
Nathan menggeliat di atas ranjang yang nyaman dan empuk. Sudah satu tahun lebih ia tak menjajaki tubuhnya di atas sana karena kehadiran Dara dalam hidupnya. Pria itu merasa amat rileks, hingga tak berniat untuk beranjak dari sana.
Tapi tunggu, kenapa dia bisa ada di ranjang? Bahkan ia juga merasakan setengah tubuhnya yang di tutupi oleh selimut tebal. Beberapa detik kemudian Nathan cepat-cepat membuka mata dan mengedarkan pandangannya di sekeliling kamar.
"Akh.. Sshh.." Desis Nathan ketika merasakan nyeri di kepalanya saat ia mencoba untuk membangkitkan tubuhnya.
"Kenapa sakit banget kepalaku" Gumamnya.
Disaat yang bersamaan, ia baru menyadari bahwa Dara juga tak ada disana. Otaknya menebak-nebak apakah tadi malam Dara bertukar posisi dengannya? Dan wanita itu dengan sukarela tidur di atas sofa? Tapi kenapa? Dia tak dapat mengingat sama sekali apa yang telah terjadi.
Kepalanya terasa makin menusuk ketika ia mencoba untuk memutar kembali memorinya. Sangat sakit hingga akhirnya dia menyerah, dan memutuskan untuk tak lagi berusaha mengingat apa yang mungkin bisa jadi adalah suatu hal yang penting untuknya.
Tapi satu hal lagi yang baru di sadarinya adalah, dia tak memakai pakaian barang sehelai benang pun! Hanya ada selimut yang membelit setengah tubuhnya ke bawah. Berbagai macam pertanyaan bergumul dalam kepalanya, apa yang sudah dilakukannya hingga ia bisa tidur dalam keadaan seperti ini?
Beberapa titik di wajahnya juga terasa nyeri. Apa dia baru saja adu jotos dengan seseorang? Nathan merasa bagai sebuah botol air yang bocor hingga isinya keluar sedikit demi sedikit, sampai kosong. Semua ingatannya tentang tadi malam pergi entah kemana. Menyisakan hanya sedikit yang mampu bertahan.
Dia berpikir, mungkinkah Dara tahu apa yang telah terjadi malam tadi. Semua rentetan peristiwa yang kepingannya hilang, dari bagaimana dia bisa tidur di ranjang, siapa yang melucuti pakaiannya sampai bersih, dan makhluk apa yang menyisakan jejak nyeri di wajahnya.
Tapi kemana wanita itu? Sejak membuka mata, batang hidungnya tak nampak sedikitpun. Oh, dia lupa. Dara sudah pasti ada di dapur dan sedang membuat sesuatu untuknya. Sudah pasti, karena memang hanya itu yang jadi rutinitas hariannya. Sangat mudah menemukan wanita bertubuh mungil itu di tempat ini.
Nathan turun setelah sebelumnya membersihkan diri dan mengenakan kembali pakaiannya dengan benar. Dia terkejut bukan main ketika melihat pantulan dirinya sendiri dari cermin saat berada di kamar mandi tadi. Banyak memar diwajahnya serta bibir bagian bawahnya yang juga nampak pecah. Ia yakin bahwa semalam baru saja terlibat perkelahian dengan seseorang, entah siapa.
Kakinya baru menapaki lantai satu ketika aroma wangi dari masakan Dara menyesap masuk ke hidungnya tanpa permisi. Membuat perutnya ribut seketika. Ia menghentikan langkah sebentar, mencoba mengamati istrinya dari kejauhan. Wanita itu selalu sibuk menyiapkan apapun keperluan yang berkaitan dengannya.
Orang lain mungkin saja merasa bahwa hidupnya sudah sempurna. Memiliki karir yang cemerlang, ketenaran, tempat tinggal di sebuah apartment mewah, seorang istri cantik dan jago masak yang semakin melengkapi hidupnya. Nathan boleh saja bilang bahwa itu semua hanya omong kosong, tapi kenyataan akan selalu menang.
Pria itu melanjutkan lagi langkahnya. Kerongkongannya mendadak kering hanya karena memikirkan hal-hal seperti barusan. Ia membuka lemari pendingin dan mencari-cari minuman jeruk favoritnya. Tapi nihil, dia menebak mungkin Dara belum sempat berbelanja bulanan.
Usai menutup kembali pintu lemari pendingin matanya menangkap segelas air mineral yang sudah tersaji di meja makan. Tak apa lah, pikirnya. Dia segera meraih dan langsung meneguknya sampai habis.
Nathan menatap punggung Dara yang berada searah dengan pandangan matanya. Merasa aneh, karena ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu hari ini. Dara tak mungkin mendadak tuli dan tak mendengar suara ketukan kakinya yang mendekat. Juga ketika lemari pendingin itu dibuka, yang sudah pasti menciptakan suara yang semestinya menggubris lamunannya jika memang dia tengah melamun.
Biasanya wanita itu akan selalu menyapa saat Nathan baru tiba di dapur, tapi sekarang semuanya sunyi. Hanya ada suara deru alat masak yang saling beradu disana. Menoleh pun tidak. Nathan curiga Dara mengalami keseleo karena semalam tidur di sofa. Sehingga membuatnya kesulitan bahkan hanya untuk sekadar menoleh.
Namun satu hal terbesit di kepala Nathan, yang dia sendiri juga tak mengerti. Kenapa dia harus merasa hampa ketika tak ada sapaan dari Dara?
"Kamu masak apa?" Nathan mulai mencoba membuka topik hanya untuk memastikan Dara baik-baik saja dan mendengar suaranya.
"Emm.. Hh-hai Nath, kamu sudah bangun.." Sahutnya dengan masih mempertahakan posisi kepalanya. "Ini.. Aku.. Masak.. Emm.. Masaak.. Anu.. Apa sih namanya"
Nathan mengernyit. Nada suara Dara jelas terdengar bergetar. Hatinya mendorong untuk menanyakan lebih lanjut soal keadaan Dara yang mungkin sedang tidak baik-baik saja. Tapi logika nya lagi-lagi melawan.
"Ini.. Eemm.." Lidahnya terasa kebas. Dara masih belum bisa menyebut dengan benar nama masakan yang tengah di olahnya.
"Nasi goreng?" Tembak Nathan.
"Ya.. Ya.. Benar.. Itu.. Nasi goreng.. He.. He.."
Dara menyajikan sepiring nasi goreng yang wangi dan nampak lezat di hadapan Nathan. Membuat pria itu makin kelaparan. Sembari mengamati tingkah Dara yang aneh, Nathan menarik kursi untuk di dudukinya. Semakin di perhatikan, semakin gugup pula Dara di buatnya.
Rasa gugup wanita itu jauh berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu. Bahkan ketika dia menikahinya, rasa-rasanya Dara tak se kikuk hari ini. Apa sebenarnya yang dirasakan wanita ini? Nathan tak mampu menebaknya sama sekali.
Nathan mengabaikannya. Ia memulai sarapan seorang diri, tanpa menawarkan Dara agar ikut bergabung dengannya. Dia menyuap sedikit demi sedikit menu sarapannya yang tercipta dari tangan terampil Dara. Mengecapnya, dan menobatkan nasi goreng ini jadi yang paling ter enak.
Pria itu bahkan sampai tidak menyadari bahwa Dara baru saja kembali dengan membawa sebuah kotak warna hitam di tangannya. Dia menyodorkan dengan asal-asalan pada Nathan yang sedang khusyuk menyantap makanannya.
"Nath.. Aku.. Punya hadiah untukmu. S-sebagai hadiah ulang tahunmu.." Ungkap Dara. Wajahnya jelas terlihat memerah. Ia bahkan tak berani menatap wajah Nathan yang justru menunggu sorot matanya yang teduh itu.
"Se.. Selamat ulang tahun ya Nath, semoga kamu sukses selalu. M-maaf kalau hadiahnya telat satu hari. Jika saja aku tau kamu akan pulang larut malam, akan kuberikan ini sebelum kamu pergi. Emm.. Semoga kamu suka dengan hadiah dariku" Ucap Dara kaku. Ia mengerahkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan kalimat barusan. Meski masih gemetar, akhirnya dia berhasil mengungkapkannya pada Nathan.
"Oh? Ya.. Makasih Ra" Nathan menerima kotak itu dengan suka rela.
"Aku juga membuatkan ini.." Dara membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sesuatu dari dalam.
"Aku.. Aku tau ini dari bunda.. Bunda bilang kamu sangat suka trimisu" Dara menghentikan kalimatnya, sadar bahwa ada pengucapan yang salah pada nama makanan yang di sodorkan nya untuk Nathan.
"Emm.. Aah.. Maksudku, tiramisu"
Nathan hanya tercenung melihat Dara yang wajahnya mulai kelihatan pucat. Wanita ini, apa dia merasa sedang berhadapan dengan hantu, jin atau sebangsa iblis?
"Ya.. Aku memang suka. Sekali lagi, makasih ya"
Dara tak menyahut tapi membalasnya dengan senyuman yang memamerkan lesung pipinya. Gigi gingsul yang dimilikinya juga nampak pas bersanding dengan bentuk senyumnya yang candu.
Wanita itu berlalu, berjalan dengan perlahan sambil sedikit melebarkan kakinya, seakan sesuatu sedang menahan langkahnya. Nathan tak kuasa menahan semua rasa penasaran yang kian menyesaki pikirannya terkait --apa yang tengah melanda seorang Dara hari ini?
"Ra.. Kenapa jalanmu begitu?" Pertanyaan Nathan langsung menginterupsi Dara yang hendak 'kabur' cepat-cepat dari hadapannya. Dara berhenti, tapi tak berbalik.
"Aku.." Kedua bahunya tampak naik turun dengan cepat. Napasnya tersengal-sengal. Ia berusaha mengaturnya sebaik mungkin sebelum memuaskan Nathan dengan jawabannya.
"Aku.. Ak-aku.." Dara memaki dalam hati, kenapa dia tak bisa menahan sedikit saja rasa sakit itu hanya sampai Nathan tak melihatnya lagi. Haruskah ia menjawab bahwa yang menyebabkan jalannya jadi aneh begini adalah karena ulah aset yang dimiliki Nathan? Oh tentu tidak, itu terlalu vulgar.
Dara mengumpulkan keberaniannya lagi untuk berbalik menghadap Nathan yang masih menunggu jawabannya dengan sabar. Ia menarik napas, dan memutar arahnya perlahan.
"Kakiku.. Tadi aku sempat jatuh, karena kurang keseimbangan. Jadi kakiku sedikit.. Emmh.. Anu.. Apa istilahnya itu?" Lagi-lagi jawaban yang mengandung unsur pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Dara menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal sama sekali.
"Terkilir?"
"Iya.. Iya.. Terkilir. Kakiku terkilir.. Sedikit sakit. Jadi begini.. Jalannya" Dara tersenyum getir. Sementara Nathan hanya merespon dengan anggukkan.
"Lalu.. Apa kamu tau..?" Kalimat Nathan terhenti. Dia tampak menimbang-nimbang.
"Mati aku. Apa Nathan akan membahas soal kejadian semalam? Dia memang mabuk, tapi sepertinya dia sadar sepenuhnya. Mengingat apa yang dilakukannya padaku. Itu semua terlalu mustahil jika dibilang sebuah ketidak sengajaan" Pergolakan batin terjadi pada Dara. Bagai di sambar petir, Dara tak mampu berkutik. Dia pasrah se pasrah-pasrahnya.
Dara menelan ludah, lalu berusaha bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Ia bersiap membuka mulut dan memberi respon "Tau apa, Nath?"
"Mmm.. Nggak.. Bukan apa-apa"
Dara bernapas lega. Biarlah, memang sebaiknya Nathan tak perlu mengingatkannya lagi dengan 'malam pertama' mereka semalam. Dia berharap setelah ini, Nathan tak lagi pulang dalam keadaan mabuk dan 'memperkosa' nya.