An Angel From Her

An Angel From Her
48# Wanita Udik



Dengan langkah yang sangat dipaksa, Nathan berjalan menelusuri garbarata menuju pesawat. Di depannya ada sang istri yang semakin lama langkahnya justru semakin melambat. Hari ini, mereka berdua akhirnya akan terbang ke pulau Bali demi bulan madu yang diinginkan bunda.


Agaknya sedikit menggelitik, ketika dimana kebanyakan pasangan akan dengan sukarela berbulan madu tanpa paksaan dari pihak manapun, Nathan dan Dara justru harus didesak sedemikian rupa oleh orang tua mereka.


Nathan adalah lelaki sejati yang akan selalu menepati janji, terutama atas janjinya waktu itu. Yang mana ia akan selalu menuruti keinginan bunda, meskipun hal itu berlawanan dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu, pada akhirnya ia tak punya kuasa untuk membantah rencana bulan madu yang telah dirancang bunda ini.


Pria itu terlalu hanyut dengan lamunannya hingga tak menyadari Dara menghentikan langkahnya. Dia yang berada tepat di belakang wanita itu pun langsung menabrak tubuh mungilnya dan kaget bukan kepalang ketika mendapati Dara yang hampir terjatuh ke arah depan karena terdorong oleh tubuh jangkungnya.


"Astagaa.. Dara! Kamu ngapain sih berhenti tiba-tiba?!" Hardik Nathan. Tapi tak ada jawaban dari Dara.


"Hei.. Ada apa sih?!" Ucapnya lagi.


"Nath.." Panggil Dara dengan suara yang bergetar.


"Duh.. Apa?!"


"Bisakah kita balik lagi?"


Nathan mengamati suara Dara yang bagai tercekat di kerongkongannya. Ia menghampiri wanita itu, menghadap ke arah depannya. Ternyata wajahnya begitu pucat dan tegang.


"Kamu kenapa? Sakit?" Tebak Nathan.


"Nath.. Kita balik lagi ya"


"Kenapa?"


"Aku.. Ak.. Aku.. T-takut ketinggian. Akuu.. Takut naik pesawat Nath.." Ucap Dara dengan nada bicara yang kian bergetar.


Tercetuslah ide jahil dari Nathan untuk mengerjai Dara yang tengah ketakutan, karena memang ini adalah kali pertama baginya bepergian menggunakan pesawat. Moodnya seketika membaik, ia benar-benar akan membuat Dara menghadapi ketakutan terbesarnya sekarang juga.


"Ya nggak bisa balik lagi dong. Nanti bunda kecewa kalau kita batalin honeymoon nya" Ucap Nathan.


"Mmh.. Gimana kalau naik alat transportasi yang lain? Naik mobil saja, ya Nath?" Tawar Dara.


Melihat mimik wajah Dara sungguh sangat menggelitik bagi Nathan. Ia tergelak dalam hati, dengan sekuat tenaga menahan rasa ingin tertawa yang amat keras di depan Dara.


"Benar-benar cewek kudet dan udik.." Batin pria blasteran itu. Wajahnya sedikit memerah.


"Kapan sampainya kalau naik mobil coba? Lama lho.."


"Oke, atau.. Naik kapal laut, bisa kan ya? Nggak apa-apa deh lama. Asal jangan pesawat. Jangan yang tinggi-tinggi. Aku janji nggak akan gangguin kamu selama perjalanan. Ku mohon Nath" Ucap Dara mengiba.


Jika bukan karena gengsi Nathan sudah sangat ingin terbahak-bahak saat itu juga. Melihat ekspresi Dara, benar-benar hiburan baginya.


"Ih.. Justru semakin seram kalau kapal laut. Nanti misal pas lagi jalan ada tsunami, trus kapalnya retak, lalu tenggelam kayak kapal titanic gimana? Memang kamu mau jadi makanan ikan kalau tubuhmu tenggelam?" Goda Nathan.


Dara semakin pucat.


"Nathaan.." Rengek Dara. Jika diperhatikan, wajahnya ketika ketakutan justru semakin imut. Entah kenapa Nathan malah menyukai ekspresinya yang seperti itu.


"Aku serius. Sudahlah, nikmati saja perjalanannya. Kamu nggak akan mati di pesawat kalau memang belum waktunya. Ayo!" Ajak Nathan. Ia melanjutkan langkahnya, dan meninggalkan Dara yang masih mematung di tempatnya berdiri.


Dia sengaja melakukan itu agar Dara mendapat serangan panik dan mungkin saja akan menangis. Nathan justru sangat menunggu momen ketika Dara ketakutan sampai menangis dan merengek seperti anak kecil. Hal itu sungguh akan sangat menghiburnya.


"Nath.. Tunggu.." Panggil Dara yang tak memindahkan kakinya barang sejengkal pun.


"Ayoo!" Sahut Nathan dari kejauhan.


Dara kebingungan, ia tak tahu harus memilih yang mana. Melanjutkan langkahnya dan menaiki pesawat, ataukah berbalik dan membatalkan bulan madu nya? Tapi jika begitu, betul seperti yang dikatakan Nathan tadi, bunda pasti akan kecewa. Ia tak ingin hal itu sampai terjadi.


Setelah beberapa detik berpikir, pada akhirnya ia memilih untuk menggerakkan kakinya menuju pesawat. Kedua kakinya terasa gemetar, ia bahkan tak tahu apakah ini pilihan yang tepat. Tapi yang jelas, mengecewakan bunda adalah hal yang lebih menakutkan ketimbang naik pesawat.


Nathan menunggunya di depan pintu masuk pesawat. Berdiri di sebelah pramugari yang menyambut. Dengan hati penuh keraguan, Dara menapaki langkahnya ke dalam pesawat sembari mengikuti Nathan di belakangnya.


Mereka sampai di kabin first class. Bunda sengaja memberi mereka kenyamanan selama perjalanan dengan memilih maskapai paling bagus dan first class yang nampak begitu luas serta nyaman. Namun bagi Dara, mau ekonomi atau first class sekalipun tetap sama menyeramkannya.


Nathan memasukkan koper berukuran kecil yang dibawanya, juga koper milik Dara ke dalam bagasi kabin di atasnya. Kemudian langsung menempati kursi yang terasa empuk dan sangat nyaman. Beberapa detik kemudian ia baru menyadari, ternyata Dara masih berdiri di samping kursi tempat duduknya.


"Hei.. Dara.. Kamu ngapain masih berdiri disitu? Duduklah!" Ucap Nathan.


Dara diam tak menjawab. Nampak jelas sekali ia masih ketakutan.


"Aduh.. Nggak usah berlebihan Dara, aku kan sudah bilang. Kamu nggak akan mati di pesawat kalau memang belum waktunya. Bawa enjoy ajalah.."


"Ya sudah duduk ya.. Duduk.. Dimarahin pilot nya nanti kalau kamu nggak duduk. Ayo cepat!" Perintah Nathan.


Wanita itu menuruti ucapan suaminya dengan langsung menduduki kursi yang telah tersedia di hadapannya. Tubuhnya gemetar, pikirannya sudah jauh duluan. Hal-hal aneh yang semestinya tak dipikirkan justru malah berputar-putar sembarangan dalam otaknya.


"Permisi, selamat siang kakak.. Mohon di pasang sabuk pengamannya ya, sebentar lagi kita akan take off" Sapa seorang pramugari yang berjalan melewatinya.


Nathan melirik ke arah Dara yang kebingungan memasang sabuk pengaman di kursinya. Nampak pramugari yang tadi menyapanya ikut membantu memasangkan tali seat belt tersebut dengan cekatan. Wajah Dara terlihat makin panik kala dirinya sudah terikat erat dengan kursi yang di duduki, dan lagi-lagi Nathan merasa sangat ingin tertawa.


Bibir wanita itu nampak komat kamit seiring dengan terdengarnya pemberitahuan bahwa pesawat akan segera take off dan telah berada di runway. Entah kalimat apa yang dibacanya, Nathan tak dapat mendengar dengan jelas karena posisi yang dibatasi sebuah sekat, cukup membuat jarak di antara mereka.


Nathan tak dapat benar-benar acuh pada Dara yang terlihat memejamkan matanya bahkan ketika pesawat telah terbang sempurna dan stabil di atas awan. Sebenarnya ia ingin menyapa dan memastikan wanita itu baik-baik saja. Namun apa daya, rasa gengsinya lebih besar.


Pria itu berkali-kali melirik ke arah Dara, hatinya cukup lega ketika akhirnya sang istri membuka mata dan secara tak langsung menunjukkan bahwa dirinya sedang baik-baik saja meskipun sedang berada dalam kondisi yang cukup panik.


Dari posisi menyamping pun, Nathan sudah dapat dengan jelas melihat ketegangan di wajah Dara. Tapi selama kondisinya normal, hal itu tak terlalu mengganggu pikirannya.


Beberapa detik kemudian Nathan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan menyandarkan punggung pada kursi pesawat yang di setel jadi setengah duduk, dan membiarkan pesawat yang di tumpangi membawanya terbang sampai ke tujuan sekitar dua jam lagi.


...***...


"Ugh.."


Nathan tersentak ketika menyadari tak ada lagi getaran yang dirasakan tubuhnya. Ia tak sengaja terlelap selama perjalanan. Mata cokelat nya mengedar ke seluruh ruangan dan mendapati Dara yang masih duduk tegang di kursi sebelahnya. Seat belt nya pun masih terpasang tanpa ada perubahan sedikitpun.


Pesawat telah mendarat dengan sempurna di tempat tujuan. Beberapa penumpang yang berada dalam satu kabin dengannya juga nampak tengah bersiap untuk turun. Setelah mengumpulkan kembali nyawa nya kurang dari lima menit, ia pun memutuskan untuk berdiri dan mengambil barang-barang di dalam bagasi.


Ia turut menurunkan koper berisi barang milik Dara, sementara si empunya masih duduk dengan tatapan kosong. Nathan sedikit khawatir jika tanpa di sadarinya selama perjalanan Dara kerasukan jin.


"Ra.. Kamu nggak mau turun?" Panggil Nathan.


Dara masih diam.


"Hei.. Kesurupan ya?" Gubris Nathan lagi. Kali ini Dara menatap balik ke arahnya. Wajahnya seperti tak memiliki jiwa. Ia curiga, nyawa wanita itu tertinggal di Jakarta.


"Ra.. Kenapa sih?!" Nathan mulai gusar.


"Nath.. Kita selamat ya"


Nathan terkekeh sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangan, khawatir kalau-kalau Dara menyadari bahwa ia tertawa untuknya. Reaksi Dara, bagai orang yang telah di selamatkan seseorang dari sebuah bencana. Ia tak menyangka, pesawat akan jadi sangat menakutkan untuknya.


"Iya.. Kita selamat. Ayo turun sekarang. Atau kamu mau dibawa terbang lagi?"


Dara langsung menegakkan tubuhnya dan berusaha membuka seat belt dengan tangannya sendiri.


"Nggak.. Aku nggak mau terbang lagi.." Ia terus berusaha sebisanya membuka sabuk pengaman yang membentang di bawah perut. Sementara Nathan hanya asyik menonton.


"Ayo Nath.. Kita keluar!" Dara langsung menyambar tangan Nathan ketika berhasil melepaskan sabuk pengaman, bahkan tanpa memedulikan kopernya yang tertinggal.


"Eh.. Ra! Tunggu dulu.. Kopermu ketinggalan" Ucap Nathan yang sebelah tangannya di genggam erat dan terus di tarik.


Dara mengacuhkan ucapan Nathan dan malah melepaskan genggamannya, ia terus berlari dan meninggalkan suaminya yang memutuskan untuk kembali ke kabin first class hendak mengambil koper miliknya yang tertinggal disana.


Udara di luar kabin pesawat sungguh sangat melegakan jalan pernafasan Dara yang tercekat selama perjalanan. Ia menghentikan langkah ketika sudah menyentuh aspal, mencoba untuk menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan, diulangi terus hingga akhirnya Nathan datang dengan menyeret dua buah koper. Raut wajahnya nampak jengkel.


"Kamu aneh banget sih, barang sendiri ditinggalin!" Protes Nathan.


Dara meliriknya dan memasang tampang tanpa dosa. Berharap Nathan sudi memaafkannya.


"Maafkan aku Nath.. Aku.. Ketakutan" Ucapan Dara terdengar melemah di ujung kalimat. Wanita itu menunjukkan gelagat aneh.


"Nath.. Pusing.." Keluh Dara sambil memijit dahinya.


"Kamu pasti jet lag" Tebak Nathan.


"Aku.. Aku mau mun.." Dara cepat-cepat menutup mulutnya ketika merasakan dorongan dari dalam perutnya yang bergejolak.


"Hei.. Hei.. Hei.. Jangan muntah disini! Aduuh.."


Seketika Nathan kalang kabut, bingung harus menyeret Dara dan membawanya ke toilet atau mencarikannya sebuah kantong plastik untuk menampung isi perutnya yang hendak menyembur sekarang juga.