An Angel From Her

An Angel From Her
113# Mencari Pendonor



Hingga pagi tiba, usaha bunda tak juga membuahkan hasil yang nyata. Belum ada seorang ibu pun yang mampu mendonorkan air susu untuk cucu kecilnya yang sedang berjuang di NICU.


Nyaris semalaman bunda tidak bisa benar-benar memejamkan mata, ia tak ingin pulang, tetap berada di rumah sakit jadi satu-satunya pilihan. Selepas subuh ia telah menghubungi ibu dari Dara, memberi kabar tentang kondisi putrinya yang koma.


Bunda menawarkan untuk menjemput ibu dengan mengutus sopir pribadinya, agar ia tak perlu repot-repot lagi mencari kendaraan menuju rumah sakit. Dan pak Eko si sopir kepercayaan bunda sudah meluncur sejak pukul 06:00 tadi.


Ia berjalan gontai menelusuri lorong rumah sakit, tidak tahu lagi harus berbuat apa. Seandainya ia diberi mukjizat untuk memiliki air susu lagi, sudahlah pasti ia akan memberikannya secara sukarela pada bayi kecil malang itu.


"Hiks.. Hiks.."


Suara tangis dari seorang wanita yang terduduk lemah di lantai tertangkap indera pendengarannya. Bunda menghentikan langkah, mengamati wanita itu. Ia duduk meringkuk dengan membenamkan wajah di antara lututnya yang di tekuk.


Tepat di sebelahnya ada pintu yang tertutup rapat dengan tulisan KAMAR MAYAT di bagian atasnya. Bunda menduga ia baru saja kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya, entah siapa, tapi bunda langsung berempati. Mendengar rintihan tangisnya, sungguh menggetarkan hati.


"Nak?," Bunda berlutut di sampingnya, menyentuh lembut bahu nya yang bergetar.


Wanita itu mengangkat kepala dan menoleh pada bunda. Disaat itulah terlihat jelas kedua mata nya yang sembab lengkap dengan jejak air mata yang membasahi keseluruhan bagian dari wajahnya. Cantik, kesan pertama bunda ketika memandangnya. Usianya kira-kira sepantar dengan Dara, masih muda dan memiliki wajah khas timur tengah.


Rambutnya tebal dicat warna cokelat gelap dengan tekstur bergelombang. Tampak banyak anak rambut halus yang tumbuh di sekitaran dahinya. Alisnya yang juga tebal dibentuk dengan cantik membingkai wajah oval nya.


"Kenapa kamu menangis disini?," Tanya bunda ramah.


Wanita itu menyeka air mata dengan punggung tangannya sambil menghela napas, mengusir rasa sesak di dada.


"Saya baru saja kehilangan seseorang paling penting dalam hidup saya."


"Kehilangan memang menyakitkan, saya juga pernah mengalaminya. Jika ada pertemuan, sudah pasti akan ada perpisahan. Kamu yang kuat ya."


Wanita itu mengangguk lemah sembari berusaha mengukir senyum yang tampak kaku.


"Kamu sendiri disini?," Tanya bunda kemudian.


"Iya."


"Dimana keluargamu?,"


"Keluarga besar saya di Abu Dhabi, di Indonesia saya tinggal bersama suami dan keluarga nya. Dan mereka membuang saya sekarang."


Bunda memandangnya iba, dari obrolan ini ia mengira bahwa wanita itu sedang mengalami musibah yang amat menyakitkan.


"Maaf, siapa namamu?,"


"Saya Adriana."


"Perkenalkan, saya Erina." Ucap bunda sambil menjulurkan tangannya yang langsung di sambut Adriana dengan hangat.


"Kalau boleh saya tau, nak Adriana kehilangan siapa?,"


"Anak laki-laki pertama saya bu Erina. Dia meninggal dalam kandungan dan saya melahirkan dia dalam keadaan tak bernyawa."


Tangis nya pecah lagi, Adriana nampak masih shock atas kepergian putranya. Bunda langsung merangkul tubuh lemah itu, memberinya sedikit semangat.


"Saya juga nggak mau ini terjadi, ibu mana yang tega menyakiti bahkan membunuh bayinya sendiri. Saya sudah berusaha untuk menjaganya sebaik mungkin.. Tapi lelaki itu terus saja menyiksa. Dan ketika semua ini terjadi, sayalah yang paling di salahkan."


Bunda membelai lembut puncak kepala Adriana sambil terus memasang telinga baik-baik mendengarkan seluruh keluh kesahnya dalam derai air mata.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hidup ini benar-benar tidak adil. Dari sekian banyak jiwa, kenapa harus saya yang mendapat takdir yang seperti ini?"


"Karena Tuhan tau Adriana adalah yang terkuat dan tangguh."


Wanita itu masih terus membenamkan wajah dalam rangkulan bunda, entah bagaimana ia merasakan ketenangan saat bunda memberinya tempat untuk bersandar. Padahal ia baru saja mengenal bunda beberapa menit yang lalu.


Beban sesak yang menghimpit dadanya berangsur membaik, Adriana menggeser sedikit tubuhnya merasa sudah cukup berkeluh dengan bunda yang begitu welcome padanya.


"Terimakasih banyak bu Erina, saya jadi curhat."


"Ibu senang melihatmu sudah bisa senyum. Sama-sama nak, terkadang saat sedih, kita hanya butuh untuk di dengarkan. Nggak perlu solusi, apalagi di hakimi."


"Iya.. Bu Erina benar." Ucap Adriana. "Ibu dengan siapa disini? Apa ada keluarga yang sedang di rawat?,"


"Menantu saya. Dia juga baru melahirkan tadi malam. Sekarang dia koma, dan bayinya yang lahir kurang bulan harus mendapat donor ASI secepatnya."


"Ya Tuhan.." Adriana menanggapi.


"Tapi.. Sampai sekarang saya belum menemukan pendonornya. Nggak tau lagi harus mencari kemana."


Mendadak sebuah ide terbesit dalam benaknya, Adriana yang notabene baru saja melahirkan tentu memiliki air susu yang melimpah. Ia berpikir akan sangat baik jika membantu bunda dengan menjadi pendonor ASI untuk cucu nya.


"Bu Erina, maaf sebelumnya. Jika ibu berkenan, saya bisa mendonorkan air susu saya untuk cucu ibu. Kebetulan per pagi ini, ASI nya mulai memproduksi. Sepertinya juga banyak."


Bunda termenung memandang wajah Adriana.


"Uhm.. Maaf, ini hanya jika ibu berkenan. Saya dalam kondisi sehat, tidak ada penyakit bawaan, tidak mengkonsumsi alkohol dan narkoba. Bukan perokok, agama saya muslim. Hanya memakan makanan yang halal."


"Kamu.. Apa yakin akan mendonorkan ASI untuk cucu saya?,"


Adriana mengangguk penuh keyakinan. "Iya bu, saya yakin."


"Tapi.. Apakah tidak akan menyakiti perasaanmu nak? Bayimu baru saja meninggal, dan sekarang kamu akan menyusui bayi orang lain. Saya takut, kamu justru semakin sulit untuk bangkit."


"Nggak sama sekali bu. Justru saya ingin setidaknya sekali saja, bisa berguna untuk orang di sekitar saya."


Bunda memeluk hangat Adriana, begitu bersyukur sebab akhirnya ia menemukan seseorang yang tulus mau membantunya keluar dari permasalahan ini.


"Terimakasih banyak nak Adriana. Terimakasih.. Entah dengan cara apa saya bisa membalas kebaikanmu."


"Sama-sama bu Erina. Saya senang bisa membantu."


...***...


Adriana menggenapkan janjinya pada bunda, ia menyusui bayi kecil yang belum di beri nama itu dengan telaten, memperlakukan nya seolah dia adalah bayinya sendiri.


Putri kecil Dara tidak meminum banyak ASI, Adriana lalu memompanya untuk diberikan lagi nanti. Ia memandang bayi yang di tempatkan dalam inkubator itu dengan sendu, berkhayal jika itu adalah anaknya. Dunia mungkin akan terasa lebih indah sekarang.


Ia keluar dari ruang NICU setelah memastikan anak susuannya telah mendapat asupan yang cukup. Kakinya melangkah perlahan, dan setibanya di luar ruangan ia mendapati wajah yang familiar sedang berdiri di depannya. Menatapnya penuh pertanyaan.


Seorang pria tinggi nan tampan berwajah blasteran. Dia, Nathan.


"Sudah selesai nak Adriana?," Ucap bunda yang menyusul dan berdiri sejajar dengan Nathan.


"Uhm.. Iya.. Sudah bu Erina."


"Syukurlah." Tanggap bunda lega. "Oh iya perkenalkan, ini Nathan putra saya. Ayah dari bayi yang kamu susui tadi."


Adriana termenung sepersekian detik sebab mengetahui fakta bahwa anak susuannya adalah putri dari seorang musisi terkenal. Nathan, ia sangat mengenalnya. Alunan melodi dari permainan gitarnya sempat ia kagumi. Parasnya yang tampan sungguh mempesona dan memikat hati wanita manapun yang melihatnya. Termasuk hatinya.


"Terimakasih banyak atas bantuannya mbak Adriana. Perkenalkan, saya Nathan." Ucap pria itu sambil menjulurkan tangannya.


"Sama-sama Nathan. Saya sudah sangat mengenalmu." Sahutnya memandang Nathan tanpa mampu mengedipkan mata. Ia meraih telapak tangan Nathan dengan tangannya yang sedikit gemetar.


"Adriana kenal dengan Nathan?," Bunda menimbrung.


"Saya fans yang sangat menyukainya." Adriana langsung mengerjap ketika menyadari lisannya telah begitu lentur berucap. Melihat ekspresi Nathan yang tampak datar membuatnya malu sendiri. Cepat-cepat ia menarik tangannya yang masih menggenggam tangan suami orang sembarangan.


"Uhm.. Maksudnya.. Suka sebatas penggemar saja bu Erina. Nggak lebih." Sambungnya salah tingkah. Sementara bunda memilih untuk mengulas senyum tanpa memberi komentar apapun.