An Angel From Her

An Angel From Her
40# Terserang Demam



Ungkapan lidah tak bertulang sangat relate dengan apa yang terjadi saat ini. Nathan seenaknya menghardik Dara yang begitu menaruh perhatian padanya dengan nada bicara yang sungguh tak enak di dengar.


Ia juga mengabaikan sang istri yang mulai menumpahkan air matanya, kekecewaan menyerang perasaannya dalam sekejap. Dara terduduk di salah satu anak tangga yang di pijaki, kakinya tak mampu lagi untuk meneruskan langkahnya.


Dara merasa sendirian, kesepian dan ditinggalkan. Bukan ini pernikahan yang diimpikannya. Ia bertanya-tanya, apakah semua pernikahan yang di jalani lewat jalur perjodohan selalu berakhir seperti ini? Diabaikan pasangan, tak dihargai sama sekali.


Bukankah seharusnya setelah menikah dua orang yang awalnya tak saling kenal akan menjadi satu? Menjadi partner yang punya satu tujuan, satu jalan, dan satu arah? Tapi kenapa? Kenapa yang di dapatkannya malah berbanding terbalik?


Dara merasa semua ini tak adil. Dia berani mengambil keputusan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi pria ketus yang tak pernah memikirkan perasaannya. Tapi, mengingat ini semua adalah pilihannya sendiri, masih pantaskah baginya untuk menyesal?


Ia menguatkan hatinya kembali. Seperti yang pernah di dengarnya dari beberapa teman yang telah menikah, mereka berkata bahwa pernikahan memang tak selalu berjalan dengan lancar. Selalu ada kerikil kecil hingga besar yang siap menghadang di depan mata. Menyerah hanya karena masalah yang sebenarnya bisa di selesaikan adalah pilihan paling payah.


"Aku tidak boleh seperti ini.. Tapi.. Itu cukup menyakitkan. Dara.. Apa kamu benar-benar kuat untuk dapat bertahan?" Ucap Dara pada dirinya sendiri.


Dia menyeka air mata yang terus menetes tanpa aba-aba. Wajahnya memerah, menahan rasa sesak di dada. Ia menyangga siku nya pada ujung lutut yang ditekuk dan menggunakan telapak tangan untuk menutupi wajahnya. Hujan masih turun dengan deras, mengiringi kesedihan yang dirasakan wanita berlesung pipi tersebut.


.


.


.


Cukup lama Dara duduk termenung di tangga. Hingga pada akhirnya ia merasa lelah, dan mulai mengantuk. Waktu menunjukkan pukul 22:00 malam, dan ini sudah saatnya ia mengistirahatkan tubuh dan fikirannya. Tak baik jika terus menerus menangis dan membebani otaknya dengan emosi negatif.


Dara berdiri, dan kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga satu per satu hingga mencapai lantai dua. Ia membuka pintu kamar perlahan. Dan langsung menyaksikan Nathan yang tengah tertidur pulas dengan posisi duduk di sofa yang kini telah jadi ranjang pribadinya.


Nampaknya ia telah membersihkan diri jika dilihat dari bajunya yang telah berganti. Raut wajahnya terlihat tenang dan damai. Mungkin ia tengah menikmati mimpi indah disana, entah apa itu. Dara menatapnya sendu, sembari tersenyum sesekali. Rasanya, ia mulai sedikit menyayangi pria itu.


Dia sendiri juga tak mengerti mengapa demikian. Padahal, yang diberikan Nathan sejak menikah hanyalah kekecewaan, bagaimana bisa perasaan itu muncul begitu saja? Ataukah itu terjadi karena melihat parasnya yang tampan?


Dara teringat, dulu, beberapa kali pria dengan wajah yang juga rupawan serta memiliki karir yang cemerlang berusaha mendekati dan memintanya untuk menikah. Tapi tak ada satupun yang dapat menggerakkan hatinya untuk memilih mereka.


Dari seorang pengusaha, abdi negara, hingga CEO di perusahaan ternama pernah sempat melamarnya dan berakhir dengan penolakan. Berbeda dengan Nathan, yang bahkan sejak pertama bertemu ia dapat dengan mudah menimbang dan memberi keputusan untuk menerimanya. Mungkinkah memang pria itu adalah jodohnya?


Nathan nampak kelelahan, ia tak sedikitpun menggeser posisinya yang pasti tak nyaman. Dara pun tak enak hati jika harus membangunkannya hanya untuk menyuruhnya menukar posisi. Cuaca diluar membuat seluruh ruangan menjadi dingin, Dara berinisiatif untuk menyelimuti Nathan agar tak kedinginan. Mengingat tadi juga ia pulang dalam keadaan basah kuyup.


Dengan gerakan perlahan penuh kelembutan, Dara menutupi setengah tubuh Nathan memakai selimut berbulu lembut warna abu-abu. Ia sedikit terperanjat ketika Nathan tiba-tiba menarik nafas dalam, khawatir sang suami tak menyukai apa yang dilakukannya jika ia membuka mata mendadak.


Tapi ia merasa aman, ketika menyadari itu hanya reflek yang dikeluarkan Nathan di tengah tidur pulasnya. Pria itu tak sama sekali tersadar. Kini, Nathan mungkin saja sudah merasa lebih hangat usai tubuhnya di tutupi dengan selimut dan kasih sayang.


Dara beranjak dan menempatkan diri di atas ranjang. Rasa kantuk begitu menguasai matanya, sesekali ia menguap sambil menutup mulut dengan telapak tangan. Serupa dengan Nathan, ia juga menghangatkan tubuhnya memakai bed cover yang ia tarik untuk menutupi tubuhnya. Dalam hitungan detik wanita itu terlelap, menutup hari dan semua kesedihan untuk sementara.


...***...


Nathan menggeliat di atas sofa, berbeda dengan tadi malam, kini ia telah merebahkan tubuhnya. Ia masih menggigil, dengan suhu tubuh yang terasa lebih tinggi dari biasanya. Efek hujan yang membasahi tubuhnya semalam membuat demam menyerangnya.


Ia merasakan sekujur tubuh yang sangat tidak enak. Mata dan nafas yang terasa panas, serta kepala yang sangat pusing. Ia bahkan tak mampu mendudukkan tubuhnya, benar-benar lemah tak berdaya.


Matanya melirik ke arah ranjang tempat Dara tidur. Wanita itu sudah tidak ada disana. Mungkin sedang memasak? Atau entah kemana. Disaat seperti ini, Nathan sangat membutuhkan bantuan. Tapi jika minta di tolong oleh Dara, bisa-bisa dia merasa dibutuhkan olehnya. Nathan tak ingin itu terjadi.


Tak lama kemudian ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Nathan menebak bahwa itu adalah mbak Asih yang hendak mengambil pakaian kotor. Ketika pintu di buka ia patut kecewa karena yang dilihatnya ternyata orang yang tak di harapkan. Ya, Dara. Wanita itu masuk dan berdiri di hadapannya.


Nathan mengacuhkan Dara yang memandang penuh perhatian padanya. Ia menarik selimut dan menutupi setengah tubuhnya, menyisakan kepala dan wajahnya.


"Nath.. Sarapan yuk. Aku sudah menyiapkannya di meja" Ajak Dara.


Nathan tak menjawab. Ia mencengkram selimut dari dalam, menahan rasa menggigil yang tengah menyerangnya. Dara mengernyitkan dahi, memperhatikan gelagat sang suami, bagai sedang kesakitan. Ia mendekat dan bersimpuh di depan Nathan.


"Nath, kamu kenapa? Apa kamu sakit?"


Nathan masih diam.


"Aku izin pegang dahimu ya?"


Dara mulai khawatir, ia menyentuh dahi suaminya meski tanpa persetujuan dari si empunya. Betapa terkejutnya dia ketika berhasil mendaratkan punggung tangannya dan merasakan wajah Nathan yang sangat panas.


"Ya ampun Nath, badanmu panas sekali.. Apa yang kamu rasakan selain ini?" Tanya Dara dengan nada penuh kekhawatiran.


"Dingin.."


"Ehm.. Sebentar ya. Aku akan bawakan kamu obat"


Dara segera beranjak dari kamar dan setengah berlari mencari kotak obat yang mungkin tersedia. Tapi ia baru belum lama tinggal disini dan belum mengetahui dimana letak barang-barang macam itu di simpan.


Ia mencari mbak Asih, asisten rumah tangga itu pasti tahu semua yang ada di apartment ini. Termasuk kotak obat yang sedang dicarinya. Dara turun ke lantai satu dan menghampiri mbak Asih yang tengah membersihkan sofa ruang keluarga dengan vacuum cleaner.


"Mbak.. Mbak tahu dimana tempat menyimpan kotak obat?" Tanya Dara dengan nafasnya yang terengah-engah.


"Kotak obat non? Tahu. Untuk siapa? Non Dara sakit?" Tanya mbak Asih sambil men-switch off tombol vacuum cleaner yang digunakannya.


"Bukan saya. Tapi Nathan. Badannya demam tinggi, tapi dia merasa kedinginan. Sampai menggigil. Saya mau kasih obat penurun panas"


"Oh.. Sebentar non.. Saya ambilkan" Ucap mbak Asih, membantu Dara menemukan kotak obat P3K yang tersimpan di dalam sebuah laci buffet ruang keluarga. Ia membukanya dan mencari-cari obat yang di maksud. Namun nampaknya tak tersedia disana.


"Aduh.. Gimana dong mbak? Ada apotik terdekat nggak ya disini?" Dara tambah cemas.


"Ada non. Biar saya belikan ya non" Ucap mbak Asih menawarkan diri.


"Nggak apa-apa mbak Asih yang beli?"


"Nggak apa-apa non. Non Dara temani mas Nathan saja. Biar saya yang beli ke apotik di seberang"


"Terimakasih banyak ya mbak. Ini uangnya" Ucap Dara sembari menyodorkan selembar uang warna merah pada mbak Asih yang langsung diterima oleh sang asisten.


"Sama-sama non. Tunggu sebentar ya non"


Mbak Asih segera menghambur, keluar dari apartment cepat-cepat demi mendapatkan obat untuk sang tuan muda. Sementara Dara menyiapkan makanan untuk Nathan sambil menunggu obatnya datang.


Ia berinisiatif membuatkan sup krim agar dapat dengan mudah di konsumsi Nathan yang sudah pasti sedang tak selera makan. Wanita itu menyiapkan semua dengan tangkas dan cekatan. Juga berusaha secepat mungkin agar sang suami dapat lebih cepat mendapat pertolongan pertama.


.


.


.


Hidangan untuk Nathan telah siap. Ia membawa satu mangkuk sup hangat beserta air mineral yang diletakkannya di atas nampan. Dengan perlahan dan hati-hati ia menaiki tangga hingga mencapai kamar yang berada di lantai dua.


Nathan masih bereaksi seperti tadi, kedinginan. Ia tak sama sekali membuka selimutnya. Dara semakin cemas melihat keadaan sang suami yang terlihat sangat kesakitan.


"Makan dulu ya Nath.." Ucap Dara dengan lembut.


"Aku nggak selera.. Bbrrr.. Bbbrrr.." Sahut Nathan, suaranya bergetar.


"Nggak perlu habis. Yang penting ada asupan sedikit. Mbak Asih sedang membelikan obat untukmu. Kalau sekarang kamu makan, nanti bisa langsung minum obatnya ketika dia sampai, mau ya?" Bujuk Dara.


Nathan melirik isi dari mangkuk yang dibawa Dara. Sup krim adalah salah satu makanan kesukaannya. Ia sedikit tergiur, meski sedang merasakan pahit di mulutnya. Tapi mungkin saja, sup ini akan bisa menghilangkan sedikit rasa pahit itu, pikirnya.


"Aku suapin ya?"


"Nggak perlu, aku bisa makan sendiri" Jawab Nathan sembari berusaha mengangkat tubuhnya untuk duduk.


"Ya sudah. Ini.. Makanlah" Dara menyodorkan mangkuk tersebut pada Nathan dan diterima dengan baik olehnya.


Nathan melirik ke arah Dara yang ada di depannya usai memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Sungguh ini adalah sup krim paling enak yang pernah dimakannya. Bahkan buatan bunda pun dirasa kalah dengan yang ini. Dara benar-benar memiliki tangan yang ajaib.


"Enak nggak?" Tanya Dara.


Nathan mengecap sup tersebut sambil berakting. Ia tentu tak ingin Dara tahu bahwa dirinya sangat menyukai makanan ini.


"Biasa aja" Jawabnya singkat, sembari menyuap kembali makanan lezat di depannya.


Dara tak merasa kecewa dengan penilaian Nathan, ia memaklumi, mungkin memang saat ini suaminya sedang tak selera makan apapun. Tak apa, masih mau makan saja sudah cukup bagus.


"Tok.. Tok.. Tok.."


Seseorang mengetuk pintu dari luar kamar. Sepertinya itu mbak Asih yang telah kembali dari apotik.


"Masuk mbak.." Sahut Dara.


"Non.. Ini obatnya" Ucap mbak Asih seraya memberikan plastik kecil berisi obat ke tangan Dara.


"Terimakasih banyak ya mbak.."


"Sama-sama non.. Saya permisi" Pamit mbak Asih meninggalkan kamar setelah sebelumnya menutup kembali pintu yang terbuka.


"Ini Nath, minum obat dulu ya? Sudah makannya kan?"


Nathan menjawab dengan anggukan sambil menyodorkan mangkuk berisi sup tadi. Dara segera membantu untuk membuka obat berbentuk kapsul itu dan menyerahkannya pada Nathan dengan penuh perhatian.


"Sekarang kamu istirahat ya. Kalau ada perlu apa-apa panggil saja aku" Ucap Dara ramah.


"Eh, mau dibawa kemana sup nya?"


"Mm-mau dibawa ke dapur. Kenapa memangnya Nath?"


"Letakkan saja di meja. Aku.. Masih sedikit lapar, tapi kurang selera. Mana tahu nanti aku mau makan lagi" Ucap Nathan ragu.


Ia berharap Dara tak menyadari bahwa dirinya menyukai sup buatannya. Dara termenung sekian detik, tapi tak menduga bahwa Nathan memang menyukai dan merasa masih kurang puas menyantapnya.


"Oh.. Iya. Aku akan meletakkannya disini ya"


Dara menyetujui perintah Nathan dan meletakkan mangkuk sup tersebut di meja samping sofa yang Nathan tempati. Wanita itu keluar usai memastikan semuanya aman. Nathan pun tampak satu tingkat lebih baik daripada tadi. Ia berharap sang suami lekas membaik.


Selang beberapa menit setelah Dara keluar dan menutup rapat pintu kamar, Nathan cepat-cepat meraih mangkuk berisi sup di meja sebelahnya. Pria itu segera menyantapnya sampai habis tak bersisa.