An Angel From Her

An Angel From Her
87# Hati Yang Terluka



Dara tidak menyangka sama sekali akan mendapatkan serangan mendadak dari Keenan. Dia terlalu polos, hanya merasa bahwa pria itu menganggapnya tak lebih dari seorang adik. Jika Nathan berani menciumnya ketika dalam pengaruh alkohol, Keenan justru sebaliknya.


Dia sedang sadar, amat sadar ketika dengan kurang ajarnya berani mencium bibirnya.


Tenaga Dara seakan kembali terisi penuh. Ada harga diri yang harus di jaganya. Dia mendorong tubuh Keenan sekuat-kuatnya, membuat pria itu tersadar akan perbuatannya yang memalukan.


"Apa yang kakak lakukan!" Dara menatap tajam wajah Keenan yang langsung merah padam.


"D-dara.."


"Kakak gila!" Dara beranjak dari tempat duduknya, berjalan secepat mungkin menjauh dari Keenan yang gelagapan.


Jika awalnya Dara selalu senang berada di sampingnya, kini untuk pertama kali ia merasa amat muak. Dan membencinya. Pria sinting mana yang tega mencium adik iparnya? Istri dari adik kandungnya sendiri?


Keenan mengatakan bahwa takkan mengkhianatinya seperti yang Nathan lakukan, tapi apa tak sadar bahwa dia baru saja menjadi seorang pengkhianat sejati?


"Dara.. Dara.. Tunggu sebentar Dara!" Keenan meraih lengan Dara dalam genggamannya.


"Lepasin!" Hardik Dara menyentak-nyentakkan lengan sekuat tenaga.


"Dara, kakak minta maaf"


"Kakak sudah nggak waras?"


"Kakak khilaf Dara.."


"Khilaf?" Dara berdecih. "Kakak sadar kan aku ini siapa? Kok bisa?!" Emosinya memuncak.


Keenan bungkam. Sorot matanya melemah.


"Ternyata Nathan benar. Aku seharusnya nggak perlu dekat-dekat dengan kakak!" Dara berhasil melepaskan genggaman Keenan. Dia melanjutkan dan mengatur langkahnya sebaik mungkin agar tidak terjatuh, karena sebenarnya kepalanya masih terasa pusing.


BRAKKK


Dara menutup pintu kamar dengan kasar, lalu menguncinya. Emosi berhasil mengendalikannya.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.." Tangisnya kembali tumpah. Dara meringkuk di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut, menyisakan bagian wajah yang terbuka.


Apa yang di alaminya saat ini, relate dengan peribahasa sudah terjatuh, tertimpa tangga pula.


Dia baru saja gagal mempertahankan suami yang dibawa pergi selingkuhannya. Ketika akhirnya menemukan tempat untuk bersandar, harga dirinya justru di injak-injak oleh orang yang sudah di percayai.


Tak habis pikir, bagaimana Keenan bisa tergoda untuk menciumnya? Apa yang dia pikirkan? Mengambil kesempatan dalam kesempitan kah?


Semua yang terjadi sungguh menyesakkan. Hatinya ibarat cermin yang baru saja dilempar, dan hancur hingga jadi kepingan kecil oleh dua pria terdekatnya. Betapa harga dirinya sudah menjadi seonggok kotoran tak berharga yang mesti dibuang begitu saja.


Semesta terlalu kejam dengan membiarkannya seorang diri menghadapi masalah ini. Dara tidak ingin mengadu pada ibu, sudah pasti hanya akan memperburuk keadaan. Apalagi bunda, dia punya masalah serius pada jantungnya. Hal semacam ini bisa saja membuatnya kambuh dan bukan tidak mungkin akan terbunuh.


Hatinya terlalu lembut untuk melibatkan orang lain masuk ke dalam masalahnya.


...***...


Monica menyeruput secangkir hot latte dengan elegant. Duduk bersebrangan dengan Nathan yang menatapnya heran. Pria itu hanya memesan iced coffee yang belum di sentuh nya.


"Kamu bilang ada pemotretan, kenapa malah mengajakku kesini?" Nada bicara Nathan menginterogasi.


"Oh.. Itu. Aku lupa, ternyata besok!"


"Astaga. Aku tadi itu baru sampai lho, ingin istirahat"


"Ingin istirahat atau ingin berduaan dengan Dara?" Tebak Monica. Sementara Nathan memilih bungkam.


"Jadi, kamu sudah lama tau kalau Dara itu.. Lagi hamil?" Tanya Nathan ragu-ragu.


"Uhm.. Kenapa?"


Monica menghela napas sejenak.


"Efek apa sayang? Kalian itu sudah menikah. Hal seperti ini pasti akan terjadi, aku sih nggak kaget"


Nathan tak menangkap dusta dari raut wajah Monica, dia nampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Kamu nggak cemburu?"


"Nath, bisakah kita membahas yang lain?"


"Oke, sorry" Nathan mengalah.


"I love you Nath.." Tutur Monica.


Nathan hanya mengulas senyum di bibirnya, tanpa ada balasan ungkapan perasaan yang baru saja diutarakan Monica. Entah bagaimana semuanya terasa aneh untuknya, moment berduaan dengan Monica, ungkapan cinta yang dilontarkannya.


Sekarang semua itu terasa salah, tidak sesuai. Pada tempatnya.


...***...


Nathan berpapasan dengan Keenan yang baru keluar dari kamar sesampainya ia di apartment. Hari sudah malam dan suasana di dalam sana begitu sunyi. Dara juga pasti sudah tidur.


"Kenapa kak?" Nathan menginterupsi sang kakak yang tampak kikuk berhadapan dengannya.


"Ahh.. Ehhmm, nggak.. Nggak ada apa-apa Nath. K-kamu.. Baru sampai?" Ucap Keenan terbata. Nathan sedikit mencurigainya.


"Ya. Baru sampai"


"Oke.. Ehm.. Mmm.. Kakak ke bawah dulu ya"


Nathan mengiyakannya dengan anggukan kepala. Sedangkan Keenan langsung menggerakkan kedua kakinya secepat mungkin menuruni anak tangga.


Pria itu mengabaikan sang kakak yang mendadak bertingkah aneh, kembali meneruskan niat untuk masuk ke dalam kamar. Sebetulnya Nathan merasakan nyali nya sedikit menciut jika harus berhadapan dengan Dara sekarang.


Rasa bersalah itu menghantuinya bahkan selama ia menghabiskan waktu bersama Monica.


Kriiiettt....


Nathan membuka perlahan pintu kamar, khawatir yang dilakukannya akan mengganggu Dara yang mungkin saja sudah terlelap. Matanya memandang ke arah ranjang, dan detik itu juga dia menyadari bahwa dugaannya salah.


Dara masih terjaga, sedang duduk di pinggir ranjang menghadap ke arah jendela.


Kakinya melangkah dengan keraguan, pilihannya hanya mengabaikan atau menyapanya. Namun naluri nya memaksa untuk datang dan menghampiri Dara, menyapa sekaligus mengetahui keadaannya. Karena biar bagaimana pun, dia kini tengah mengandung darah dagingnya.


Nathan sampai dalam radius yang cukup dekat dengan Dara, wajah wanita itu nampak jelas terlihat. Tatapannya yang mengarah ke pemandangan kota malam hari itu kosong, bagai sedang menerawang masa depan.


"Ra.." Panggilnya dengan nada paling pelan. Berusaha menggubris lamunan Dara.


Beberapa detik berlalu, Dara tak merespon satu patah katapun. Matanya sembab, wajahnya memerah. Sudah jelas dia pasti menangis dalam waktu yang lama.


Sakit, tidak. Pasti sangat sakit. Hatinya teriris atas kejadian sore tadi. Nathan memaki dalam hati atas perbuatan bodoh yang di lakukannya. Dara pasti amat menderita, menanggung ini sendirian.


Dia masih berdiri mematung tegak tak berpindah, begitupun Dara yang terlihat enggan menoleh ke arahnya.


"Jangan tidur terlalu larut, ya?!" Pesan Nathan. Dia berbalik dan membiarkan Dara menyelesaikan perang batinnya sendiri.


Jauh di dalam relung hatinya, ada sesuatu yang mendorong untuk memberi sandaran pada Dara. Membelai dan menghadiahi nya kecupan semangat. Menebus setidaknya sedikit saja kesalahan yang dilakukannya.


Namun tubuhnya terasa enggan menuruti. Berat, apalagi ketika melihat Dara lebih nyaman dengan kesendiriannya.


Pria itu merebahkan tubuh di atas sofa, sambil sesekali melirik Dara yang masih belum berpindah dari tempatnya. Malam ini, di dalam kamar dengan interior mewah dan minimalis yang menjadi tempat bernaung sepasang suami istri itu, keheningan seakan berhembus memenuhi ruang hingga membuatnya hampa.