An Angel From Her

An Angel From Her
49# Hampir Tenggelam



Wajah blasteran seorang Nathan Smith memerah lantaran ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membopong Dara menuju toilet. Wanita itu mabuk perjalanan hingga tak kuasa menahan rasa mual yang menyerangnya.


Kedua kakinya juga bagai tak mampu lagi dikuasai, ia menyerahkan seluruh tubuhnya pada Nathan. Setelah beberapa menit berjuang menahan gejolak dalam perut, akhirnya Dara berhasil mencapai toilet dan memuntahkan semua sisa dalam pencernaannya.


Nafasnya terengah-engah, serupa dengan Nathan yang tengah menunggu di luar toilet. Pria itu menyandarkan punggung pada dinding, kemudian membungkuk sembari merentangkan kedua lengannya ke arah lutut dan menyangga setengah tubuhnya.


"Gila nih cewek ngerjain balik" Gumamnya dengan masih berusaha mengatur napas.


Setelah hampir lima menit menyelesaikan urusannya di toilet, Dara keluar dengan memasang wajah tanpa dosa. Nathan menyempurnakan kembali posisinya dengan berdiri tegak di hadapan Dara.


"Sudah?" Tanya Nathan.


Dara mengangguk ragu.


"Aku minta maaf ya Nath.."


Pria itu hanya memutar bola mata tanda jengkel.


"Ketika di pesawat tadi, aku memang ketakutan. Tapi belum mual. Entah kenapa saat turun justru rasanya.. Parah banget" Sesal Dara yang nampak merasa bersalah pada suaminya.


"Sudahlah.. Ayo!" Seru Nathan sembari melanjutkan langkah dan menyeret kopernya. Sementara koper milik Dara dia tinggalkan dengan maksud agar wanita itu membawanya sendiri.


Dara mengikuti Nathan dari arah belakang. Dengan langkah gontai ia berusaha memastikan kakinya menapaki dataran dengan baik dan dapat berjalan dengan normal. Perutnya terasa lebih baik dibanding tadi.


"Halo.. Selamat sore.. Kak Nathan ya?" Sapa seseorang yang suaranya terdengar seperti lelaki. Dara belum dapat melihatnya dengan jelas karena terhalang tubuh jangkung Nathan di depannya.


"Iya.." Jawab Nathan. Nampak lelaki itu menjulurkan tangannya agar dapat berjabat tangan dengan Nathan.


"Eh, dengan kak..? Siapa ini?" Tanya orang itu lagi ketika akhirnya Dara berdiri di samping Nathan.


"Dara.." Ucapnya ramah. Ia menggapai salam lelaki itu.


"Perkenalkan, saya Vincent. Saya adalah guide yang ditugaskan untuk menemani kak Nathan dan kak Dara selama disini.. By the way, selamat datang di Bali ya kak. Semoga betah berlibur disini" Ucap Vincent, sang tour guide pilihan bunda.


"Thanks.. Mas Vincent" Balas Nathan.


"Sama-sama kak. Pasti kakak capek ya setelah menempuh dua jam perjalanan. Wajah kak Dara kelihatan lesu sekali. Sebaiknya kita ke villa dulu saja ya kak"


Nathan mengangguk tanda menyetujui apa yang dikatakan Vincent.


"Mari kak.. Mobilnya sudah menunggu" Ajak Vincent.


Mereka berjalan menuju area penjemputan, dimana mobil sedan hitam mewah nan mengkilap itu menunggu. Dara menoleh ke arah Nathan di sebelahnya, ia baru menyadari bahwa suaminya tak mengenakan penutup kepala dan masker seperti biasanya.


Ia membatin, apa pria itu sudah tak ingin menyembunyikan tentang pernikahan mereka lagi? Atau mungkin Nathan lupa memakai perlengkapannya? Tapi yang pasti, ada sedikit perasaan senang dalam hatinya. Dara berharap, semoga bulan madu ini jadi awal yang baik untuk hubungan mereka.


Usai memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil, juga penumpang satu persatu telah masuk, sang sopir yang tengah standby di belakang kemudi pun langsung menjalankan kendaraan. Meninggalkan bandara, menuju tempat penginapan yang telah di siapkan.


Menempuh sekitar 45 menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di sebuah villa yang cukup besar nan mewah. Sudah terlihat jelas dari pintu masuk bahwa kawasan villa tersebut berada di pinggir pantai, dengan pemandangan sunset yang sangat indah.


Dara meraih koper yang baru saja dikeluarkan dari bagasi dan menyeretnya perlahan sembari memperhatikan setiap sudut dari villa private itu. Bergaya tropis dengan banyaknya tanaman hijau segar di beberapa spot, tempat ini sungguh memanjakan mata.


Namun bagi Nathan, daripada mengagumi tempat itu seperti Dara, ia justru malah teringat dengan villa tempat Monica 'menyekap' nya waktu itu. Karena sekilas, villa ini tampak mirip dengan villa pribadi milik Helena. Bertema tropis, juga dekat dengan pantai.


"Baik, karena kita sudah sampai, kak Nathan dan kak Dara bisa beristirahat dulu di kamar yang telah disiapkan. Saya akan kesini lagi nanti malam untuk menemani kakak makan malam ya" Ucapan Vincent seketika menggubris ingatan Nathan yang kembali pada Monica.


"Oh.. Ya, thanks ya" sahut Nathan asal jadi.


"Sama-sama kak. Hope you enjoy it!" Salam Vincent sembari melangkah pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.


Dara memulai langkahnya duluan menuju kamar, ia berhenti di dalam ruangan yang terasa sungguh romantis itu. Ada pintu kaca yang menghadap ke arah pantai, membuat mereka dapat dengan leluasa memandang ke arah sana. Dari situ pula mereka bisa keluar masuk ke pantai tanpa harus melalui pintu menuju ruang tengah.


Mulutnya ternganga ketika menyadari ranjang di hadapannya begitu cantik. Ada hamparan kelopak bunga mawar merah yang di dusun membentuk hati, serta satu rangkaian mawar putih yang di sandarkan pada handuk berbentuk sepasang angsa yang lagi-lagi membentuk hati pada bagian atasnya.


Ranjang yang dulu hanya bisa disaksikannya dalam film, kini benar-benar dapat ia tempati dan rasakan. Entah kenapa jantungnya mulai berdegup lebih kencang dari biasanya, serta tempo yang terasa lebih cepat.


Ia menolehkan kepalanya pada Nathan yang menyusulnya. Sama halnya dengan sang istri, Nathan juga terpaku pada ranjang yang di tata sedemikian rupa. Hanya saja bedanya, Nathan tak merasakan apa yang Dara rasakan.


Pria itu meletakkan kopernya, lalu merebahkan tubuh di atas sofa. Sekilas, furniture yang ada di kamar ini hampir mirip dengan kamarnya yang juga terdapat sofa panjang di dalamnya. Dara mendengus pelan dan ikut merebahkan tubuhnya, tapi bukan di sofa, melainkan di atas ranjang. Di atas hamparan kelopak bunga mawar yang harum.


Sembari memejamkan mata, Dara berusaha menetralisir rasa lemas dan lesu. Ia jadi sedikit mengingat-ingat apa yang terjadi tadi. Dirinya baru menyadari bahwa Nathan telah mau tersenyum untuknya. Meski dilanda ketakutan saat akan menaiki pesawat, tapi Dara masih bisa menaruh fokusnya pada Nathan.


Pria itu sedikit menggodanya, dengan kalimat menakut-nakuti yang di lontarkannya. Bahkan ketika akhirnya mereka sampai di Bali, Nathan mau mengurusnya yang mengalami mabuk perjalanan dengan membopongnya untuk mencari toilet.


Untuk pertama kalinya sepanjang pernikahan, Nathan menyentuh tubuhnya, lebih dari hanya sentuhan tangan ke tangan.


...***...


"Tok.. Tok.. Tok.."


Ketukan pintu dari luar kamar membuat Nathan terperanjat, spontan terbangun dari tidurnya. Tanpa sadar, ia kembali terlelap. Padahal sepanjang perjalanan di pesawat dirinya sudah tidur cukup nyenyak. Entah kenapa matanya terasa amat mengantuk hari itu.


Ia beranjak dari sofa, kemudian membukakan pintu untuk seseorang yang baru saja membangunkannya. Ternyata Vincent disana.


"Oh.. Mas Vincent.." Ucap Nathan sambil mengucek matanya.


"Maaf mengganggu istirahatnya kak. Hari sudah malam, time for get a dinner" Ucap Vincent.


"Oh.. Ya.. Jam berapa sekarang?" Tanya Nathan.


"Sekarang sudah pukul 20:00 kak. Sudah lewat jam makan malam lho kak. Saya sudah disini sejak 18:30 tadi. Coba bangunin kakak, tapi nggak ada respon. Saya pikir kakak pasti capek, maka dari itu saya tunggu"


"Begitu ya? Sorry, saya ketiduran" Balas Nathan. Matanya masih terasa lengket.


"Nggak apa-apa kak. Santai saja. Oh iya, gimana kak? Sudah siap untuk makan malam? Saya ada rekomendasi resto paling enak disini. Dijamin kak Nathan pasti akan suka"


Nathan berpikir beberapa detik, sembari mengarahkan pandangannya pada Dara yang masih terkapar di atas ranjang. Ada perasaan tak tega jika harus membangunkan wanita itu. Ia nampak sangat lelah, apalagi tadi dia juga sempat mabuk.


"Ehm.. Gini aja deh mas.. Tolong mas Vincent belikan saja makanan dari resto itu. Pilih menu best seller ya, porsi untuk dua orang. Terserah mas mau beli apa saja. Pinjam uang mas Vincent dulu, nanti akan saya ganti setelah mas sampai sini" Ucap Nathan panjang lebar.


"Begitu? Baik kak. Akan saya belikan yang enak-enak untuk kak Nathan. Mohon ditunggu ya" Ucap Vincent sembari melangkahkan kaki menjauh dari depan kamar.


Nathan menoleh lagi pada Dara yang lebih mirip orang pingsan dibanding tidur. Rasa kantuk yang masih tersisa membuatnya menguap. Ia memutuskan mencari sesuatu untuk menyegarkan diri.


Pilihannya jatuh pada satu botol minuman beralkohol yang ditemukannya dalam kulkas. Ia merasa beruntung bisa mendapatkan itu disana. Villa ini, seakan benar-benar mengerti akan kebutuhannya.


.


.


.


Nathan duduk di tepi pantai sembari memandangi bulan purnama yang nampak bulat sempurna, sinarnya amat terang dan sungguh indah. Malam ini cukup cerah dengan langit yang dihiasi hamparan bintang.


Sambil sesekali meneguk minuman, ia memutar memori yang pernah dilewatinya bersama Monica. Pantai, pasir, ombak dan air mengingatkannya pada masa itu. Bercanda, berlarian di tepi lautan luas itu, momen yang amat membahagiakan sepanjang hidupnya.


Ia ingin kebersamaan itu kembali lagi, memeluk tubuh hangatnya, menghujani nya dengan kecupan penuh cinta. Membelai, mengecup bibirnya, merasakan kembali cinta yang begitu menggebu. Nafas yang memburu, ketika tubuh mereka saling bertautan.


Ingatan itu, berhasil mencampur adukkan perasaannya. Ia meneguk kembali minuman di tangannya dengan kasar. Sembari menggaruk kepala dengan frustasi.


"Woow.. Indahnya.." Ucap seseorang dari kejauhan.


Ternyata itu adalah Dara, yang telah terbangun dari tidur lelapnya. Entah sejak kapan wanita itu ada disana, Nathan tak menyadarinya sama sekali.


Jarak antara dirinya dan Dara sedikit jauh, ditambah dengan minimnya penerangan di area pantai, yang hanya dihiasi dengan sinar rembulan. Membuat Dara juga tak menyadari keberadaan Nathan disana.


Dara nampak menikmati semilir angin yang menyentuh tubuhnya, baju yang dikenakannya berkibar mengikuti arah angin. Tak lama kemudian ia melangkahkan kakinya, hingga menyentuh permukaan air.


Bak anak kecil, ia memainkan air sendirian. Menyiprat-nyipratkan ke sembarang arah, sambil sesekali tertawa. Nathan tak mengalihkan pandangannya kemanapun, ia terus terfokus pada Dara. Kini, setengah tubuhnya telah masuk ke dalam air, tapi Dara justru makin menikmatinya.


Angin yang cukup kencang membuat gelombang air naik dan membawa ombak besar. Dara tak menyadari hal tersebut dan dalam hitungan detik, ombak tersebut menghempas ke tubuhnya dan otomatis langsung menyeretnya lebih jauh.


Nathan terkejut bukan kepalang, tak menduga hal itu akan terjadi. Dara terbawa ombak! Dia akan tenggelam sesegera mungkin.


"Toloooonngg...!!" Teriak Dara yang samar-samar terdengar.