
Suasana makan malam bersama yang pada awalnya berjalan cukup lancar berubah jadi berantakan lantaran Nathan yang tak setuju dengan rencana bunda terkait perjodohan tersebut.
Nathan menolak keras, mengingat ia baru saja mengenal Dara. Juga karena telah memiliki tambatan hati, wanita yang sangat dicintainya mati-matian, Monica.
"Apa? Bunda bercanda kan" Ucap Nathan usai menenggak segelas air mineral untuk melegakan kerongkongannya.
"Apa kamu melihat raut wajah bercanda disini?" Bunda bertanya balik.
"Haha.. Yang benar saja bun" Ucap Nathan dengan nada mengejek.
"Lho, memangnya kenapa? Dara ini gadis baik-baik yang sangat pandai menjaga kehormatannya. Dan.. Dia juga cantik" Ucap bunda ngotot.
"Bunda lupa siapa aku? Apa bunda fikir orang seperti dia pantas denganku?"
"Nathan!"
"Aku bicara fakta bunda, lagipula aku baru saja mengenalnya malam ini. Lalu tiba-tiba bunda minta aku menikah dengannya? Pernikahan macam apa?" Protes Nathan tak mau kalah.
"Bunda tidak meminta kamu untuk menikahinya malam ini juga, besok, atau lusa. Bunda hanya ingin menyampaikan keinginan bunda. Setidaknya, setelah kalian bertemu seperti ini, selanjutnya kalian akan bisa saling mengenal lebih jauh lagi" Jawab bunda.
"Mana bisa secepat itu bun. Aku bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta, apalagi dengan cewek seperti dia" Ucap Nathan seraya melirik ke arah Dara.
"Jaga mulut kamu Nathan!" Hardik bunda.
"Mmm.. Maaf bunda. Apa yang dibilang bang Nathan benar. Tidak semudah itu seseorang jatuh cinta. Dan memang sepertinya Dara ini tidak pantas untuknya" Ucap Dara memotong perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Hei, kamu panggil aku apa tadi? Bang?" Ucap Nathan sinis.
"Sudah cukup!" Bunda mulai hilang kesabaran.
"Ya memang begitu kenyataannya. Bunda juga dengar kan barusan? Dia sudah menyadari bahwa tidak pantas orang seperti dia menikah denganku" Ucap Nathan.
"Kamu ini benar-benar.."
"Maaf, kalau soal yang lain mungkin aku bisa mempertimbangkannya. Tapi ini, jangan harap. Selain itu, bunda juga tahu kan siapa orang yang paling ku cintai?"
Bunda diam, berusaha menetralisir emosi yang menggebu di dalam hatinya. Ia melirik ke arah Dara, raut wajahnya terlihat lesu. Mungkin saja dia telah sangat tersinggung dengan perkataan Nathan barusan, yang seakan merendahkan dirinya.
"Kalaupun aku harus menikah. Aku hanya akan melakukannya dengan Monica" Tegas Nathan.
"Silahkan. Tapi jangan mimpi bunda akan merestuinya" Ancam bunda.
Nathan beranjak dari kursinya.
"Tidak masalah. Aku akan melakukannya dengan, atau tanpa bunda" Jawabnya seraya pergi meninggalkan ruang makan dan merusak acara makan malam itu.
"Nathan! Kita belum selesai bicara!" Teriak bunda. Namun sia-sia, karena Nathan telah keluar sembari membanting pintu dengan keras.
"Anak itu.." Bunda terisak seraya menutup kedua mata dengan salah satu telapak tangannya. Dirinya begitu malu dengan Dara.
"Bunda.. Sudahlah" Dara beranjak dari kursi, berusaha menenangkan bunda yang mulai menangis. Ia mengusap punggung bunda dengan lembut.
"Dara.. Maafkan bunda ya. Bunda juga tidak mengerti kenapa Nathan begitu kurang ajar sampai berkata seperti itu. Tolong maafkan bunda nak" Ucap bunda parau.
"Ya ampun bunda.. Tidak apa-apa. Wajar kalau Nathan menolak dan berbicara begitu. Kami baru saja kenal, tentu dia kaget saat mendengar perjodohan ini" Ucap Dara bijak.
"Tapi itu keterlaluan. Seharusnya dia bisa lebih menjaga sikapnya"
"Sudah bunda. Ini bukan salah bunda, Nathan juga tidak salah. Dara memakluminya. Bunda tenang ya" Ucap Dara.
Bunda menoleh ke arah Dara. Gadis itu tersenyum manis, wajahnya terlihat begitu mendamaikan hati.
"Hatimu baik sekali Dara. Bunda memang benar-benar tidak salah menilaimu" Puji bunda.
"Bunda jangan sedih lagi ya" Ucap Dara.
"Iya nak" Jawab bunda.
Gadis itu lalu kembali duduk di kursinya semula. Ia mencoba untuk tak memikirkan kata-kata Nathan yang ditujukan Nathan padanya tadi. Meski rasanya cukup menyakitkan namun dirinya memilih untuk mengabaikannya.
Lagipula, sedari awal pun ia telah menduga hal ini pasti akan terjadi. Di zaman yang sudah maju seperti sekarang, siapa laki-laki yang mau menerima begitu saja ketika dirinya di jodohkan. Kalaupun ada, mungkin jumlahnya hanya hitungan jari sebelah tangan saja.
\*\*\*
Nathan mengendarai mobil Jeep nya dengan kecepatan tinggi, menembus keramaian ibu kota di malam hari. Ia merasa begitu kesal dengan bunda yang terasa seperti ingin menyetir kehidupannya.
Bunda yang selalu mengomentari, melarang juga menentang apapun yang diinginkannya dan sekarang bahkan memintanya untuk menikah dengan gadis pilihannya. Semua tak dapat diterimanya begitu saja.
Ia memarkir kendaraannya di depan sebuah rumah. Lalu membuka pagar dan langsung masuk tanpa aba-aba. Namun langkahnya terhenti ketika akan membuka pintu, karena terkunci dari dalam.
Tok.. Tok.. Tok..
Pria itu mengetuk pintu beberapa kali dengan kencang.
"Ya.. Sebentaar.." Teriak seseorang dari dalam.
"Eh.. Nath, ternyata lo. Ada ap.." Mike si pemilik rumah membukakan pintu. Nathan memaksa untuk masuk meski belum di persilahkan oleh tuan rumah.
"Heh.. Heh.. Belum disuruh masuk udah nyelonong aja" Protes Mike ketika Nathan berjalan melewatinya.
Nathan menduduki sofa ruang tamu Mike seenaknya. Ia bahkan belum menjawab pertanyaan Mike yang sempat terpotong itu.
"Ada angin apa sih lo, tiba-tiba nongol hari gini" Tanya Mike.
"Mike, gue haus. Bikinin minum dong" Pinta Nathan.
"Dasar tamu gak ada akhlak. Udah main nyelonong. Sekarang nyuruh-nyuruh. Sebentar!" Ucap Mike. Bagai pelayan, ia menuruti saja permintaan Nathan untuk dibuatkan minum.
Tak lama kemudian Mike kembali dengan membawa segelas limun dan menyajikannya pada Nathan. Gelas itu segera di rebut Nathan yang kehausan bagai seorang pelari marathon.
"Lo kesini jalan kaki kali ya? Haus amat" Celetuk Mike ketika Nathan meletakkan gelas yang telah kosong di atas meja.
"Mike! Gue disuruh nikah!" Ucap Nathan.
Mike melongo sepersekian detik.
"Hah? Sama siapa?" Tanya Mike penasaran.
"Sama nyokap"
"Cewek yang baru aja gue temui tadi" Sahut Nathan.
"Baru di temui? Bukan sama Monica?"
"Lo kan tahu, nyokap benci sama Monica. Mike gue harus gimana?" Tanya Nathan.
"Lho kok malah nanya gue, kan lo yang mau nikah" Jawab Mike sekenanya.
Nathan berlutut di hadapan Mike tiba-tiba bagai orang yang sedang mengemis.
"Heh.. Heh.. Ngapain lo"
"Gue mohon Mike. Bantu gue cari solusi. Gue gak tahu harus cerita ke siapa lagi. Sekarang gue benar-benar bingung" Pinta Nathan.
"Kenapa harus bingung sih Nath? Kan udah gue bilang, kalau mau, nikah. Kalau gak yaudah, lo tinggal bilang gak mau nikah" Jelas Mike.
"Gue udah bilang tadi ke nyokap kalau gue menolak untuk di jodohkan"
"Nah itu udah jelas"
"Tapi masalahnya Mike. Setelah gue pikir-pikir lagi, ini adalah permintaan nyokap, orang tua gue satu-satunya. Apa gak jadi anak durhaka nanti gue" Ucap Nathan seraya duduk kembali di atas sofa.
"Hah? Ha..ha..ha.. Setelah semua yang lo lakukan, sekarang lo baru mikir takut jadi anak durhaka?" Ejek Mike.
"Sekarang kalau memang lo gak mau, tolak. Tempatkan saja diri lo seperti saat lo pakai narkoba, minum alkohol, dan berakhir di penjara. Saat itu, lo gak kepikiran akan jadi anak durhaka kan?" Ucap Mike to the point.
Nathan diam dan merenungi apa yang terucap dari mulut Mike barusan. Kata-katanya bagai pisau menghujami hatinya dengan sadis. Di saat yang bersamaan dirinya baru sadar karena telah banyak menyakiti perasaan bunda, orang tua tunggalnya yang telah merawatnya dengan sangat baik sedari masih di kandungan.
"Ini sorry to say ya Nath. Gue bukan bermaksud menggurui. Kalau gue jadi lo, yang cuma punya nyokap satu-satunya, mending gue cari aman deh. Bukan apa-apa, takut nyesel aja" Lanjut Mike dengan bijak.
Mike meninggalkan Nathan yang larut dalam lamunannya di ruang tamu, membiarkan dia berpikir untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Tak lama kemudian Nathan akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah Mike menuju diskotik tempat Monica bekerja. Kebetulan malam ini Monica memang tengah berada disana. Ia berniat ingin menumpahkan segala keluh nya pada sang pujaan hati. Berharap jika bertemu dengannya ia dapat melupakan semua emosinya.
\*\*\*
The Crown Lounge and bar, yang merupakan diskotik tempat Monica berada menjadi tujuan Nathan selanjutnya. Dirinya hendak mencari ketenangan dan kesenangan disana. Ia bergegas masuk setelah terlebih dahulu memarkir mobilnya.
Dari kejauhan, Monica masih terlihat sibuk memutar musik dan melenggak-lenggokkan tubuhnya dibelakang DJ gears seirama dengan alunan musik yang terus dimainkannya.
Hanya dengan melihat wujudnya meski dari tempat yang jauh darinya saja sudah membuat hati pria itu tenang. Jadi bagaimana jika dirinya harus meninggalkannya dan menikah dengan si gadis berpenampilan dibawah standar itu?
Tak lama berselang musik selesai di mainkan. Monica mengambil jeda untuk break dan menghampiri kekasihnya yang tengah menunggu di bar sembari meminum alkohol disana.
Monica datang mengenakan baju warna hitam yang bagian bawahnya tak menutupi seluruh bagian perut. Berlengan panjang serta celana hotpant jeans dengan aksen sobekan di bagian tengahnya. Rambut panjangnya di cepol ke atas. Monica terlihat begitu seksi dan menggoda.
Nathan segera meraih tubuhnya ketika sang kekasih muncul di hadapannya. Memeluknya dengan erat dan mengecupi pucuk kepala Monica. Ia mendekap tubuh seksi wanita nya cukup lama hingga Monica merasa sedikit gerah.
"Honey.. Are you okay?" Tanya Monica.
"I'm okay" Sahut Nathan yang menyandarkan dagunya di atas kepala Monica.
"Kapan kamu lepaskan pelukannya?"
"Satu tahun lagi mungkin" Ujar Nathan.
"Honey.. Please.." Monica berontak berusaha melepaskan pelukan Nathan yang kian erat. Namun sia-sia karena Nathan mengerahkan seluruh tenaganya.
"Aku nyaman sekali sayang" Gumam Nathan.
"Aku juga nyaman, tapi renggangkanlah sedikit. Aku kehabisan napas" Sahut Monica.
"Ha..ha..ha.. Baiklah" Nathan melepaskan pelukan erat nya dari Monica yang langsung berakting batuk-batuk.
"Kamu keren sekali honey. Aku tidak pernah tidak kagum dengan permainanmu" Puji Nathan sembari mengecup kilat bibir Monica.
"Thank you. Kamu juga selalu keren kalau udah pegang gitar. Itu juga yang kadang bikin aku ketar ketir jadi pacarmu" Balas Monica.
"Oh ya? Kenapa?"
"Karena akan banyak pesaingku untuk memiliki kamu" Jawab Monica.
"Hatiku dan seluruh tubuhku hanya milikmu" Gombal Nathan.
"Janji kamu gak akan tergoda dan pindah ke lain hati?" Tanya Monica sembari menjulurkan jari kelingkingnya, meminta Nathan melingkarkan kelingkingnya juga disana.
"Aku janji" Ucap Nathan membalasnya.
Monica melirik ke arah meja bar tempat Nathan meletakkan botol minuman alkohol disana. Nathan baru saja menghabiskan dua botol minuman. Tumben sekali, pikirnya.
"Kamu minum sampai dua botol? Dan.. Masih ada yang lainnya?" Tanya Monica.
Nathan menoleh ke arah belakangnya.
"Iya. Kenapa?" Tanya Nathan.
"Tumben. Kamu biasa minum sebanyak itu jika sedang ada masalah. Apa ada yang tidak beres?"
Nathan diam beberapa detik, menimbang-nimbang apakah perlu ia ceritakan semua yang baru saja di laluinya? Tentang pertengkaran dan, perjodohan?
"Semua baik-baik saja. Aku hanya sedang ingin minum" Jawab nya singkat. Pada akhirnya ia memutuskan untuk menyimpannya sendiri.
"Kamu yakin? Tidak ada yang ingin kamu ceritakan padaku?"
"Sangat yakin" Jawab Nathan. Ia mendudukkan kembali dirinya di atas kursi.
"Baiklah. Jangan sungkan untuk membagi masalahmu denganku ya. Mungkin aku bisa bantu cari solusinya. Terbuka lah selalu denganku ya?" Ucap Monica sembari menggenggam tangan Nathan.
"Aku memang selalu terbuka dengan kamu. Bahkan bajuku juga tidak bisa tertutup jika sedang bersamamu" Celoteh Nathan.
"Ihh.. Ngawur" Sahut Monica sembari menepuk manja lengan Nathan.
Monica adalah cinta pertama Nathan. Sejak remaja dirinya memang tidak terlalu berminat untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis seperti teman-teman sebayanya kebanyakan. Meski saat itu tentu dirinya juga sangat populer, namun entah mengapa tidak ada satupun gadis yang dapat memikat hatinya.
Lain halnya ketika ia menemukan Monica. Wanita seksi itu dapat dengan mudah menarik perhatian Nathan hingga membuatnya jatuh cinta berkali-kali lipat. Jadi mustahil rasanya jika harus meninggalkan wanita yang memiliki tempat paling penting dalam dirinya demi seorang wanita asing yang tak berarti sama sekali.