An Angel From Her

An Angel From Her
108# Tak Disengaja



Seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri di depan Dara dan mbak Asih, sedikit menyamping dari arah keduanya. Seketika menghentikan langkah mereka yang sedikit terburu-buru. Dara menoleh padanya, dan wajah itu langsung dikenali.


Dialah Keenan, kakak iparnya. Seorang dokter spesialis anak tampan idaman para ibu-ibu. Dara tidak tahu, bagaimana bisa Keenan berada disini sementara ini bukanlah rumah sakit tempatnya praktek.


Pria itu tersenyum padanya, juga mbak Asih. Dari raut wajahnya tak nampak jejak-jejak penyesalan. Seakan dengan mudahnya ia melupakan kejadian memalukan hari itu. Peristiwa yang tak pernah bisa Dara lupakan sepanjang hidupnya.


"Mbak Asih, apa kabar?." Keenan mulai membuka obrolan.


"Saya baik mas Keenan."


"Uhm.. Kalau Dara, gimana kabarnya?."


Dara menjawabnya dengan anggukan, tanpa memandang ke arahnya.


"Ini Dara habis kontrol? Nathan mana?."


"Iya mas, baru selesai. Mas Nathan nya ada pekerjaan." Mbak Asih berusaha menengahi, sebab melihat respon Dara yang pasif dan enggan menyahut.


"Jadi.. Sekarang mau pulang?."


"Iya mas Keenan."


"Saya antar ya."


"Uhm.."


"Nggak perlu." Untuk pertama kalinya Dara membuka suara, menyerobot mbak Asih yang hendak menjawab ajakan Keenan. Ia menatap tajam padanya.


"Kami bisa pulang sendiri." Sambungnya.


Keenan bungkam dan berusaha mengalah tak ingin memaksa Dara yang masih nampak membencinya. Ia sadar betul, perbuatannya waktu itu benar-benar telah melukai perasaan Dara hingga begitu dalam.


"Kalau begitu, kami pamit duluan ya mas Keenan. Mari." Ucap mbak Asih seraya kembali menuntun Dara.


Keenan belum sempat menjawab, ia membiarkan Dara berlalu darinya tanpa satu patah katapun terucap dari bibirnya. Sembari terus memperhatikan kedua orang itu dari arah belakangnya.


Belum sampai menghilang dari pandangannya, tiba-tiba mereka berhenti melangkah. Dari kejauhan nampak jelas Dara yang kehilangan keseimbangannya. Keenan tancap gas, berlari menghampiri dan berhasil menggapai tubuh Dara yang nyaris terjatuh.


Wanita itu dalam pelukannya, namun Keenan masih merasa Dara berusaha menjauhkan tubuh darinya.


"Dara.. Ada apa? Kamu kenapa?." Nada bicara Keenan terdengar jelas sangat khawatir.


"Dara nggak apa-apa. Tolong lepaskan." Tubuh lemah itu berusaha mendorong Keenan dengan segenap tenaga yang di kerahkan. Namun tentu sia-sia.


"Kalau kakak lepas, kamu akan jatuh. Itu berbahaya untuk kandunganmu sendiri."


Dara tak menggubris, ia berhasil menjauhkan Keenan dari tubuhnya. Namun lagi-lagi rasa pusing datang menyerang dan memaksanya untuk mau menerima bantuan dari pria itu.


"Dara, kenapa nggak di opname saja? Sepertinya kamu butuh perawatan."


"Tadi dokter juga menyarankan begitu mas Keenan. Tapi non Dara menolak, dan minta untuk rawat jalan saja."


"Yasudah kalau begitu, ayo kita putar balik."


"Nggak mau! Dara baik-baik saja, ini tubuh Dara, jadi Dara yang paling tau. Tolong hargai keputusan ini!" Ucap Dara lantang dan tegas.


Hening beberapa detik, hingga akhirnya Keenan mengalah dan berusaha menuruti keinginan adik iparnya.


"Oke, kakak hanya menyarankan yang terbaik. Jika itu sudah menjadi keputusanmu, kakak ikut saja. Tapi.. Izinkan kakak untuk mengantarmu ya?"


Dara menggeleng lagi, tetap bersikeras tak ingin dibantu Keenan.


"Dara, kakak tau kamu masih benci dengan kakak. Walau seribu kali kakak minta maaf, kejadian waktu itu pasti akan sangat sulit dilupakan. Tapi, melihat keadaanmu yang seperti ini, tentu kakak tidak bisa diam saja." Nada bicara Keenan melembut.


"Atas dasar rasa kemanusiaan, dan profesi kakak sebagai seorang dokter yang telah di sumpah untuk selalu menomorsatukan keselamatan pasien. Izinkan kakak untuk mengantarmu dan memastikan kamu baik-baik saja sampai rumah." Sambungnya bagai mengiba.


Dara terdiam sejenak, sejujurnya ia masih merasa cukup pusing. Menunggu sebuah tumpangan yang belum tentu akan cepat di dapat mungkin saja hanya akan memperparah sakit kepalanya. Dia butuh istirahat, hari juga hampir malam. Menerima bantuan dari Keenan mungkin bisa membantu, walau takkan merubah apapun.


Pada akhirnya Dara mengiyakan dan menyetujui ajakan Keenan. Ia duduk di baris belakang bersama mbak Asih, enggan menempati kursi di sebelah pengemudi. Tak ingin berdampingan dengan Keenan.


Pria itu juga tak keberatan sama sekali. Sudah bagus pikirnya, sebab Dara masih mau menerima bantuannya. Entah bagaimana, ia masih menyayangi Dara, tak peduli seberapa bencinya wanita itu padanya. Perasaan itu tetap tinggal, tak pernah hilang barang secuil pun.


Pria itu mengejar Dara yang berjalan perlahan dibantu mbak Asih usai mengunci mobilnya. Mereka baru sampai di depan pintu lift yang belum kunjung terbuka.


Dara mengurungkan niat untuk mengajukan protes ketika melihat Keenan malah menghampiri nya, saat perhatiannya teralihkan oleh gelagat mbak Asih yang sedikit aneh.


"Aduh.. Non Dara.. Maaf non." Ucap mbak Asih.


"Kenapa mbak?." Dara terpancing rasa ingin tahunya saat melihat wajah asisten rumah tangganya mendadak pucat.


"Anu-S-saya.. Aduh.."


"Mbak Asih kenapa?." Keenan turut penasaran.


"Saya boleh izin ke toilet non? Kalau menunggu sampai di lantai lima belas rasanya saya ndak kuat lagi eh non. Panggilan alam ini non."


"Oh, iya mbak Asih.. Silahkan. Tapi kalau saya duluan nggak apa-apa kan mbak?."


"Hah? Jangan non, apa non Dara bisa?."


"Bisa mbak, ada saya." Keenan menyerobot Dara yang baru akan membuka mulut.


"Baik kalau begitu, saya permisi ya mas.." Pamit mbak Asih yang langsung berlari secepat kilatan cahaya.


"Dara, kakak bantu ya."


"Nggak perlu. Dara bisa sendiri. Lagipula untuk apa sih kak Keenan masih disini? Dara kan sudah bilang cukup antar sampai lobby, terimakasih untuk bantuannya. Sudah cukup." Ucap Dara sinis.


"Kakak nggak bisa benar-benar tenang kalau belum melihat kamu sampai di kamar apartment Dara. Biar bagaimanapun kamu adikku juga."


"Seharusnya kakak menanamkan pemikiran seperti itu sebelum mencium ku waktu itu!."


Keenan hendak menjawab, namun urung dilakukan. Ia mengatupkan bibir, menerima argumen Dara dengan legowo.


Tak lama setelah itu pintu lift terbuka, Dara buru-buru masuk sebelum Keenan berusaha membantunya lagi. Sebisa mungkin menjaga jarak dari pria yang sangat menyebalkan di matanya.


Pun ketika akhirnya mereka sampai di lantai lima belas, Dara cepat-cepat keluar dari lift mengatur langkah kakinya agar tetap seimbang menelusuri koridor apartment yang sepi.


Namun dia harus mau menerima kekecewaan ketika tubuhnya tak bisa di ajak kerjasama. Rasa pusing kembali menyerang, membuat tubuhnya terhuyung hilang keseimbangan. Dan untuk yang kesekian kali, Keenan menangkapnya dengan sigap.


"Dara! Ya ampun, benar kan kakak bilang. Kamu belum sepenuhnya pulih."


"Ini cuma.. Sedikit-pusing." Dara tetap bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja walau kenyataan tidak demikian.


"Ayo, kakak bantu ke kamar ya. Maaf, kakak izin pegang kamu." Ucap Keenan sembari membentangkan lengan kanannya di belakang punggung Dara.


Demi keselamatan bayinya, Dara mengalah dari ego yang memintanya untuk tetap menolak bantuan dari Keenan. Ia membiarkan pria itu menuntunnya sampai memasuki ruang apartment.


Dara memilih untuk duduk terlebih dahulu di sofa ruang keluarga, menunggu mbak Asih selesai dengan urusannya, agar bisa ia mintai bantuan mengantarnya ke kamar. Dara merasa amat risih jika Keenan yang melakukannya.


"Nggak mau langsung ke kamar Dara?."


"Dara disini dulu. Nunggu mbak Asih."


Keenan diam mengiyakan.


"Non Dara.. Maaf saya lama ya non." Mbak Asih datang tiba-tiba seakan baru saja mendengar kata hati majikannya. Ia berlari kecil menghampiri Dara yang seketika merasa lega sebab melihat wajah yang ditunggu nya.


"Karena mbak Asih sudah ada disini, saya pamit undur diri." Ucap Keenan.


"Iya mas Keenan, hati-hati dijalan ya. Terimakasih banyak bantuannya mas."


"Sama-sama mbak Asih. Dara.. Kakak pamit." Ucapnya mengarah pada Dara yang nampak acuh. Wanita itu bahkan tak memandang ke arahnya sama sekali.


"Terimakasih sekali lagi." Tutur Dara dingin.


"Sama-sama Dara."


Keenan melangkah gontai meninggalkan apartment setelah mendengar kalimat terakhir Dara. Meski adik iparnya itu masih terlihat membencinya, namun Keenan merasa cukup lega sebab bisa sedikit membantunya. Dia tak lagi mengharap Dara benar-benar memaafkannya karena sadar, perbuatannya waktu itu sudah melewati batas.