
Enam bulan kemudian
"Cheerss..." Seru para personil black romance yang tengah berkumpul di basecamp, bersulang untuk merayakan kesuksesan album baru mereka yang telah launching. Kini, apa yang selama ini di perjuangkan berbuah manis. Semua rintangan berhasil dilewati dengan kekompakan mereka.
Album yang dipersiapkan selama lebih dari satu tahun itu sangat laris di pasaran. Tembus hingga 1 juta copy dalam kurun waktu satu bulan. Angka yang cukup fantastis. Nathan dan kawan-kawan telah mencapai puncak dari karir mereka saat ini.
"Gila, nggak nyangka banget album kita bisa laris secepat ni" Ucap Adly.
"Semua berkat kerjasama kalian. Terimakasih banyak untuk kalian semua, yang selalu kompak, kerja tanpa kenal lelah. Apalah gue tanpa kalian.." Timpal Regy.
"Sok mellow lo gy.." Celetuk Nathan.
"Serius gue Nath, makasih banyak pokoknya.. Hiks.." Tambah Regy seraya berakting terharu.
"Yaudah.. Jangan nangis, nih minum minum.." Ucap Mike sambil menjejalkan minuman ke mulut Regy.
"Eh, br*ngs*k.. Gue udah nggak minum"
"Halaah.. Pura-pura aja lo gy" Ucap Nico.
"Padahal kalau udah mulai, dia sendiri yang nggak mau berhenti ya.. Ha.. Ha.. Ha.." Ujar Mike yang diikuti gelak tawa dari kawannya yang lain.
"Ehm.. Guys, gue pulang duluan ya" Ucap Nathan memotong pembicaraan di antara kawan-kawannya.
"Buru-buru banget sih Nath, belum juga party kita" Sahut Nico.
"Beda emang kalau bapak-bapak ya" Celetuk Mike.
"Enak aja. Yang bapak-bapak tuh si Regy" Protes Nathan.
"Kalian yang masih single, beri pengertian sedikit sama yang sudah beristri ya.. Gapapa Nath, balik duluan aja, kasian Dara pasti nungguin lo" Ucap Regy berusaha membela Nathan.
"Ehm.. Ada yang udah jatuh cinta kayaknya" Goda Mike.
"Rusuh ah lo semua. Gue cuma pingin istirahat aja kok. Sudah ya. Bye.." Pamit Nathan. Ia melangkahkan kakinya buru-buru, khawatir kawan-kawannya akan terus mengejeknya jika masih berada disana.
Ia menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman basecamp. Saat proses renovasi berlangsung waktu itu, Regy memang sedikit merombak beberapa bagian dari bangunan tersebut. Ia menambah luas dari halaman agar dapat memuat lebih banyak kendaraan dari anak-anak asuhnya. Jadi, mereka tak perlu lagi memarkir mobil di depan pagar.
Nathan baru akan membuka pintu mobil ketika mendengar suara seseorang mendekat ke arahnya. Ketukan itu seperti suara sepatu wanita. Sebelum menoleh, ia mencoba untuk menerka, siapa yang datang ke basecamp dan menghampirinya. Apakah itu Dara?
"Selamat sore.." Ucap orang itu.
Nathan merasa tak asing dengan suara ini. Ia menoleh perlahan ke arah orang yang telah berdiri tepat di belakangnya.
"Hai.."
Nathan tertegun sepersekian detik, ia tak memercayai apa yang dilihatnya sekarang.
"M-monica..?"
Wanita itu, Monica. Dia yang selama ini menghilang tiba-tiba kembali. Cinta pertamanya, muncul ketika dia hampir bisa berdamai dengan keadaan dan mencoba mencintai wanita yang telah ditakdirkan untuk menjadi istrinya.
"Apa kabar Nathan? Lama tidak bertemu" Ucap Monica dengan senyum menggoda nya.
Tampilan Monica yang sekarang tampak lebih fresh, dia juga telah merubah warna rambutnya yang semula dark cokelat jadi hitam berkilau. Namun warna kulitnya tetap sama, tak ada yang berubah dari semua bentuk tubuhnya.
"Kabar baik.." Jawab Nathan singkat. Ia mengalihkan pandangannya sejenak dari Monica.
"Maaf kalau kedatanganku mendadak. Aku.. Hanya ingin melihatmu"
Nathan kembali menatap Monica. Ia tak berniat bersikap ramah padanya.
"Aku rindu, denganmu.." Ucap wanita itu lagi. "Tapi kamu pasti sudah bahagia dengan istrimu itu kan"
"Yah.. Tampaknya kamu sudah menyadarinya"
Monica mengangguk pelan dengan senyum kekecewaannya.
"Apa kamu punya waktu? Aku ingin ngobrol sama kamu"
"Maaf Monica.. Tapi aku sedang ada urusan. Mungkin lain kali"
Wanita itu terdiam dengan sorot matanya yang tak lepas dari Nathan di depannya.
"Oke, aku pegang janjimu. Lain kali kita ngobrol berdua ya? Di cafe favorit kita"
Nathan mengangguk tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Usai mengacaukan suasana hati Nathan yang awalnya diliputi kebahagiaan, Monica langsung melenggang pergi dari hadapan pria itu. Menyisakan beberapa pertanyaan tentang kehadirannya yang tiba-tiba.
Monica mengendarai mobil dan memacunya secepat kilat menjauh dari basecamp. Sementara Nathan masih termenung di depan pintu mobilnya yang baru terbuka setengah.
"Mau apa dia kesini? Kenapa.. Kenapa harus sekarang sih" Gumam Nathan.
Ia berusaha melupakan kejadian barusan dan langsung menaiki mobil, mengambil posisi di belakang kemudi, lalu pergi dari basecamp. Monica, dan pesonanya, dia sama sekali tak berubah. Selalu berhasil menyita perhatian Nathan bahkan dengan hanya sekali menatap kedua matanya.
Nathan masuk ke apartment dengan langkah yang lemah sambil menenteng bungkus berisi kue di tangannya. Ia berniat memberikannya pada Dara, sebagai hadiah pertama atas pencapaiannya.
Awalnya, selain kue, dia juga ingin mengajak Dara makan malam romantis di sebuah restoran yang sudah di bookingnya. Sekali-sekali, walau belum mencintainya, ia rasa Dara perlu di perlakukan layaknya seorang istri sungguhan.
Nathan juga telah mempersiapkan sebuah perhiasan berupa kalung berlian yang telah di belinya, dan berencana akan memberikan pada Dara di sela-sela acara makan malam nanti. Tapi, tiba-tiba saja moodnya berantakan. Karena kehadiran wanita itu sore tadi.
Pikirannya sudah terbagi dua, antara Dara, dan Monica. Mana yang harus di dahulukan?
"Hai Nath.." Sapa Dara lebih dulu ketika melihat Nathan yang baru saja masuk ke kamar. Wanita itu nampak tenang dengan jemarinya yang memegang benang serta jarum untuk merajut.
"Aku bawakan ini untukmu" Ucap Nathan sambil menyodorkan bungkus makanan yang dibawanya.
Dara menerima setelah meletakkan alat merajut nya terlebih dahulu. Ia membuka bungkus dan kotak yang melapisi sebuah kue brownies yang tampak lezat.
"Wah.. Kamu tahu kue kesukaanku?" Ucap Dara bersemangat.
"Kesukaanmu?"
"Iya.. Aku suka sekali brownies. Dan ini.. Mmm.. Enak sekali Nath.. Terimakasih ya" Ucap Dara sambil mengunyah. Matanya terlihat berbinar-binar. Hanya hadiah kecil bagi Nathan, tapi terasa sangat berharga untuk Dara.
"Kamu suka?" Tanya Nathan.
"Uhumm.." Sahut Dara yang kesulitan bicara karena mulutnya yang penuh "Kamu mau?"
"Nggak, untuk kamu saja"
"Ayolah.. Ini enak sekali, aku kasih nilai 100 untuk brownies ini.. Ayo dicoba" Ucap Dara sambil menyodorkan potongan brownies itu ke mulut Nathan. Pria itu membuka mulut dan ikut memakannya bersama Dara.
"Enak kan?"
"Iya.. Aku sudah tahu ini enak. Aku membelinya di tempat langganan keluargaku.. Semua kuenya good quality" Ucap Nathan.
"Oh begitu.. Terimakasih sekali lagi ya Nath.."
Nathan merasa puas dengan respon yang diberikan Dara. Melihat rona di wajahnya matanya yang berbinar langsung mengetuk hatinya untuk melanjutkan apa yang sudah di rencanakan.
"Ra.. Kamu ganti baju ya" Pinta Nathan.
"Hm? Ganti baju? Untuk apa?"
"Kamu nggak perlu masak untuk makan malam. Kita makan diluar saja"
"Oh..?"
"Aku tunggu dibawah ya"
Nathan berlalu dari Dara tanpa mendengar persetujuan dari sang istri terlebih dahulu. Sementara Dara masih termenung memikirkan apa yang dikatakan Nathan barusan. Ia mengerjap, menyadarkan dirinya sendiri bahwa ini nyata. Semua yang dikatakan suaminya adalah sebuah kenyataan.
Dara langsung beranjak, membuka lemari pakaian dan memilih mana yang cocok untuk dia kenakan saat dinner nanti. Hatinya diliputi suka cita yang teramat sangat.
.
.
.
Nathan beserta Dara sampai di sebuah restoran mewah di kawasan Jakarta. Pria itu membawa Dara ke meja yang sudah di reservasinya sejak sore tadi. Semenjak kedatangannya, Dara tak hentinya berdecak kagum melihat interior resto yang begitu mewah dan elegan.
Sepanjang hidupnya, baru kali ini dia merasakan makan di tempat seperti ini. Ia membayangkan berapa harga yang harus di bayar Nathan untuk makan malam disini, rasanya pendapatan dari hasil berjualan di warung ibu pun takkan cukup untuk membayar tagihan makanan yang di pesan.
Berbeda dari Dara, Nathan di sebelahnya justru terpana dengan kecantikan Dara yang mengenakan dress polos selutut berwarna nude dengan aksen brukat pada bagian dada. Sementara pada bagian lengan diturunkan sedikit hingga menunjukkan area bahunya yang nampak putih dan mulus.
Rambut panjang nan hitamnya di gerai ke belakang. Wajahnya yang dipoles dengan make up tipis-tipis itu juga terlihat sangat cocok dipadukan dengan warna dress yang ia kenakan. Menjadikan penampilan wanita itu sangat memuaskan matanya.
Nathan menarik kursi untuk di tempati Dara sesampainya mereka di private area.
"Terimakasih Nath.." Ucap Dara. Setelah itu, Nathan juga mengambil tempat untuknya yang bersebrangan dengan posisi Dara.
Dihadapan mereka telah tersaji makanan pembuka dan hiasan di meja itu sungguh mewah. Private area yang Nathan booking berada di area outdoor pada lantai dua dengan pemandangan kota malam hari yang sangat indah.
Dilengkapi dengan alunan musik klasik, menjadikan tempat itu makin romantis. Dara terkagum-kagum atas persembahan dari suaminya.
"Kenapa dia cantik sekali malam ini.." Batin Nathan sembari memandangi Dara yang masih celingukan memperhatikan keadaan sekitar.
"Nath.. Ini.. Luar biasa.. Tempat ini, indah sekali.."
"Ah.. Ya.." Ucapan Dara menggubris lamunannya. "Apa kamu suka?"
"Aku sangat menyukainya. Terimakasih untuk malam ini Nath.." Ucap Dara dengan matanya yang berbinar.