An Angel From Her

An Angel From Her
44# Terbakar



Hamparan bintang di langit Jakarta malam ini sungguh terasa indah untuk di nikmati. Dari jendela lantai 15 di ruang keluarga, Nathan tengah asyik memandangi syahdu nya suasana malam hari dengan segelas wine dalam genggamannya.


Ia telah mengenakan piyama warna hitam berbahan satin dan akan bersiap untuk tidur. Tapi sebelum itu, dia selalu menunggu beberapa saat dan memastikan bahwa Dara sudah tidur lebih dulu darinya.


Ia hanya tak ingin jadi pusat perhatian wanita itu ketika masuk ke dalam kamar, karena memang Dara sering mencuri pandang dengannya sebelum ia tidur. Entah kenapa, sepertinya hal itu memang membuat wanita itu nyaman, meskipun tak sama sekali membuatnya demikian.


Tegukan terakhir diselesaikannya dengan elegant. Ia meletakkan gelas wine kosong itu di atas meja ruang keluarga, biasanya mbak Asih pasti akan membereskannya dan membawa ke wastafel untuk di cuci dan disimpan kembali esok hari.


Rasanya sudah cukup waktu untuk segera masuk ke kamar, rasa kantuk mulai menggelayuti kedua matanya. Ia juga yakin bahwa Dara sekarang sudah tidur dengan nyenyak. Dia pasti takkan menyadari kehadirannya disana.


Dan Yap! Sesuai perhitungannya, Dara memang sudah terlelap dengan posisi membelakangi arahnya. Ia menghela nafas lega saat itu juga. Tanpa membuang waktu Nathan segera merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia merasa rileks sekali.


Sejujurnya, sofa ini memanglah kurang nyaman untuk digunakan sebagai pengganti ranjang. Biar seempuk apapun, sofa tetaplah sofa, bukan tempat yang di rancang untuk tidur. Apalagi kakinya melebihi panjang dari sofa tersebut. Tapi apa mau di kata, ia lebih tidak ingin tidur satu ranjang dengan Dara.


Dia pernah mencoba untuk tidur di kamar sebelah. Kamar yang biasa di tempati bunda ketika menginap. Tapi ia merasa tidak nyaman, seperti ada yang kurang. Bukan karena suasana yang horor, Nathan tak pernah takut dengan hal ghaib, namun memang ia tak dapat menemukan kenyamanan disana.


Pada akhirnya, ia kembali ke kamarnya. Dan mengalah dengan tetap membiarkan Dara tidur di ranjangnya. Tak apa pikirnya, selama itu masih di satu ruangan favoritnya, mau di sofa atau tidur beralaskan karpet sekalipun sama sekali bukan masalah.


Nathan merasakan getaran dalam saku celananya. Sepertinya ada panggilan telepon disana. Ia segera mengambilnya dan melihat nama Regy di ponselnya. Manager itu, mau apa dia malam-malam begini? Batinnya.


"Nath.. Nath.. Nathan!" Panggil Regy dari telepon.


"Woi.. Woi.. Apaan sih? Kalem!" Protes Nathan. Suara Regy terdengar panik.


"Nath.. Lo harus ke basecamp sekarang!"


Nathan diam sejenak, dengan maksud membiarkan Regy yang mungkin akan melanjutkan kata-katanya.


"Nath.. Lo kesini sekarang!" Ucap Regy lagi.


"Ada apa memangnya gy?"


"Basecamp kebakaran!" Ucap Regy setengah teriak.


"Hah?! Kok bisa?!" Nathan tak kalah panik.


...***...


Kobaran api terlihat menjilat-jilat bagian depan bangunan yang di jadikan basecamp tersebut. Nampak Regy dengan raut wajah paniknya tengah berdiri lemah di sekitar halaman. Di sebelahnya telah hadir Mike yang berusaha untuk menenangkan sang manager disana, ada juga beberapa warga yang turut membantu memadamkan api sebelum dua mobil damkar datang.


Regy juga mendatangkan petugas kepolisian untuk segera menyelidiki penyebab terjadinya kebakaran itu. Nathan segera turun dari mobil sesampainya disana, dan buru-buru menghampiri Regy. Ia tahu manager itu pasti begitu terpukul dengan kejadian ini, mengingat bangunan yang dijadikan basecamp adalah rumah pertamanya yang dibangun dengan susah payah olehnya.


"Gy.." Panggil Nathan sambil menepuk bahu Regy dari belakang.


Regy menoleh, terdapat beberapa bercak noda hitam di wajahnya.


"Gimana ini Nath.." Keluh Regy.


"Sabar gy.." Nathan mengusap punggung Regy, memberi semangat padanya.


"Alat-alat gimana?" Tanya Nathan.


"Hampir semua selamat. Tapi ada sebagian yang rusak.." Sahut Mike sembari memberi isyarat pada Nathan ke arah alat-alat musik yang berserakan di halaman.


"Masih bisa di servis. Mudah-mudahan nggak rusak parah" Ucap Nathan yang diikuti anggukan dari Mike.


"Memang gimana kejadiannya sih? Kok bisa tiba-tiba begini?" Tanya Nathan ke arah Regy yang tertunduk lesu.


"Gue nggak tahu asal api itu dari mana. Karena tadi gue sempat tidur disini. Gue kebangun karena menghirup aroma terbakar.. Pas lihat ke teras udah lumayan gede apinya" Regy berusaha menjelaskan sedikit kronologi kejadian dengan suara yang bergetar.


"Gue coba untuk angkut beberapa aset dan alat yang mungkin bisa diselamatkan. Sambil dibantu beberapa warga yang kebetulan lagi ada disekitar sini. Cuma apinya cepat banget membesar. Kita kualahan juga.. Akhirnya manggil damkar. Untung cepat datang" Tutup Regy.


Tak beberapa lama setelah kedatangan Nathan, si jago merah akhirnya dapat dijinakkan dengan baik oleh para petugas pemadam kebakaran. Asap hitam nampak mengepul di sekeliling bangunan. Jika dilihat dari luar, sepertinya cukup banyak bagian yang dilalap api. Renovasi sudah pasti diperlukan.


Dua orang polisi yang didatangkan Regy tengah sibuk memeriksa keadaan sekitar TKP, mencari beberapa petunjuk untuk menemukan penyebab kebakaran yang terjadi. Tak perlu waktu lama bagi mereka mendapatkan barang bukti yang dicari. Para polisi itu mendatangi Regy dengan membawa barang yang dicurigai merupakan alat yang digunakan pelaku untuk membakar bangunan itu.


"Kami menemukan derigen ini di sekitar sini. Juga satu pemantik api yang sepertinya dilemparkan seseorang untuk membakar bangunan ini" Jelas salah satu polisi.


"Dilempar seseorang?" Ulang Regy.


"Maksudnya, kebakaran ini ulah seseorang yang disengaja?" Tanya Nathan.


"Kesimpulan awal kami seperti itu. Tapi tentu kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Untuk sementara kami akan membawa derigen dan pemantik api ini ke kantor, sebagai barang bukti" Ucap polisi.


"Tolong segera di usut tuntas kasus ini pak. Kalau ini ulah seseorang, kami harus meminta pertanggung jawabannya. Kami menunggu kabar selanjutnya dari bapak" Ucap Mike.


"Baik. Kami akan segera melanjutkan investigasi. Permisi, selamat malam" Pamit polisi itu pada Regy dkk.


"Berarti untuk sementara kita nggak bisa latihan disini. Perlu renovasi ini bang" Ucap Mike pada Regy.


"Iya.. Pasti perlu. Ruang studio juga kayaknya kena" Sahut Regy tanpa mengalihkan pandangannya dari bangunan yang sebagian besar ruangannya habis terbakar.


"Di apartment lo ada studio kan Nath?" Tanya Mike pada Nathan di sebelahnya.


"I-iya.. Ada.." Sahut Nathan ragu.


"Yaudah, sementara kita pinjam studio lo dulu Nath untuk latihan. Sampai basecamp selesai di renov. Bisa kan?" Ucap Regy.


Nathan nampak ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Jika sementara waktu teman-temannya akan latihan di studionya, itu berarti akan sering mereka datang ke apartment dan tentunya bertemu dengan Dara.


Sebenarnya memang bukan masalah, mengingat mereka juga sudah mengetahui bahwa ia telah menikah. Tapi entah mengapa ada perasaan tak nyaman jika hal itu harus terjadi. Ia merasa privasinya akan terganggu.


"Nath.. Bisa kan?" Panggil Mike menggubris lamunan Nathan.


"Ii-yaa.. Bi-bisa aja sih.. Cuma.. Di studio gue.. Nggak ada drumnya" Ujar Nathan berkilah.


"Drum yang disini masih selamat. Masih bisa lah dipakai.. Nanti tinggal kita angkut" Ucap Mike.


Nathan tak punya pilihan selain mengizinkan teman-temannya memakai ruang studionya sementara. Ia tak lagi memiliki alasan yang dapat di terima untuk menolak ide tersebut.


"Ya.. Oke.. Boleh, kalau gitu.. Besok kita angkut ya" Ucap Nathan kalah.


"Kenapa? Kok kayak terpaksa gitu Nath?" Mike menyadari bahasa tubuh Nathan. Tebakannya sangat tepat.


"Terpaksa? Nggak kok. Nggak ada yang terpaksa" Bantah Nathan gelagapan.


"Eh, si Nico sama Adly mana? Nggak dikasih tahu?" Tanya Nathan mengalihkan pembicaraan.


"Nico nomornya nggak aktif. Adly lagi di luar kota jenguk bokapnya sakit. Dia baru bisa balik besok pagi" Sahut Regy.


Nathan mengangguk perlahan.


"Sorry ya Nath, jadi ganggu waktu lo sama istri. Mike, lo juga. Thanks udah datang" Ucap Regy lemah.


"Nggak usah berterima kasih lah gy, basecamp ini kan milik kita bersama" Jawab Mike sembari mengusap punggung Regy dengan lembut.


"Tenang aja gy, lo nggak sendirian" Nathan turut menyemangati.


Malam yang cerah itu dihabiskan untuk membenahi sedikit puing-puing dari sebagian bangunan yang habis terbakar. Kejadian ini, cukup menguji mereka yang notabene nya tengah mempersiapkan album baru.


Berbulan-bulan lamanya proses tersebut banyak terhambat, dengan kejadian-kejadian tak terduga. Mereka berharap, setelah ini tak ada lagi rintangan besar yang menimpa, semoga.