
Di sebuah ruang praktek poli kandungan, Dara duduk di kursi yang bersebrangan dengan sang dokter, memandangnya gamang. Mendengarkan setiap detail penjelasannya.
Kedua tangannya saling mengepal cemas. Dengan pikiran yang melanglang jauh ke depan. Dara datang dan melakukan pemeriksaan tanpa sepengetahuan Nathan. Seperti biasa, hanya dengan mbak Asih yang akan setia untuk tutup mulut karena Dara memintanya untuk tak mengatakan apapun pada Nathan.
"Saya menyarankan agar ibu Dara di rawat beberapa hari agar dapat terpantau kondisinya dengan baik" Ucap dokter kandungan tersebut, seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan. Dia adalah dokter yang selalu menangani Dara.
"Jika ada opsi lain, saya akan memilihnya dok. Minum obat tiap jam pun saya sanggup. Asal jangan di rawat" Dara mengiba.
"Opsi lain pasti ada, rawat jalan dengan rutin meminum obat yang saya resepkan untuk kondisi yang ibu Dara alami. Saya hanya memberi saran, pilihan tetap ada di tangan ibu"
Dara mengangguk dengan cepat "saya yakin dengan pilihan saya dok. Cukup rawat jalan saja"
"Baik kalau begitu, kalau sekiranya ada kondisi darurat, jangan segan-segan untuk segera datang kesini. Mau menghubungi lewat nomor pribadi saya juga silahkan"
"Terimakasih banyak dokter" Ucap Dara dengan senyum ramahnya.
Sebuah kondisi yang di alami Dara cukup serius, hingga harus mendapatkan perawatan yang tepat agar dapat menyelamatkan bayi dan dirinya.
Nathan belum mengetahui apapun tentang ini, karena Dara memang sengaja ingin menyimpannya sendiri. Dia tidak ingin terlalu membebani pikiran suaminya yang sudah sangat baik padanya belakangan ini.
Usai mendapat resep yang dituliskan dokter, ia langsung keluar dari ruangan dan menebus obat-obatannya. Di iringi dengan mbak Asih yang raut wajahnya nampak sangat khawatir.
Dia curiga, majikannya menyimpan sesuatu. Tapi tentu ia tak serta merta berani menanyakan semuanya. Mbak Asih sadar akan posisinya.
Mereka pulang dari rumah sakit menggunakan taksi. Dan sepanjang perjalanan tampak sesekali Dara memijit-mijit dahinya yang terasa pusing. Pandangan matanya seringkali kabur beberapa menit, dan akan berangsur membaik setelahnya.
Ada perasaan gundah di hatinya, meski kemungkinan untuk selamat cukup besar, namun di samping itu ada kemungkinan buruk yang tak kalah mengerikan.
Dara belum pernah mendengar tentang kasus kelainan yang dialaminya sekarang. Walau berusaha sekuat tenaga memberi afirmasi positif pada pikirannya, namun tetap saja perasaan takut terus menggelayuti nya. Wajar, memang. Karena biar bagaimanapun ia adalah seorang wanita.
...***...
"Selamat datang" Ucap Dara menyambut Nathan yang baru saja tiba di apartment. Ia membukakan pintu, dan tersenyum manis pada sang suami yang terlihat lelah, sambil membawa tas gitarnya.
"Apa ini surga?" Kata Nathan. Sementara Dara memandangnya penuh tanya.
"Apa?"
"Pintunya di bukakan oleh bidadari"
Dara tersipu, dengan kedua pipinya yang memerah.
"Apa sih" Ujar Dara sambil berbalik arah berniat meninggalkan Nathan yang masih berdiri di depan pintu.
Pria itu terkekeh melihat ekspresi istrinya yang jelas nampak malu. Ia segera lari menyusul, dan menangkap tubuhnya bagai seekor macan menangkap rusa.
"Lepaskan" Dara pura-pura memberontak meski dia tahu, Nathan takkan mau mendengarkannya.
"Nggak. Aku akan memakanmu setelah ini"
"Silahkan, mungkin kamu akan keracunan setelahnya"
Mereka berdua tertawa bersamaan. Lalu Nathan membalikkan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang yang masih nampak ramping meski perut membesar itu.
"Istriku yang cantik ini sedang apa?"
"Menunggumu pulang"
"Sekarang aku sudah pulang. Apa yang akan kita lakukan?" Kedua bola mata cokelat indah itu memandang Dara penuh cinta.
"Uhm, permisi mas Nathan, non Dara.." Ucap mbak Asih yang tiba-tiba datang, berdiri di belakang Dara.
Nathan melepaskan kedua tangannya dari Dara dan memusatkan pandangannya sang asisten yang nampak sudah bersiap untuk pulang karena hari sudah malam.
"Karena mas Nathan sudah disini, saya izin pulang ya mas.."
"Oh, iya silahkan mbak. Makasih ya"
"Sama-sama, mari non Dara, mas Nathan" Ucap mbak Asih sambil berlalu dari hadapan majikannya.
"Eh, mbak tunggu sebentar. Hampir saya lupa" Nathan merogoh saku blazer yang digunakannya. Menggenggam beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya pada mbak Asih. Sedangkan asisten itu memandang ragu.
"Apa ini mas?"
"Untuk uang saku anak-anak mbak" Nathan dapat menangkap tatapan berbinar dari mata mbak Asih.
"Nggak perlu mas, gaji yang mas Nathan berikan sudah sangat cukup"
"Itu kan untuk mbak Asih, ini saya berikan untuk anak-anak"
Mbak Asih menerima lembaran uang kertas merah itu dengan sungkan.
"Terimakasih banyak mas Nathan. Semoga rezekinya di tambah dan makin berkah" Ucap Mbak Asih.
"Sama-sama mbak" Senyum ramah tercetak jelas di wajah Nathan.
"Kalau begitu saya pamit ya mas, non.." Pamit mbak Asih sambil sedikit membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sedang diselimuti kemesraan.
Dara memandangi Nathan yang berjiwa dermawan dengan kagum. Dibalik penampilannya yang terkesan berantakan dan garang dihiasi tattoo, ternyata pria ini berhati lembut juga. Bukan hanya padanya, namun juga pada orang-orang di sekitar nya.
Dalam hal ini, Nathan sungguh telah membuat Dara makin jatuh cinta.
"Hei.. Lihat apa?" Ucap Nathan yang seketika menggubris lamunan Dara. Sementara sang istri langsung salah tingkah karena kepergok sedang memandanginya.
"Kamu ngeliatin aku kan? Kenapa? Jatuh cinta ya?" Cecar Nathan. Ia menyadari gelagat Dara yang grogi, dan akan sangat menyenangkan jika ia terus menggodanya.
"Nggak kok. Udah ah, aku mau duduk. Capek berdiri terus" Dara berjalan duluan dan cepat-cepat menduduki sofa, kemudian di susul oleh Nathan yang menempatkan diri di sebelahnya sambil merentangkan sebelah tangannya di belakang Dara.
"Mengaku aja sayang. Kamu pasti terpesona denganku kan?" Goda Nathan untuk yang kesekian kali.
"Ya Tuhan, kenapa engkau kirimkan cowok kepedean ini untukku?" Balas Dara sambil berakting dengan mengangkat kedua tangan bagai sedang berdo'a.
"Dan kenapa engkau mengirimkan cewek yang cantiknya melebihi bidadari ini untuk diriku yang tak sempurna ini ya Tuhan?"
Dara memukul manja bahu Nathan di sampingnya dengan wajah yang makin merah. Dan pria itu tergelak begitu keras melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan.
"Sudah stop! Kerjamu dari tadi hanya menggodaku terus"
"Oke, Oke, Oke. Maaf, ya? Habis kamu gemesin sih" Nathan mengecup kening Dara sembari merangkulnya. Dan wanita itu juga memeluk tubuh suaminya untuk menumpahkan rasa rindu karena telah ditinggal seharian.
"Aku rindu Nath.."
"Rindu apa? Mau main lagi?"
Dara mendongakkan kepalanya berusaha memandang wajah Nathan saat mendengar kalimatnya barusan.
"Main apa?"
Nathan tak menjawab, hanya mengerlingkan mata dengan genit pada Dara.
"Ish.. Pikiranmu itu!"
"Ha.. Ha.. Ha.." Nathan tak dapat menahan rasa menggelitik dalam dirinya ketika melihat ekspresi Dara.
"Aku juga rinduu sekali padamu, dan si kecil ini. Gimana kondisimu sekarang? Apa masih sering pusing?"
"Sudah lebih baik" Sahut Dara singkat.
Dara kembali membenamkan tubuhnya dalam pelukan Nathan. Merasakan setiap hembusan napas pria itu, dan wangi parfum yang menempel di bajunya.
"Maaf ya, akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Kamu tau, kami akan segera merilis single dan mempersiapkan album baru. Juga ada konser yang akan di selenggarakan di tiga kota sekaligus. Tapi kalau untuk itu, aku nggak yakin bisa ikut"
"Kenapa nggak yakin?"
"Kamu sebentar lagi akan melahirkan. Mana mungkin aku bisa meninggalkanmu?"
"Memangnya kapan konsernya?"
"Sekitar awal bulan depan"
"Oh.." Tanggap Dara, ia nampak berpikir. "Itu masih bisa Nath, ikut saja. Masih ada dua sampai tiga minggu lagi kok"
"Lihat nanti saja sayang. Kalau memungkinkan aku ikut, kalau nggak ya aku akan tinggal"
Dara menanggapi dengan segaris senyum.
"Ra, aku tau kamu pasti bosan. Mau jalan-jalan nggak?"
"Hmm.. Jalan-jalan?"
"Iya. Sudah lama juga kita nggak jalan berdua. Terakhir waktu ke Bali" Nathan sedikit terkenang momen itu, saat kali pertama mereka berlibur bersama.
"Tapi kemarin kamu kan sudah mengajakku ke Bandung. Nonton konser" Ujar Dara.
Nathan mengulas senyum. "Itu kan urusan pekerjaan sayang. Beda dong"
"Boleh Nath.. Kamu mau kemana?"
"Harusnya aku yang tanya, kamu mau kemana?"
Dara diam sembari berpikir. Ada suatu tempat dimana memiliki wahana yang sangat ingin ia naiki.
"Ada sih.. Satu yang terpikir olehku"
"Apa itu?" Tanya Nathan pemasaran.
"Aku ingin naik Kincir angin raksasa"
Nathan mengernyitkan dahi, mencoba meraba tempat apa yang dimaksud Dara.
"Kincir angin?" Ulangnya.
"Iya. Yang ada di dunia fantasi"
"Oh itu. Kamu kepingin naik itu?"
Dara mengangguk yakin.
"Hi.. Hi.. Kayak anak kecil" Goda Nathan.
"Semenjak tinggal di Jakarta, aku ingin sekali naik itu. Tapi belum kesampaian. Karena kamu tanya aku ingin kemana, tiba-tiba jadi teringat"
"Oke.." Nathan membenarkan posisi duduknya. "Jadi, kita ke dunia fantasi, naik kincir angin"
"Iya!" Dara terlihat begitu antusias dan bersemangat.