
"Honey, aku benar-benar nggak nyangka kalau akan jadi seperti ini. Kita berdua dijebak! Kamu masuk penjara, dan aku di sekap!" Ucap Monica membuat pengakuan tentang peristiwa yang menimpa mereka. Siang ini, ia baru menampakkan batang hidungnya setelah menghilang semalaman. Menjenguk Nathan yang mendekam di balik jeruji besi.
Mereka duduk saling bersebrangan di ruangan khusus untuk para kerabat yang menjenguk para tahanan. Nathan memandang wanita di depannya tanpa satu patah kata pun terucap. Mencoba menerka adakah pendar kebohongan yang bermain di matanya.
"Entah apa motif orang itu dan siapa dia. Punya dendam apa dia dengan kita sampai bisa-bisanya berbuat seperti ini" Lanjut Monica dengan nada gusar.
"Bagaimana kamu bisa tau aku disini?"
Monica menatap lekat-lekat wajah Nathan.
"Orang itu yang memberi tau. Dia melepasku begitu saja dan mengatakan kalau kamu ada disini. Tapi.. Sayangnya aku nggak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena dia menutupinya dengan sangat rapat"
Nathan mendengus kesal. Menyesali kebodohan dan ketidak berdayaannya dalam menghadapi situasi saat ini. Dan bukan tidak mungkin karirnya yang cemerlang akan redup dalam sekejap.
"Kita harus cari bukti kuat tentang jebakan ini dan siapa dalang di baliknya agar kamu bisa bebas Nath.."
"Kamu punya ide?"
Monica memutar bola matanya, isyarat sedang memikirkan sesuatu.
"Belum.." Ucapnya setelah berpikir beberapa detik. "Tapi aku akan berusaha. Yang paling maksimal!"
Nathan lagi-lagi tak menyahut. Dia terlalu kalut dalam penyesalan yang terlanjur menyerbu. Meski mendengarkan penjelasan Monica, namun entah kenapa ada setitik ketidak percayaan di hatinya. Terdengar seperti kebohongan yang di buat-buat dan sedikit tak masuk akal. Tapi apapun itu, Nathan tak punya kuasa untuk membuktikan kebenarannya saat ini.
"Honey.." Monica meraih tangan Nathan dan menariknya dalam genggaman. "Aku pasti akan bantu kamu, untuk bisa keluar dari sini. Percayalah!"
Nathan mengangguk lemah dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Dia terus memandangi wajah Monica yang nampak seperti sedang tidak ada beban. Kelegaan tergambar jelas dari raut wajahnya yang cerah. Detik itu, Nathan merasa semua ini adalah rekayasa seseorang yang mungkin memiliki dendam padanya. Entah Monica, atau yang lain.
...***...
Dara tertunduk lesu di sofa ruang keluarga. Duduk menyendiri dengan sebuah permasalahan yang terasa menghimpit dadanya. Bunda belum mengetahui apa yang sedang menimpa putra bungsu nya, pun dengan ibu yang memang lebih baik tidak mengetahui nya.
Sudah tak ada lagi jejak air mata yang mengaliri setiap lekuk wajahnya. Dara memikirkan sesuatu untuk mencari tahu bagaimana kronologi lengkap soal peristiwa tadi malam. Karena dia tak mendapat banyak info ketika menyambangi kantor polisi. Beberapa detik kemudian, otaknya mencetuskan ide untuk menemui kawan-kawan Nathan di basecamp.
Berbekal alamat yang di sebutkan Regy lewat telepon, Dara berhasil sampai di tempat tujuannya.
"Kita semua juga kaget waktu dapat kabar tentang Nathan. Siangnya kita memang ada ngisi acara, selesai sore si Nathan memang langsung pamit duluan. Nggak tau kemana tujuannya. Aku pikir dia pulang" Ucap Regy.
Dara duduk bersebelahan dengan manager itu, sementara yang lainnya menempati sofa bersebrangan dengannya. Mereka berlima saling bertukar informasi di ruang tamu.
"Apa mas Mike tau sesuatu? Semalam kan mas yang pertama mengabari Dara" Tanya Dara pada Mike yang masih diam.
"Mmm.. Semalam, ya. Nathan memang sempat ada sedikit cerita ke aku"
"Nathan datang ke suatu tempat.."
"Hotel?" Tembak Dara.
Mike berusaha menyampaikan informasi se-hati-hati mungkin agar Dara tidak terlalu shock dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Karena awal mula peristiwa ini adalah dari Nathan yang hendak bertemu Monica di sebuah hotel. Istri mana yang bisa masa bodoh saat mendengar kabar suaminya pergi ke hotel bersama wanita lain.
Namun nyata nya Dara justru sudah menyimpan memori tentang apa yang polisi itu katakan tadi malam. Soal penggerebekan Nathan di sebuah hotel. Dia mengingatnya dengan baik, hingga Mike tak mampu lagi menutupinya.
"Ya.. Dia.. Ke hotel" Jawab Mike ragu. "Saat baru masuk ke kamar tujuan, dia merasakan pukulan tepat di tengkuknya. Membuat tubuhnya ambruk dan tidak sadarkan diri. Lalu ketika akhirnya dia sadar, sudah banyak polisi di depannya. Salah satunya bahkan menodongkan senjata" Mike menjeda kalimatnya sejenak.
"Saat itu, di sekelilingnya entah bagaimana sudah banyak sabu dan juga alat-alatnya. Namun disana dia hanya seorang diri, makanya polisi langsung menetapkan Nathan sebagai tersangka" Tutup Mike.
"Tapi.. Sebenarnya ada urusan apa Nathan datang ke hotel itu? Apa dia.. Punya janji dengan seseorang?"
"Uhmm.." Mike berdeham pelan sebelum menjawab pertanyaan Dara yang membutuhkan kehati-hatian dalam kalimatnya.
"Kalau itu.. Nathan belum sempat menjelaskan Dara. Mmm.. Kalau menurutku, mungkin dia akan menemui kawan lamanya disana yang baru datang dari luar kota lalu dia salah masuk kamar atau.. Yaa.. Sejenis itu.. Walau aku, nggak tau pasti alasannya" Mike menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa gugup. Ia memaki dirinya sendiri karena tak bisa mempergunakan bahasa yang baik ketika menyampaikan kalimatnya barusan. Tapi, semoga Dara mempercayai ucapannya.
"Ya.. Mungkin. Bisa jadi begitu" Ucap Dara parau.
"Dara.. Kita yakin kalau Nathan benar-benar sudah tobat. Dulu, ya.. Nathan memang pernah tersandung kasus ini, yang mana pada awalnya kita lah yang mengenalkan dia dengan barang-barang itu. Sampai-sampai kita harus di rehab bersamaan" Ucap Regy mencoba menjelaskan beberapa bagian dari masa lalu buruk mereka.
"Tapi setelah itu, ya kita tobat. Termasuk Nathan. Paling sekarang kita cuma minum-minum aja nggak lebih. Jadi masuk akal kalau Nathan bilang sekarang dia di jebak" Sambung nya.
"Sekarang yang mungkin bisa kita lakukan adalah mencoba cari tau tentang kebenarannya. Kamu jangan khawatir Dara, kami pasti akan bantu" Ucap Mike berusaha menenangkan Dara yang raut wajahnya nampak muram.
"Kamu nggak sendiri, Dara" Adly menimbrung, diikuti anggukan dari Nico.
Dara tersenyum tipis, matanya berpindah menatap satu per satu empat orang pria di depannya. Mike yang memiliki lesung pipi mirip dengannya, tattoo nya juga sebelas duabelas dengan Nathan. Namun Mike lebih banyak, hampir memenuhi seluruh lengannya.
Adly si gondrong yang ramah. Serta Nico pria buaya yang pernah menggodanya, ditambah Regy pria berumur sekitar empat puluh-an dengan postur tubuh yang agak pendek itu. Mereka semua nampak kompak dan peduli dengan Nathan. Dara merasakan kehangatan dari persahabatan mereka yang tulus, bukan hanya sekadar teman satu group.
Meski sempat membawa Nathan ke jalan yang salah, tapi Dara yakin itu semua semata-mata karena kekhilafan sesaat mereka. Semua ada kurang dan lebih nya, memang kita tidak bisa hanya menilai kekurangan seseorang tanpa mempertimbangkan kelebihan yang ada. Semua sudah jadi satu kesatuan yang tak bisa dihindari.
Wajah-wajah tulus itu terpahat jelas dalam wajah mereka yang sedikit banyaknya dapat tersampaikan pada Dara.
"Makasih mas Regy, Mike, Adly dan Nico.. Semoga kita bisa segera menemukan kebenarannya ya"
Ke empat personil band itu mengangguk dalam waktu yang hampir bersamaan, membuat Dara takjub dengan kekompakan mereka. Dia sedikit bisa bernapas lega dan mulai yakin bahwa dalam kasus ini Nathan benar-benar tak bersalah. Tinggal menunggu waktu yang akan membuktikan semuanya dan menolong Nathan dari jeratan hukum yang mengikatnya.