An Angel From Her

An Angel From Her
110# Melahirkan



"Konser?" Dara mengingat-ingat tentang sebuah konser di tiga kota yang pernah di singgung oleh Nathan beberapa waktu lalu. Saat itu ia mengatakan bahwa kemungkinan besar takkan ikut serta, mengingat proses persalinannya akan berlangsung tidak lama lagi.


Namun sekarang, jelas-jelas Nathan tak akan menggenapkan ucapannya. Dia memutuskan untuk pergi, tanpa berdiskusi dengannya terlebih dahulu. Pria itu bahkan tak menyadari bahwa sang istri tengah mengalami kontraksi.


"Jadi, kamu akan ikut?."


"Ya. Lumayan untuk merefresh pikiran sejenak." Ucapnya dingin.


"Nath, tinggallah disini. M-mungkin aku akan membutuhkanmu. Aku janji, ini akan jadi yang terakhir aku meminta bantuanmu." Ucap Dara mengiba.


"Aku sudah meminta mbak Asih untuk menemani dan membantumu selama aku pergi. Lagipula sekarang aku harus bergegas, atau aku akan ketinggalan pesawat."


Dara menyambar sebelah lengan Nathan membuat pria itu menghentikan langkahnya.


"Aku mohon Nath. Tetap disini."


Dara membuang segenap harga dirinya dengan terus mengemis perhatian suaminya yang acuh. Mendengar nada bicaranya, Nathan merasa sedikit tersentuh. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tak tega mendengar permohonan itu.


Ingin rasanya ia melupakan semua kemarahan pada Dara, namun ingatan tentang kejadian kemarin terus saja berputar dalam memorinya. Menyulut api emosinya terus menerus hingga sulit untuk padam.


"Aku harus pergi." Nathan melepaskan genggaman tangan Dara, tanpa sedikitpun membalas tatapan penuh harap dari kedua mata istrinya. Ia melenggang keluar dari kamar sambil menyeret koper berisi pakaian yang dibawanya.


Pria itu pergi mengabaikan Dara yang begitu mengharapkannya. Tiba-tiba kontraksinya datang lagi, menekan perutnya hingga membuat Dara merasa kesulitan mengatur napas. Ia bersimpuh, sambil memegangi perutnya meringis kesakitan seorang diri.


"Aakkhh... Ahhnn.. Huuffh.. Huffh.. Sakit.. Sakit sekali.." Keringat mulai menjejak di dahinya, jemari lentik itu gemetar sebab merasakan sakit yang teramat sangat.


"Naatthh..!" Teriak Dara berharap suaminya masih ada di sana dan bisa membantu. Namun beberapa menit berlalu, tak ada tanda-tanda seseorang pun di apartment itu. Mbak Asih belum kembali, dan Nathan tampaknya juga sudah pergi.


Dara berjalan sempoyongan, hampir tak mampu mempergunakan kedua kakinya dengan benar. Sambil menjadikan tembok sebagai tumpuan, sedikit demi sedikit sampailah ia di lantai satu. Anak tangga terasa bagai sebuah tebing curam yang sedang ia telusuri. Amat sulit melaluinya dalam kondisi seperti sekarang.


Napasnya tersengal-sengal beriringan dengan kontraksi intens yang terus saja menekan perutnya. Dara yakin bayinya akan lahir sekarang juga. Entah dapat bertahan hingga tiba di rumah sakit, atau akan keluar di apartment.


"Naathh.. Hufh.. Hufh.. Nathaan.. Tolong.."


Darah bercampur air ketuban mengalir di sepanjang kakinya, Dara menyadari itu dan berusaha untuk tetap tenang. Sambil terus mengatur napas dengan baik dan mencoba mencari pertolongan.


Langkahnya menuju pintu utama, hanya berjarak beberapa langkah lagi namun Dara tak mampu menggapainya. Ia kehilangan keseimbangan, ambruk sebelum ia sempat meminta seseorang menolongnya.


Dara terkulai di lantai meringkuk tak berdaya. Sebelah tangannya melambai-lambai seakan berusaha untuk menggapai pintu yang masih tertutup rapat di depannya.


"Nath.." Ucapnya lemah. "Aku.. Aku mencintaimu."


Itu adalah kata terakhir Dara sebelum pandangannya kabur dan kehilangan kesadaran total. Darah yang keluar dari jalan lahir masih terus membanjiri kakinya, hingga membuat sekumpulan genangan di bawah tubuhnya yang tergeletak.


Nathan memang sangat mencintainya, hingga tidak mampu mempergunakan logika ketika hati dan ketenangannya di usik oleh rasa cemburu yang berlebihan.


Di sepanjang perjalanan, pikirannya tak bisa luput dari Dara. Ada rasa khawatir dalam hatinya karena belum sempat bertemu dengan mbak Asih untuk mengingatkannya sekali lagi tentang instruksi yang sudah disampaikannya kemarin.


Nathan berpesan pada sang asisten untuk menginap di apartment selama ia pergi, memantau secara berkala kondisi Dara dan segera membawanya ke rumah sakit jika ada tanda kegawatdaruratan yang terjadi. Namun sebelum berangkat tadi, ia tak melihat batang hidungnya di apartment. Entah sedang sibuk dengan pekerjaan atau memang ada urusan diluar.


Waktu yang mepet membuat ia tak punya lagi jeda untuk menunggu, Regy managernya juga tak henti menelepon berkali-kali. Nathan akhirnya memutuskan untuk bergegas pergi dan berencana menghubungi mbak Asih lewat telepon. Namun kini hatinya justru bimbang tak tenang, apalagi mbak Asih belum juga bisa dihubungi.


Ia menatap keluar jendela mobil, pemandangan kota Jakarta yang akan ditinggalkannya mengiringi perjalanan menuju bandara. Nathan termangu dengan setumpuk gelisah yang memenuhi pikirannya.


...***...


"Dara! Astaga. Ada apa ini?."


Bagai seorang pahlawan, Keenan datang ke apartment di saat yang tepat meski sedikit terlambat. Dara masih bisa diselamatkan walau keadaannya cukup memprihatinkan. Ia panik bukan kepalang ketika mendapati sang adik ipar tergeletak tak jauh dari pintu masuk.


Ia bersimpuh memeriksa kondisi Dara, masih ada harapan pikirnya karena napas nya nampak naik turun meski mengalami perlambatan.


"Nathaan!!" Teriaknya. Matanya mengedar mengamati keadaan sekitar yang nampak sepi.


"Nathaan! Mbak Asiih!" Teriaknya sekali lagi. "Ini pada kemana sih orang-orang?. Dara, kakak bantu kamu ya."


Keenan mengangkat tubuh Dara yang tak sadarkan diri lalu cepat-cepat membawanya pergi dari apartment. Saat pintu lift terbuka, di sanalah akhirnya ia bertemu mbak Asih. Sungguh kejutan yang mengerikan bagi sang asisten menyaksikan majikannya tak sadarkan diri dengan darah yang membasahi tubuhnya.


"Ya Allah.. Mas Keenan ini kenapa non Dara mas?" Mbak Asih shock, tubuhnya gemetar tak karuan.


Keenan masuk ke dalam lift dan buru-buru menekan tombolnya. Mengabaikan sementara pertanyaan mbak Asih.


"Mbak Asih darimana saja? Dara sendirian di apartment dengan keadaan seperti ini. Dia akan melahirkan!."


"Astagfirullah.. Tadi non Dara belum kenapa-kenapa mas. Saya baru saja mampir ke rumah karena dapat kabar anak saya sakit. Saya sudah izin tadi dengannya mas. Ya Allah non Dara.." Air mata histeris mengalir dari kedua matanya, mbak Asih benar-benar tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini.


Keenan menangkap informasi yang dijabarkan mbak Asih sembari menatap wajah Dara yang tak sadarkan diri dalam pelukannya. Sisa-sisa darah itu juga menempel di kemeja putih yang dikenakannya.


Keenan bersyukur, file dokumen miliknya yang tertinggal di lemari kamar tamu apartment justru jadi perantara baginya agar bisa mengetahui dan menyelamatkan Dara dari kondisi gawat darurat seperti saat ini. Karena pada awalnya ia sedikit ragu untuk datang ke sana, namun entah bagaimana mendadak muncul keyakinan yang tinggi untuk memilih tetap datang.


Dan beginilah yang terjadi selanjutnya, ia justru semakin memercayai kata hatinya. Tak terbayang seandainya tadi ia memilih untuk mengurungkan niat. Kemungkinan mengerikan bisa saja terjadi, dan ia tidak ingin membayangkannya sama sekali.


Mereka tiba di rumah sakit dengan cepat, Keenan mengendarai mobilnya hampir tak menginjak pedal rem. Kondisi Dara amat lemah, kehilangan banyak darah sejak di apartment. Dokter kandungannya memutuskan untuk segera melakukan operasi demi menyelamatkan keduanya. Ibu, dan bayi yang juga mulai melemah.