
Sekira pukul 23:00 WIB, dimana ketika sebagian orang sudah damai dibuai mimpi dan mengistirahatkan raga di atas tempat tidur. Sebagian lainnya justru baru memulai aktifitas mereka.
Ya, Monica yang malam ini tengah menjalankan job nya sebagai seorang disc jockey dengan segenap tenaga yang dimiliki terus memutar musik kencang sembari mengiringi kawula muda yang asyik berjoget ria disana.
Lampu bercahaya remang menyoroti dirinya ketika seseorang meneriakkan namanya. Yang lain juga ikut meng-elu-elukannya karena Monica memang dikenal sebagai DJ yang handal dan piawai memilih, meracik serta memodifikasi musik request dari para pendengar. Senyum kebanggaan merekah di bibir seksi Monica yang dilapisi lipstick berwarna nude.
Secara garis besar, bidang yang di tekuni Monica dan Nathan memang sama. Dari sanalah mereka mendapat chemistry, hingga akhirnya menjalani hubungan hingga saat ini, terhitung sejak tiga tahun yang lalu.
"Kak Monic, boleh minta foto bareng gak?" Ujar seseorang menghampiri Monica ketika ia mengambil break sejenak.
"Boleh dong" Jawab Monica ramah.
Se tipe dengan kekasihnya, Monica memang selalu bersikap ramah jika ada salah satu penggemarnya yang sekedar minta foto bersama.
"Aku boleh minta foto bareng juga gak kak Monica Jessy Maharani?" Ujar seseorang yang suaranya terdengar sangat tidak asing dari arah belakangnya.
"Ah.. Honey" Ucap Monica. Sang kekasih yang ternyata datang menghampiri lalu menggodanya. Itu memang salah satu kebiasaan Nathan, gemar membuat Monica tersipu.
"Hihihi.. Boleh kan?" Goda Nathan.
"Kalau kamu, bukan hanya boleh foto bareng. Tapi juga boleh memiliki aku selamanya" Monica tak mau kalah gombal.
"Sudah pintar gombal ya. Siapa sih yang ngajarin?" Nathan melingkarkan lengannya di pinggang Monica, membuat tubuh mereka saling menempel.
"Kamu dong" Ucap Monica sembari menggesek-gesekkan hidungnya ke hidung Nathan. Dan tentu saja, kembali berakhir dengan kecupan hangat yang mendarat di bibir satu sama lain.
"Eh, ini kak Nathan ya?" Sebut seorang pemuda yang menyadari keberadaan sang gitaris paling hits disana. Nathan melepas pelukannya pada Monica.
"Masa sih?" Ujar Nathan kepada mereka yang sedang menerka-nerka. Saat itu, memang Nathan sengaja mengenakan topi dan sweater hoodie yang bagian atas nya menutupi sebagian kepalanya. Membuat beberapa orang tidak menyadari kehadirannya disana.
"Iya ini kak Nathan. Gitaris nya black romance kan?" Ucap pemuda itu lagi. Monica terkekeh melihat ekspresi bingung si pemuda tersebut.
"Iya bener ini. Gue baru tau lho Nathan ini pacaran sama kak DJ Monic" Rekan disebelahnya ikut menyuarakan tentang kebenaran 'Nathan atau bukan?'
"Hahaha.. Kemana aja kalian" Ucap Nathan sembari menutup sedikit mulutnya.
"Beneran gue baru tau kak. Tapi kalian berdua cocok sih, cowoknya jago main gitar, ceweknya jago modif musik" Puji salah satu pemuda itu yang membuat pasangan ini merasa jumawa.
"Thank you" Ucap Monica.
"Langgeng yah kak" Ujar salah satu dari pemuda itu seraya berjalan meninggalkan Nathan juga Monica yang sebentar lagi akan melanjutkan perform nya.
"Honey, aku lanjut lagi ya" Ucap Monica sambil dengan mesra meletakkan kedua telapak tangannya di atas bahu Nathan.
"Ya honey. Semangat! Aku menunggumu disini"
"Okey, I love you"
"Love you too" Jawab Nathan.
Ia kemudian menuju bar untuk memesan minuman lagi sambil mencari kursi kosong agar bisa di dudukinya sembari menyaksikan performa dari gadis yang dicintainya.
***
Rasa kantuk membuat kepala bunda yang tengah duduk di kursi terangguk-angguk beberapa kali. Disampingnya, ada Dara yang masih bertahan duduk dengan tegap berusaha untuk tetap tegar meski matanya sembab.
Proses operasi sang ibu telah selesai sejak sore menjelang maghrib tadi. Namun karena ibu harus masuk ruang ICU, dirinya masih belum diperbolehkan menjenguk. Ya, setidaknya hingga 12 jam kedepan menurut keterangan dokter.
Gadis itu termenung, memikirkan apakah ibu nya akan selamat? Apa akan ada kesempatan untuk berjumpa lagi dengannya?. Tatapannya terus saja mengarah ke pintu depan ruang ICU, disanalah ia duduk disebuah kursi besi panjang menunggu izin dari dokter agar bisa menemui sang ibu.
Bunda melirik jam tangannya untuk mengecek sudah pukul berapa saat ini. Ia menoleh pada gadis yang sedang melamun dengan pandangan kosong disebelahnya. Telapak tangannya menyentuh dengan lembut punggung tangan Dara, mengacau lamunan Dara yang tak berkesudahan.
"Dara, kita pulang dulu yuk, sudah larut malam ini. Besok kita kesini lagi, mudah-mudahan sudah boleh menjenguk ibu" Ajak bunda.
"Memangnya jam berapa bunda?"
"Jam 01:00 nak"
Dara diam. Kembali termenung.
"Dara?" Gubris bunda menghalau Dara agar tak lagi melamun.
"Bunda pulang duluan saja. Biar Dara tunggu ibu disini" Ucap Dara dengan suara yang serak. Dara memang sudah kelelahan, namun rasa khawatir pada ibu nya mengalahkan semua rasa yang ada pada tubuhnya. Dalam sekejap, ia merasa kebal akan segalanya.
"Tapi Dara, kalau kamu disini nanti mau istirahat dimana? Kamu juga harus jaga kesehatan diri kamu. Jangan sampai nanti ibu sehat, malah kamu yang drop. Pikirkan juga adik-adikmu, bunda yakin, ibu akan segera pulih. Beliau hanya perlu istirahat total saja. Ya nak ya? Kita pulang dulu?" Bunda kembali bernegosiasi dengan Dara yang masih tetap 'kekeh' dengan pendiriannya.
"Terimakasih banyak bunda sudah sangat perhatian dan membantu Dara menghadapi musibah ini, tapi sudah cukup. Bunda bisa pulang malam ini , Dara akan disini. Dara baru akan pulang kalau ibu juga pulang" Ucap Dara dengan tegas namun sopan menolak ajakan bunda yang sedikit memaksanya.
Bunda merasa berat jika harus meninggalkan Dara sendirian di rumah sakit pada malam yang dingin ini. Namun ia juga tidak bisa memaksa gadis itu lebih banyak lagi, pun dengan tubuhnya yang sudah terasa begitu lelah.
"Ya sudah kalau kamu masih mau disini, bunda pulang ya Dara. Besok bunda akan kesini lagi" Tutur bunda yang pada akhirnya menyerah.
"Iya nak. Baik-baik disini, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi bunda ya" Pamit bunda. Dara mengangguk perlahan, senyum tipis tersungging di bibir nya.
Bunda berjalan agak cepat di sepanjang koridor rumah sakit menuju lift, meninggalkan Dara yang masih berdiri mematung disana. Gadis itu kemudian mendekat ke arah pintu ruang ICU yang terdapat kaca tembus pandang pada bagian yang sejajar dengan kepala.
Ia melihat dari kejauhan sang ibu yang terbujur lemah dengan kepala yang di perban, selang oksigen, infus dan selang lainnya. Disebelahnya terdapat monitor pemantau detak jantung yang menunjukkan garis-garis bergelombang tengah berjalan.
Hatinya begitu teriris menyaksikan orang yang dicintainya harus melalui hal sesakit ini. Ia menintikkan air matanya lagi untuk yang kesekian kali.
"Ibu.. Kuat ya.. Ibu pasti sembuh. Semangat" Gumamnya bagai sedang menyemangati ibu.
***
"Hooaahh..." Monica yang baru saja sampai dirumah langsung merebahkan tubuh nya pada sofa empuk di area ruang keluarga. Tubuhnya terasa begitu lelah hingga ia merasa enggan beranjak lagi dari sana.
Nathan yang saat itu mengantarnya pulang juga ikut membaur dengannya. Tangannya merogoh kantong sweater hoodie nya dan menggenggam selinting rokok yang hendak dibakar. Monica melirik tanpa memindahkan tubuhnya se senti pun.
"Nath.. Kamu masih 'make'?" Tanya Monica dengan nada interogasi.
"Rokok biasa kok honey" Bantah Nathan sembari menghirup masuk asap rokoknya.
"Kamu fikir aku bocah kemarin sore apa" Protes Monica.
"Hehe.. Sekali sekali aja honey, lagi pusing" Ujar Nathan membela diri.
"Kamu gak takut tertangkap lagi apa? Haduuh.." Monica meraih botol jack daniels di depannya dan meminumnya langsung tanpa menuang ke gelas terlebih dahulu.
"Gak akan lah honey"
"Huh.. Yakin sekali kamu"
"Yakin dong. Asal kamu tutup mulut, aku gak akan ditangkap siapa-siapa" Jawab Nathan santai.
"Ini cuma buat ngilangin pusing honey. Kamu tau, kegiatan bandku melelahkan banget. Bayangin, akhir pekan ada konser, trus di minggu ini juga ada rekaman. Belum latihan-latihannya hampir tiap hari. Kalau gak pakai dopping, aku gak yakin bakal kuat" Sambung Nathan.
"Iyaa, aku ngerti sih. Cuma, aku takut aja kamu di tangkap lagi. Aku gak mau pisah sama kamu honey. Selepas ini, aku akan jarang ke Singapore lagi. Jadi, kita akan lebih banyak waktu bersama" Jelas Monica seraya memeluk Nathan dari arah samping.
"Aku akan selalu bersamamu sayang. Percayalah" Nathan mengecup kening Monica dengan mesra.
"Kamu mau? Aku ada banyak" Tanya Nathan menawarkan rokok yang berisi ganja tersebut.
"Nggak ah. Aku sih udah tobat" Tolak Monica seraya melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Nathan.
"Haha.. Tobat apanya. Masih minum jack daniels kamu bilang tobat?" Nathan terkekeh mendengar ucapan Monica barusan. Wajahnya memerah.
"Huhh.." Monica yang kesal karena ejekan Nathan langsung beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan hendak menuju kamarnya di lantai dua.
"Lho honey kamu mau kemana?" Panggil Nathan.
"Mau tidur. Aku capek" Jawabnya tanpa menolehkan kepala.
Nathan terus merengek meminta Monica untuk di temani 'memakai' barang haram yang dia bawa. Namun Monica tetap bersikeras pada pendiriannya dan tidak ingin menurutinya.
Nathan sekuat tenaga memaksa, karena memang ia telah menyiapkan semua barang dan bahannya agar bisa dinikmati bersama. Tapi kembali gagal, kemauan sang kekasih tak dapat lagi ia ganggu gugat sedikitpun.
Monica menyelesaikan langkahnya dalam menaiki anak tangga menuju lantai dua, meninggalkan Nathan yang masih di lantai satu. Ia sudah menyerah karena tak berhasil merayu Monica. Nampaknya gadis itu telah benar-benar bertobat dari barang haram yang sempat membawanya ke pusat rehabilitasi beberapa tahun lalu.
Pada saat itu, Monica ikut terlibat dalam penangkapan Nathan dkk, karena terbukti ditemukannya sabu dan alat hisap di rumah nya ketika polisi menggerebek kediamannya. Serupa dengan sang kekasih, Monica juga ditebus oleh kakaknya lalu dibawa terbang ke Singapore untuk menjalani masa rehabilitasi disana.
Semua itu bertujuan agar sang kakak dapat dengan mudah memantau perkembangan adik satu-satunya itu, karena ia juga tak bisa meninggalkan anak-anaknya disana jika harus sering bolak balik Jakarta-Singapore.
Beberapa bulan menjalani rehabilitasi, Monica berhasil keluar dari lingkaran setan dan berhenti total dari kecanduannya. Ia juga dapat menjalani kehidupannya dengan normal, hingga timbullah rasa penyesalan dihatinya karena pernah mengecewakan perasaan kakaknya yang selama ini sangat banyak berjasa dengan hidupnya.
Dari sana ia berjanji pada diri sendiri bahwa tidak akan menyentuh zat psikotropik itu lagi sampai kapanpun, meski banyak sekali godaan yang mesti dihadapinya. Termasuk godaan dari sang kekasih yang kembali kumat.
***
"Klotak.. Klotak.. Klotak.." Suara ketukan sepatu bunda memecah keheningan malam, ia telah sampai di apartment. Malam ini, tentu dirinya akan bermalam disana, karena tidak akan mungkin jika memaksakan diri pulang ke Bandung.
Selain itu, ia juga telah me-reschedule jadwal pertemuan dengan beberapa klien dan karyawannya, karena ia berencana untuk menemani Dara lagi pagi hari nanti. Hingga dirinya tiba di apartment, fikirannya masih saja melayang pada Dara. Ia merasa begitu iba atas kejadian yang menimpa gadis berhati baik itu.
Rasa lelah bagai mencambuki tubuh nya. Ia kemudian memutuskan untuk menyimpan memorinya tentang hari ini dan segelintir musibah di dalamnya, lalu menghampiri kamar tamu untuk ditempatinya. Ia membuka gagang pintu perlahan, namun terhenti sepersekian detik ketika matanya tertuju pada kamar putra bungsunya yang jaraknya berdekatan dengan kamar tamu.
"Nathan?" Panggil nya ketika akhirnya membuka pintu kamar Nathan yang kosong. Ia penasaran dan sedikit menggeledah kamar itu, ia juga melongok ke kamar mandi yang juga kosong.
"Kemana anak itu? Belum pulang atau.. Nggak pulang?" Gumamnya, seraya berjalan keluar dari kamar. Ia menuruni tangga menuju lantai satu lalu ke ruang studio yang juga tidak ditemukan jejak Nathan disana.
"Ck.. Ya ampun anak ini" Bunda mulai gusar dibuatnya. Ia lalu mengakhiri rasa penasarannya dan cepat-cepat mengistirahatkan tubuhnya yang mulai memberi sinyal kurang baik.
********