
Hampir dua minggu berlalu sejak kedatangan Nathan di villa yang membuatnya terasing dari kehidupan normalnya. Meski di sana dia selalu mendapat servis yang cukup memuaskan dari Monica, namun tetap saja selalu terasa ada yang kurang.
Menunggu dan menunggu kepastian dari Monica tentang keberangkatan mereka ke negeri sebrang sungguh sangat menjengkelkan. Karena jawaban yang selalu saja sama tiap kali ia mempertanyakannya.
Pagi ini, Nathan baru tersadar dari tidurnya ketika menyadari Monica tak berada di sebelahnya. Selama di sana, mereka memang telah tidur dalam satu ranjang. Meski nampak aneh, namun itu adalah hal yang normal bagi mereka.
Nathan terpikir untuk mencoba menghubungi Regy lagi demi memastikan apakah sang manajer telah menjalankan amanat yang di mandatkan padanya. Ia mulai menggerataki seluruh tempat dalam kamar, mencari dimana Monica mungkin menyembunyikan ponselnya. Meskipun hal itu sudah jadi upayanya yang ke seratus kali dan tak pernah membuahkan hasil.
Matanya tertuju pada sebuah hand bag warna beige milik Monica yang diletakkan di atas meja rias. Sebelum pagi ini, Nathan hampir tak pernah melihat tas itu di sana. Jadi tanpa membuang waktu yang mungkin saja akan sangat berharga, ia segera menggeledahnya, dengan membuka lebar-lebar ritsleting tas tersebut.
"Hahh.. Dimana dia sembunyikan ponsel itu?" Gumamnya. Nathan masih belum menemukan apa yang di carinya dalam tas.
Namun secarik kertas yang terlipat dan terselip dalam salah satu kantong sedikit menyita perhatiannya. Ia menarik keluar kertas itu dan membukanya segera. Matanya membaca dengan fokus tulisan yang tertera di sana, ternyata itu adalah hasil lab.
"Lho?" Nathan mengernyitkan dahinya lalu menggeledah kembali tas itu. Tak lama kemudian ia menemukan satu lembar kertas yang lainnya dari sana.
"Honey.. Apakah kamu sudah bangun?" Panggil Monica. Langkahnya terhenti di depan pintu kala melihat Nathan yang tengah memegang selembar kertas, dan tas nya yang terbuka.
"Apa ini?!" Tanya Nathan. Dari nada bicaranya, tersimpan kemarahan yang agaknya sebentar lagi akan dimulai.
"Ah.. Honey.. Kembalikan itu."
"Jelaskan padaku! Apa maksudnya ini?" Bentak Nathan murka.
"Apa sih honey? Aku nggak ngerti," Ucap Monica.
"Kenapa ada dua hasil lab dengan tanggal, jam, tempat dan hasil yang sama tapi memiliki nama yang berbeda?!"
Monica gelagapan. Pada akhirnya niat licik wanita itu terbongkar. Ia memalsukan hasil lab tentang kehamilannya dengan cara mengedit yang asli milik seorang temannya yang baru saja dinyatakan hamil. Mengganti nama Gita Camilla dengan nama dirinya.
Selepas mengetahui tentang pertunangan Nathan, Monica sungguh sangat frustasi dan hampir depresi. Ia memikirkan berbagai cara agar dapat merebut Nathan kembali ke pelukannya. Disaat yang bersamaan, Gita datang dan mengabarkan tentang kehamilannya.
Gita membawa serta bukti hasil pemeriksaan lab miliknya. Wanita itu bahkan juga tidak keberatan saat Monica meminta untuk menyimpannya, karena itu adalah kehamilan yang tak diinginkan. Jadi tidak ada yang spesial baginya. Dari sanalah akhirnya tercetus sebuah ide untuk mengelabui Nathan.
"A.. Ak-aku bisa jelaskan sayang."
"Ayo coba di jelaskan! Aku sangat ingin mendengar penjelasan darimu," Tantang Nathan.
"I.. Itu.. Itu salah satunya milik temanku. Kami memang melakukan pemeriksaan bersamaan"
"Lalu?"
"La.. Lalu.." Ucap Monica terbata-bata.
"Lalu kamu menipuku? Iya kan?!"
"Tidak sayang," Bantah Monica.
"Buktikan padaku jika benar kamu tidak berbohong!"
"Ya itu tadi sayang.. Kami melakukan pemeriksaan secara bersamaan."
"Yakin?"
"Iya.." Ucap Monica, ia tak berani menatap kedua mata Nathan yang dipenuhi amarah.
"Lalu bagaimana golongan darahmu bisa berubah?! Baca ini!" Umpat Nathan seraya melempar kertas itu dengan kasar ke arah Monica yang nampak gemetar.
Monica benar-benar telah diujung tanduk, ia tak dapat lagi mengelak ketika membaca rincian pemeriksaan secara detail. Di sana tertera bahwa golongan darah Gita adalah B sedangkan Monica memiliki golongan O. Nathan memang sangat mengetahui semua seluk beluk tentang Monica dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Mungkin salah ketik sayang."
"Cukup! Aku mengenalmu bukan baru kemarin sore Mon! Aku sangat tahu bagaimana gelagatmu ketika berbohong," Ucap Nathan.
"Cih.. Bodohnya aku, bisa-bisanya tertipu seperti ini!" Umpat Nathan sinis.
"Oke, oke aku mengaku. Aku benar-benar terpaksa melakukan ini Nath! Aku tidak punya pilihan," Ucap Monica.
"Sayang tolong jangan pergi. Aku.. Aku sudah mendapatkan paspor mu. Kita akan berangkat lusa. Ini, lihatlah!" Ucap Monica mengiba.
"Aku tidak sudi hidup dengan pembohong sepertimu!" Umpat Nathan sembari membereskan beberapa barang-barangnya.
"Kamu harus bertanggung jawab Nath!" Bentak Monica.
"Tanggung jawab apa? Tidak ada yang harus ku pertanggung jawabkan. Kamu tidak hamil. Dan bahkan, bukan aku laki-laki pertama yang meniduri mu. Tolong jangan lupa soal itu!" Hardik Nathan.
"Letakkan kembali tas itu atau kamu akan berakhir disini!" Ancam Monica. Ia kembali menodongkan senjata api pada Nathan, kali ini di belakang kepalanya.
Nathan menghentikan aktifitasnya, ia terdiam dan berusaha mencari cara agar dapat merebut senjata itu dari Monica.
"Nampaknya kamu sangat ingin memiliki hidupku ya," Ucap Nathan santai. Pria itu membalikkan badannya ke arah Monica, kini senjata tersebut tepat berada di tengah dahinya.
"Silahkan tarik pelatuknya. Dan akhiri lah nyawaku. Tapi, mungkin kamu tidak akan mendapatkan apa-apa selain hanya jadi buronan seumur hidupmu," Lanjut Nathan. Ia menatap kedua bola mata Monica, dari binar-binarnya, ia yakin Monica takkan sampai hati membunuhnya.
Nathan dapat melihat dengan jelas napas Monica yang terengah-engah, tanda dirinya tengah menahan emosi negatif sekuat tenaga.
"Dan jika kamu memutuskan untuk bunuh diri setelah menghabisi ku, arwahmu hanya akan jadi arwah penasaran yang sama sekali tidak berguna. Bayangkan, kehidupanmu sedari kecil tidak pernah merasa bahagia, lalu ketika mati pun kamu masih tidak bisa bahagia juga. Apa kamu tidak mengasihani dirimu sendiri?"
Ucapan Nathan bagai pisau yang menghujam dada dengan kejam. Seketika Monica melemah, senjata itu terlepas dari genggamannya dan langsung di ambil alih oleh Nathan.
"Kenapa.. Kenapa kamu menyinggung soal masa laluku?" Ucap Monica lirih.
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Nathan juga tak dapat berbohong. Ia juga ikut merasakan sakit serta kepedihan, bersamaan dengan keluarnya kalimat cacian barusan. Rasa cinta itu tak dapat dengan mudah terhapus darinya. Sekalipun saat ini ia sangat benci terhadap apa yang telah dilakukan Monica.
"Kamu tidak punya hati Nath!" Umpat Monica.
Nathan mengabaikan Monica, ia melangkahkan kaki secepat mungkin usai mengangkut semua barangnya ke dalam tas. Ia juga membawa serta senjata api yang dirampasnya dari Monica sekadar untuk mengancam para bodyguard yang tengah berjaga di depan gerbang villa.
"Kalau kamu keluar dari pintu itu, aku bersumpah. Kamu tidak akan pernah melihatku lagi!" Teriak Monica pada Nathan yang hendak membuka pintu utama.
Langkahnya terhenti, Nathan meresapi apa yang baru saja terucap dari mulut kekasihnya. Otaknya memaksa untuk menimbang keputusan yang harus diambilnya sekarang. Ia sungguh berada di posisi yang membingungkan.
Karena dengan kondisi saat ini, ancaman Monica pasti bukan hanya sekadar untuk menggertak nya. Tapi sebuah konsekuensi atas pilihan yang di ambilnya. Monica tersenyum puas melihat Nathan yang tak kunjung pergi, dirinya yakin pria itu akan mengurungkan niat untuk meninggalkannya.
"Baik. Aku akan memilihnya," Ucap Nathan tanpa menolehkan wajah, ia tak berani menatap lagi sosok Monica di belakangnya. Karena dirinya sadar takkan mampu melanjutkan keputusan jika harus menyaksikan wajah wanita yang masih sangat dicintainya itu.
"Aku akan keluar dari pintu ini. Selamat tinggal," Lanjutnya lirih. Ia membuka pintu, dan langsung menghambur keluar dari villa tersebut. Meninggalkan Monica yang tertegun sepersekian detik.
"Kamu jahat Nathan!! Benar-benar jahaatt..!! Aku benci denganmu!! Aaaakkhhh...!!" Teriak Monica histeris sembari menjambaki rambutnya sendiri dan membanting beberapa hiasan yang terletak pada bufet di sebelahnya. Dirinya begitu kalut.
Nathan tak lagi memedulikan Monica yang bertingkah seperti orang kerasukan. Dia terus berlari dan mencapai pintu gerbang villa. Dua orang penjaga di sana langsung menyergapnya kala ia berusaha membuka pintu gerbang dengan paksa.
"Maaf tuan, anda tidak dapat pergi dari sini tanpa seizin nyonya Monica," Ucap salah satu penjaga.
"Buka gerbangnya! Cepat!" Bentak Nathan.
"Maaf, tidak bisa!" Sahut penjaga.
Nathan tak punya pilihan selain menggunakan senjata yang dirampasnya dari Monica. Ia menodongkan pada kedua penjaga dan membuat mereka sedikit mengambil jarak darinya. Dua orang itu memang tak dilengkapi dengan senjata apapun, mereka hanya mengandalkan tubuh kekar dan wajah sangar. Sungguh benar-benar tak profesional, batin Nathan.
"Buka sekarang!" Perintah Nathan.
"T-tapi tuan.." Ucap penjaga gemetar.
"Buka!" Hardik Nathan.
Penjaga itu memilih untuk menuruti perintah Nathan dan segera membukakan pintu gerbang, membiarkan Nathan keluar bebas dari sana. Pria itu terus berlari menjauh dari villa tersebut tanpa berhenti sedikitpun. Meskipun saat ini, jalan yang ditapakinya nampak begitu panjang dan sepi serta tak terlihat kendaraan yang berlalu lalang, Namun tak membuatnya gentar sama sekali.
Di sekelilingnya hanya terdapat perkebunan dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Daerah ini, nampaknya belum jadi sasaran pembangunan proyek-proyek besar seperti di tengah ibu kota. Sehingga masih banyak terdapat tanah kosong di sana.
Entah sampai kapan ia harus berjalan. Yang pasti Nathan hanya akan terus melangkahkan kakinya hingga dapat bertemu kembali dengan kehidupan normal yang ditinggalkannya.
...***...