
Tak butuh waktu lama bagi Nathan dan Dara menempuh perjalanan menuju rumah ibu. Mobil jeep yang berbodi besar itu terparkir di halaman rumah sederhana tersebut. Sesampainya disana, Dara langsung membuka pintu mobil dan berlari, masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Nathan yang masih berada di belakang kemudi.
Saking terburu-burunya, ia hampir saja menubruk Rangga sang adik yang sedang membawa segelas air minum untuk ibu di kamar. Usai memohon maaf pada Rangga atas sikap grusa grusu nya, Dara langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar.
Disana ia menyaksikan sang ibu yang tengah terbaring lemah di ranjang. Dengan selimut yang menutupi setengah bagian tubuhnya. Ibu nampak pucat, bibirnya kering dan wajahnya tampak lebih kurus daripada yang terakhir kali dilihatnya.
"Ibu.. Dara datang.." Ucapnya lembut.
"Dara.. Nak.. Akhirnya.."
Ibu berusaha untuk bangkit, dan duduk agar bisa dengan mudah mendekap tubuh putrinya yang sudah lima bulan tak mengunjunginya. Dara membalas dekapan ibu sepenuh hati, sembari mengusap punggung ibu dengan lembut.
"Ibu rindu sekali denganmu nak.."
"Dara juga rindu ibu. Maaf Dara baru bisa datang sekarang" Lirih Dara dalam pelukan.
Nathan mematung di ambang pintu kamar ibu, menyaksikan pertemuan ibu dan anak di depan matanya. Pada saat itu ia mulai menyadari, bahwa apa yang dilakukannya sungguh tak berperasaan.
Dia juga adalah seorang anak yang mencintai ibunya. Jika ada yang melarang dirinya untuk menemui orang yang bahkan rela menukar hidup untuknya, dia pasti akan sangat menentang larangan tersebut.
Bagaimana bisa selama lima bulan ini dirinya begitu egois, tak mengizinkan Dara bertemu dengan ibunya hanya karena takut orang-orang menyadari keberadaan wanita itu di apartmentnya, dan berpotensi menyebabkan menyebarluasnya tentang kabar pernikahan itu ke awak media?
Sang ibu mertua yang sangat menghargai privasi menantunya bahkan tak ingin sembarang datang ke apartment tanpa izin si empunya terlebih dahulu. Membuat Nathan jadi merasa bersalah atas perbuatannya.
Karena rasa rindu yang besar cukup membuat ibu jatuh sakit, setelah ini ia berjanji takkan lagi melarang Dara untuk mengunjungi ibunya. Ia akan memberi izin kapanpun sang istri berniat datang kesini. Meski tetap harus berhati-hati agar kabar pernikahannya jangan dulu terbongkar.
"Nak Nathan.." Panggilan ibu ke arah pria itu membuyarkan lamunannya. Ia segera menghampiri ibu disana.
"Bu.." Ucap Nathan sembari mencium punggung tangan ibu.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya ibu dengan suara yang lemah.
"Aku baik. Ibu, apa sudah berobat?"
"Sudah nak. Baru kemarin"
"Itu sudah yang kedua kali.." Selak Rangga yang juga berada di dalam kamar. "Sudah hampir dua minggu ibu sakit kak.. Darah tingginya kambuh" Lanjutnya.
"Dua minggu? Kenapa kamu baru kabarin kakak tadi?"
"Ibu yang minta nak. Kamu sedang fokus dengan peran barumu sebagai seorang istri. Ibu tidak mau mengganggu waktumu dan Nathan. Lagipula, disini kan juga ada Rangga dan Lisa"
"Bu.. Nggak bisa begitu dong" Dara menatap nanar wajah ibunya yang tampak lesu. "Ibu harus kabarin ke aku apapun yang terjadi pada diri ibu. Hanya ibu orang tua yang Dara punya. Ibu sangat penting untuk Dara" Lanjutnya.
"Ibu mengerti. Tapi.. setelah menikah, baktimu sudah berpindah, ibu bukan lagi jadi kewajibanmu. Suamimu lah yang sekarang jadi prioritasmu.. Dia yang berhak atas dirimu. Kamu boleh mengunjungi dan membantu ibu, asalkan semua sudah atas persetujuan suamimu"
Mendengar kalimat ibu barusan membuat hati Nathan terasa nyeri. Ibu adalah sosok mertua yang sangat bijaksana, se rindu apapun dengan putrinya, ia tetap menomorsatukan menantunya agar terlebih dahulu di utamakan oleh putrinya ketimbang dia yang bahkan telah bertaruh nyawa melahirkan dan merawatnya berpuluh tahun.
Nathan merasakan kasih sayang yang tulus dari ibu, ia jadi teringat akan bunda yang juga belum ditemuinya lagi beberapa minggu. Ketimbang dengan anaknya, Nathan lebih bisa menerima ibunya, dan mulai menyayangi sang ibu mertua sama halnya seperti dia menyayangi bunda.
"Nak Nathan, hari ini apa tidak masuk kerja?" Tanya ibu, usai saling beradu pendapat dengan Dara.
"Ehm.. Nggak bu. Aku cuti"
Ibu menjawab dengan anggukan dan senyuman ramahnya.
"Rangga.. Buatkan minuman untuk kakakmu nak.."
"Nggak usah.. Biar nanti Dara yang buat sendiri" Sanggah Dara.
"Dara.. Kamu belum ada cerita. Apa belum ada tanda-tanda?" Tanya ibu membuka obrolan kembali.
"Tanda-tanda?" Tanya Dara bingung. Ibu mengarahkan tangannya ke bagian perut Dara, dan mengusapnya.
"Cucu ibu.."
Dara terbelalak. Ia tak menyangka hal itu yang ditanyakan ibunya ketika akhirnya mereka bertemu. Ia tak tahu apakah harus jujur atau berbohong mengenai rumah tangganya yang bagai sedang bermain-main.
"Umh.. Belum bu"
"Tidak apa-apa.. Mungkin kalian disuruh untuk menikmati masa-masa berdua dulu sama Tuhan. Karena, kalian kan tidak lama saling mengenal, lalu langsung menikah. Puas-puasin berduaan ya.." Ucap ibu dengan nada menyemangati.
Dara tersenyum tipis menanggapi ucapan ibu. Padahal, jika ibu tahu kebenarannya, bisa jadi dia takkan mempercayainya. Bahwa hingga saat ini, dirinya masih 'perawan'.
.
.
.
Dara beserta Nathan keluar dari kamar demi agar ibu mendapatkan lagi istirahatnya. Sebelum meninggalkan ibu, mereka dapat melihat dengan jelas bahwa kondisi kesehatan ibu nampak berangsur membaik. Terlihat dari raut wajahnya yang mulai cerah.
Nathan merasa sedikit lega, dengan keputusannya mengizinkan Dara mengunjungi ibu, dapat sedikit menjadi obat yang takkan bisa dibeli darimana pun untuk mertuanya.
Dara mempersilahkan Nathan untuk duduk di sofa ruang tamu, sementara ia hendak membuatkan minuman. Dari luar terdengar suara dua orang remaja perempuan sedang ribut-ribut. Hal itu, sedikit menyita perhatian mereka.
"Assalamu'alaikum.. Kak.." Ucap Lisa yang baru saja pulang dari sekolah. Ia menggandeng satu orang teman bersamanya. Sepertinya tadi adalah suara mereka berdua. Entah sedang meributkan apa.
"Waalaikumsalam.." Sahut Dara.
"Kak.. Ini.. Ada yang mau ketemu sama kak Nathan" Ucap Lisa pada Nathan yang tengah duduk santai di sofa.
"Ketemu Nathan?" Tanya Dara keheranan.
"Hai kak Nathan. Kenalin, aku Amelia.. Biasa dipanggil Amel" Ucap Amel sembari menyodorkan tangannya pada Nathan. Pria itu menyambutnya dengan hangat.
"Aku nggak nyangka bisa ketemu kak Nathan disini. Aku penggemar berat band kakak. Terkhusus kak Nathan. Aku ngefans banget!"
Nathan kedatangan salah satu penggemarnya di sana. Satu hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
"Iya.. Terimakasih ya untuk dukungannya"
"Aku baru tahu, kalau kak Nathan ini, suaminya kak Dara. Kenapa pernikahan kalian nggak diberitakan? Dan lagi, kayaknya waktu itu kak Nathan pacaran sama DJ Monic ya? Kenapa tiba-tiba malah jadi suami kakaknya sahabatku?"
"Apa sih.." Balas Amel.
"Nggak usah banyak kepo.." Bisik Lisa lagi.
"ehm.. Ceritanya panjang Amelia" Jawab Nathan.
"Oh.. He..he.. Gitu ya kak.." Ucap Amel menya-menye. Lisa gusar dan menepuk keningnya sendiri.
"Oh iya, aku minta foto bareng dong kak. Ini akan jadi kabar paling sensasional! Bertemu dengan idola di rumah sahabatku" Ujar Amel heboh sendiri.
"Kayak judul sinetron aja" Gerutu Lisa dengan isyarat mata yang jengkel.
"Boleh.." Nathan beranjak dari posisi duduknya agar dapat lebih dekat berfoto dengan Amel yang begitu antusias saat bertemu dengannya.
Lisa membantu mengambil gambar mereka dengan ponsel Amel, sementara Dara, masih tercengang dengan apa yang disaksikannya. Suaminya punya penggemar? Jadi, dia memang benar-benar seorang bintang? Bukan pengamen seperti dugaannya.
Dia jadi sedikit teringat dengan moment waktu itu. Ketika dirinya mencari tahu soal siapa bunda lewat karyawan rumah makan miliknya. Lalu seseorang dari mereka berkata bahwa putra dari bu Erina adalah "seorang anak band". Jadi inikah yang di maksud "anak band"? Nathan lah putra bu Erina yang seorang anak band terkenal.
"Wooaah.. Bagus banget! Makasih yaa Sa, cocok kamu jadi fotografer" Ujar Amel kegirangan saat melihat hasil foto yang di ambil Lisa untuknya.
"Sebenarnya dari awal aku memang menduga, kalau kak Nathan itu artis. Karena wajah kakak terasa familiar. Ternyata benar. Selama ini aku nggak sadar" Ucap Lisa. Mendengar hal itu, Nathan merasa berbangga diri.
"Kak Dara beruntung banget! Eh, kak Nathan sering-sering dong kesini, biar aku bisa ketemu. Atau.. Boleh nggak kalau aku main-main ke apartment kakak? Boleh yaa kak.. Boleh dong.." Ucap Amel sedikit memaksa.
"Apaan sih Mel.. Udah yuk ah, kita kan mau belajar bareng. Permisi ya kak.. Aku ke kamar dulu sama Amel. Kita banyak tugas nih" Pamit Lisa sambil menarik satu tangan Amel.
"Iih.. Lisa.. Sebentar lagi kenapa sih" Protes Amel. Ia membuat pertahanan dengan menekan kuat-kuat kakinya di lantai.
"Oh iya, Mel.. Boleh aku bicara sebentar denganmu?" Panggil Nathan.
"Hahh? Apaa?? Kak Nathan mau bicara sama aku? Berdua?!" Teriak Amel histeris.
"Iya.. Kemari sebentar" Nathan berjalan duluan keluar rumah, disusul Amel yang sekuat tenaga melepaskan genggaman Lisa padanya.
"Ada apa nih kak? Aduuh.. Aku grogi banget!"
"Emm.. Mel.. Tolong kamu jangan bilang ke siapa-siapa soal ini ya?" Ucap Nathan.
"Eh, soal apa kak?"
"Tentang kamu bertemu aku disini. Dan fakta bahwa aku telah menikah dengan kakak dari sahabatmu"
"Lho.. Kenapa gitu kak? Kenapa harus di rahasiakan?" Tanya Amel penasaran.
"Ya.. Kemungkinan hanya sementara saja. Ada beberapa pertimbangannya. Tapi maaf aku nggak bisa bilang" Jawab Nathan.
Amel terdiam, masih belum dapat mencerna dengan baik alasan Nathan.
"Ehm.. Begini, aku akan memberimu hadiah, jika kamu bisa jaga rahasia ini"
"Hadiah? Kakak berusaha menyogokku?" Tebak Amel.
"Bukan.. Bukan menyogok. Kan aku bilang tadi hadiah.. Mmm.. Kamu mau apa?"
Amel termenung sekian detik memikirkan apa yang akan dimintanya dari Nathan. Ia harus meminta hal yang paling bagus. Sementara Nathan berdo'a dalam hati agar permintaan dari gadis itu bukanlah hal yang aneh-aneh. Ia terpaksa 'memberi hadiah', agar Amel mau menutup mulutnya tentang kebenaran yang baru saja diketahuinya.
"Oh ya! Black romance sedang membuat album baru kan? Aku mau satu CD albumnya yang di tanda tangani oleh semua personil! Tanpa terkecuali.. Oke?" Usul Amel.
Nathan bernafas lega. Ternyata hanya CD album yang dimintanya. Itu sangatlah mudah untuk dikabulkan. Dasar anak kecil, pikirnya.
"Noted! Aku akan langsung memberimu CD itu setelah albumnya rampung ya.. Juga tanda tangan dari aku dan teman-teman. Itu sangat mudah" Jawab Nathan.
"Aahh.. Terimakasih kaakk..!!" Ucap Amel sembari memeluk Nathan sembarangan. Pria itu kaget setengah mati.
"Hei.. Main peluk-peluk aja! Suami orang tuh!" Protes Lisa yang menghampiri mereka berdua karena rasa penasarannya.
"Ayoo Mel.. Jaga sikapmu dong! Malu-maluin ih" Lisa menarik paksa tubuh Amel yang tak mau melepas Nathan dari pelukannya. Gadis itu meronta, namun tenaga Lisa jauh lebih kuat.
"Bye kak.. Kapan-kapan ngobrol lagi yaa" Ucap Amel pada Nathan yang nampak shock. Gadis itu diseret oleh sahabatnya sampai masuk ke kamar, agar mereka dapat segera mengerjakan tugas sekolah yang mesti di selesaikan.
"Fuhhh..." Hembusan nafas berat keluar dari mulut Nathan. Ia kembali masuk ke dalam rumah, dan terkejut ketika melihat Dara yang masih belum berpindah tempat sedari tadi. Ia masih berdiri di samping sofa, tatapannya seperti harimau yang hendak menerkam musuh di depannya. Nathan bertanya-tanya, apa dia cemburu?
"Kenapa?" Tanya Nathan.
"Habis kamu apain anak itu?" Dara menyilangkan kedua lengan di depan dadanya.
"Nggak di apa-apain. Ya ampun.. Please.. Aku bukan pedofil. Dia itu anak dibawah umur. Bukan seleraku. Jangan mikir yang bukan-bukan!" Sanggah Nathan.
"Oke, lupakan. Jadi.. Kamu benar-benar terkenal ya?" Ucap Dara.
"Hah.. Pertanyaan macam apa itu?"
"Ya karena aku memang nggak mengenalmu sebelum dikenalkan oleh bunda Nath. Makanya aku heran, saat melihat Amel segitu histeris nya saat melihatmu ada disini"
"Ck.. Kalau kamu ingin tahu siapa aku, cari tahulah dari media sosial! Kamu ini memang ketinggalan jaman ya" Protes Nathan.
Dara sedikit tergelitik dengan gelagat Nathan yang nampak gusar. Meskipun selama ini dia begitu ketus dan acuh dalam memperlakukannya, tapi sepertinya nampak juga sikap menggemaskannya. Ia mulai tertantang untuk bisa menaklukan pria itu dengan mencari tahu titik kelemahannya.
"Sudahlah.. Aku mau pulang. Kalau kamu masih ingin berlama-lama disini nggak apa-apa. Tapi aku harus kembali, masih banyak pekerjaanku yang menunggu"
"Iya Nath. Kamu pulanglah.. Aku bisa pulang sendiri nanti. Terimakasih ya sudah mau mengantarku kesini, dan bersedia menjenguk ibu" Ucap Dara ramah.
"Sama-sama.. Titip salam untuk ibu" Nathan berbalik hendak melangkahkan kaki keluar dari rumah.
"Nath!" Panggil Dara. Pria itu menghentikan langkahnya. Dan menoleh ke sumber suara yang memanggilnya barusan.
"Hati-hati di jalan" Pesan Dara padanya.
Nathan menatap Dara tanpa bereaksi, ia juga tak menjawab sepatah katapun pesan sang istri. Beberapa detik kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya, keluar dari rumah dan masuk ke mobil.
Dara memperhatikan pria itu hingga menghilang dari pandangannya sembari tersenyum tipis. Batinnya yakin, suatu saat dia pasti akan bisa mendapatkan hati Nathan seutuhnya. Tinggal tunggu waktunya saja.