
"Nath.." Panggil Dara pada sang suami yang baru saja tiba dan langsung masuk ke dalam kamar dengan langkah berat, membuat wanita itu sedikit terkejut.
Nathan tak sedikitpun menggubris panggilan Dara padanya, ia hanya ingin melakukan apa yang hendak dilakukannya. Tubuhnya masih terasa lengket akibat perbuatan yang dilakukannya bersama Monica semalam.
Dara tentu tidak mengetahui apa yang telah terjadi dengan suaminya. Rasa penasaran langsung menyelimuti nya. Ia menghentikan sejenak kegiatan beres-beres kamar dan menghampiri Nathan yang hendak masuk ke kamar mandi.
"Nath, kamu kemana saja semalaman? Kok nggak kasih kabar ke aku?" Tanya Dara penuh perhatian.
"Aku ada pekerjaan" Sahut Nathan datar.
"Pekerjaan? Lalu kamu tidur dimana?"
"Dirumah temanku"
"Temanmu? Siapa? Apa aku mengenalnya?"
Nathan berbalik dan menatap lekat-lekat wajah Dara di hadapannya.
"Aku baru saja pulang. Tolong nggak usah banyak tanya aku kemana, dengan siapa, cukup lakukan saja apa yang menjadi tugasmu. Sekarang kamu lagi beres-beres kan? Silahkan dilanjutkan. Aku mau mandi"
"Tapi aku mengkhawatirkanmu"
Pria itu mendengus kesal dengan rengekan Dara yang dirasa sangat tidak tepat waktu.
"Aku nggak kenapa-kenapa, kamu lihat kan?" Sahut Nathan dengan nada bicara ketusnya.
Dara hanya termenung menerima satu per satu setiap kata dan intonasi yang keluar dari bibir suaminya. Dia mulai merasa Nathan kembali seperti Nathan yang dulu. Pria yang cuek, ketus tak memedulikan perasaannya sama sekali.
Sembari mengamati tampilan sang suami yang sedikit berantakan, dalam hati Dara menduga bahwa Nathan tak serta merta berkata jujur padanya. Pekerjaan apa yang dilakukan seorang gitaris band semalaman suntuk?
"Kenapa kamu menatapku begitu?" Gubris Nathan yang membuat Dara sedikit terperanjat.
"Nggak.. Nggak apa-apa.." Jawab Dara gelagapan. "Aku akan siapkan sarapan untukmu" Sambungnya.
"Aku sudah sarapan. Setelah mandi aku ingin istirahat, nanti sore ada schedule manggung. Tolong jangan menggangguku ya" Perintah Nathan yang diucapkan dalam satu tarikan nafas.
"Iya.. Istirahatlah.." Sahut Dara lemas.
Setelah cukup puas menginterogasi Nathan ia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar, berjalan gontai menuju ruang dapur. Hari masih pagi, dan moodnya sudah cukup berantakan karena sikap Nathan yang mudah sekali berubah.
Dara meneguk segelas air di tangannya secara perlahan sesampainya di dapur, menikmati alirannya yang membasahi rongga mulut, dan memberi kesegaran dalam kerongkongannya. Hal ini cukup membuatnya rileks.
Sembari menetralisir emosi negatif di dalam hatinya dengan menarik dan mengeluarkan nafas teratur.
"Hahh..." Hembusan nafas keluar dengan halus dari mulutnya. Kini, ia mulai merasa lebih baik ketimbang tadi.
Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. Hal yang cukup penting baginya. Cepat-cepat ia melihat kalender di buffet ruang keluarga, matanya mengedar memperhatikan tiap angka dalam kalender tersebut. Beberapa detik kemudian Dara menyadari bahwa kurang dari dua minggu lagi Nathan akan berulang tahun.
...***...
Sejak hari itu, intensitas pertemuan Nathan dan Monica jadi lebih sering. Ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktu bersama wanita itu ketimbang Dara. Istri yang sudah jelas sah secara agama dan negara selalu diabaikannya demi cinta lamanya yang kembali bersemi.
Sebenarnya, Nathan pun merasakan perbedaan antara hubungannya bersama Monica yang dulu dengan sekarang. Bukan ia tak lagi mencintainya, atau mungkin berkurang perasaan itu. Tapi selalu saja seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Ia bersumpah bukan Dara penyebabnya, karena sampai saat ini dia belum juga merasa mencintainya. Tapi jika dipikir ulang, apalagi yang memberi sumbangsih akan rasa yang berbeda ini kalau bukan karena Dara? Mengingat beberapa waktu lalu, ia mulai merasa tertarik untuk lebih dekat dengan istrinya itu?
"Hei.." Panggil Monica menggubris lamunan Nathan. Saat ini, mereka tengah makan malam bersama di sebuah resto mewah di bilangan Jakarta.
"Melamun aja, mikirin siapa sih?"
"Ehm.. Nggak.. Aku.. Nggak mikirin siapa-siapa" Bantah Nathan. Ia menyembunyikan rasa gugupnya dengan pura-pura meneguk segelas wine di depannya.
"Mikirin Dara?" Tembak Monica.
"Ah? Nggak lah.. Mmm.. Aku cuma lagi mengingat-ingat aja, besok ada jadwal apa. Takut kelupaan" Nathan berkilah sebisanya.
"Makananmu juga masih utuh, kamu cuma memainkan sendok dan garpu nya aja daritadi. Sepertinya kamu sedang nggak berselera ya?"
"Nanti aku pijitin ya dirumah"
"Umm.. Iya, tapi.. Aku nggak bisa menginap dulu ya, sudah beberapa hari kan aku selalu tidur di rumahmu"
"Kenapa?"
"Ya.. Aku juga perlu pulang ke apartment, nggak enak juga dilihat bi Nah.. Kita kan belum menikah" Ujar Nathan mencari-cari alasan yang mungkin bisa diterima Monica.
"Kenapa nggak langsung bilang aja sih kalau kamu memikirkan Dara?"
Nathan diam tanpa menanggapi sepatah katapun. Apa yang diucapkan Monica ada benarnya, bahwa ia memang sedikit mengkhawatirkan Dara yang sendirian di apartment. Wanita itu, dengan segala kelemahannya, dia pasti merasa tak nyaman jika harus melewati malam tanpa ada satupun yang menemani disana.
"Sayang. Aku bisa menginap lagi nanti, lagipula ada juga beberapa pekerjaan yang harus aku kerjakan di apartment. Tolong mengerti ya?" Pinta Nathan sambil menggenggam kedua tangan kekasihnya tersebut. Bagai mengharap belas kasih darinya agar di ampuni.
"Yasudahlah, lagipula aku juga perlu mengerti bahwa sekarang posisiku sebagai satu-satunya milikmu sudah tergeser oleh wanita lain.."
"Sst.. Jangan bicara begitu. Kamu tetap yang pertama"
"Kalau nanti kamu menikahiku tapi tetap masih mempertahankan Dara, aku akan jadi yang kedua dong Nath!" Protes Monica sambil merengut. "Kecuali kamu menceraikannya" Lanjutnya.
"Apa? Cerai?"
"Iya.. Jujur aja, aku juga nggak mau jadi yang kedua"
"Tapi.. Apa bisa?" Tanya Nathan ragu.
"Ya bisa.. Kenapa nggak?"
"Maksudku.." Ucap Nathan ragu. Tampak jelas dari mimik wajahnya, ia sedang memikirkan sesuatu.
"Apa? Kamu nggak tega? Atau kamu diam-diam sudah mulai mencintainya?"
"Sudah berapa kali ku bilang kalau aku nggak mencintainya sama sekali" Bantah Nathan. Pria itu bimbang dengan perasaannya sendiri, sungguh pernyataan yang sangat berbeda dengan kenyataan.
"Kalau nggak cinta mestinya nggak perlu ragu begitu dong.." Monica nampak belum puas.
"Nanti akan ku pikirkan lagi. Sekarang lanjut makan lagi ya"
"Nggak! Aku sudah nggak selera" Ucap Monica sambil menyentakkan pisau makan dan garpu di atas piringnya, menyuarakan protesnya pada Nathan. Sementara pria itu hanya melongo memperhatikan apa yang dilakukan kekasihnya.
"Aku pulang duluan" Ucapnya lagi. Kali ini Monica langsung beranjak dari kursi, dari gerakannya nampak jelas ia ingin pergi meninggalkan Nathan yang wajahnya dipenuhi kebimbangan itu.
"Lho.. Mon kamu mau kemana?" Reflek Nathan langsung meraih lengan Monica sesegera mungkin. Berusaha mencegah wanita itu pergi.
"Lepasin Nath!" Perintah Monica yang nyatanya tak digubris Nathan. Dia menyentak-nyentakkan lengannya agar genggaman Nathan dapat terlepas, namun sayang tentu tenaga wanita akan kalah dari seorang pria bertubuh cukup kekar seperti Nathan.
"Bukan begini cara menyelesaikan masalah"
"Aku sudah muak melihat wajahmu yang seakan tidak terlalu tertarik berada disini bersamaku. Kamu selesaikan dulu perang batinmu sendiri, baru setelah itu temui aku lagi. Sekarang lepaskan tanganku, atau aku akan buat keributan disini" Ucap Monica penuh emosi.
Mengingat Monica adalah wanita yang berobsesi serta memiliki sifat nekat di atas rata-rata, ia mungkin saja bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan. Nathan tak ingin suasana restoran yang tenang dan damai ini dibuat rusuh oleh Monica.
Atau jika tiba-tiba ada wartawan dadakan dan papparazi yang diam-diam merekam kejadian ini. Bisa-bisa berita ini akan langsung masuk acara infotainment dan menyebar luas di media sosial dengan judul "PERTENGKARAN HEBAT SANG GITARIS DAN KEKASIHNYA DI RESTO MEWAH TADI MALAM"
"Lepas!" Hardik Monica.
Nathan tak punya pilihan selain menuruti perintah wanitanya. Ia melepaskan genggamannya dan membiarkan Monica pergi menjauh darinya, menyudahi makan malam yang awalnya romantis itu.
Monica melangkahkan kakinya cepat-cepat tanpa sekalipun menoleh pada Nathan. Meninggalkan resto lalu segera menyetop taksi untuk ditumpanginya. Ia memang tak membawa mobil sendiri karena tadi Nathan yang menjemputnya dirumah.
Sementara Nathan hanya pasrah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sambil menyangga sikunya di atas meja. Makanan yang dipesannya sudah tak menggugah seleranya lagi. Ia hanya ingin meratapi apa yang terjadi malam ini.
Dia masih dan amat sangat mencintai Monica, tapi kenapa nama Dara bagai enggan menyingkir dari otaknya bahkan sepanjang ia menghabiskan waktu bersama Monica? Hal ini sungguh membuat pikirannya semrawut. Dalam hati dia menyalahkan Dara, dan kehadirannya yang tak diinginkan di tengah-tengah dirinya dan Monica.
Nathan akan membenci Dara, dan bersumpah akan mengabaikannya seperti awal pertemuannya dulu.