menolak, merasa bahwa hal ini dapat membaik dengan terapi rawat jalan.


Dara hanya tidak ingin membebani pikiran Nathan yang sedang sangat banyak kesibukan dan seringkali menyita waktunya akhir-akhir ini. Ia merasa akan bisa meng-handle masalah yang di alaminya seorang diri. Jika pun pria itu harus tahu, Dara ingin hanya ketika nanti bayinya telah lahir.


Setelah menandatangani persetujuan rawat jalan, Dara dan mbak Asih buru-buru meninggalkan rumah sakit. Hari sudah petang, ia khawatir Nathan pulang lebih dulu darinya.


Mereka berjalan perlahan menelusuri koridor rumah sakit dengan Dara yang di bopong oleh mbak Asih. Samar-samar terdengar suara dua orang pria saling berbicara ketika mereka melewati sebuah ruangan.


Dara tak menaruh perhatian penuh ketika itu, dan baru menyadari saat salah satunya datang menghampiri. Dengan langkah tergesa ia memanggil-manggil namanya, kemudian menghadang langkahnya.


.


.


.


.


.


.


...***...


Haaii readers kesayangan 🥰


Sebelumnya, Rose mau mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1443 H bagi teman² yg merayakan. Semoga keberkahan selalu dilimpahkan untuk kita semua 😇


Terimakasih untuk teman² yg (mungkin) masih menanti kelanjutan karya saya. Mohon maaf baru bisa update lagi, saya baru saja melewati beberapa peristiwa kemarin. Alhamdulillah skrg semuanya sudah baik dan berjalan normal kembali.


InsyaAllah novel ini akan up seperti biasa, 1 bab per hari. Jika sempat mungkin bisa 2 bab. Do'akan saya, dan seluruh keluarga saya sehat selalu yaa 🥰 aamiin.


Salam sayang, Rose 🖤🌹