An Angel From Her

An Angel From Her
124# End Chapter



Aku melewati hari yang menyenangkan di negara asal ku, Indonesia tercinta. Menghabiskan waktu bersama bunda, ibu mertua yang sudah ku anggap seperti ibuku sendiri, semuanya terasa menyenangkan jika dilakukan dengan keluarga.


Terbesit sedikit pikiran untuk kembali menetap disini, namun usaha ku di AS baru saja berkembang, rasanya tidak mungkin ku tinggalkan begitu saja. Mungkin nanti, jika suatu waktu ada kesempatan, aku pasti akan kembali tinggal.


Waktu dua bulan ini sangat ku manfaatkan sebaik mungkin untuk selalu berkumpul dengan keluarga. Termasuk menemui kawan baikku di Black Romance.


Banyak hal telah ku lewatkan, dari Regy yang kini sudah memiliki tiga anak, Mike yang juga telah menikah dengan kekasihnya, Regina. Dan sekarang mereka tengah menunggu kelahiran calon putra pertama.


Nico si buaya yang telah menemukan pawangnya, dan Adly yang masih asyik melajang serta menjalin kencan buta dengan beberapa wanita. Tapi daripada memikirkan perubahan yang di alami para personil, aku lebih merasa lega ketika menyadari Black Romance tetap tak kehilangan sinarnya


Regy telah memilih gitaris yang tepat untuk mengisi posisiku. Dan bahkan, mereka baru saja launching album terbaru.


"Gue masih nggak nyangka akhirnya bisa ngeliat lo lagi Nath," Ucap Mike sambil merangkul bahuku. Siang ini aku memutuskan untuk mampir sejenak ke basecamp, karena tiga hari lagi aku dan Angie akan kembali ke AS.


"Kalau gue lebih nggak nyangka Nathan udah mau pergi lagi," Tambah Regy sok drama.


"Sudah dua bulan gue disini gy. Nggak enak hati juga sama tante gue"


"Nggak nanti aja Nath? Gue kepingin lo hadir di pernikahan gue" Nico ikut-ikutan dengan mengucap kalimat bernada mengiba.


"Emangnya jadi Nic?" Celetuk Adly.


"Ya jadi lah. Paling tiga mingguan lagi."


"Sorry banget ya Nic, bukannya gue nggak mau hadir, tapi gue beneran nggak bisa perpanjang lagi"


Aku menangkap ekspresi kekecewaan dari raut wajah Nico, sahabat ku sejak jaman SMU itu. Namun sejurus kemudian ia memahat senyum di bibirnya, berusaha terlihat baik-baik saja. Mengiyakan keputusanku meski aku tahu itu hanya senyum palsu.


"Lo nggak ada rencana menetap disini lagi Nath?," Tanya Mike bernada penasaran.


"Sementara belum Mike," Jawabku singkat.


"Eh iya, kenapa lo nggak ajak Angie Nath? Kita kan kepingin kenalan," Ucap Adly.


"Dia lagi jalan-jalan sama oma dan neneknya. Quality time, sekalian membuat semacam kenangan manis sebelum kita pergi lagi," Jawab ku santai.


"Oh iya, ngomong-ngomong selamat ya untuk album baru nya. Gue ikut bahagia dengan pencapaian kalian, dan untuk Sam, lo bener-bener keren!" Ucapku lagi sambil memuji Samuel gitaris baru yang didapuk Regy untuk menggantikan ku.


"Thanks Nath," Sahut Samuel dengan senyumnya yang mekar.


"Kalau suatu saat lo kepingin balik lagi, silahkan Nath. Black Romance selalu nerima lo sampai kapan pun, bikin jadi lima personil oke juga ya kan?" Ucap Regy, kali ini, aku tahu dia sedang serius.


"Thanks," Jawabku singkat.


Sejujurnya, aku memang sangat rindu dengan mereka, dengan panggung, dengan penggemar dan semua ketenaran yang pernah ku raih. Tidak, kemungkinan untuk bergabung lagi dengan mereka sangatlah kecil, karena aku tidak memiliki niat sama sekali. Ini hanya sebatas rindu, kau juga pasti akan merasakan hal yang sama jika berada di posisiku.


Aku terlanjur mencintai peran yang ku jalani sekarang, menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk malaikat kecilku, menjadi seorang pengusaha, mengikuti jejak bunda. Biarlah, semua itu ku tutup sebagai kenangan manis di masa lajang ku, cerita indah yang akan ku buat dongeng untuk Angie kelak, saat ia sudah lebih mengerti tentang kehidupan.


...***...


H-1 sebelum kami kembali ke AS, aku bersama Angie yang begitu bersemangat mendatangi Dara di tempat yang ku sebut rumah pada nya. Putriku menggenggam bucket bunga mawar putih yang cantik, aku menuntunnya menelusuri pemakaman sebelum sampai di makam Dara.


"Dimana ibu, Dad?," Angie bertanya sambil menengadah padaku.


"Disini sayang. Raga ibu tersimpan di dalam sini, tapi jiwa nya sudah terbang ke surga. Ibu stay in heaven," Jelasku se-ringan mungkin berharap Angie dapat mengerti.


Dia menundukkan kepalanya lagi, memandang makam Dara dengan isi kepalanya yang entah sedang memikirkan apa.


"Hello ibu, it's Angie. Aku-rindu-ibu," Ucap Angie dengan bahasa yang bercampur. Dia bersimpuh sembari meletakkan bucket mawar putih yang di bawanya.


"Bisa, nanti. Kita pasti akan berkumpul lagi bersama dengan ibu di surga"


Aku tak tahu pasti apakah Angie mengerti dengan kalimat ku. Tapi dari raut wajahnya, nampak ia sudah puas dengan apa yang di dengar. Dia memandang lagi makam ibunya, secara keseluruhan. Di usianya yang masih balita, tentu Angie belum mengerti soal kematian dan bagaimana sakitnya ditinggal pergi oleh orang yang dicintai.


Namun Angie tetap harus tahu, bahwa dia juga memiliki ibu. Yang rela menukar hidup untuknya, yang mencintainya bahkan sebelum ia lahir. Sebab satu waktu, Angie pernah mendatangiku dengan wajah yang muram sambil menanyakan apakah dia tidak memiliki ibu?


Dia selalu melihat teman-temannya di jemput ibunya, bermain bersama ibunya, sedangkan dia, setiap hari hanya menghabiskan waktu bersama ayahnya. Walau sebisa mungkin aku berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah di mengerti, namun akan lebih baik jika Angie melihat sendiri makam ibunya.


Agar dia tahu, dia tidak berbeda dengan teman-temannya yang lain. Agar dia tahu, ada seorang ibu yang sangat mencintainya.


Aku sedikit terperanjat ketika menyadari ada seseorang yang datang dan meletakkan bucket bunga di atas makam Dara. Aku menoleh ke arahnya, dan menangkap wajah yang sangat ku kenal ikut bersimpuh tepat di sebelahku.


"Adriana?,"


Dia tersenyum padaku. Adriana datang dengan mengenakan selendang hitam yang ia gunakan untuk menutupi bagian kepalanya.


"Hai Angie.." Ucap Adriana menyapa Angie yang juga menoleh ke arahnya.


"Hai tante," Balas putriku dengan ramah.


"Kamu.. Ada disini?"


"Aku memang sering datang kesini. Nggak apa-apa kan?,"


Aku menjawab dengan anggukan. Namun, aku tak melihat keberadaan Keenan disini. Apa dia datang sendiri?


"Aku kesini selalu sendiri. Lagipula sekarang Keenan sedang bekerja, mungkin lain waktu kami akan datang bersama," Seolah bisa membaca pikiranku, Adriana menyampaikan alasannya.


Aku berdiri, berniat menjaga jarak dari Adriana yang sudah menjadi kakak ipar ku itu. Tapi tiba-tiba dia juga ikut berdiri, sementara Angie masih sibuk memandangi makam ibunya.


"Kalian akan pulang besok ya?," Tanya Adriana.


"Iya"


"Kami pasti akan merindukan kalian"


Aku mengulas senyum.


"Maafkan aku ya Nath," Nada bicara Adriana terdengar parau.


"Untuk apa?"


"Karena aku pernah mencintaimu"


Aku tak menyangka sama sekali bahwa Adriana akan mengatakan hal itu, bahkan ketika kami sedang berada di samping makam Dara.


"Kita memang nggak bisa mencegah datangnya cinta. Tapi kita punya kuasa untuk mengendalikannya. Setidaknya memahami posisi dan status kita sekarang," Ucapku tegas, berharap Adriana segera sadar.


Dia diam sejenak, entah sedang memikirkan apa dalam isi kepalanya. Berlama-lama berada di sekitarnya membuatku risih, akhirnya ku putuskan untuk pergi dari sana bersama Angie yang ku genggam lengannya. Aku merasa Adriana sedang mengalami pergolakan batin, atau hal lain yang tidak ku mengerti.


"Aku pamit duluan ya Adriana, maaf nggak bisa menemani lama-lama"


Adriana memandangku dengan tatapan penuh arti, meski aku tidak mengerti apa makna nya. Sembari mengulas senyum ia menganggukkan kepala tanda setuju.


Aku menuntun Angie dengan langkah cepat menjauh dari Adriana. Sebelum benar-benar meninggalkan area makam, aku menoleh sejenak dan mendapati Adriana yang masih memandang ke arahku, dari kejauhan.