
Los Angeles, Amerika Serikat tiga tahun setelahnya.
Nathan POV
Hari-hari yang ku jalani di negara tempat kelahiran papa terasa kembali berwarna karena hadirnya malaikat cantikku, separuh jiwaku, Angie. Rasanya seperti baru kemarin aku menginjakkan kaki di kota ini, ketika menyadari Angie baru saja melewati ulang tahunnya yang keempat.
Dia tumbuh dengan cepat, menjelma jadi gadis kecil yang sangat cantik seperti bayanganku dulu. Wajahnya makin mirip denganku meski ketika senyumnya mekar, kau pasti akan merasa seperti sedang memandang ibunya, karena Angie mewarisi lesung pipi yang menawan itu.
Angie mengalami pertumbuhan yang cepat, bisa berjalan sebelum usianya genap satu tahun walau masih tertatih, dan menjelang usia empat tahun, ia sudah lumayan lancar berbicara dalam dua bahasa. Aku mengajarinya bahasa Inggris juga Indonesia, mengingat dia juga memiliki darah timur meski sekarang kami tinggal di luar negeri.
Aku belum berencana untuk mengubah kewarganegaraan sebab pasti akan menempuh proses yang panjang dan rumit. Aku terlalu sibuk mengurus Angie dan toko alat musik serta studio yang ku kelola sendiri, hal-hal seperti itu akan banyak menyita waktu.
Dan lagi, aku merasa akan mengkhianati bunda dan keluarga di Indonesia jika aku melakukannya. Karena biar bagaimanapun, aku lahir dan besar di sana, sukses dan tenar di sana. Bahkan menemukan cinta sejati ku di sana.
Ngomong-ngomong soal toko alat musik, aku sangat bersyukur karena kini usaha ku makin maju. Studio makin ramai, nama toko nya juga makin terkenal hingga membuat aunt Jane terkesima dengan hasil kerja kerasku. Dan tak menyesal karena meminta ku untuk mengelola nya.
Setiap hari, aku selalu menghabiskan waktu di toko, bersama Angie yang sekarang sedang senang bermain dengan piano. Dia selalu nampak antusias menekan tuts dan menciptakan nada berantakan yang baginya sungguh menyenangkan.
Kedua mata cokelat indah itu selalu menatapku dengan binar-binarnya yang cemerlang. Diikuti dengan suara lembut menggemaskan khas balita ketika ia memanggil "daddy!" ke arahku.
Seperti hari ini, dia baru saja selesai memainkan piano, lalu menghampiri ku sambil mengucek mata. Aku menebak, Angie mulai lelah dan mengantuk.
"Daddy.." Angie berjalan dan menghentikan langkahnya tepat di sebelahku yang sedang membetulkan senar gitar.
"Yes Love? What is it?"
"May i get a cup of milk?," Ucapnya dengan tatapan mengiba.
Aku mengulas senyum, dugaanku benar bahwa ia sudah mengantuk. Ku lirik jam dinding, sudah pukul dua siang rupanya, Angie memang terbiasa tidur di jam-jam ini.
"You will get it love, wait a minute. Daddy will bring it for you, okay?," Ucapku membuat semacam persetujuan, dan Angie mengangguk dengan patuh.
Pipi chubby kemerahan, juga rambut panjang tebal yang ia warisi dari ibunya namun memiliki perbedaan warna itu semakin membuat tampilan fisiknya terlihat sempurna. Dia memang sempurna, setidaknya begitu di mataku.
Selesai membuat segelas susu rasa vanilla yang hangat di dapur pada area belakang dekat dengan ruang studio, aku langsung menghampiri Angie yang sedang duduk dengan tenang di atas sofa, bersebelahan dengan gitar yang sedang ku perbaiki tadi.
"Here we go. A cup of milk for my beautiful little Angel," Ucapku sembari menduduki tempat di sebelah Angie dan menyodorkan susu hangat itu padanya.
Jemari kecil putih dengan rona merah di masing-masing ujung kuku yang menggemaskan itu memegang gelas dengan cekatan, dia juga menghadiahi ku dengan senyumannya yang begitu menenangkan hati.
"Thank you daddy!"
"Sama-sama Angie sayang," Jawabku dengan bahasa Indonesia, dan Angie langsung mengerti.
Ia meminum susu itu perlahan seolah sedang menikmati nya dalam setiap tegukan. Sementara aku selalu senang memandangnya ketika ia sibuk dengan makanan atau minuman favoritnya, karena Angie selalu tampak antusias.
Aku merasakan ponselku yang bergetar di dalam saku celana. Sambil sedikit memiringkan posisi duduk, aku merogoh dan meraihnya. Nama bunda tertera di layar, aku langsung menerimanya dengan senang hati.
"Apa kabar nak?," Ucap bunda dari seberang sana. Secara reflek aku memahat senyum di bibir ketika mendengar suara bunda, rindu.
Kami saling berbincang membahas banyak sekali topik yang sambung menyambung. Tentang diri ku, Angie, usaha ku yang makin maju, usaha bunda yang juga semakin bersinar, dan semua hal yang selalu terasa menyenangkan jika dibicarakan dengan bunda.
Sampai akhirnya, bunda membicarakan suatu kejadian mengejutkan yang berada di luar ekpektasi ku, tentang sebuah hubungan yang tak terduga telah terjalin antara dua orang dekatku.
"Keenan akan menikah dengan Adriana," Ucap bunda dari sana, membuat lidahku terkelu sekian detik.
Jika kau mengira aku cemburu dan marah, maka kupastikan kau akan kecewa. Karena aku tidak pernah mencintai Adriana, meski aku tahu dia mencintaiku.
Berita ini memang mengejutkanku, namun hanya sebatas karena aku tahu, Adriana tidak mencintai Keenan, pun dengan Keenan yang justru diam-diam malah mencintai Dara dalam hatinya.
Lalu mereka akan menikah, untuk apa? Mereka tak saling mencintai, Apakah ini hanya untuk pelarian?
"Aku ikut bahagia bunda," Ucapku pada akhirnya, setelah termangu dengan isi pikiranku sendiri.
"Kamu bisa datang?"
"Akan aku usahakan bun"
"Harus! Karena bunda sangat rindu dengan cucu kesayangan bunda," Nada bicara bunda penuh penekanan seolah tak menerima segala bentuk penolakan dariku.
Saat bunda menyinggung soal Angie, aku langsung memusatkan sorot mataku ke arahnya. Dan ternyata, Angie sudah tertidur dalam posisi yang masih duduk di sebelahku. Dia sungguh menggemaskan, Angie ku sayang.
Aku menggeser sedikit tubuh mungilnya, ku tempatkan bagian kepalanya di atas paha, dan merentangkan kedua kakinya di atas sofa. Sambil mengelus lembut rambutnya, aku kembali melanjutkan perbincangan dengan bunda.
Angie tidur semakin lelap seolah sedang mendengarkan sesi dongeng di tengah mimpi indahnya. Rasa cintaku padanya makin meluap-luap tak bisa digambarkan dengan kata.
"Angie, daddy akan menjagamu, selamanya."
...***...
Setelah mendapat kabar bahagia itu, aku segera mengurus keberangkatan kami ke Indonesia. Ini adalah kali pertama bagi Angie datang ke negara asalnya setelah tiga tahun hidup di negeri orang bersamaku.
Angie benar-benar gadis cerdas yang bisa menempatkan diri di manapun ia berada. Meski lahir dan sempat menghabiskan tahun pertama di tanah air, ia sama sekali tak merasa terasing ketika tiba-tiba harus pindah ke luar negeri, dimana semuanya serba berbeda. Dari segi budaya, hingga iklim yang memiliki empat musim.
Dia dapat dengan mudah berbaur dengan teman sebaya nya ketika pada suatu saat aku terpaksa harus menitipkan nya di daycare. Perawat nya bilang Angie adalah anak yang ceria, aktif dan pantang menyerah. Humble juga penyayang, membuat semua temannya senang jika berada di sekitar nya.
Dua hari sebelumnya, aku sudah mengabarkan pada Angie bahwa kami akan berangkat ke Indonesia untuk menemui oma, nenek, dan semua keluarga di sana. Termasuk mengajaknya untuk bertemu Dara. Dan kau pasti sudah tahu bagaimana responnya, yap! Sangat bahagia.
Aku juga memberi kabar pada aunt Jane soal rencana kepulangan ku ke tanah air dan menitipkan sementara toko pada seorang kawan baikku, yang sudah ku percaya bernama Harry. Dia tidak keberatan sama sekali, bahkan bilang padaku agar tidak terburu-buru untuk kembali kesini. Ia juga menitipkan salamnya untuk keluarga di Indonesia. Sungguh aku sangat beruntung memiliki tante sebaik Jane.
Kami berangkat ke Indonesia dengan menempuh perjalanan udara sekitar dua puluh lima jam perjalanan termasuk dua kali transit. Ini cukup melelahkan apalagi bagi Angie yang masih balita. Ketika aku menanyakan kondisinya ia selalu menjawab "i'm fine dad," Atau kadang, "aku baik-baik saja," Dengan kosa kata yang sangat baku.
Hal yang cukup membuatku sedih sekaligus senang adalah ketika tak hentinya Angie membicarakan soal ibunya. Dia banyak bertanya "kapan kita akan bertemu ibu? Apa ibu merindukanku?"
Sedih, karena sadar dengan kenyataan bahwa ia takkan bertemu dengan raga ibunya, namun senang karena ketika aku mengatakan bahwa ibunya sudah meninggal, tak nampak sedikitpun gurat kesedihan di wajahnya. Entah karena ia sudah terbiasa menjalani hari tanpa sosok ibu, atau karena memang belum mengerti soal kematian.