An Angel From Her

An Angel From Her
45# Berkenalan Dengan Dara



Dara berjalan menuruni tangga setelah mengecek seluruh ruangan di lantai dua. Ia mencari-cari keberadaan Nathan yang tak nampak batang hidungnya. Hari sudah pagi, apa dia telah pergi lebih awal?


Ia juga menggeledah ruang studio, namun lagi-lagi apa yang dicarinya tak juga di temukan. Memang hal ini bukan sekali dua kali terjadi, tapi hampir selalu seperti ini. Nathan pergi tanpa kejelasan, tanpa berpamitan, dan kembali pulang kapan pun ia mau.


Dara yang sudah mulai menyayangi pria itu tentu tak bisa acuh begitu saja padanya. Dia selalu memperhatikan setiap detil dari suaminya. Tentu tanpa berharap dapat imbalan apapun. Ia menyerah, karena tak dapat menemukan Nathan disetiap sudut apartment ini.


Cklek..


Tiba-tiba pintu utama dibuka dengan kasar oleh seseorang dari luar. Dara langsung siaga dan memperhatikan dengan saksama siapa yang akan masuk. Hal yang cukup menyita perhatiannya ketika beberapa orang asing masuk dengan membawa alat-alat musik ke dalam.


Di belakang mereka, tampak Nathan juga mengikuti sembari memberi komando dan arahan. Dara menebak-nebak, apa Nathan baru saja membeli alat musik baru untuk studionya?


"Nath.." Panggil Dara pada Nathan yang baru saja melewatinya. Pria itu berjalan seperti tak ada siapapun di depannya.


"Hai Dara.." Sapa seseorang dari arah pintu masuk. Dara memusatkan pandangannya pada orang itu, wajahnya nampak tak asing baginya.


"Eh.. Ehm.. Ini.. Mas Egy bukan ya?" Ucap Dara pada Regy.


"Kurang R, Dara.." Ujar Regy.


"Oh ya.. Regy.. Apa kabar mas?" Dara dapat mengingat sepenuhnya orang yang sedang berhadapan dengannya.


"Kabar baik.." Jawab Regy ramah.


Mike yang menyusul di belakang Regy juga berhenti ketika berpapasan dengan Dara yang sedang berbincang bersama Regy. Berbeda dengan sang manager, Mike justru belum pernah sama sekali melihat wajah Dara.


"Eh.. Mike.. Kenalin, ini Dara.." Ucap Regy memperkenalkan Dara pada Mike. Jika dilihat, Regy berlagak seperti seorang suami yang mengenalkan istrinya dengan kawannya.


"Oh.. Hai Dara, aku Mike" Ucap Mike seraya menjulurkan tangannya.


"Hai Mike, senang berkenalan denganmu" Balas Dara sembari menjabat tangan Mike dengan ramah.


Mike memperhatikan penampilan Dara dari atas hingga kebawah. Wanita itu sungguh sangat cantik, rambut panjang tebal nan hitam miliknya membuat tampilannya kian berkilau. Senyumnya yang manis, dan ia juga memiliki lesung pipi yang jarang orang lain miliki.


Sikap ramahnya, bahkan telapak tangannya yang terasa lembut ketika bersentuhan. Ia jadi berpikir, kenapa Nathan masih tak mau menerima wanita ini sepenuhnya? Jika disandingkan dengan Monica, Dara benar-benar tak kalah cantik darinya.


Meskipun memang jika dibandingkan dari sisi bentuk 'body' nya, Monica menang lebih banyak. Dara memiliki tubuh yang lebih mungil dari Monica, tapi kalau dilihat secara keseluruhan, proporsi tubuhnya sudah cukup sempurna.


"Jadi kamu istrinya Nathan, baru kali ini aku melihatmu" Ucap Mike tanpa mengalihkan pandangannya dari Dara.


Dara tak menjawab, ia hanya melemparkan senyum manisnya pada Mike.


"Kasihan deh, baru kenal" Ejek Regy.


"Kok lo keliatannya sudah akrab bang? Kalian kenalan dimana?" Tanya Mike.


"Waktu si Nathan hilang, gue sempat ketemuan sama Dara. Ngomongin soal dia, gue pikir di culik itu orang. Ternyata malah habis enak-enakan sama Monica.. Ha..ha.. Brengsek Nathan" Umpat Regy dengan nada mengejek dan sedikit berteriak. Ia memang berharap Nathan dapat mendengar kata-katanya.


"Ah.. Monica" Batin Dara. Ia langsung menangkap baik-baik nama itu dan akan terus mengingatnya. Wanita yang di sebut 'pacarnya Nathan' itu bernama Monica. Ia patut berterima kasih pada Regy karena telah membantunya mengingat nama wanita itu lagi.


"Ini pada mau ngerumpi atau mau kerja nih?" Ucap Nathan yang baru keluar dari ruang studio dan ikut bergabung. Ia merasa risih dengan perkumpulan orang-orang itu.


"Kenalan dulu Nath, sama nyonya di apartment ini.. Lo sih nggak pernah kenalin ke kita" Sahut Mike.


Nathan tersenyum sinis dengan ujung bibirnya yang menukik ke atas.


"Santai lah Nath, kita juga udah kerja dari semalam. Eh iya by the way Dara, mungkin kamu agak bingung ya melihat kita pagi-pagi kesini dengan alat-alat itu.. Biar aku jelasin sedikit ya, jadi untuk sementara waktu kita akan menumpang kerja disini, karena basecamp kita kebakaran tadi malam. Nggak memungkinkan kalau tetap bekerja disana. Sebelumnya aku minta maaf kalau sekiranya beberapa waktu ke depan kegiatan kami akan sedikit mengganggu. Mudah-mudahan Dara nggak keberatan ya" Jelas Regy panjang lebar.


"Ya ampun.. Saya turut berduka ya atas insiden yang menimpa mas Regy dan teman-teman. Dengan senang hati mas, saya nggak keberatan sama sekali.."


"Ya jelas lah nggak keberatan. Ini kan apartment milikku. Apa hakmu untuk keberatan?" Ucap Nathan menyerobot.


"Hush.. Sama istri nggak boleh ketus begitu! Kualat lo" Ucap Regy sambil menepuk bahu Nathan.


Mike dapat dengan jelas melihat pendar kesedihan di mata Dara ketika Nathan menghardiknya barusan. Pria itu, nampaknya begitu membenci istrinya sendiri. Ia merasa iba, dengan Dara yang harus memiliki suami seperti Nathan. Jika takdir bisa diubah, ia berharap dirinya lah yang ada di posisi Nathan saat ini.


"Ayo bantu gue beres-beres di studio. Si Nico udah bisa dihubungi belum?" Lanjut Nathan.


"Sudah. On the way katanya. Si Adly juga" Sahut Regy.


"Oke. Ayo cepat!" Ajak Nathan. Pria itu melangkahkan kakinya beberapa jengkal sebelum kembali menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Dara.


"Dara, tolong buatkan minuman untuk teman-temanku. Dan beberapa tukang di dalam" Perintahnya pada sang istri.


"Iya Dara.." Balas Mike.


"Mas Mike, lucu juga.." Ejek Regy sambil cekikikan sendiri.


"Sial lo ah.. Ayo!" Ajak Mike, ia berjalan mendahului Regy yang masih asyik menertawakan kawannya tersebut. Mike sangat anti di panggil dengan sebutan "Mas", dan hal itu baru saja dilakukan Dara dengan tanpa protes dari Mike sedikitpun. Melihat raut wajah kesal Mike lah yang begitu menggelitiknya.


...***...


Nathan dan kawan-kawannya berkutat di studio hingga tengah hari. Mereka tengah serius membereskan alat-alat musik dan beberapa pekerjaan lainnya terkait pembuatan album baru. Dara nampak masih sibuk mempersiapkan makan siang suami sekaligus teman-temannya.


Hari ini dia masak ekstra banyak untuk menyuguhi orang-orang itu. Dengan dibantu mbak Asih, Dara berhasil memasak beberapa menu yang lezat dan menggugah selera. Ia berharap Nathan menyukainya seperti yang sudah-sudah.


"Ah.. Akhirnya beres juga ya mbak.." Ucap Dara sembari memandangi meja makan yang telah dipenuhi makanan dan piring serta gelas siap pakai.


"Iya non.. Kalau dikerjakan berdua, akan lebih cepat" Sahut mbak Asih.


"Yasudah, kalau begitu.. Saya panggil Nathan dan teman-temannya dulu ya mbak.."


"Nggih, non.."


Dara bergegas menghampiri Nathan di studio nya. Ia membuka pintu yang tak tertutup terlalu rapat itu dengan perlahan. Semua mata tertuju padanya kala pintu tersebut terbuka lebar, ia merasa sedikit gugup dengan hal itu.


Momen seperti itu, terasa seperti sekumpulan kucing yang menatap umpan sebuah ikan segar yang baru saja dilemparkan didepan mereka.


"Eee.. Emm.. M-maaf mengganggu, eeh.. Nathan, makan siang sudah siap. Sebaiknya istirahat makan sejenak, karena sudah waktunya makan siang" Ucap Dara terbata.


Dara mengutuki dirinya sendiri karena telah ceroboh masuk ke dalam kandang para lelaki itu. Seharusnya dia meminta mbak Asih saja untuk memanggil Nathan, ia benar-benar kurang perhitungan.


"Iya Dara.. Kami akan segera makan" Sahut Regy.


Sementara Nathan hanya diam, sambil meletakkan gitarnya dilantai dengan posisi berdiri. Pria itu memberi isyarat untuk mengambil rehat sejenak, mengingat hari telah siang dan sejak pagi mereka belum sama sekali mengisi perut dengan makanan berat.


Para lelaki itu keluar dari ruang studio secara bergiliran, di awali oleh Nathan yang sampai duluan di ruang makan. Ia mempersilahkan kawan-kawannya menduduki kursi yang telah disiapkan.


"Wah.. Banyak banget, kelihatannya juga enak-enak ya. Dara, ini kamu yang masak semua?" Tanya Regy berbasa-basi.


"Iya mas.." Sahut Dara sembari meletakkan beberapa hidangan pencuci mulut di atas meja.


"Eh, ini istri lo Nath? Cantik banget. Hai sista, salam kenal ya. Aku Nico" Goda Nico.


"Mulai deh, si buaya" Selak Adly.


"Saya Dara, salam kenal mas Nico" Sahut Dara ramah.


"Duuh.. Sista, suaranya lembut banget"


Dara bergidik ngeri dibuatnya.


"Udaah.. Jangan godain istri orang. Lo nggak liat tuh suaminya merengut begitu? Ngomong-ngomong.. Salam kenal juga ya Dara, aku Adly. Terimakasih untuk jamuannya ya" Tukas Adly.


"Sama-sama.. Silahkan dinikmati" Dara berbalik arah, ia menuju wastafel dan mencuci sedikit peralatan yang masih kotor.


"Uuhhmmm... Enak banget! Dara, kamu jago masak ya" Puji Regy berdecak kagum dengan apa yang baru saja masuk ke mulutnya.


"Iya.. Beruntung banget Nathan punya istri kayak kamu" Mike ikut menimbrung.


"Dara, kamu mau nggak jadi yang kedua?"


"Hei! Bisa sopan nggak di meja makan?" Hardik Nathan yang merasa terganggu dengan celotehan kawan-kawannya.


"Ha..ha.. Kenapa Nath? Lo marah? Bukannya lo nggak cinta sama Dara? Nggak masalah dong kalau kita godain dia" Protes Nico. Ia meraih gelas di depannya dan segera meneguk air mineral di dalamnya.


Nathan diam. Apa yang dikatakan Nico memang benar, tapi entah kenapa ia merasa benci ketika kawan-kawannya sibuk mengomentari ini itu tentang Dara di depannya. Ucapan-ucapan itu, sangat amat mengganggu pendengarannya.


"Gue mau makan dengan tenang ya" Ucap Nathan sekenanya.


"Dara.. Mending kamu ke kamar deh. Istirahatlah! Biar mbak Asih yang lanjutkan" Perintah Nathan pada Dara yang masih sibuk beres-beres di depannya.


"Iya Nath" Sahut Dara tanpa memalingkan wajahnya. Ia sudah amat risih dengan ucapan kawan-kawan Nathan terutama yang bernama Nico. Makhluk itu, entah bagaimana dia bisa menggoda wanita yang merupakan istri dari kawannya sendiri tepat di depan suaminya.


Dara berlari kecil menjauhi ruang makan, ia bernapas lega dan sangat berterimakasih pada Nathan karena telah menyelamatkan hidupnya dari buaya kelaparan itu.