
"Widiihh... Pengantin baru kita datang"
"Mestinya kemarin lo undang kita Nath.. Kan kita bisa jadi groomsman nya, ya nggak?"
"Malam pertama gol nggak nih? Ha..ha.."
Kira-kira begitulah kata-kata yang dilontarkan oleh para personil black romance kala Nathan tiba di basecamp. Dari empat personil, memang baru Nathan saja yang telah menikah. Sementara tiga lainnya masih melajang. Hal itu membuat Nathan jadi sasaran bahan guyonan bagi yang lain.
"B*c*t lo semua" Umpat Nathan sembari menempatkan dirinya di atas kursi malas yang terletak di teras.
"Lo gimana sih Nath. Pengantin baru bukannya honeymoon, malah datang kemari. Istri lo di anggurin gitu aja?" Ucap Regy yang baru ikut bergabung dengan anak-anak asuhnya.
"Kasih paham gy" Sahut Adly sambil cekikikan.
"Kalau gue jadi lo.. Nggak bakal gue kasih ampun istri gue, seharian gue kurung di kamar. Ha..ha..ha.." Ucap Nico pada Nathan yang nampak hilang mood seketika.
"Iya bener si Nico. Gue waktu baru nikah dulu juga begitu. Satu minggu full gue pake buat honeymoon. Puas-puasin banget pokoknya. Masih 'hot-hot' nya banget kaan.." Ucap Regy menambahkan.
"Emang cuma si Nathan cowok ter-aneh. Yang ada di depan mata di anggurin, yang jauh diharapin" Cicit Mike.
"Lagian katanya istri lo ini cantik Nath? Ngalahin yang itu kan? Ya gy?" Ucap Adly sembari menyenggol lengan Regy di sebelahnya.
"Iya, gue pernah ketemuan sama dia waktu itu. Rara, eh Dara namanya. Cantik banget, gue yang sudah menikah aja sampai terasa ingin menikah lagi.." Ucap Regy.
"Ya lo nikahin saja sana. Gue kasih buat lo.." Ucap Nathan seraya beranjak dari kursi dan masuk ke dalam basecamp meninggalkan kawan-kawannya yang masih ribut membicarakan soal Dara.
Ia merasa muak ketika mendengar orang-orang menyebalkan itu bahkan membandingkan wanita yang dicintainya dengan Dara. Sangat tak cocok jika Monica harus di sandingkan dengan Dara yang tidak ada apa-apa di matanya.
"Beneran nih? Boleh buat gue Nath?" Panggil Regy.
"Heh..! Ingat anak lo tuh nangis minta susu!" Hardik Mike pada Regy yang lupa ingatan sejenak dengan keluarganya.
"Ha..ha.. Ya bercanda lah Mike. Baperan lo ah kayak si Nathan. Udah yok kita mulai. Lama-lama jadi kayak ibu-ibu tukang gosip kita ini" Ajak Mike pada anak-anak asuhnya untuk memulai latihan hari ini.
Nathan memasuki ruang studio dan mengambil gitar sembari duduk di kursi tinggi dengan jok bulat kecil di sana. Menunggu kawannya yang lain datang. Entah mengapa tiba-tiba ia terngiang dengan rasa masakan yang di racik Dara untuk makan siangnya tadi. Makanan itu, terasa sangat lezat. Nyaris melebihi lezatnya masakan bunda.
"Ah.. Tapi baru satu ini saja. Mungkin dia hanya sedang beruntung. Terkadang, seseorang juga melakukan kesalahan kan?" Gumamnya.
Ia sedikit mengingat momen ketika Monica juga membuatkan masakan untuknya ketika itu. Hasil yang sangat jauh berbeda dengan apa yang diracik Dara. Namun beberapa detik kemudian ia menepis pikirannya sendiri, Monica tak patut untuk dibandingkan dengan siapapun. Apalagi Dara.
"Woi.. Bengong" Ucap Mike menggubris lamunan Nathan.
"Ah.. Ngagetin lo" Protes Nathan.
"Come on! Come on! Kita harus serius latihannya. Ada project album baru yang harus di selesaikan. Kemungkinan bulan depan kita juga akan rekaman dan shooting. Padat nih.. Serius semuanya ya!" Ucap Regy mengingatkan perihal kegiatan mereka yang mulai padat.
Sebagai bagian dari personil group band yang tengah naik daun, schedule yang padat memang sudah jadi teman sehari-hari mereka. Seperti hal nya Nathan yang tak hanya mengisi waktu di band nya, namun juga seringkali menghadiri acara yang mendapuk dirinya sebagai bintang tamu.
Tentu ini adalah kesempatan baginya untuk membuat namanya kian bersinar di industri musik tanah air. Juga menambah pengalaman, wawasan, serta relasi dengan banyak musisi lainnya.
...***...
NATHAN POV
Aku kembali ke apartment lebih awal, agaknya masih sore. Entah mengapa tubuhku terasa begitu lelah, hingga membuatku tak punya tenaga untuk sekadar nongkrong bareng dengan kawan-kawan usai latihan.
Mereka mengajakku untuk minum-minum bir seperti biasa, namun aku sedang tak selera. Mungkin nanti, entah kapan. Yang jelas aku ingin istirahat di apartment, di atas ranjangku yang nyaman.
Eh, tunggu dulu. Ranjang? Ah, ya.. Hampir aku lupa bahwa kini ranjang ku bukan lagi jadi milikku. Tapi jadi miliknya, wanita yang berstatus sebagai istriku di atas kertas. Aku memang hanya ingin menyebutnya begitu.
Tak sudi rasanya tidur satu ranjang dengan dia yang tak kucintai. Memaksakan diri untuk mau menikahinya saja sudah jadi level berpura-pura paling berat bagiku. Lalu jika sekarang aku harus berpura-pura mau tidur se-ranjang dengannya? Uh, aku lebih baik terjun dari balkon kamar saat itu juga.
Tapi tak dapat ku pungkiri, apa yang di masaknya dan masuk ke mulutku tadi siang memang cukup berkesan. Ada hasrat yang timbul dalam diriku untuk mencicipi nya lebih banyak lagi.
Meskipun begitu, aku dapat menjamin seratus persen kalau hal itu takkan membuatku jatuh cinta dengannya. Oh, please.. Masih ada ribuan bahkan jutaan orang yang bisa memasak lebih enak darinya. Ini hanya karena dia tinggal denganku di tempat yang sama, maka dari itu masakannya terasa begitu enak bagiku.
Bergumul dengan pikiran sendiri membuatku makin lelah. Aku menekan tombol password untuk membuka pintu apartment cepat-cepat. Kemudian mengendap-endap masuk ke dalamnya.
Dari kejauhan nampak seseorang yang sedang sibuk di dapur. Aroma harum masakan lagi-lagi menyita perhatianku. Perlahan ku telusuri jejak aroma tersebut, membawaku pada dia yang tengah asyik memasak tanpa menyadari kehadiranku.
Wanita ini, mengapa hobi sekali berada di dapur dan meracik ini itu?
"Oh? Nathan? Sejak kapan kamu disitu?"
Ah, sial. Rupanya dia mulai sadar bahwa ada aku disini. Malas sekali rasanya menanggapi sapaannya.
"Sebentar lagi aku selesai. Kamu istirahat saja dulu. Nanti akan kupanggil untuk makan malam ya.."
Tapi aku tetap benci dia. Karena telah merusak angan-anganku untuk selalu bersama Monica, menua bersama dia yang kucintai setengah mati. Jangan harap aku bisa dengan mudah menerima tanpa mengacak-acak mentalmu terlebih dahulu, wahai wanita tukang masak!
"Aku tidak lapar. Aku kesini karena ingin tahu saja, siapa yang sibuk sekali masak jam segini. Kamu membuat ruangan penuh dengan aroma masakan. Lagipula, rasanya cukup sekali saja aku memakan masakanmu. Aku tidak ingin lagi"
Usai mengatakan itu aku berlalu darinya. Meninggalkan dia yang entah bagaimana perasaannya setelah mendengar kata-kata asal ku barusan. Ku harap dia sedih, kecewa, patah hati atau apapun itu.
.
.
.
Sekira pukul 23:00 aku mulai merasa kelaparan. Sejak siang tadi, aku memang belum ada makan apa-apa lagi. Nampaknya cacing-cacing dalam perutku sudah meminta jatahnya kembali. Merepotkan! Padahal aku masih sibuk di studio, karena ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan terkait pembuatan album baru untuk black romance.
Tapi sudahlah, aku mengalah. Mana ada manusia yang dapat fokus bekerja ketika mereka butuh asupan protein untuk tubuhnya? Hal ini sangat manusiawi. Aku meletakkan gitarku pada tempatnya semula. Membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja dan lantai, kemudian bergegas meninggalkan studio, menuju meja makan.
Teringat beberapa jam yang lalu Dara baru saja memasak untuk makan malam. Apa dia juga menyisakannya untukku? Atau dia memakan habis semua yang di masaknya tadi? Kalau iya, sayang sekali. Aku belum sempat mencicipinya. Ah, tapi untuk apa? Sadarlah Nathan! Kamu tak membutuhkan apapun darinya!
Tapi jika pesan makanan dari luar, pasti butuh waktu. Belum tentu akan datang dengan cepat. Selain itu, aku juga bingung akan makan apa. Rasanya tak ada yang terpikirkan di kepalaku. Sungguh jadi manusia kadang merepotkan. Tak ada uang, bingung mau beli makanan dengan apa. Uang nya ada dan banyak, tapi bingung dengan apa yang hendak di beli.
Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk menyiapkan makanan cepat saji yang hanya perlu dipanaskan dalam microwave. Aku membuka pintu lemari es, mencari sesuatu di dalamnya. Dan voila! Tidak ada stock apa-apa disana. Sepertinya mbak Asih lupa memenuhi isi lemari es.
"Haduuh.. Gimana sih" Gumamku sembari menepuk kening.
Pencarianku berlanjut pada lemari penyimpanan makanan. Kubuka perlahan dan aroma masakan yang terasa tak asing menyesap masuk ke dalam rongga hidungku. Sepertinya ini yang di masak tadi ketika aku baru sampai. Ternyata ia menyisakannya untukku. Baik sekali, pikirku.
Tanpa pikir panjang aku segera meraih dan membawanya ke atas meja makan untuk segera ku santap. ***** makanku kian menggebu kala melihat platting nya yang cukup bagus. Ahh nampaknya ini enak sekali.
Aku menyantapnya dengan rakus. Entah karena sedang kelaparan atau memang nyata, rasa makanan ini benar-benar sangat enak! Semua bumbu di racik dengan pas, asin gurih pedas nya. Luar biasa.
Beberapa menit kemudian piring di depanku telah bersih, licin seperti habis dicuci. Aku telah menghabiskan semuanya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Fantastis! Aku merasa sangat puas dengan apa yang masuk ke dalam mulutku barusan. Meskipun di satu sisi, aku sungguh masih ingin tambah lagi.
"Apa tidak ada lagi ya?"
Aku beranjak dari kursi dan berusaha mencari sesuatu yang mungkin masih tersisa di dalam lemari penyimpanan makanan. Tapi nihil, lemari itu telah kosong.
"Hhm.. Kenapa dia tidak masak lebih banyak lagi sih?"
"Kamu kurang?"
Deg!
Seseorang datang dan memergoki ku yang tengah menggerataki isi lemari pada tengah malam. Dan orang itu adalah Dara. Dia tahu, bahwa akhirnya aku memakan apa yang di masaknya. Dia menyadari, akhirnya aku menjilat ludahku sendiri.
"Aku akan memasak lebih banyak lagi untukmu Nath. Besok ya?" Ucapnya dengan lembut.
"K-kamu ngapain malam-malam begini membuntuti orang? Bukannya tidur saja sana"
"Aku tidak membuntuti kamu. Tadi aku sudah tidur, tapi tiba-tiba terbangun dan merasa haus. Jadi aku memutuskan untuk ke dapur dan mendapatkan segelas air" Sahutnya.
"Yasudah, ambil sana" Ucapku sambil menggeser tubuh dan berusaha menjauh darinya.
Dara berjalan tanpa melewatiku, mengambil gelas kosong dan menuangkan air mineral ke dalamnya. Sementara aku terpaku di sebelah kursi meja makan yang ku tempati tadi. Sungguh, aku tak ingin Dara mengira bahwa aku menyukai masakannya. Dia tidak boleh merasa senang.
"Kamu bisa request masakan apa yang kamu suka. Aku pasti akan buatkan"
"Kamu fikir aku suka dengan masakanmu? Aku makan itu karena ini sudah malam. Terlalu malas untukku pergi keluar hanya untuk membeli makanan. Karena hanya ada ini, jadi terpaksa lah aku makan" Ucapku ketus.
"Iya Nath.." Jawab Dara dengan melontarkan senyum manisnya padaku.
Apa itu? Begitukah jawabannya? Kenapa aku tidak melihat gurat kesedihan di wajahnya ketika aku mengucapkan kata-kata itu barusan? Wanita lain mungkin akan murung seketika jika suaminya mengatakan hal seperti itu pada masakannya. Tapi Dara? Terlihat biasa saja. Apa mungkin karena dia juga tidak mencintaiku? Entahlah.
"Jangan ge-er! Sudahlah.. Aku ingin tidur"
Aku berlalu darinya, meninggalkan dia yang masih berdiri disana dengan segelas air dalam genggamannya. Aku merasa ia menatapku dari kejauhan, hingga aku menghilang dari pandangannya.
Sebenarnya, aku tak ingin menyakiti hati siapapun. Apalagi seorang wanita. Ibuku juga wanita, tak patut rasanya jika aku menyakiti perasaan mereka. Aku hanya terpaksa, agar Dara mau mundur dan minta untuk berpisah denganku. Lalu aku punya alasan untuk menikahi dia yang kucintai.
Ini baru permulaan, aku belum bisa menilai sekuat apa hati Dara menghadapi sikapku padanya. Mungkin saat ini dia juga terpaksa. Menerima semua perlakuanku, berpura-pura bahagia denganku. Namun satu yang kuyakini, ia pasti takkan kuat berlama-lama bersama dengan seorang suami yang tak punya rasa cinta dengannya.
Cepat atau lambat, pertahanannya akan goyah. Dan ketika saatnya tiba, aku berjanji akan segera mendapatkan Monica kembali dalam pelukanku. Tunggu saja.
NATHAN POV END