An Angel From Her

An Angel From Her
67# Tak Kunjung Sembuh



Empat hari berselang, dan masih belum ada perkembangan baik yang dirasakan Dara. Mual itu selalu ada, paling parah di pagi hari dan berangsur reda ketika malam datang. Indera penciumannya juga mendadak aneh, ia tak menyukai sama sekali aroma masakan yang biasanya sangat di senangi.


Jadi selama sakit, mbak Asih lah yang meng-handle semua pekerjaan yang biasa dilakukan olehnya. Wanita itu lebih banyak menghabiskan waktu di kamar untuk beristirahat. Dara benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Dia sudah berkali-kali minum obat, tapi tak ada perubahan yang signifikan. Yang sudah-sudah, usai meminum obat biasanya rasa tak nyaman di lambungnya akan berangsur membaik. Tak ada mual apalagi muntah berulang.


Dara memang belum memeriksakan diri ke dokter. Ia merasa tak perlu. Mbak Asih pun sudah berkali-kali menawarkan diri untuk mengantarnya ke klinik terdekat, tapi selalu ditolak mentah-mentah. Karena dia merasa ini hanyalah penyakit biasa yang akan sembuh dengan sendirinya. Tak perlu pengobatan khusus.


Dering ponsel melengking nyaring mengalihkan perhatian Dara yang tengah meringkuk di atas ranjang. Ia meletakkan ponsel itu di nakas tepat sebelah ranjang. Rasa pusing yang dirasakan membuatnya sangat terganggu. Cepat-cepat ia meraih ponsel dan menerima panggilan disana agar suara lengkingan itu berhenti.


Dara menyipitkan mata sembari mengamati nama siapa yang tertera di ponselnya. Panggilan dari Rangga, adiknya.


"Halo.." Ucap Dara membuka obrolan.


"Halo nak.. Ini ibu"


"Oh.. Ibu.." Dara menjeda kalimatnya sejenak, mencoba mengambil napas dalam-dalam untuk meredam rasa mual yang mendadak datang.


"Ibu gimana kabarnya? Sehat bu?"


"Ibu baik nak.. Sehat.. Dara gimana? Sudah lama kamu nggak kesini nak"


"Iya.. Dara.. Lagi kurang sehat bu"


"Ya gusti. Sakit apa nak?"


"Kayaknya sih maag nya kambuh bu"


"Kok kayaknya? Memang kamu belum berobat?"


Dara memejamkan mata sambil kembali menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum menjawab pertanyaan ibu.


"Ibu kesana ya nak"


"Nggak usah bu. Dara memang belum berobat. Karena Dara rasa nggak perlu. Tapi nanti Dara coba minta tolong Nathan untuk nganterin ke klinik. Ibu jangan khawatir ya"


"Gimana bisa ibu nggak khawatir saat tau keadaan kamu sedang nggak baik-baik saja nak"


"Bu.. Aku kan punya suami. Sekarang sudah ada yang menjagaku"


"Iya sih nak.."


"Ibu tenang ya.." Dara berdehem pelan. Sementara ibu disana tampaknya berusaha meredam rasa khawatirnya ketika mengetahui kabar putri sulungnya sedang tak baik-baik saja.


"Apa yang kamu rasakan nak?"


"Mual, pusing. Kalau pagi pasti selalu muntah.. Seharian ada beberapa kali" Ucapnya dengan suara lemah. "Tapi.. tiap sore sampai malam, mual nya mendadak hilang. Agak aneh Dara rasa"


"Waduh.."


"Kenapa bu?" Respon ibu yang terdengar kaget memancing rasa penasaran Dara. Pikiran jeleknya justru merujuk pada penyakit parah yang mungkin saja akan membahayakan nyawanya.


"Jangan-jangan kamu hamil nak.."


DEG!


Dara merasakan jantungnya yang hampir lompat dari tempatnya ketika mendengar ucapan ibu barusan.


"Ah, nggak mungkin bu"


"Kok nggak mungkin? Kamu kan sudah menikah. Ya mungkin saja dong nak.."


"Iya tapi.." Dara menghentikan kalimatnya, sembari menganalisa baik-baik dugaan ibu bahwa dirinya tengah hamil.


"Ada baiknya di periksakan dulu nak.. Coba kamu beli apa itu namanya, tes.. Tes apa ya?"


"Test.. Pack?" Jawab Dara ragu-ragu.


"Iya itu.. Coba periksa sendiri dulu saja nak, biar ketahuan. Nanti kalau hasilnya beneran hamil, baru ke dokter supaya dikasih vitamin atau apalah nanti dokter yang memutuskan. Ya nak ya?"


Dara terdiam merenungi kalimat ibunya. Rasa mual yang dialami nya memang baru kali ini dirasakan. Dulu, walaupun sakit maag nya kambuh, tak sampai membuatnya muntah-muntah seperti sekarang. Bisa saja ucapan ibu ada benarnya. Dia hamil, anak Nathan!


Ia merasakan jantungnya berdetak tidak normal bahkan hanya saat memikirkan soal kehamilan.


"Uhmm.. Iya bu. Maaf"


"Ya sudah, pikirkan dulu saran ibu ya. Kalau bisa segera lho nak. Ibu nggak sabar dengar kabar baik dari kamu. Sudah dulu ya, ibu mau bantu Lisa di depan. Warung sudah mulai ramai karena sekarang jam makan siang"


"Iya bu.."


"Kamu jangan telat makan ya nak. Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsalam.."


Dara menutup panggilan usai menjawab salam dari ibu. Otaknya kembali berpikir.


"Apa iya aku hamil? Yaa.. Aku memang sudah melakukannya dengan Nathan. Tapi kan cuma sekali. Masa sih bisa langsung.. Jadi?" Ucap Dara bagai bicara dengan dirinya sendiri.


"Tapi.. Rasa-rasanya aku juga sudah lama nggak datang bulan ya? Terakhir kapan ya? Duh.. Kalender mana kalender"


Dara beranjak dari ranjang mencoba mencari kalender di sekitarnya. Perasaannya begitu campur aduk hingga membuatnya lupa bahwa di ponselnya pun tersedia fitur kalender yang bisa memudahkan penggunanya untuk melihat hari tanggal dan bulan.


"Hmmpp.. Hhmmpp.." Mendadak gejolak dalam perutnya kembali datang, dan memaksa untuk keluar. Dara cepat-cepat berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Menerobos kasar pintunya, lalu menundukkan kepala di atas wastafel yang terdapat cermin besar di depannya.


"Hooeek.. Hooeekk.. Uhukk.. Uhukk.." Napasnya terengah-engah, akibat dorongan kuat dari lambungnya. Wajahnya pun memerah serta urat-urat di sekitar dahinya nampak jelas terlihat.


Dara merasakan pijatan lembut dari tangan seseorang di tengkuknya. Itu pasti mbak Asih, karena memang hanya dia yang selalu membantunya beberapa hari ini. Dari menyiapkan makanan, membawakan obat dan semua keperluannya.


Ia merasa perlu banyak berterima kasih padanya. Sejak kecil, Dara terbiasa melakukan apapun dengan tangan sendiri. Dan sejujurnya terlalu bergantung pada orang lain membuatnya jadi tak enak hati. Tapi apa boleh buat, kali ini dia memang benar-benar tak berdaya.


Dara membersihkan sisa-sisa muntahannya dengan air mengalir yang banyak. Membersihkan mulutnya, serta mencuci kedua tangannya. Sebelum bersiap berbalik arah pada seseorang di belakangnya.


"Terimakasih banyak mba..." Kalimatnya terhenti ketika menyadari lewat pantulan cermin di depannya, bahwa yang baru saja memijit tengkuknya ternyata adalah Nathan. Pria itu berdiri di belakangnya, menatap dengan dingin.


Dara mengurungkan niat untuk berbalik. Tubuhnya mendadak kaku.


"Ayo bersiap! Aku akan mengantarmu berobat" Ucap Nathan.


Dara melirik lewat cermin dengan hati-hati, khawatir Nathan akan menatap balik. Ia ingin menjawab, namun entah kenapa lidahnya terasa kebas.


"Aku nggak mau disebut jahat karena nyuekin kamu yang lagi sakit. Karena biar gimana pun, statusmu itu adalah istriku. Jadi tolong bantu jaga nama baikku" Ucap pria itu sekali lagi.


"Nggak perlu. Aku sudah punya obatnya"


"Itu beda" Bantah Nathan. "Kamu beli obat tanpa diagnosa dokter. Apa kamu tau itu akan tepat sasaran?"


"I-ini.. Cuma masalah lambung kok. Bukan apa-apa" Ujar Dara berkilah.


"Sakit lambung pun bisa jadi masalah besar kalau nggak cepat di tangani"


"Aku sudah sering begini, Nath"


"Kenapa sih kamu susah banget diperhatiin?!"


"Memangnya sejak kapan kamu merhatiin aku?"


Nathan kalah telak dengan Dara. Kalimatnya barusan membungkam pria itu seketika.


"Maaf.." Dara tertunduk. Dia masih belum membalikkan badannya. Sedari tadi mereka berbicara tanpa saling menatap satu sama lain. Hal ini sejujurnya sedikit membuat Dara lega karena tak harus memandang wajah Nathan yang sudah pasti akan membuatnya makin gemetar.


"Percayalah. Ini bukan penyakit yang serius.. Ini, ada sesuatu. Nanti kamu juga pasti tau kok"


Nathan muak dengan dirinya sendiri. Mengapa dia harus repot-repot membujuk Dara untuk berobat. Ia tak juga mengerti, kenapa saat mbak Asih memberinya info soal Dara yang sedang kurang sehat justru membuatnya khawatir.


Memang apa urusannya khawatir? Dia selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa tak ada rasa cinta untuk wanita itu, jadi untuk apa merasa takut dia akan dalam bahaya. Alasan membujuk Dara untuk berobat hanya karena demi menjaga nama baiknya sungguh konyol. Ia tak tahu lagi harus bereaksi seperti apa lagi di depan Dara.


Pria itu keluar dari kamar mandi meninggalkan sang istri yang masih terpaku di tempatnya berdiri sejak tadi. Ia tak peduli. Dia berjanji tak akan peduli lagi dengannya.


Sementara Dara, tentu ia langsung dapat bernapas dengan lega saat Nathan melenggang pergi tanpa pamit. Kedua tangannya mencengkram masing-masing ujung wastafel, sembari memandangi wajahnya di depan cermin.


Seorang wanita kurus dan berwajah pucat, itu yang ada di hadapannya. Dia tak tahu sudah kehilangan berapa kilogram berat badan sejak hari pertama mengalami mual muntah itu.


"Fiiuuhh...." Hembusan napas penuh kelegaan keluar dari rongga hidung dan mulutnya secara bersamaan.