An Angel From Her

An Angel From Her
Epilog



"Nenek pasti akan sangat merindukan Angie, setiap waktu, setiap hari," Ucap Ibu sambil mendekap dengan erat tubuh Angie.


Kami sudah sampai di bandara, bunda mengajak ibu turut serta mengantar ku dan Angie. Dapat terlihat dengan jelas pendar kesedihan yang bermain di kedua mata ibu, juga raut wajah kehilangan seperti waktu itu, saat Dara pergi untuk selamanya.


Aku sangat memahami perasaan orang tua kami, pasti berat rasanya kembali melepas orang-orang yang di sayangi.


"Jangan lupa untuk selalu menelepon oma dan nenek ya Angie sayang.." Tambah bunda yang ikut bersimpuh di sebelah ibu menghadap Angie yang berdiri di depannya.


"I'm gonna miss you nenek, oma.." Balas Angie kemudian.


Bunda berdiri, lalu juga memelukku.


"Jaga dirimu baik-baik ya Nak. Bunda titip Angie, rawat dia sepenuh hati," Ucap bunda lirih.


"Aku pasti akan merawat Angie sebaik mungkin bunda. Jangan khawatir ya"


Bunda melepas pelukannya dan menggenggam kedua tanganku. Ia memandang wajahku sambil mengulas senyum. Entah senyum bahagia, atau justru sebaliknya.


"Sudah waktunya kalian berangkat. Ayo, bersiaplah," Ucap bunda sambil menggapai salah satu koper dan memberikannya padaku. Tapi sebelum itu, aku menyempatkan diri untuk berpamitan pada ibu. Mencium punggung tangannya, lalu memeluknya singkat.


"Hati-hati di jalan ya nak Nathan. Ibu juga titip Angie," Kata ibu kemudian.


"Terimakasih bu, untuk semuanya. Ibu sehat-sehat ya, aku pamit."


Angie menghambur ke arahku, sambil menyeret koper kecil miliknya. Dia dengan segala tingkah menggemaskan berkata bahwa dirinya sudah cukup besar untuk memiliki koper sendiri. Dan ia juga berjanji untuk membawanya tanpa merepotkan ku.


Kami berbalik arah, meninggalkan ibu dan bunda yang berdiri sambil melambaikan tangan. Nampak ibu menangis, seiring dengan makin jauhnya langkah kami. Tapi bunda terlihat menenangkan, dengan merangkul bahunya. Mereka benar-benar besan yang kompak.


Usai melewati semua proses check-in dan boarding, akhirnya kami masuk ke pesawat dan menempati kabin first class yang nampak luas dan nyaman serupa dengan yang ku pesan kemarin, saat kami datang ke tanah air.


Angie duduk dengan manis di sebelahku sebab seat belt nya sudah terpasang dengan baik. Dia menempati kursi di samping kaca jendela, Angie selalu suka memandangi hamparan awan-awan cantik dan langit yang biru ketika hari sedang cerah.


Dan tak berselang lama kemudian, pesawat yang kami tumpangi bersiap untuk take off. Aku memandang langit Jakarta siang hari itu, sekali lagi berpamitan juga berterima kasih padanya atas sejuta kenangan manis.


Aku, bersama Angie terbang, di atas awan, tinggi, dan lebih tinggi, seolah ingin menggapai langit ke tujuh.


NATHAN POV END


...***...


Satu minggu kemudian..


Nathan kembali ke rutinitas hariannya usai menghabiskan waktu selama dua bulan di tanah kelahirannya, bersama Angel. Kini, ia mulai sibuk mengurus semuanya lagi, toko, studio, dan putri semata wayangnya.


Siang itu, studio musiknya tengah kedatangan pengunjung sekumpulan anak muda yang menyewa ruangan tersebut selama dua jam. Nathan baru selesai merapikan dan mengecek beberapa peralatan di sana, memastikan semua baik dan bisa dipergunakan.


Ketika melihat sekumpulan anak lelaki itu, ingatan nya lantas melayang ke masa lalu. Saat ia masih aktif berkontribusi di dalam band yang telah melambungkan namanya. Band yang telah memberikan ketenaran untuknya.


Ia kemudian memahat senyum sambil berlalu.


"Yes love? What's up?"


"There's someone coming Dad!" Raut wajah gadis kecil itu terlihat serius.


"Oh. Where is she?," Tanya Nathan sembari membelai puncak kepala putrinya.


Angel memberi isyarat dengan tangannya yang menunjuk ke bagian depan dimana pada bagian itulah inti dari tokonya, dengan banyak alat musik yang tersedia. Sementara ruang studio berada di bagian belakang dari keseluruhan bangunan.


"It must be our customer. Thank you love," Nathan beranjak lalu bergegas menghampiri tamu yang di tunjuk Angel barusan. Ia tidak ingin membuat pengunjung nya menunggu terlalu lama, sebisa mungkin, Nathan selalu memberi pelayanan terbaik bagi siapa saja yang datang. Entah hanya untuk melihat-lihat, atau membeli sesuatu di sana.


Sesampainya ia di depan, Nathan mendapati seorang wanita yang tengah berdiri membelakangi nya sembari melihat-lihat alat musik yang terpajang. Nathan mengulas senyum, dan bersiap untuk menyapa wanita tersebut dengan keramahannya.


"Uhm.. Welcome miss, may i help you?," Ucap Nathan lembut.


Wanita itu berbalik ke arahnya, menciptakan serangan jantung mendadak bagi Nathan yang menatap nya tak percaya. Dia tersenyum, dengan sepasang lesung pipi yang tercetak jelas di wajahnya.


"Yes please. My name is Michelle, can you help me to find the violin bow? Because i accidentally broke it" Ucap wanita itu dengan suara yang syahdu.


Nathan tercenung dengan bibirnya yang sedikit terbuka sebab pemandangan di depannya amat mengejutkan. Lidahnya kelu, tangannya mengalami tremor, serta laju degup jantung yang meningkat drastis.


Wanita di depannya tak henti tersenyum, memamerkan visual wajah yang mempesona. Tapi daripada itu, Nathan lebih tercengang dengan keseluruhan proporsi wajahnya yang sangat sama persis dengan Dara.


Ia mendekat padanya sambil terus menatap wanita tersebut bahkan hampir tanpa mengedipkan mata. Memastikan indera penglihatannya tak lagi berhalusinasi.


Tubuhnya nampak nyata, kakinya benar-benar menapak ke dataran, di sekelilingnya juga tak terdapat sinar yang cemerlang. Dia juga tidak menghilang secara misterius seperti waktu itu. Dan lagi, Angel juga bisa melihatnya sebab dia yang menunjukkan wanita itu kepadanya, jadi dapat di pastikan, dia benar-benar seorang manusia.


Nathan mendekat sekali lagi, kali ini menggapai sebelah tangan wanita itu. Ia menggenggamnya tanpa izin sebab terlalu larut dalam kebahagiaan ketika menyadari sosok Dara kembali hadir di depan matanya.


"Apa kamu.." Nathan menghentikan kalimatnya, dadanya terasa sesak. "Dara?" Lanjutnya dengan suara yang bergetar.


Wanita itu memandang Nathan keheranan, tapi tetap mempertahankan senyumnya. Dia bahkan tak menjawab pertanyaan Nathan barusan.


"Dara.." Lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Dia, wanita yang sangat dicintainya, ibu dari malaikat kecil yang pergi empat tahun lalu akibat kecerobohannya, kini hadir tepat di depan nya seolah tahu bahwa ia selalu berharap suatu saat raganya akan kembali padanya, ke pelukannya dalam wujud apapun. Seekor burung, kupu-kupu atau kucing, atau angin sekalipun.


Tapi kini, Dara benar-benar nyata ada di hadapannya, berdiri dalam bentuk manusia sempurna. Nathan tidak peduli apakah dia salah satu dari tujuh kembaran yang Dara miliki, yang mungkin saja datang dari negeri antah berantah, atau reinkarnasi. Yang jelas, Nathan sangat bahagia, meski sekilas sempat mendengar wanita itu menyebut nama Michelle, bukan Dara.


Tapi bagi Nathan, dia benar-benar Dara, belahan jiwanya yang membawakan malaikat paling berharga dan tak ternilai untuk nya. Cinta sejatinya. Selamanya.


...-The End-...




Visual Nathan dari seorang gitaris idola ๐Ÿ–ค๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹