An Angel From Her

An Angel From Her
114# Berdamai



Empat hari berlalu dan kondisi Dara masih sama. Berbanding terbalik dengan putrinya yang menunjukan kemajuan signifikan. Air susu yang di berikan oleh Adriana mampu membantunya melewati masa-masa kritis dimana dua hari hari yang lalu, kadar bilirubin nya tiba-tiba naik.


Kini tubuh kecilnya terlihat semakin kuat, di iringi dengan dorongan menyusui yang besar. Adriana masih datang ke rumah sakit, sekadar untuk menyetor ASIP atau sesekali menyusui bayi itu secara langsung.


Pagi ini, Nathan kembali menengok bayinya yang masih nampak nyaman di dalam inkubator. Ia merunduk, mensejajari sorot matanya pada tempat bayi itu bernaung.


Nathan memahat senyum haru di bibirnya, memandangi putri kecilnya yang cantik. Sekilas, ia melihat ada kemiripan dengannya. Mewarisi bentuk hidung dan mata nya.


Melihat bagaimana bayi itu bergerak menggeliat di atas tempat tidurnya, sesekali menelusupkan jemari kecilnya ke dalam mulut. Lalu membuka mata dan berkedip-kedip seakan debu baru saja masuk, sungguh membuat Nathan begitu takjub. Menyadari bahwa ada kehidupan baru yang membawa darahnya, sebagian dari miliknya.


Ia baru tahu ternyata ada hal seindah ini selain karirnya yang cemerlang. Nathan begitu hanyut dalam perasaan haru ketika merasakan seseorang menepuk lembut bahunya. Ia menoleh, mendapati Keenan berdiri di belakangnya.


Sang kakak memberi isyarat agar Nathan mengikuti langkahnya keluar ruangan. Dan pria itu menurut dengan patuh.


Mereka duduk di sebuah kursi panjang tak jauh dari ruang NICU, saling bersebelahan nampak begitu akrab.


"Putrimu survive dengan tangguh. Dia punya semangat hidup yang tinggi, kakak sampai takjub dibuatnya." Ucap Keenan sambil menurunkan masker yang menutup separuh wajahnya.


"Syukurlah.. Sepertinya dia memang sangat kuat."


"Ngomong-ngomong, kamu belum memberinya nama lho. Sudah empat hari kelahirannya, dan kita belum bisa memanggilnya dengan nama."


"Aku akan menunggu sampai Dara sadar. Kami pernah berjanji untuk menamainya bersama."


Keenan menanggapi dengan anggukan dan segaris senyum menenangkan.


"Ternyata.. Dara mengidap preeklampsia, itu dimulai ketika kandungannya menginjak bulan ke tujuh. Dan bodohnya, aku baru menyadari sekarang. Dara nggak pernah membagikan ceritanya yang satu itu." Ucap Nathan, bibirnya memahat senyum getir dengan nada bicara penuh penyesalan.


"Ku rasa, di dunia ini hanya aku yang menjadi suami paling brengsek. Nggak peka, dan sangat bodoh." Tambahnya lagi.


"Nggak baik bicara seperti itu Nath. Menyesal sudah pasti, tapi nggak perlu berlarut-larut."


"Dara koma kak! Nggak ada yang bisa kita lakukan selain hanya menunggu dia sadar dengan sendirinya. Tubuhnya kaku, mirip mayat hidup. Dan itu semua karena aku! Yang sudah menyebabkan dia jadi seperti itu aku!" Sergah Nathan dengan nada tingginya.


"Kamu mau menyalahkan diri sampai ribuan kali pun nggak akan bisa merubah yang sudah terjadi. Kita harus tetap yakin dan optimis Nath, yakin bahwa Dara akan bisa bertahan, yakin dia akan sekuat putri kalian."


Nathan meresapi tiap kata yang meluncur dari bibir kakaknya. Ia sudah sangat putus asa sebab menyaksikan Dara yang seperti tak punya harapan untuk sembuh kembali. Tubuhnya mengandalkan peralatan medis, apa jadinya jika dia terus begini sampai beberapa hari, bulan, bahkan beberapa tahun ke depan? Bagaimana nasib putri mereka yang sangat membutuhkan sosok ibunya?


Keenan mendaratkan telapak tangannya di atas bahu Nathan, memberi belaian hangat untuk sang adik yang diliputi kegelisahan.


"Coba untuk yakin ya. Berpikir positif, karena semuanya bergantung dari apa yang keluar dari pikiran kita sendiri."


Pria itu menoleh dengan tatapan kosong, memandang wajah kakaknya yang tampak dipenuhi aura positif. Sejak dulu, Keenan memang selalu begitu. Sepertinya Tuhan memang menganugerahi sikap dan pembawaan yang cenderung tenang untuk nya. Dan profesi yang dijalaninya sekarang memang sangat cocok dengan kepribadian itu.


"Makasih ya, kakak sudah banyak bantu kami. Kalau bukan karena kakak, mungkin sekarang aku sudah kehilangan dua-duanya. Dan putriku, dia bisa bertahan dibawah perawatan kakak, dia.. Beruntung memiliki paman seperti kak Keenan. Sekali lagi, makasih banyak ya."


"Kamu bicara apa sih Nath? Putrimu itu keponakanku, anakku juga. Nggak perlu sampai sebegitunya berterima kasih. Itu sudah jadi kewajibanku." Ucap Keenan.


"Sudahlah.. Nggak perlu di ingat lagi kak. Lagipula aku juga sudah melupakannya." Nathan menghadiahi sang kakak dengan senyum bersahabat nya.


Bertahun-tahun hidup terpisah jauh dengan kebencian yang di terimanya, kini Keenan merasa sangat lega karena hubungannya dengan Nathan membaik. Dia sudah bisa tersenyum untuknya, saling berbincang dari hati ke hati seperti dulu, tepatnya ketika Nathan masih duduk di bangku SMP. Karena dia ingat betul, adiknya mulai memusuhi saat pertama kalinya Nathan mengabarkan pada bunda bahwa ia baru saja memenangkan kompetisi gitar di SMU dan justru disambut dengan amarah.


Mendiang papa juga mahir memetik serta memainkan jemari nya di atas gitar, dan atas dasar ia membenci pria itu bunda melarang keras kedua putra nya mengikuti jejak nya. Namun tentu ikatan darah tak akan bisa di hilangkan, bakat itu mengalir dalam diri Nathan membuat bunda kesulitan mencegahnya.


Dia hanya bisa membandingkan, dan menjadikan Keenan yang beruntungnya tidak ikut-ikutan sebagai contoh untuk adiknya. Namun hal itu malah memancing kebencian mengakar dalam hati putra bungsunya kepada kakaknya sendiri.


Sekarang rasa benci itu telah pupus, digantikan dengan kehangatan hubungan persaudaraan di antara keduanya. Keenan bersyukur atas hal ini, karena ternyata masih ada matahari dibalik awan yang kelabu. Pada akhirnya mereka berdamai, dan semoga bisa bertahan selamanya, tanpa ada pertikaian lagi.


...***...


Nathan memandang sendu wajah istrinya, sambil menggenggam sebelah tangannya yang terkulai. Ia mengusap-usap pelan berharap Dara dapat merasakannya lalu terbangun sekarang juga.


Kerinduan menyerbu, ia tidak mampu lagi menahannya. Nathan selalu terbayang wajah Dara setiap saat, bahkan ketika memejamkan mata, yang seringkali membuatnya kesulitan untuk tidur dengan benar.


"Ra.." Panggil nya lembut. "Kapan kamu akan bangun?." Lanjutnya.


Nathan membelai wajah Dara yang halus, "Putri tidur langsung bangun ketika pangerannya tiba dan menciumnya."


"Aku sudah disini sejak empat hari lalu, sudah menciummu beberapa kali. Tapi.. Kenapa belum bangun juga?." Ucap nya parau.


Nampak napas Dara yang naik turun teratur, belum ada kemajuan berhari-hari.


"Aku selalu disini Ra, cuma pulang sekitar satu jam untuk mandi dan berganti pakaian. Aku selalu menantimu, kita belum memberi nama anak kita Ra. Kamu juga belum memeluknya, sayang.. Apa kamu tau? Putri kecil kita, memilki kemiripan denganku. Dia mengambil hidung, dan mata ku. Padahal aku berharap dia mirip kamu. Pasti akan sangat cantik kalau begitu."


Nathan selalu berbicara pada Dara meski tahu ia takkan menanggapi. Tapi hanya itu yang bisa dilakukannya, berpura-pura seakan Dara bisa mendengar dan merespon ucapannya.


Ia baru lima menit mengatupkan bibir ketika tiba-tiba Dara menggerakkan sedikit jemari yang masih dalam genggamannya. Nathan terperanjat, jantungnya berdegup dengan kencang. Ini keajaiban, mengingat sudah berhari-hari tak ada satu anggota tubuhpun yang bergerak.


"Dara.. Sayang.. Apa kamu akan bangun?,"


Nathan mengamati wajah Dara, terlihat kedua matanya yang berkedut. Isyarat bahwa mungkin sebentar lagi ia akan membukanya.


"Ra.." Panggil Nathan lagi.


Perlahan sepasang mata teduh itu terbuka, ia menatap langit-langit beberapa detik sebelum menyadari Nathan ada di sebelahnya.


"Sayang.. Kamu.. Kamu sadar.." Secara tak sengaja Nathan menitikkan air mata haru, hampir tak memercayai bahwa Dara sudah benar-benar siuman. Kini dia juga memandang ke arahnya, namun tatapannya nampak lemah dan sayu.


"Aku panggilkan dokter sebentar ya,"


Dara mencegahnya, dengan membalas genggaman Nathan, sebab tidak menyetujui niat suaminya.


"Kenapa sayang? Dokter perlu memeriksa mu." Tanya Nathan keheranan. Ia hanya mendapat jawaban lewat gelengan kepala yang dilakukan Dara dengan sangat pelan.