An Angel From Her

An Angel From Her
94# Aku Menginginkanmu



Dara mengamati tampilan barunya dengan ukuran perut yang makin besar dari pantulan cermin. Dia berdiri menyamping, membelakangi arah jendela, kamar mandi, dan pemandangan ibu kota dari balkon.


Tangannya mengusap lembut permukaan perut yang terbalut pakaian bahan cotton yang ia kenakan. Bolak balik menatap pantulan di cermin, lalu menurunkan pandangan pada perut dibawahnya. Dara seakan tak percaya bahwa Tuhan telah berbaik hati padanya dengan memberi keajaiban berupa kehamilan yang menyenangkan ini.


Ditengah keseruannya berpose di depan cermin, tiba-tiba dua buah tangan panjang ber tattoo melingkari pinggangnya tanpa permisi. Dara sempat tersentak sebelum menyadari pria bertubuh jangkung itu sudah berdiri di belakangnya. Menyandarkan dagu di atas salah satu bahunya.


Tubuh mereka saling berdempetan, Dara bahkan dapat merasakan sesuatu yang aneh di bagian belakang tubuhnya. Entah apa, dia tak mampu berpikir disaat-saat seperti ini.


"Perutku sudah besar sekali ya Nath" Dara berujar.


"Iya. Dan kamu juga makin cantik saja"


Dara tersipu diam-diam.


"Kamu mau kemana Nath?" Tanya Dara ketika sadar bahwa Nathan tampak sudah rapi dengan kaos warna hitam dan celana jeans belel andalannya. Selama beberapa hari kemarin saat ia intens menemani nya di apartment, Nathan biasanya hanya mengenakan kaos kutung atau celana pendek. Jika sudah begini, dipastikan sebentar lagi pria itu akan pergi.


Dara baru belum lama terbangun dari tidurnya, dan ketika membuka mata pria itu sudah tidak ada di sofa. Dia menduga Nathan pasti di kamar mandi, dan sementara menunggunya keluar dari sana, Dara memanfaatkan waktu untuk bercermin.


"Aku harus pergi hari ini sayang. Ada pekerjaan"


Wanita itu melepaskan pelukan Nathan. Dia berbalik agar bisa leluasa menatap wajah suaminya.


"Baiklah. Jangan pergi terlalu lama ya"


"Aku akan pulang secepat mungkin"


Tanpa di duga Dara memeluk erat pria itu, membenamkan wajahnya dalam-dalam pada bagian dadanya. Nathan membeku, diliputi rasa grogi yang mencuat tak karuan.


"Kalau boleh jujur, aku ingin kamu selalu disini Nath. Hatiku tenang jika kamu disampingku. Tapi aku sadar, bahwa aku nggak bisa egois" Ucap Dara dengan suara yang lirih.


"Sejak aku mencintaimu, sungguh aku juga merasa nggak mampu berlama-lama diluar sana. Hatiku selalu mengarah padamu, dan hampa kalau nggak lihat wajahmu. Dara, kamu adalah candu ku" Balas Nathan.


"I love you Nathan" Bisik Dara.


"Apa?" Pria itu melepaskan dekapan Dara. Wajahnya makin merah "Coba katakan sekali lagi"


"Kenapa?" Tanya Dara bingung.


"Aku ingin mendengarnya lebih jelas"


"Nggak ada siaran ulang!"


"Ih gitu ya. Ayolah" Nathan memaksa.


"Ku bilang nggak ada siaran ulang. Makanya pasang telingamu baik-baik" Begitu menyadari lidahnya telah lancar berucap, dia malah merasa malu sendiri. Apalagi ketika Nathan meminta untuk mengulangi kalimat ungkapan barusan. Hormon kehamilan membuat gengsi nya tumbuh menjadi dua kali lipat.


Dara beranjak, berjalan buru-buru meninggalkan Nathan. Wajahnya memerah, menahan malu. Namun dia salah jika beranggapan Nathan takkan mampu mengejarnya. Hanya dengan satu kedipan mata, pria itu sudah berdiri menghadang di depannya. Menghentikan langkahnya, dan mencegahnya untuk keluar dari kamar itu.


"Mau kemana?" Sebelah tangannya terbentang di depan Dara.


"Menyingkir lah"


Dara berhenti memberontak, kecupan itu berhasil menyihirnya jadi batu arca. Wajah putih mulusnya makin merah mirip tomat, dengan derap jantungnya yang ramai di dalam sana.


Dia tak dapat mencegah ketika akhirnya Nathan ******* ganas bibirnya yang kaku. Jelas terasa sekali hasrat menggebu yang telah terpendam padanya berhari-hari. Meski perasaannya tak karuan, tapi Dara tidak berniat menghentikan ciuman itu. Dia malah menikmati permainan lidah suaminya yang menari-nari. Lembut bibirnya. Kali ini ia benar-benar mendapat arti dari sebuah ciuman.


Sesekali pria itu menggigit kecil bibirnya, dengan deru napas yang memburu. Mungkin jika sedang tidak ada jadwal, pria itu akan melucuti juga semua pakaiannya. Dan akan mengulang apa yang ia lakukan di malam pembuatan bayi yang sekarang sedang tumbuh di kandungannya.


"Hhh.. Hhhhh..." Nathan mendesah, mengakhiri ciumannya. Mungkin sadar bahwa sudah waktunya untuk pergi mencari nafkah.


Sementara Dara, hampir tak bisa merasakan kedua lututnya. Seakan terserang kelumpuhan mendadak akibat permainan pria itu.


"I love you.." Bisik Nathan. Dahi mereka masih saling menempel, dengan dua pasang mata yang juga masih terpejam. Dara tak punya keberanian untuk menatap Nathan. Sedangkan pria itu, sedang berusaha menahan segala gejolak yang berkecamuk di dalam kepalanya.


Nathan tak sanggup jika harus berlama-lama di sekitar Dara. Setelah menghadiahi kecupan di atas puncak kepala istrinya, dia segera melenggang pergi. Keluar dari kamar meninggalkan Dara yang masih shock atas kejadian barusan. Mematung di tempatnya berdiri sejak tadi.


Jemarinya menyentuh bibir yang baru saja dibabat oleh Nathan, masih terasa panas akibat beberapa gigitan yang dilakukan si gitaris itu. Dara merutuk dalam hati, kenapa bisa dia malah diam saja selama Nathan ******* beringas bibirnya. Kenapa bukan ia lepaskan saja jeratan itu. Kenapa malah menikmatinya seakan itu adalah hidangan ternikmat se-galaksi? Kenapa. Kenapa. Kenapa.


Otaknya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia sendiri tak tahu bagaimana menjawabnya.


...***...


Nathan nyaris kehilangan konsentrasi selama meeting dengan vendor berlangsung. Padahal ini adalah job yang akan ia dan kawan satu groupnya ambil. Mengisi acara diluar kota kira-kira sekitar dua atau tiga minggu lagi.


Pikirannya terus melayang pada Dara. Cinta, gejolak yang membuncah hebat, serta rindu terus bermain di kepalanya. Menciptakan kepeningan yang tak tertahankan. Momen berjauhan dengannya mampu membuatnya berubah jadi orang dungu. Yang cuma bisa melamun dengan tatapan kosong.


Regy menyadari hal itu. Beberapa kali ia menyikut lengannya agar pria itu mendapatkan lagi konsentrasinya, karena job ini cukup penting. Dan vendor tersebut sudah lama bekerja sama dengan mereka, sudah memercayai mereka yang selalu bisa memegang kepercayaannya.


Sesekali Nathan memfokuskan pikiran, masuk ke dalam meeting tersebut. Namun beberapa menit kemudian, bayang-bayang Dara membuyarkan nya lagi.


Ini sudah tidak benar. Nathan merasa ini benar-benar salah dan menyiksa. Dia harus menuntaskannya sesegera mungkin. Atau selamanya dia akan menjadi seseorang dengan pikiran yang kosong.


"Lo lagi ada masalah Nath?" Gubris Regy ketika akhirnya meeting selesai dilaksanakan. Vendor telah pamit undur diri, dan kini para personil sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing.


Mike mengetes vokal nya, berlatih di studio bersama Nico yang memegang gitar. Adly masih sibuk dengan ponselnya, menelepon seorang wanita yang baru berkencan buta dengannya. Sedangkan Nathan, melamun dengan otak mesumnya.


Tapi Regy hanya menganggapnya sedang diterpa masalah rumah tangga. Mungkin, jika dia tahu alasan di balik sikap Nathan yang mendadak aneh itu, dia akan membantu dengan menggeplak kepalanya memakai gagang gitar. Setidaknya sedikit mengusir pikiran 'ngeres'nya.


"Nggak ada gy" Sahut pria itu tak selera.


"Gue perhatiin lo kebanyakan ngelamun waktu meeting tadi. Cerita aja kalau memang butuh tempat cerita ya Nath" Regy menepuk pelan bahu Nathan.


"Thanks"


Nathan melepas napas berat. Sedangkan Regy beranjak dan menghampiri anak-anak asuhnya yang lain.


Nanti malam, pikirnya. Dia harus meminta suatu hal yang memang sudah semestinya Dara lakukan untuknya.


Lihat saja.