An Angel From Her

An Angel From Her
6# Musibah



Terik sang surya di siang hari mulai terasa membakar kulit sebagian orang yang beraktifitas diluar ruangan, tak terkecuali bunda yang saat ini telah tiba di sebuah warung makan milik orangtua Dara. Hari ini ia akan melancarkan rencananya untuk memperkenalkan Dara dengan putranya.


Ia meminta pak Eko memarkir mobil nya di area parkir pasar yang bersebrangan dengan warung makan tersebut, karena khawatir akan mengganggu pengguna jalan yang lain jika mobilnya terparkir di pinggir jalan. Warung makan itu memang memiliki tempat parkir yang cukup sempit, mampu menampung hanya sekitar 3 atau 4 motor saja.


Bunda melihat Dara yang tengah melayani pembeli dari balik etalase. Tangannya cukup terampil meletakkan dan membungkus nasi serta lauk nya dalam kertas khusus nasi tersebut.


Karena sepertinya Dara sedang kerepotan, pada akhirnya bunda memutuskan untuk menunggu para pelanggan itu selesai dahulu sembari duduk di kursi yang telah disediakan dalam warung makan tersebut.


"Ibu, mau pesan apa? Eh..?" Dara menghentikan ucapannya ketika menyadari orang yang baru saja di sapa terasa tidak asing baginya.


"Pesan semua yang enak, yang ada disini" Jawab bunda menggoda Dara.


"Ibu.. Ibu yang waktu itu ya?" Tebak Dara.


"Hahaha.. Iya nak.. Apa kabar Dara?" Bunda beranjak dari kursi dan menghampiri Dara.


"Alhamdulillah, aku baik bu.." Dara meraih tangan bunda dan mencium punggung tangannya, tanda hormat seseorang yang lebih muda kepada mereka yang di tuakan.


"Ibu gimana kabarnya?" Lanjut Dara.


"Ibu baik nak" Jawab bunda sembari mengusap bahu Dara.


"Emm.. Ibu, mau minum apa? Atau mau makan sekalian? Biar Dara siapkan ya"


"Boleh deh. Dara ambilkan saja yang menurut Dara enak, dan untuk minumnya, ibu ingin es jeruk ya" Tutur bunda.


"Iya bu, mohon di tunggu sebentar ya"


Dengan cekatan Dara segera menyiapkan pesanan bunda. Jemari lentiknya secara hati-hati namun cepat meletakkan sesendok demi sesendok nasi serta lauk pauknya ke atas piring lalu menyajikannya untuk bunda. Kemudian dilanjut membuatkan es jeruk, agar bisa segera diminum bunda yang mulai terlihat haus.


"Waah.. Dari tampilannya saja ibu sudah tau ini pasti enak" Ujar bunda, memuji hidangan di hadapannya.


"Iya bu. Silahkan dinikmati"


"Iya nak. Ibu makan duluan ya. Kamu apa sudah makan siang?"


"Dara sebentar lagi bu" Jawab Dara sambil menarik kursi plastik di sebelah bunda untuk di tempatinya.


"Emm.. Enak Dara. Emm.." Ucap bunda sembari mengunyah makanannya pada suapan pertama.


"Ini siapa yang masak?" Tanya bunda yang kembali melanjutkan santapannya.


"Ibu Dara yang meracik bumbunya. Lalu Dara yang masak sampai matang bu"


"Hhmm.. Ini sih rasanya udah kelas catering lho Dara. Pantas saja warung makan ini ramai pembeli, harga kaki lima, rasa bintang lima ini sih" Bunda cukup terpukau dengan rasa masakan di warung tersebut. Menurutnya, baru kali ini ia mendapati makanan seenak itu di sebuah warung kecil.


"Makasih bu, syukurlah kalau ibu suka" Ucap Dara sambil tersenyum ramah.


"Kenapa kamu dan ibu gak buka usaha catering saja Dara? Pasti laku lho kalau masakannya enak seperti ini"


"Kami belum terfikir bu"


"Kalau ibu ajak Dara dan ibunya join sama usaha catering ibu mau gak? Kebetulan, orang yang biasa bantu-bantu ibu masak mau berhenti. Mau pulang kampung katanya, disuruh istirahat saja sama anak-anaknya karena beliau sudah tua. Semisal Dara mau, nanti kita bagi hasil" Tawar bunda.


"Hhm.. Kalau itu, Dara mesti tanya ke ibu dulu, Dara gak bisa bilang 'iya' sekarang bu"


"Iya gak apa-apa nak. Kamu ceritakan dulu saja ke ibumu ya" Tutur bunda seraya melanjutkan kembali sesi makan siangnya.


"Oh iya, daritadi ibu liat kamu sendirian saja disini nak. Ibumu kemana?" Tanya bunda seraya menyeruput es jeruk nya yang tersisa setengah gelas.


"Ibu lagi pulang sebentar sama adik Dara. Mungkin tidak lama lagi sampai"


Bunda mengangguk pelan tanda mengerti.


"Emm.. Dara, ibu boleh tanya sesuatu gak sama kamu? Eh tapi sebelumnya, mulai sekarang kamu panggil ibu dengan sebutan bunda saja ya? Biar lebih akrab. Karena ibu di panggil bunda sama anak-anak"


"Maaf bu, apa gapapa seperti itu? Dara kan bukan siapa-siapanya ibu. Dan ibu juga baru kenal sama Dara"


"Ya gapapa lah nak. Sejak ibu ketemu sama Dara, nggak tau kenapa ibu sudah merasa sayang. Buat ibu, Dara bagaikan anak ibu sendiri" Jelas bunda menanggapi ucapan Dara barusan.


"Baik bu, kalau memang ibu gak keberatan. Dara akan panggil ibu dengan sebutan bunda" Tukas gadis cantik itu dengan ramah.


"Makasih nak. Oh iya anyway. Yang mau bunda tanyakan ke Dara itu, apa.. Dara sudah punya pacar?" Tanya bunda ragu-ragu.


Sesungguhnya, bunda cukup tertantang untuk menanyakan hal tersebut. Khawatir jika Dara merasa tidak nyaman. Namun tekad yang kuat untuk mencarikan pasangan yang cocok untuk anaknya mengalahkan semua keraguannya.


"Ehm.. Dara gak kefikiran pacaran bunda" Jawaban Dara membuat hati bunda lega dan tenang.


"Umm.. Kalau begitu.."


"Kak.. Kak.. Kak Dara" Panggil Lisa, adik kandung Dara yang baru saja tiba di warung makan, memotong obrolan Dara dan bunda. Wajah gadis belia itu terlihat begitu panik.


"Ada apa sa? Kok kamu kayak panik gitu? Ibu mana?"


"Ibu kak.. Ibu.."


"Iya ibu kenapa?" Dara mulai terbawa emosi negatif yang dibawa adik nya. Lisa mulai menangis, tubuhnya gemetaran.


"Ibu ketabrak mobil.."


"Hah! Kok bisa? T-terus sekarang ibu dimana sa?"


Lisa yang masih shock atas kejadian yang menimpa ibunya mencoba menceritakan kronologi peristiwa tersebut kepada Dara dan bunda yang ikut menyimak. Sambil sesekali ia menyeka keringat bercampur air mata yang telah membasahi wajahnya. Rupanya, sang ibu baru saja menjadi korban tabrak lari. Pelakunya langsung kabur begitu saja ketika melihat ibu tak sadarkan diri.


Setelah mendengar penjelasan Lisa, tanpa membuang waktu Dara segera pergi ke puskesmas tempat ibunya dilarikan. Ia di antar oleh bunda dan pak Eko yang mengemudi.


Ia tak mampu lagi menahan air matanya ketika isi kepalanya memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada ibu yang dikasihinya itu. Bunda yang merasa iba, membantu menenangkan Dara dengan merangkul dan mengusap lembut bahu Dara yang gemetaran.


"Ibu.. Hiks..hiks.. Ibu.." Panggil Dara lirih. Air matanya tumpah semakin deras.


"Sabar ya Dara.. Tenangkan sedikit dirimu nak. Sebentar lagi kita sampai" Ucap bunda menenangkan Dara.


\*\*\*


Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi Dara dan bunda sampai di halaman parkir puskesmas. Mereka cepat-cepat masuk ke ruang IGD untuk melihat kondisi ibu sesegera mungkin.


Dara menerobos pintu ruang IGD, dan mendapati sang ibu yang tengah terbaring tak sadarkan diri dengan tangan yang di infus serta selang oksigen di hidungnya.


"Ya Allah ibu.. Hiks..hiks.. Ibu.." Dara menghampiri ibunya dan tak kuasa menahan tangis.


"Keluarga ibu Renny?" Sapa dokter jaga yang kala itu menangani ibu.


"Iya dok, kami keluarganya. Bagaimana keadaan bu Renny?" Jawab bunda mewakili Dara yang tak sanggup lagi berkata selain memanggil-manggil ibunya.


"Ibu Renny harus segera dirujuk ke rumah sakit besar bu, dikarenakan luka di kepala akibat benturannya cukup serius. Sehingga memerlukan perawatan yang lebih intensif" Terang dokter menyampaikan kondisi terkini yang di alami oleh ibu dari Dara.


"Dara, kita bawa ibu ke rumah sakit ya, agar dapat penanganan yang lebih baik" Ucap bunda seraya membantu Dara yang tengah bersimpuh untuk berdiri. Gadis itu telah kehilangan semua tenaganya.


Bunda membopong Dara masuk ke mobil ambulance, menemani ibunya disana. Pak Eko di perintah untuk mengikuti ambulance dari belakang. Tak berselang lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah sakit besar yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dari puskesmas tadi.


Tim medis segera membawa ibu ke ruang operasi untuk di lakukan tindakan, sementara bunda dan Dara yang hampir pingsan menunggu di depan ruang operasi. Bunda yang menyadari bahwa Dara belum makan siang segera meminta pak Eko untuk membeli makanan. Walau ia sadar, kemungkinan besar Dara akan menolak untuk makan.


Dara menunggu dengan harap-harap cemas, ia duduk di kursi sembari menggigit-gigit ujung jarinya. Ia memang terbiasa melakukan itu ketika merasa panik dan ketakutan. Meski ada sangat banyak sekali kemungkinan, namun ia tetap enggan menyiapkan hati untuk kemungkinan buruk. Karena dirinya yakin, sang ibu pasti akan selamat.


\*\*\*


Dua jam berlalu sejak kedatangan mereka di sana, namun dokter belum juga keluar dari ruangan operasi. Lampu tanda operasi sedang berlangsung pun masih menyala merah. Dara masih belum bisa bernafas lega.


"Dara, makan dulu ya.. Kamu kan belum makan siang. Bunda khawatir, nanti malah kamu ikutan sakit" Ucap bunda menawari Dara makanan yang telah ia siapkan.


"Nggak bunda, terimakasih.. Dara nggak lapar" Tolak Dara.


"Bunda mengerti, memang tidak enak makan dalam keadaan seperti ini. Tapi kamu juga harus menjaga diri kamu sendiri nak. Kalau kamu sakit, bagaimana kamu bisa menjaga ibu?" Bunda tidak menyerah begitu saja. Ia kembali membujuk Dara dan berharap gadis itu bersedia untuk makan.


Dara menoleh namun diam. Matanya sembab.


"Mau ya nak? Bunda suapin ya"


"Nggak usah bunda, biar Dara makan sendiri" Ucap Dara seraya mengambil nasi kotak dari tangan bunda.


"Iya nak. Makanlah.."


Dara baru menyelesaikan suapan keduanya ketika seorang perawat berseragam putih dan biru datang menghampirinya.


"Permisi, keluarga ibu Renny?"


"Iya mbak" Jawab bunda mewakili Dara.


"Silahkan selesaikan administrasi di kasir ya ibu. Agar perawatan dapat dilanjutkan" Tutur perawat itu dengan ramah.


"Iya mbak. Mmm.. Bunda, Dara tinggal sebentar ya" Pamit Dara seraya meletakkan nasi kotak di atas kursi dan langsung beranjak mengikuti perawat tadi.


"Silahkan mbak. Ini rincian biaya uang muka yang harus dilunasi" Ucap petugas kasir, menyerahkan selembar kertas bertuliskan rincian biaya pengobatan ibu.


Dara tersentak kaget ketika membaca jumlah yang harus dibayarkan, angka itu cukup besar baginya. Detik itu juga, Dara dilanda kebingungan.


"Mbak.. Maaf sebelumnya, boleh saya telepon keluarga dulu? Karena kebetulan saya juga tidak bawa uang" Tanya Dara, yang kemudian di iyakan oleh petugas kasir.


Gadis itu mengambil telepon genggamnya yang tersimpan di saku celana. Mencoba untuk menghubungi seseorang disana. Pilihannya jatuh pada kontak bernama Rangga yang mana itu adalah adik laki-lakinya.


"Halo.. Rangga?" Ucap nya ketika sang adik telah mengangkat panggilan.


"Iya kak?" Jawab Rangga dari balik telepon.


"Rangga kamu dimana sekarang?"


"Aku di rumah kak" Jawab Rangga.


"Ga.. Tolong kamu ke kamar kakak sekarang. Buka kunci laci lemari kakak. Disana ada uang simpanan kakak. Coba kamu hitung ada berapa?" Dara memberikan instruksi kepada sang adik yang langsung cepat-cepat menjalankannya.


Tak berapa lama kemudian Rangga memberi info tentang apa yang sang kakak minta.


"Ada 15?" Tanya Dara lesu.


"Iya kak" Jawab Rangga.


Dara melepas nafas berat, dan terdiam sepersekian detik sembari otaknya berpikir keras.


"Yasudah, tolong kamu siapkan ya Rangga. Nanti kakak ambil ke rumah" Perintahnya.


"Saat ini ibu masih dalam penanganan dokter. Kamu bantu do'akan ya. Mudah-mudahan ibu baik-baik saja" Lanjut Dara ketika Rangga yang telah mengetahui apa yang terjadi pada ibunya mulai merasa khawatir.


"Kamu juga ke warung sekarang ya. Bantu Lisa beres-beres. Kita tutup lebih awal hari ini"


Dara menekan ikon telepon berwarna merah untuk mengakhiri panggilan. Lutut dan sekujur tubuhnya terasa lemas bagai tak bertulang. Dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan, serta uang tabungan yang tak seberapa, bagaimana bisa ia melunasi biaya pengobatan sang ibu.


Ia termenung, terduduk lemah sembari memandangi kertas putih berisi rincian biaya yang menunjukkan angka 25.000.000. Bulir air matanya kembali mengalir setetes demi setetes, mengingat kondisi orang tuanya yang belum pasti, ditambah beban biaya yang mungkin tidak akan bisa ia bayarkan saat itu juga.


Gadis itu terus berpikir sampai pada akhirnya ia teringat nama seseorang yang mungkin saja dapat membantunya keluar dari mimpi buruk ini.


"Tuut..tuut..."


Dara menelepon kerabat dekatnya, berharap orang itu mau memberinya pinjaman.


"Halo.." Sapa Dara ketika telepon telah di angkat oleh seseorang disana.


Ia terlihat bernegosiasi dengan orang tersebut selama beberapa menit, berusaha meyakinkan agar dapat dipinjami uang. Namun satu-satunya orang yang bisa diharapkannya itu ternyata tak jua bisa memenuhinya. Dara kembali menutup teleponnya.


"Ya tuhan. Harus kemana lagi aku mencari" Gumamnya dalam luka.


"Dara, ada apa nak? Kenapa lama sekali?" Bunda datang menghampiri Dara yang tengah duduk lemah di kursi yang bersebrangan dengan kasir, Dara terlihat sangat frustasi.


"Apa pembayarannya sudah selesai?" Tanya bunda.


Dara menggelengkan kepalanya perlahan. Bunda meraih kertas rincian biaya yang sedikit kusut dari genggaman Dara, kemudian membacanya dengan teliti.


"Biar bunda selesaikan ya. Tunggu disini" Tukas bunda seraya beranjak dari kursi, dan menuju meja kasir. Dara terkejut dengan respon bunda. Ia berusaha menahan namun kalah cepat dengan langkah kaki bunda.


Setelah menyelesaikan pembayaran, bunda kembali menghampiri Dara yang masih terpaku disana dan duduk bersebelahan dengan gadis malang itu.


"Simpan ini nak. Sebagai bukti" Bunda menyerahkan kwitansi pelunasan biaya perawatan.


Mata Dara berbinar. Ada sedikit perasaan lega di hatinya tatkala membaca kwitansi yang bertuliskan lunas serta di bubuhi tanda tangan bunda selaku orang yang melunasi. Meski di sisi lain ia juga merasa sangat tidak enak hati atas sikap dermawan bunda padanya.


"Bunda lunasi semua?" Tanya Dara lirih.


"Iya nak. Uang muka nya sudah lunas. Jika nanti ada tambahan biaya, jangan sungkan bilang ke bunda ya" Jawab bunda ramah.


"Bunda.. Terimakasih banyak. Terimakasih atas bantuannya. Dara janji akan melunasi nya dengan cara mencicil tiap bulan. Terimakasih bunda.. Terimakasih.." Tangis Dara kembali pecah, tak kuasa menahan haru.


Ditengah kerisauan hati yang menerjangnya dengan keras, bunda seakan jadi bidadari yang datang oleh sebab di utus tuhan untuk menyelamatkannya. Dara memeluk wanita paruh baya itu dengan hangat.


"Tidak usah dipikirkan. Bunda tidak menganggap itu hutang yang harus kamu lunasi. Justru bunda yang harus mengucap banyak terimakasih padamu. Waktu itu, kamu telah menyelamatkan tas bunda sampai harus mengorbankan tanganmu yang dilukai oleh orang itu" Ucap bunda mengingatkan kembali kejadian tempo hari.


"Tapi, 25 juta itu jumlah yang sangat banyak. Izinkan Dara untuk menggantinya" Paksa Dara.


"Sudah, sekarang, kamu fokus saja dengan kesembuhan ibu. Bunda ikhlas membantu kamu, anggap ini hadiah atas segala kebaikanmu" Pungkas bunda.


\*\*\*\*