An Angel From Her

An Angel From Her
77# Tatapan Aneh



Aroma masakan terasa harum terbawa angin. Dara tengah sibuk memasak sarapan untuk Nathan lagi setelah hampir sebulan absen di dapur. Kali ini porsi nya dilebihkan karena hadirnya Keenan di apartment. Menu pagi ini adalah nasi goreng dan omelette favorit Nathan, Dara tampak antusias menyiapkannya.


Sementara itu, Keenan yang baru turun dari lantai dua memandangi Dara dari kejauhan. Dia masih berdiri di anak tangga terakhir. Langkahnya terhenti, senyumnya merekah lantaran pesona Dara yang terlihat begitu bersinar ketika kedua tangannya cekatan menyiapkan dan menata makanan di atas meja.


Ini adalah impian Keenan. Bangun pagi hendak bersiap untuk berangkat kerja, disambut oleh seorang istri yang perhatian, disuguhi hasil tangannya yang nikmat. Semua terasa sempurna. Tapi cepat-cepat ia menghalau halusinasinya dan kembali ke kehidupan nyata dan harus berdamai dengan kenyataan dimana wanita yang ada di depannya adalah istri dari adiknya.


Pria itu berjalan perlahan menuju dapur yang merangkap dengan ruang makan itu. Menghampiri sang adik ipar yang bahkan tak menyadari kehadirannya.


"Wah.. Kelihatan enak sekali.." Ujar Keenan.


Dara menoleh dan segaris senyum tersungging di bibirnya, semakin lengkap dengan lesung pipi yang nampak memesona.


"Oh, kak Keenan. Selamat pagi kak, kita sarapan sama-sama ya. Dara sudah masakin" Sapa Dara ramah.


"Makasih.. Kamu senang masak ya?"


"Ah.. He.. He.. Ya.. Bisa dibilang begitu. Awalnya karena Dara selalu bantu ibu memasak untuk warung makan, lama-lama jadi hobi" Ucap Dara.


"Wah.. Kalau begitu pasti ini beneran enak"


"Silahkan dicoba kak. Semoga kakak suka ya"


Keenan menarik kursi dan segera menempatinya.


"Wah.. Ada acara makan bersama nih" Ucap Nathan yang baru sampai di ruang makan, menginterupsi Keenan dan Dara yang tengah berbincang.


"Kamu sudah bangun Nath, aku baru mau bangunin. Ayo kita sarapan sama-sama" Ajak Dara yang telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia menarik kursi dan segera mendudukinya.


Nathan mengiyakan ajakan sang istri dengan langsung menduduki kursi yang bersebrangan dengan Keenan. Posisinya tepat di samping Dara, dan hal itu sukses membuat Dara kaget sekaligus senang.


Dengan penuh perhatian Dara menyendokkan nasi goreng yang harum itu ke atas piring Nathan, dan meletakkan omelette di atasnya. Dia juga menuang air ke gelas yang juga diperuntukkan bagi suaminya. Keenan mengamati diam-diam sembari mengambil sendiri makanan di depannya. Dara memang istri yang sangat sempurna.


Dia langsung menyuap dan seketika menyadari bahwa nasi goreng buatan Dara amat nikmat. Semua rasa begitu pas bersatu padu dengan omelette nya yang gurih dan enak. Nathan benar-benar beruntung bisa memiliki Dara, lagi-lagi pikirannya dipenuhi imajinasi liar yang kemungkinan akan membuatnya dikutuk.


"Kamu hari ini ada jadwal apa Nath?" Keenan cepat-cepat mengalihkan pikirannya dari hal-hal aneh yang terus mengganggunya sejak bertemu dengan Dara.


"Ya biasalah.. Kegiatan anak band" Sahut Nathan tanpa menatap Keenan. Ia asyik mengaduk isi piringnya dan menyuap ke mulut. Meskipun ada beberapa kali diam-diam matanya menangkap tatapan aneh Keenan pada Dara yang membuatnya tidak nyaman.


"Kakak hari ini sudah mulai kerja?" Tanya Dara.


"Iya. Kakak sudah mulai praktek, do'akan lancar ya" Jawab Keenan yang dibubuhi senyum pada akhir kalimat.


"Pasti.."


Nathan melirik Dara yang nampak nyaman dengan kehadiran Keenan. Berbanding terbalik dengannya yang merasa risih ketika harus duduk dalam satu meja makan bertiga seperti ini. Dia cepat-cepat menghabiskan makanannya, dan berniat untuk membawa Dara menjauh dari hadapan kakaknya.


"Ra.. Ke kamar sekarang" Ajak Nathan setelah meneguk air mineral terlebih dahulu.


"Tapi aku belum habis" Nathan melihat isi piring Dara yang belum bersih. Tapi dia tak ingin istrinya berlama-lama berdekatan dengan Keenan.


"Aku ada perlu. Boleh bantu?" Ucap Nathan mencari alasan. Dia tahu Dara takkan menolak apapun permintaannya.


"Oh, baik kalau begitu. Kak, Dara duluan ya"


Nathan menggenggam tangan Dara dan mengarahkannya ke kamar. Dia harus menjauhkan Dara dari Keenan setidaknya sampai pria itu pergi.


Keenan tertunduk lemah, merasa dirinya jahat karena memandangi Dara sembarangan. Tapi dia terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Wajahnya begitu teduh dan menenangkan. Keenan tak pernah menemukan yang seperti itu di Jerman atau di Indonesia bagian manapun. Dara adalah ibarat barang langka, satu paket lengkap yang mampu mencakup berbagai aspek.


...***...


"Ada perlu apa Nath? Apa yang bisa ku bantu?" Ucap Dara pada Nathan sesampainya di kamar. Pria itu bahkan belum melepas genggamannya dari tangan Dara.


"Aku.."


Dara menunggu kalimat Nathan yang mendadak berhenti.


"Eh, sorry" Ucap Nathan saat menyadari bahwa ia masih menggenggam tangan Dara. "Ra.." Panggilnya lagi.


"Iya?"


Nathan tampak mengulur-ulur waktu dengan tak langsung memberi tahu Dara maksud dan tujuannya. Dia tak tahu apakah harus bicara to the point atau mencari alasan agar Dara melakukan sesuatu dalam waktu yang lama untuknya.


Dara mengamati gelagat suaminya itu, merasa ada sedikit hal aneh darinya. Entah apa, Dara belum dapat menyimpulkan sekarang.


"Nath? Kamu butuh apa?" Ulang Dara. Khawatir kalau-kalau Nathan kehilangan memorinya.


"Eh? Ehm.. Aku.." Pria itu menatap Dara yang terlihat bingung. "Aku, cuma mau bilang kalau.. Sebaiknya, kamu nggak usah terlalu dekat dengan kak Keenan"


"Hm? Kenapa begitu?"


"Ya.. Aku merasa kalau.." Lagi-lagi Nathan tak langsung menyelesaikan kalimatnya. Memancing Dara untuk kembali menegaskan.


"Kalau apa?"


"Sudahlah nggak penting. Pokoknya, nggak usah dekat-dekat. Ini permintaanku, oke?"


"Tapi.. Dia kakakku juga Nath. Aku juga sudah menganggapnya demikian. Seharusnya malah bagus kalau aku bisa dekat dengannya"


Nathan tak mampu memberi alasan logis untuk memuaskan rasa ingin tahu Dara yang besar.


"Ra.. Aku cuma minta itu darimu. Bisa kan?"


Dara diam belum yakin akan mengiyakan permintaan Nathan yang terdengar kurang masuk akal. Alasan apa yang pantas untuk menjauhi kakak sendiri? Keenan adalah saudara kandung Nathan yang otomatis sudah jadi kakaknya juga.


"Kamu istirahat saja sekarang. Biar mbak Asih yang membereskan sisa sarapan. Kamu harus jaga dia baik-baik" Ucap Nathan memberi penekanan kata 'dia' yang merujuk pada calon anaknya.


"Nath.. Aku perlu periksa, bisakah kamu mengantarku?"


Nathan termenung sepersekian detik sambil memandangi Dara yang tampak mengharap.


"Maaf. Hari ini aku belum bisa. Mungkin lain hari. Kalau sudah harus banget, kamu bisa naik taksi. Minta mbak Asih untuk menemani. Aku harus pergi sekarang"


Penolakan Nathan cukup melukai perasaannya. Dia sangat ingin merasakan perhatian dari suaminya disaat seperti ini. Tapi apa mau dikata, Nathan bahkan terlihat tak begitu tertarik dengan kehamilannya. Dia terlalu sibuk dengan urusannya, dan semua pekerjaan yang selalu menyita waktunya.


Keadaan memaksa Dara untuk mau menerima apa yang Nathan katakan. Dia tak punya kuasa apapun untuk merengek pada suaminya sendiri. Nathan berlalu dari Dara, membiarkan sang istri hanyut dalam rasa kecewa dan memilih untuk mengabaikannya. Dia hanya tak ingin Keenan terus memandangi Dara, tapi tak berminat untuk menemaninya.