An Angel From Her

An Angel From Her
96# Gagal Lagi



-WARNING- 21+


Terdapat beberapa adegan dewasa


HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN YA READERS KESAYANGAN ROSE 😘


.


.


.


Malamnya, Nathan menepati janji dengan menjemput Dara yang telah beralih ke rumah ibunya. Dia membawakan buah tangan untuk ibu mertua dan adik-adik iparnya beberapa bungkus udon dengan berbagai varian rasa yang di peroleh nya dari restoran cepat saji.


Hal ini tentu disambut antusias oleh Rangga dan Lisa yang sibuk memperebutkan satu varian rasa yang menurut mereka paling enak. Dan ibu yang ribut menghentikan baku hantam di antara kakak beradik itu.


Sementara Nathan dan Dara asyik jadi penonton yang bersantai duduk di atas sofa.


Suasana ini, sedikit mengingatkannya pada Keenan. Ketika mereka masih jadi dua orang anak kecil yang senang memperebutkan apapun, kapanpun, dimana pun. Ketika suatu hari bunda baru saja mendapatkan sebungkus makanan, Nathan akan dengan sigap merebutnya dari tangan bunda. Dan Keenan yang tak terima akan langsung berusaha menjarah secara paksa dari adiknya.


Tak lama bunda pasti akan turun tangan untuk membagi rata makanan itu dan ia berikan pada kedua putranya. Sementara dia sudah cukup senang dengan melihat anak-anaknya puas makan, dan kekenyangan. Lalu setelah itu tidur di pangkuannya.


Semua mengalir seperti aliran air, menciptakan kenangan manis di masa kecil. Meski hidup dalam himpitan ekonomi yang begitu sulit, namun tetap terasa nikmat jika dijalani bersama keluarga yang disayangi.


Nathan mengukir senyum dengan ingatannya yang terkenang tentang masa kecil bersama kakak semata wayangnya. Seorang kakak yang kini lebih cocok dikatakan sebagai musuhnya ketimbang saudara kandung. Dia sudah membencinya, karena orang itu sempat berusaha merebut istrinya.


"Maaf ya kalau adik-adikku rusuh Nath" Ucap Dara menoleh pada Nathan yang tengah fokus duduk di belakang setir. Mereka telah berpamitan pada ibu dan sedang dalam perjalanan pulang menuju apartment.


"Aku suka dengan keributan seperti itu. Aku mengerti, karena dulu aku pun pernah jadi anak kecil" Sahutnya sambil sedikit melirik ke arah Dara.


"Iya, anak kecil memang selalu begitu ya"


"Dara, apa kamu senang hari ini?"


Wanita itu mengangguk dengan semangat.


"Makasih ya Nath, karena ide kamu, tadi akhirnya aku bertemu dengan sahabat lamaku. Sayang kamu nggak sempat bertemu dengannya, karena dia sudah mesti pulang. Tapi dia titip salam untukmu"


"Oh ya? Syukurlah kalau begitu. Aku hanya sangat takut membuatmu bosan di apartment terus. Kalau ada tempat yang ingin kamu kunjungi, katakan saja padaku. Sebisa mungkin aku akan mengatur waktu untuk menemani mu" Tukas Nathan yang begitu memikirkan perasaan istrinya.


"Sebenarnya, aku kepikiran sesuatu Nath. Kandungan ku sudah masuk tujuh bulan, ku rasa sudah waktunya untuk membeli beberapa perlengkapan bayi!"


Nathan menunjukkan reaksi setuju nya secepat kilatan cahaya. Ia menyadari, bahwa telah amat jahat pada Dara selama satu tahun penuh, dan baginya ini adalah kesempatan untuk membayar setidaknya sedikit saja kesabaran hati wanita itu dengan mengabulkan semua keinginannya.


"Oke. Kapan kita berangkat? Besok?"


"Hah? Besok? Memangnya kamu nggak sibuk?"


"Nggak kok. Kamu mau kan?"


"Tentu saja aku mau!" Sahut Dara dengan semangat. Sorot matanya berbinar.


Nathan mengusap lembut puncak kepala Dara, merasa ikut senang dengan ekspresi yang ditunjukkannya. Dara benar-benar telah mengubah hidupnya, terutama jalan pikirannya yang semula hanya memikirkan soal karier dan ketenaran semata.


Kini, berada di sampingnya, membuat pria itu lebih bergairah untuk menata masa depan yang baru. Bersamanya, dan calon buah cinta mereka.


...***...


Waktu menunjukkan pukul 22:00 ketika pasangan suami istri itu telah berbaring di tempat tidur masing-masing. Dara di atas ranjang, sementara Nathan masih setia dengan sofa singgasana nya.


Dara belum meminta Nathan tidur di ranjang yang sama dengannya dan Nathan juga takkan melakukannya jika tanpa persetujuan Dara. Namun, seringkali mereka saling melirik sebelum terlelap, seakan gengsi hanya untuk sekadar meminta dan bertanya apakah bisa mereka tidur bersama.


Seperti malam ini, Nathan yang berbaring telentang memandangi langit-langit kamar sesekali melirik Dara yang membaringkan tubuhnya miring menghadap ke arahnya. Dia tahu, Dara juga bermain mata padanya.


"Ra?" Panggil Nathan akhirnya, setelah beberapa menit berlalu dan bosan dengan situasi sekarang.


"Iya Nath?" Sahut Dara yang terkesan buru-buru.


"Kamu belum tidur?"


"Belum"


"Kenapa?"


"Entahlah. Sulit sekali untuk memejamkan mata"


Hening.


"Ra?"


Nathan melepas napas berat, ingin mencoba suatu peruntungan.


"Boleh aku kesana?"


Dara tak langsung menjawab hingga beberapa detik berlalu.


"Tentu" Jawab Dara.


Merasa mendapatkan lampu hijau, Nathan langsung cepat-cepat mengambil kesempatan tersebut. Dia bangkit dengan semangat, berjalan menuju ranjang. Sedangkan Dara memposisikan tubuhnya dengan baik. Duduk, dan sedikit bergeser agar Nathan dapat duduk di pinggir ranjang.


"Ada yang ingin kamu ceritakan?" Terka Nathan ketika akhirnya ia duduk dengan manis di samping istrinya.


"Nggak" Sahut Dara lembut.


Nathan mengangkat sebelah tangannya, menyingkirkan sedikit rambut Dara yang tergerai ke depan. Kemudian membelai lembut wajah sang istri yang mulai tampak memerah.


"Tahukah kamu seberapa bersyukur nya aku memilikimu?"


Dara membisu, menerima tatapan intens dari suaminya. Wajah tampan itu telah menyihirnya berulang kali. Saat pria itu semakin mendekatkan tubuhnya, ia dapat menghirup aroma wewangian yang terbuat dari sejenis kayu-kayuan dan citrus. Entah ada campuran apa lagi tapi Dara menyukainya. Terasa sungguh menyegarkan.


Walau akan tidur, nampaknya Nathan takkan membiarkan tubuhnya mengeluarkan aroma tak sedap.


"Dara, bolehkah aku..?" Nathan menggantung kalimatnya.


Deg!


Wanita itu amat panik, dia mengira Nathan pasti akan meminta jatahnya. Itu pasti, jika dilihat dari raut wajahnya yang penuh harap. Persentase kebenaran dari dugaannya sudah pasti mencapai angka tertinggi.


Dara tidak tahu harus berbuat apa, memberontak kah? Menolak? Mencari alasan? Atau menyerahkan saja seluruh tubuhnya.


Dia belum selesai berpikir saat tiba-tiba bibir pria itu telah mendarat di bibirnya. ********** lembut. Lebih berperasaan di banding kemarin.


Sebelah tangannya masih memegangi rahangnya sambil memberi belaian hangat di atas permukaan kulit halus itu. Permainan nya membawa Dara untuk mau tak mau mengikuti alur nya secara natural. Tubuhnya tak lagi kaku, terlebih ketika Nathan menciumi lehernya.


Dari atas, kebawah, lalu ke sisi yang satunya. Membuat hati istrinya kembang kempis tak menentu.


Dara mendesah pelan menerima sentuhan terus menerus itu. Dengan Nathan yang perlahan membantu merebahkan tubuhnya, lalu menyangga bagian kepala dengan bantal agar lebih tinggi dari perutnya yang membesar.


"Nath.." Lirih Dara.


"Hmm?" Sahut pria itu tanpa menghentikan gerakannya menciumi leher kemudian turun ke dadanya yang mulai terbuka.


Dara makin ingin menjerit ketika Nathan bangkit dan membuka piyama nya. Menyisakan setengah tubuh kebawah yang masih terbalut celana panjang.


Tubuh kekar bertatto itu terpampang sangat nyata di depannya. Dara tak tahu, di menit keberapa Nathan akan turut melucuti celana nya juga.


"Mmmhh.." Pria itu ******* bibir istrinya lagi, kali ini makin panas seakan tak ada satu hal pun yang bisa mencegahnya.


Dengan liar pula ia mulai menjelajahi tubuhnya yang terbuka setengah. Tapi dalam kepanikan yang melanda, Dara masih bisa berpikir satu hal yang sejujurnya masih belum di yakini nya.


Bolehkah seorang wanita hamil melakukan hubungan dengan suaminya?


"Nngghh.. Nath, sebentar" Dara berusaha menjauhkan tubuh Nathan darinya.


"Apa lagi?" Desah Nathan yang masih sibuk bergerilya di leher istrinya.


"Aku sedang hamil Nath. Dan aku.. Nggak yakin"


Nathan menghentikan aktifitasnya, ia memusatkan pandangan pada kedua mata Dara.


"Maksudnya?"


"Aku nggak tau apakah ini akan baik-baik saja untuk nya"


"Ck.. Dara, aku sudah nggak tahan lagi"


"Aku tau, sayang. Aku tau. Jujur kali ini aku nggak berniat menolakmu lagi.. Hanya saja, ku rasa kita perlu berkonsultasi terlebih dahulu. Karena ini menyangkut keselamatannya"


Nathan tampak belum bisa menerima permintaan Dara yang satu ini. Dengan napas yang terlanjur memburu ia menatap tajam mata Dara.


Namun beberapa detik kemudian ia malah tergelak sambil membenamkan wajah di atas dada istrinya, yang terdengar deru suara jantung yang begitu ramai dari dalam sana seakan sebentar lagi hendak lompat dari tempatnya.


Pria malang itu, menertawakan nasib ironisnya yang kembali gagal menyalurkan hasrat terpendam nya.


"Dara, aku akan menyerangmu tanpa ampun ketika nanti kita mengetahui kebenaran ini" Ancam pria itu, sepertinya sungguh-sungguh.


"Akan ku serahkan diri ini untukmu. Tapi nggak sekarang ya? Kita harus dengar pernyataan dokter dulu. Baru kamu bebas berbuat apapun padaku"