An Angel From Her

An Angel From Her
85# Press Conference



"Saya tegaskan disini, bahwa saya di jebak dan di fitnah. Dan sekarang saya dibebaskan dari semua tuduhan!" Tutur Nathan tegas dan lantang. Mengisi acara press conference yang di gelar sehari setelah kebebasannya.


Pria itu tampil lebih fresh dengan bulu janggutnya yang dibabat habis, serta rambut lebih pendek dari biasanya.


Suasana di ruangan aula tersebut nampak ramai di sesaki para pemburu berita. Berbagai macam dan jenis kamera terpasang tegak di tripodnya yang berjejer memenuhi baris paling depan, beserta kru dari media ternama.


Sebisa mungkin Nathan menjelaskan secara terang-terangan tentang peristiwa yang menimpanya tersebut. Berbekal kronologi yang di ceritakan Monica saat masih berada di rumah tahanan kemarin.


Tentu penjelasan Monica yang sampai padanya adalah sebuah karangan yang dirangkai untuk menutupi kejahatan yang tidak diketahui olehnya. Dan Erick, hanya di jadikan alat untuk mencuci tangan, demi membalas sakit hatinya pada Nathan.


Tak jauh dari Nathan, Erick pun masuk jebakan yang di buat Monica. Wanita itu diam-diam mengintai saat Erick melakukan transaksi jual-beli barang haram tersebut dengan pelanggannya, lalu merekam dan mengambil foto. Kemudian menyerahkan barang bukti tersebut ke polisi. Dengan maksud untuk menjebloskannya ke penjara, menggantikan Nathan yang di rasa sudah cukup mendekam disana selama dua bulan.


Monica mengetahui tentang Erick ketika dia terlibat baku hantam dengan Nathan di sebuah club malam waktu itu. Nathan yang berjanji akan datang tapi tak juga menampakkan batang hidung dirumah, memancingnya untuk mencari tahu keberadaannya.


Setelah tahu tempat apa yang tengah di sambangi kekasihnya tersebut, Monica bergegas datang kesana dan melihat dari kejauhan Nathan yang dalam kondisi mabuk memukuli Erick dengan beringas. Namun entah kenapa, Monica enggan datang dan melerainya. Dia hanya diam di tempatnya berdiri, di tengah kerumunan orang-orang yang ikut menyaksikan pergulatan dua orang pria tersebut.


Monica menyimpannya, lalu terbesit ide untuk bekerja sama dengan Erick. Hingga sampai dia tak membutuhkannya lagi, dan harus mengkhianatinya dengan menjebloskan pria itu ke penjara.


Semua fakta yang pasti sulit dipercaya, belum terkuak dan diketahui Nathan yang dengan polosnya mempercayai tanpa ada kecurigaan. Di matanya, Monica masih wanitanya yang dulu. Penuh cinta, keceriaan, dengan hatinya yang tulus. Tak ada dusta, apalagi kebencian.


Konferensi pers itu berlangsung kurang lebih satu jam, dihadiri oleh banyak sekali wartawan dari berbagai media yang meliput. Berita tentang tertangkapnya Nathan sungguh mencengangkan banyak orang, terutama para penggemar fanatiknya.


.


.


.


"Nath, thanks ya sekali lagi. Lo sudah berkenan hadir" Ucap Regy pada Nathan yang duduk di sebelahnya. Mereka baru saja meninggalkan aula tempat di selenggarakan nya acara konferensi pers tersebut.


Kali ini sang manager yang mengambil alih di belakang kemudi. Ia memacu kendaraan dengan kecepatan yang cenderung pelan, ingin menikmati perjalanan sembari berbincang bersama anak-anak asuhnya.


"Udah yang keberapa ini gy. Daritadi makasih makasih terus" Tanggap Nathan dengan tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan kota di sampingnya.


"Jadi ternyata si Erick ya biang keroknya. Itu orang, nggak kapok-kapok!" Ucap Mike menimbrung. Dia berada di kabin tengah bersama Adly juga Nico, duduk berjajar dengan rapi.


"Gue belum dengar cerita soal Erick. Kenapa sih memangnya?"


Regy menghela napas sebelum menjawab rasa ingin tahu Nathan.


"Dia mantan gitaris kita dulu Nath. Sebelum Nico ngajak lo gabung"


Nathan memasang telinga baik-baik, tapi Regy menggantung kalimatnya karena di depannya ada seorang pengendara motor yang berhenti mendadak. Membuatnya harus mendahulukan keselamatan mereka.


"Terus?"


"Sial!" Umpat Regy. Sambil menginjak pedal gas kembali. "Ya gitu.. Dia berkhianat. Diam-diam ngejual CD demo album kita ke orang lain buat kepentingan pribadi. Alasannya sih demi menyambung hidup keluarga nya. Karena memang dia adalah tulang punggung, ikut ngebantu nyokap menghidupi adik-adiknya. Tapi nggak bisa begitu juga lah, emang dipikirnya bikin lagu segitu banyaknya cuma sekedip mata aja! Tanpa pikir panjang gue kick dia dari black romance!" Sambungnya.


Nathan mencerna baik-baik cerita Regy yang nampak serius. Masa lalu group band yang belum di ketahui nya sama sekali.


"Waktu itu band kita emang sulit banget buat terkenal, nggak tau kenapa. Belum hoki aja kali, dan dia ngejual ke group yang udah populer. Lo tau Nath? Yang bikin nyeseknya setelah itu single yang kita bikin naik daun! Tapi di populerkan oleh orang lain"


"Kenapa nggak lo tuntut aja gy? Hak cipta itu kan, ada pasalnya lho"


"Halah.. Ribet Nath! Gue nggak ada waktu. Ngurus yang kayak begitu prosesnya panjang. Sedangkan di real life gue juga baru aja punya anak"


"Emang si Regy tuh orangnya gamau ribet!" Nico ikut menimbrung.


"Bukan gamau ribet Nic! Lo kan tau sendiri ceritanya gimana" Regy membela diri.


"Jadi, lo ngebiarin aja gitu?" Nathan berusaha mengembalikan topik pembicaraan, ia masih penasaran.


"Iya. Ikhlas ajalah. Tapi lihat apa yang sekarang gue, dan kita dapatkan? Jauh lebih di atas dari band yang dulu pernah populer bawain lagu kita malah" Nada bicara Regy terdengar amat bangga.


"Iya sih.."


"Erick itu sakit hati, udah pasti. Cuma lucunya kenapa malah jadi lari ke lo juga Nath. Nggak nyangka aja gue"


"Itu yang lagi gue pikirin gy. Agak aneh sih. Mungkin nggak kalau ada yang lain di belakang dia?" Timpal Mike.


"Maksudnya?" Nathan sedikit mendongakkan kepalanya ke belakang.


"Ada seseorang yang membenci lo dan ngomporin dia buat ngejebak. Kerjasama lah istilahnya. Ya coba lo pikir Nath, kan lo aja nggak kenal dia, masa iya tiba-tiba dia terpikir buat balas dendam ke lo" Sahut Mike.


"Tapi.. Siapa?" Nathan mengernyitkan dahi, mencoba memikirkan sesuatu. "Oh iya gue baru ingat. Gy, tentang kebakaran waktu itu yang kasusnya lo tutup karena nggak ada perkembangan!"


"Kenapa memangnya?" Sahut Regy sedikit menoleh ke arah Nathan.


"Itu Erick juga dalangnya!"


"Serius lo Nath?" Adly menyerobot.


"Dia ngaku sendiri di depan polisi. Niatnya memang mau nyelakain lo gy. Syukur-syukur lo mati waktu itu"


Regy berdecak kesal mendengar keterangan dari Nathan.


"Beneran udah gila itu orang" Gumam sang manager, ia bahkan hampir tidak sadar bahwa lampu lalu lintas di depannya sudah menyala merah. Kakinya menginjak rem mendadak yang membuat seluruh penumpang tersentak ke depan.


"Hati-hati gy!" Ucap Nathan tegas.


"Emosi gue Nath"


"Udahlah bang. Yang penting kebenaran udah terungkap, dan sekarang Erick juga membayar semua perbuatannya. Kesabaran lo selama ini berbuah manis!" Timpal Mike berbicara sambil meringis karena dahinya yang sempat terbentur jok di depannya.


"Bener si Mike. Chill dulu gy!" Sahut Nathan.


Kedua bahu Regy naik turun menahan amarah yang nampak jelas tersirat dari wajahnya yang merah padam.


"Gue itu jadi merasa bersalah juga sama lo Nath. Gara-gara masalah personal gue, malah lo jadi kena. Nggak tega juga kalau lihat Dara"


"Dara?" Nathan menegaskan nama yang disebut Regy barusan. Dia baru saja menyebut nama istrinya.


"Selama lo di kandangin, Dara cukup sering datang ke basecamp. Kadang-kadang minta ketemuan, untuk bantu dia nyari bukti buat ngeringanin hukuman lo. Malah gue denger-denger dia juga sampai nyari pengacara"


Nathan termenung sepanjang Regy menceritakan soal Dara yang tampak kehilangan arah ketika dirinya berada di rumah tahanan.


"Hati gue miris ketika tau kalau ternyata dia lagi hamil. Nath, kok lo nggak pernah cerita sih soal kehamilan Dara?" Regy memacu kembali kendaraannya ketika lampu lalu lintas menyala hijau. Sementara Nathan terlihat enggan menjawab.


Dia baru beberapa jam berhasil menyingkirkan nama Dara dari pikirannya, dan sekarang Regy malah mengingatkan kembali. Namun fakta lain juga di temukannya, mengetahui bahwa sebegitu penting kehadirannya untuk wanita itu. Bahkan mungkin sangat penting hingga mampu mempengaruhi perasaannya.