
Ketika malam tiba dimana Angel sudah nyenyak terbuai mimpi, dan Adriana memutuskan untuk kembali ke Jakarta sore hari, Nathan mencoba untuk berbicara empat mata dengan bunda, menyampaikan rencana yang telah di pikirkan nya sejak tadi malam.
Ia menghampiri ibunya yang tengah sibuk di ruang kerja menghadap laptop yang menyala dan beberapa lembar kertas di sebelahnya. Bunda tampak sibuk, kacamata bertengger di wajahnya, dan secangkir teh yang terlihat sudah mulai dingin itu belum juga habis di teguk.
"Bunda.." Panggil Nathan sembari mengusap lembut bahu bunda membuatnya sedikit terperanjat sebab tidak menyadari kehadiran putranya.
"Eh? Iya nak.."
"Maaf bikin bunda kaget."
"Nggak apa nak. Angie mana?" Tanya bunda sambil menoleh.
"Sudah tidur." Jawab Nathan. Ia menarik sebuah kursi dan menempatkan di samping bunda, agar bisa mengobrol dengan santai menikmati malam yang tenang.
"Syukurlah.."
"Bunda sedang sibuk?"
"Uhm.. Nggak terlalu, hanya ada beberapa urusan saja yang harus di selesaikan. Ada apa nak? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Terka bunda.
"Iya.. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan bunda."
Bunda diam sambil memasang telinga baik-baik.
"Ini tentang.. Masa depanku dengan Angie."
"He'em?"
"Aku berpikir untuk hijrah ke Los Angeles, tinggal di sana bersama Angie."
Bunda mengatupkan bibir sambil menatap putra nya lekat-lekat sebab apa yang baru saja di ucapkan cukup mengagetkan nya.
"Ke Los Angeles?," Ulang bunda, diikuti dengan anggukan penuh keyakinan dari Nathan.
"Kemarin malam, aunt Jane menghubungiku. Dia tau semua hal yang menimpaku saat ini. Ketika aku sedikit curhat, dia malah menawarkan ku untuk pindah ke sana. Katanya, dia baru saja membuka sebuah toko alat musik, lengkap dengan studionya. Aunt Jane ingin aku yang mengelolanya."
Bunda tampak menghela napas sambil terus mendengarkan curhatan putranya.
"Di daerah tempat tinggal aunt Jane saat ini dunia musik sedang banyak di gandrungi para pemuda, itulah yang membuatnya terpikir untuk berbisnis dengan peralatan musik. Dan, bunda sendiri kan tau, aunt Jane nggak punya anak, dari dulu dia baik dan dekat denganku."
Jane Smith, wanita berusia empat puluh lima tahun, putri ketiga dari empat bersaudara, adalah adik kandung dari John mendiang ayahnya. Dibanding dengan saudaranya yang lain, Nathan memang lebih dekat dengan Jane sejak kecil, wanita itu seringkali datang ke Indonesia, menginap di Sumatera Barat dan menjalin kedekatan dengan Nathan yang saat itu masih balita.
Sungguh kenyataan yang ironi sebab Nathan justru lebih dekat dengan bibi nya di banding ayah kandung nya sendiri. Dan Jane, adalah salah satu yang sangat mengecam perilaku John saat itu. Yang mana ia menggeluti dunia kelam narkoba dengan menjadi pecandu dan pengedar buronan polisi.
Namun nasib kurang baik menimpa nya, Jane kecelakaan setelah satu bulan menikah, membuatnya kehilangan janin yang di kandung serta rahimnya yang rusak harus di angkat sebab akan membahayakan nyawa nya jika tetap di pertahankan. Selamanya ia harus menjadi wanita yang tak bisa memberi keturunan meski suaminya tak pernah mempermasalahkan dan tetap mencintainya hingga sekarang.
Maka dari itulah ia semakin menyayangi Nathan seperti anaknya sendiri. Namun sepeninggal John, ia sempat hilang kontak dengan bunda hingga membuatnya tak bisa lagi bertemu, bahkan tidak sama sekali mengetahui kondisi memprihatinkan keponakan kesayangannya.
Hingga bertahun-tahun kemudian, ia kembali menemukan Nathan sebab mendengar kabarnya yang telah menjadi seorang musisi terkenal. Dan terus menjaga komunikasi sampai sekarang.
"Apa kamu yakin nak?" Tanya bunda. Diikuti dengan anggukan keyakinan dari Nathan.
"Iya bunda, aku sudah memikirkan ini. Dan aku yakin."
"Tapi kalau begitu, kita akan tinggal semakin berjauhan nak. Apa kamu juga nggak memikirkan perasaan ibu mertuamu? Kalau kamu ke Los Angeles membawa Angie, dia akan sulit untuk bertemu cucunya. Yang mana, hanya dialah satu-satunya peninggalan dari Dara." Ucap bunda lirih.
"Aku mengerti bunda, tapi ku rasa inilah satu-satunya cara agar aku bisa mengobati luka. Karena walaupun sekarang aku sudah sembuh dari depresi, hatiku masih belum bisa pulih sepenuhnya. Dan aku juga ingin membesarkan Angie dengan tanganku sendiri. Aku sudah berbuat kesalahan pada ibunya, jadi aku harus menebusnya dengan merawatnya dengan sepenuh jiwa." Ucap Nathan panjang lebar.
Bunda menutup laptop sejenak sambil memikirkan baik-baik keputusan putranya. Ia melihat dari pendar kedua matanya, sepertinya kali ini Nathan benar-benar serius dengan ucapannya. Bunda sudah banyak mengekang ruang geraknya selama ini, jadi tak ada salahnya jika ia mengiyakan keputusan nya.
"Lagipula, ini juga yang diinginkan bunda selama ini kan? Aku hengkang dari black romance dan menggeluti pekerjaan yang lain?" Tambah Nathan.
Bunda mengulas senyum di bibirnya sembari menggenggam tangan Nathan dengan lembut.
"Baiklah, kalau memang itu keputusanmu, bunda sudah terlalu membatasi ruang gerakmu selama ini. Jadi.. Sekarang bunda akan membebaskan pilihan di tanganmu. Bunda mendukung nak, jalani apa yang menurut kamu baik. Do'a bunda akan selalu menyertai langkahmu."
Nathan tidak mampu menahan rasa haru dan kebahagiaan ketika bunda menyetujui rencananya. Ia bangkit dari kursi dan memeluk ibunya sambil membungkukkan tubuh nya.
"Terimakasih banyak bunda, terimakasih. Aku bangga memiliki orang tua seperti bunda, aku sangat menyayangi bunda."
"Jaga Angie sebaik mungkin ya nak. Dia adalah permata hati kita semua. Dia sangat berharga."
Nathan mengangguk dengan sorot mata yang berbinar sambil berjanji akan selalu menjaga Angel hingga tetes darah terakhir, sebab gadis kecil itu adalah sebagian kecil dari Dara yang tersisa di hidupnya. Miliknya yang berharga, miliknya yang tak ternilai.
...***...
"Kenapa jauh banget kak? Sudah nggak betah kah tinggal di Indonesia?" Protes Lisa ketika mendengarkan keputusan Nathan.
Esoknya, setelah menyiapkan diri dengan rentetan pertanyaan dari A sampai Z terkait keputusannya untuk hijrah ke luar negeri, Nathan segera datang dan menemui ibu mertuanya. Dan sesuai dugaan, ia langsung mendapat protes dari sang adik ipar yang dikenal suka ceplas ceplos.
"Kakak sudah memikirkan soal ini Lisa, dan sepertinya ini satu-satunya jalan yang paling baik untuk kakak dan masa depan Angie." Ucap Nathan meyakinkan ibu mertua dan dua adik iparnya yang duduk sambil menatapnya dengan serius.
"Tapi kami akan sulit untuk bertemu Angie, apa memang itu yang kakak inginkan? Memisahkan kami dari Angie?"
"Uhm.. Bukan begitu Lisa."
Ibu memberi isyarat agar Lisa tak sembarangan menuduh Nathan dan mempergunakan lisannya se lentur itu.
"Nak Nathan, ibu hanya ingin tanya satu hal, apa kamu benar-benar yakin?"
"Aku yakin bu. Los Angeles adalah kota yang maju, salah satunya adalah dari segi perekonomiannya. Kami akan bisa hidup tentram di sana. Dan ibu jangan khawatir, aku pasti akan datang ke sini minimal satu kali setahun untuk menjenguk ibu. Serta rutin menghubungi ibu."
Ibu mengangguk dengan senyum getir. Walau bibir tak berucap, tampak jelas sekali dari ekspresi wajahnya yang sulit untuk bisa menerima. Namun meski begitu ia tak punya kuasa apapun untuk melarang Nathan, sebab biar bagaimanapun Angel adalah sepenuhnya tanggung jawab Nathan.
"Baiklah kalau nak Nathan memang benar-benar yakin, ibu tidak bisa melarang apapun keputusan yang sudah nak Nathan buat. Ibu akan mendukung nya, tapi tolong jaga dan rawat Angie sebaik mungkin ya nak."
"Aku pasti akan menjaga Angie. Ibu jangan khawatir ya." Nada bicara Nathan melembut.
Lisa bangkit dari tempatnya duduk, nampak tak setuju dengan ibu yang memberi izin bagi Nathan untuk pergi ke luar negeri, sementara Rangga bersikap pasif dan mengikuti alur yang ada.
Sejujurnya, Nathan sangat ingin membuat pengakuan soal yang terjadi malam itu, ketika Dara meminta pertolongan namun ia malah memilih untuk mengabaikannya. Namun beberapa menit berlalu dan Nathan mengurungkan niat, khawatir hal itu akan semakin menyakiti perasaan ibu.
Mereka sekeluarga sudah pasti sangat sulit menerima kenyataan bahwa Dara harus pergi selamanya, dan membahas soal penyebab bagaimana Dara harus meregang nyawa hanyalah hal yang tidak berperasaan.
...***...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
haaii readers kesayangan ๐ค Rose baru balik lagi, maaf yaa dua hari kemarin saya kecapean dan sakit. Jadi baru bisa up hari ini ๐
sekalian saya mau ngabarin kalau novel ini yang mana adalah karya saya yg pertama, sudah saya ikut sertakan di lomba You Are A Writer season 7 ๐๐
mohon dukungannya untuk memberi vote, like dan komentar sebanyak-banyaknya yaa. Jangan lupa klik favorit juga ๐
dukungan dari temanยฒ sekalian sangat amat berarti bagi saya ๐ฅฐ
makasih ๐ค๐น