
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit, pasutri baru ini akhirnya sampai di apartment. Nathan menekan tombol password pintu apartmentnya cepat-cepat, sembari celingak celinguk memperhatikan keadaan sekitar. Gelagatnya nampak seperti rampok yang hendak menggasak rumah orang.
Dara yang selalu tertinggal langkahnya dari Nathan perlahan menghampiri. Ia kelelahan, rambutnya juga sedikit berantakan. Wanita itu berdiri di ambang pintu, sementara Nathan sudah berada di dalam, hendak menaiki tangga menuju lantai dua.
Nathan menoleh dan mendapati Dara yang nampak enggan masuk. Pemandangan itu, membuatnya merasa risih. Ada apa dengan wanita itu?
"Hei.." Panggil Nathan pada sang istri yang masih termenung di ambang pintu. Dara mengerjap.
"Kamu ingin tidur diluar?"
Dara menatap Nathan tanpa membuka mulut sedikitpun.
"Masuklah! Aku tidak ingin dikira menganiayamu dengan menyuruhmu tidur diluar" Ucap Nathan.
Dara memutuskan untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartment, mengikuti Nathan dari belakangnya. Tumitnya juga terasa sedikit pedih, sepertinya ada sedikit luka disana akibat berlarian dengan sepatu yang memiliki heels cukup tinggi yang digunakannya.
Nathan membuka pintu kamar, mempersilahkan Dara masuk ke dalamnya. Seluruh isi ruangan tersebut terpampang jelas di depan mata Dara. Ini adalah kamar lelaki pertama selain kamar adik laki-lakinya yang ia masuki.
Daripada kamar lelaki, kamar ini sebenarnya lebih cocok dimiliki oleh seorang wanita. Karena semuanya tertata dengan apik dan bersih. Ranjang yang amat rapi, furniture mewah yang bersih tanpa debu, lantai yang mengkilap serta tak terdapatnya baju bekas pakai yang berserakan di sana seperti yang sering ia temukan di kamar Rangga, adiknya.
Dara berjalan perlahan memasuki ruangan yang mulai saat ini menjadi kamarnya juga. Ia terpaku dengan sebuah foto besar dalam pigura yang di gantungkan pada dinding. Itu adalah foto Nathan yang tengah memainkan gitar dengan latar belakang siluet dari bayangannya. Pria itu nampak begitu bersinar dalam foto tersebut.
"Apa Nathan seorang musisi?" Batin Dara.
Sementara Dara sibuk mengamati foto seorang gitaris terkenal di depan matanya, Nathan justru termenung di sebelah ranjang. Kenangan bersama Monica kembali lewat dalam ingatannya. Ranjang ini, adalah saksi bisu dari apa yang telah mereka lakukan dulu.
Keindahan, kenikmatan itu terus terngiang dan berputar-putar di kepalanya. Ada rasa sesak dalam relung hatinya. Posisi wanita yang dicintainya sekarang harus digantikan dengan orang lain, yang sudah tentu sangat berbeda.
"Kamu bisa tidur disini" Ucap Nathan pada Dara.
"Iya Nath" Sahut Dara yang sedikit terkejut dengan panggilan Nathan.
"Aku mau keluar. Ada keperluan. Kamu istirahatlah!" Ucap Nathan sembari beranjak dari sana, meninggalkan Dara yang masih sangat canggung menginjakkan kakinya di kamar itu.
Dara meletakkan tas yang dijinjing nya sedari tadi di atas ranjang. Jemarinya menyentuh permukaan sprei yang terpasang rapi pada tempat tidur, sungguh terasa lembut di tangan. Tubuh yang terasa lelah memaksanya untuk merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk.
"Ahh.. Nikmatnya.." Gumam Dara. Ia merasa sangat rileks.
Matanya mengedar ke sekeliling ruangan, dengan tubuhnya yang terbaring. Ia baru sadar sepenuhnya dengan kata-kata Nathan beberapa menit yang lalu. Pria itu, pergi. Meninggalkan istrinya di malam pertama mereka.
Dara memang belum menyiapkan apa-apa untuk malam pertama. Ia bahkan tak terpikirkan sama sekali. Dan lagi, dirinya yakin seratus persen bahwa Nathan takkan menyentuhnya. Mengingat mereka tak saling mencintai. Akan sangat sulit 'berhubungan' tanpa adanya rasa yang saling bertautan.
Tapi, apa pergi meninggalkan orang yang sekarang telah jadi istrinya sendirian di apartment sebesar ini adalah hal yang benar? Bahkan jika ada perampok yang masuk kesana, takkan ada siapapun yang bisa menolong. Karena lingkungannya yang sepi. Dara juga tak punya pengalaman tinggal di apartment. Ia harus waspada.
Suasana kamar yang tenang, kasur yang nyaman serta cahaya lampu yang disetel dengan warna temaram membuat rasa kantuk menyerang kedua matanya. Dara menguap beberapa kali, sebelum akhirnya terlelap dibuai mimpi dengan masih mengenakan baju pengantinnya.
...***...
"Sendirian aja nih" Sapa seorang wanita di sebuah bar yang disambangi Nathan.
Wanita itu turut duduk di kursi sebelah Nathan yang masih kosong. Sembari menuang bir ke gelas yang Nathan gunakan dan menyodorkan padanya. Penampilannya sebelas dua belas dengan Monica, hanya saja ia masih kurang seksi.
"Mau aku temani Nathan? Kamu tahu nggak? Aku mengidolakan kamu lho. Pas banget ketemu disini" Goda wanita itu.
"Thanks. Tapi aku sedang menunggu temanku"
"Mungkin temanmu akan lama. Jadi biarkan aku disini bersamamu ya?" Wanita itu bertindak semakin berani dengan menggenggam tangan Nathan dan mengarahkan ke atas pahanya yang terpampang di depan mata.
Nathan meliriknya, tapi tak tergoda sama sekali. Baginya, tak ada yang mampu menandingi pesona dari Monica. Bahkan jika wanita itu turut melucuti pakaiannya, ia takkan tergerak untuk menyerangnya sedikitpun.
"Waduh.. Udah ada yang nemenin nih" Sapa seseorang sembari menepuk bahunya dari belakang.
Nathan menoleh dan mendapati Mike telah datang. Sebelum meninggalkan apartment Nathan terlebih dahulu menghubungi Mike dan minta ditemani minum-minum di bar yang juga jadi langganannya. Mike yang saat itu sedang free tentu menyanggupi permintaan kawannya tersebut.
"Temanku sudah datang" Ucap Nathan pada wanita itu.
"Sorry ya cantik.. Ada yang mau kita obrolin berdua nih" Ucap Mike menimbrung.
Wanita itu merasa jengkel. Ia melepaskan genggamannya dan langsung pergi begitu saja sembari menggerutu.
"Ada apa sih bro? Pengantin baru udah galau" Ucap Mike seraya menempati kursi yang di duduki wanita tadi.
Nathan mengoper gelas kosong pada Mike dan menuangkan bir ke dalamnya.
"Suntuk" Sahut Nathan usai meneguk minumannya.
"Monica.. Dia nggak angkat telepon gue sama sekali dari pagi. Semua pesan juga nggak ada yang dibalas. Dia tahu kalau gue menikah hari ini Mike. Sekarang dia benar-benar pergi"
"Demi apa Nath?! Lo masih mikirin Monica?" Tanya Mike keheranan.
Nathan menjawab dengan anggukan. Ia meneguk kembali minumannya, kali ini langsung dari bibir botol.
"Buat apa sih Nath? Lo udah punya istri. Dan yang gue denger dari Regy, istri lo ini, cantik banget"
"Masa bodoh mau cantik atau nggak. Gue cuma mau Monica!" Ucap Nathan ngotot.
Mike menepak kepala sebelah kanan Nathan cukup kencang, hingga membuat pemiliknya meringis kesakitan.
"Apa sih lo Mike, malah nepak kepala gue!" Protes Nathan.
"Biar waras dikit"
"Br*ngs*k" Umpat Nathan sembari mengusap kepalanya yang terasa senut-senut.
"Hidup itu maju ke depan Nath, bukan mundur ke belakang. Istri lo ada di masa depan, sedangkan Monica adalah bagian dari masa lalu lo. Jalani yang ada sekarang. Jangan tambahin beban hidup lo dengan kegagalan move on lo itu"
Nathan menyangga sikunya di atas meja bar sembari memijit-mijit dahinya.
"Gue lagi mikir, gimana caranya supaya bisa nikahin Monica"
"Hah? Lo mau poligami?"
"Terserah apa sebutannya. Yang penting gue bisa sama dia. Kalau nggak, gue nggak akan bisa ketemu dia lagi Mike. Sekarang saja gue udah nggak tau dia dimana. Tadi gue sempat kerumahnya. Pembantunya bilang dia nggak ada"
"Ya udah, nggak usah dicari" Sahut Mike.
"Mike, lo nggak pernah ngerasain gimana rasanya kehilangan cinta pertama kan?"
"Siapa bilang?"
Nathan diam sembari mengamati Mike di sebelahnya.
"Gue juga pernah ngalamin. Dulu sih, ya.. Regina ini kan bukan pacar pertama gue" Ucap Mike.
"Dulu gue pernah pacaran sama cewek, sebut saja dia mawar. Karena dia memang pecinta bunga mawar"
Nathan menyimak.
"Dulu gue cupu. Tapi ganteng, kata dia. Gue jatuh cinta banget ke dia. Dia juga, katanya.."
"Terus?"
"Suara gue enak kalau nyanyi, kata dia juga. Lalu singkat cerita ada teman baik gue, ya.. Boleh dikatakan dia ini sahabat lah. Dia ngajakin join ke band nya. Karena dia tau gue bisa nyanyi. Sebut dia duri. Di akhir cerita lo akan tahu kenapa gue sebut dia begitu" Ucap Mike sembari meneguk bir dalam gelasnya.
"Yah, karena gue ini orangnya introvert banget dulu. Gue tolak lah tawarannya. Si mawar marah, karena dia katanya pingin punya pacar yang terkenal gitu. Dan lagi, dia juga nggak mau liat gue cupu terus" Ungkap Mike.
"Karena gue bertahan nggak mau ikutan di band itu, akhirnya mawar mutusin gue. Eh, tiba-tiba gue liat dia malah pacaran sama si duri. Jangan tanya gimana stress nya gue waktu itu Nath"
"Band nya duri ikut festival indie, menang juara satu. Terus suka ngisi acara kesana sini. Tapi setahun kemudian redup gitu aja. Nggak jelas apa masalahnya" Sambung Mike.
"Trus si mawar?"
"Minta balikan, waktu tahu kalau gue jadi vokalisnya black romance. Yang tentu jauh lebih terkenal dari band nya si duri"
"Lo tolak?"
"Iyalah. Najis. Pengkhianat itu cocoknya sama pengkhianat juga. Mawar itu indah, tapi berduri. Cocok lah gue rasa buat mengibaratkan mereka berdua"
Nathan menghela nafas berat.
"Gue tahu Nath, rasanya kehilangan cinta pertama. Di khianati, sakit memang. Tapi buat apa diratapi terus-terusan? Cuma akan membuang energy positif saja"
Nathan memesan minuman lagi pada bartender di depannya. Sembari menyimak apa yang dikatakan Mike.
"Jalani dan lupakan Nath.."
"Thanks Mike"
Mike menepuk dan mengusap bahu Nathan, menyemangati kawannya yang bagai kehilangan jati diri hanya karena wanita. Hanya karena rasa yang ia sebut 'cinta'.