An Angel From Her

An Angel From Her
36# Jangan Kemana-Mana!



"Nath.." Panggil Dara pada sang suami yang tengah sibuk menata rambutnya di depan cermin dalam kamar. Pria itu tak mengalihkan pandangannya dan memilih untuk mengabaikan Dara di belakangnya.


"Aku sudah siapkan makanan untukmu di meja" Lanjutnya.


Nathan berpindah ke buffet sebelah cermin tempat ia menyimpan semua assesories disana. Ia mengambil sebuah kalung dan melingkarkan pada lehernya. Juga botol parfum yang langsung di semprotkan ke tubuhnya. Aroma manis nan maskulin seketika menyesap ke lubang hidung Dara yang jaraknya tak berjauhan darinya.


"Nath.." Panggil Dara lagi, Nathan makin acuh.


"Bolehkah aku mengunjungi ibu? Aku.. Sedikit merindukannya" Ungkap Dara. Kata-kata wanita itu barusan memancing Nathan untuk menoleh ke arahnya. Ia menatap lekat-lekat kedua bola mata Dara di depannya.


"Belum genap satu minggu dan kamu sudah bilang rindu?"


Dara mengatupkan bibirnya, menunda kata-kata yang sebenarnya ingin ia katakan. Nampak jelas dari nada suaranya bahwa Nathan tak setuju dengan permintaannya.


"Sampai saat ini, belum ada orang luar yang tahu soal pernikahan kita. Kalau kamu sering keluar masuk, bukan tidak mungkin berita ini akan menyebar luas satu Indonesia. Dan aku tidak nyaman jika hal itu terjadi" Pungkas Nathan.


"Aku hanya ingin memastikan keadaan ibu"


"Kalau hanya ingin memastikan kamu bisa meneleponnya. Apa ibumu nggak punya ponsel? Aku akan membelikannya nanti. Yang penting kamu diamlah disini, jangan keluar jika aku bilang tidak" Perintah Nathan. Pria itu keluar kamar meninggalkan Dara yang merasakan denyut kekecewaan di hatinya.


Tingkah Nathan memicu dirinya untuk mencari tahu kenapa pria itu sangat tak ingin kabar pernikahan mereka terdengar oleh banyak orang. Apa terasa begitu memalukannya jika orang lain mengetahui Nathan menikah dengan anak pemilik warung makan kecil di pinggir pasar?


Atau mungkin ada hal lain yang ingin di tutupinya? Apapun itu, menurutnya tak pantas berbuat seperti ini mengingat dirinya sendiri yang telah memilih untuk menikah dengannya. Baik buruknya, semestinya ia mau saling menerima.


"Nath.. Aku masih nggak ngerti, kenapa sih kamu bersikeras nggak ingin orang lain tahu soal pernikahan kita? Kamu malu punya istri seperti aku?" Cecar Dara sembari mengejar Nathan yang tengah menuruni tangga, hampir mencapai lantai satu.


"Nath.. Jawab aku!" Nada bicara Dara makin lantang, membuat Nathan menghentikan langkahnya seketika. Pria itu berbalik dan menatap tajam wajah sang istri yang nampak memerah.


"Kalau iya kenapa?"


Nafas Dara bagai tercekat kala Nathan menjawab dengan kalimat yang sebenarnya tak diharapkannya.


"Apa alasannya? Memangnya kamu siapa? Seseorang yang terkenal? Apa hal ini akan mengubah hidupmu seandainya semua orang tahu?" Ucap Dara setengah membentak, mulai terpancing emosi.


"Ya tentu saja!"


Dara berusaha keras memendam amarahnya, ia memang pandai dalam hal ini. Sembari kedua matanya terus menatap dalam pria di depannya yang mulai tak mampu membalas tatapan dari lawannya.


"Dengar. Kalau orang-orang tahu aku telah menikah, dengan kamu.. Semua yang sudah aku rintis dari nol akan berantakan. Karir, fans, bukan tidak mungkin aku akan kehilangan semuanya. Jadi tolong, turuti saja apa kataku"


Dara mengernyitkan dahinya kala mendengar satu kata yang meluncur dari bibir Nathan.


"Fans?" Nada tak percaya membubuhi pertanyaan Dara.


"Iya.. Fans! Kamu nggak dengar?" Tegas Nathan.


"Aku makin nggak paham denganmu. Fans apa?"


"Memangnya kamu siapa? Selebriti? Dan lagi, sebenarnya pekerjaanmu itu apa sih? Setiap pergi selalu dengan penampilan seperti itu. Membawa gitar pula. Apa kamu.. Pengamen?" Tanya Dara penuh keingintahuan.


"Apa kamu bilang? Pengamen?" Pupil mata Nathan membesar sembari mengulang ucapan Dara barusan yang 'menuduh' nya sebagai pengamen.


"Cih.. Kamu nggak tahu siapa aku?"


"Aku tahu.. Kamu.. Nathan"


"Ya ampun.. Bukan itu maksudku!" Ucap Nathan gusar.


"Lalu apa?" Tanya Dara.


Nathan maju beberapa langkah mendekati Dara. Tubuh jangkung nya menutupi seluruh tubuh mungil sang istri yang tingginya hanya mencapai bahunya, membuat Dara sedikit menengadah.


"Satu negara ini tahu, dan sebagian besar mengidolakanku. Bukankah kamu akhirnya mau menikah denganku karena mengetahui siapa aku sebenarnya kan?" Terka Nathan.


Jika ia berharap Dara akan bilang 'iya' maka ia benar-benar harus kecewa. Karena memang nyatanya, Dara tak mengenal sama sekali dirinya sebelum dikenalkan oleh bunda waktu itu. Group band nya memang cukup terkenal di kalangan remaja saat ini, namun Dara yang kesehariannya sibuk dengan membantu sang ibu, memang membuatnya jadi wanita yang kurang update tentang perkembangan di dunia hiburan.


"Jadi.. Kamu ini.. Artis? Selebriti?" Tanya Dara dengan polosnya.


"Huhh.." Nathan menghembuskan nafas berat sembari menepuk dahinya karena gusar dengan obrolannya bersama Dara.


"Sudah ya? Kalau kamu ingin tahu siapa aku, cari tahu sendiri. Kalau kamu tetap ingin jadi istriku, turuti saja apa yang ku bilang. Jangan keluar dari apartment sembarangan, apalagi hanya untuk hal-hal yang nggak penting!" Ucap Nathan panjang lebar.


Dara mendengarkan ucapan sang suami tanpa sedikitpun melewatkannya, meski dalam hati ia masih belum puas dengan perintah Nathan yang tak sesuai keinginannya, namun ia tak punya pilihan selain meng'iya'kan apa yang baru saja meluncur dari bibir pria itu.


Ia memaksa dirinya untuk berdamai dengan ego nya sendiri. Padahal menurutnya, bertemu ibu bukanlah termasuk hal yang tidak penting. Justru sangat penting karena ibu adalah orang tua satu-satunya yang ia miliki saat ini. Mengetahui keadaannya secara langsung dapat membuat perasaannya jauh lebih tenang ketimbang hanya mendengar suaranya lewat panggilan telepon.


Tapi kali ini dia tak bisa berbuat apa-apa, karena Nathan tak memberi izin. Ia sedikit teringat dengan wejangan berisi nasehat pernikahan yang sempat diberikan oleh ibu sebelum akad nikahnya di laksanakan. Bahwa seorang istri harus tunduk dan patuh dengan ketentuan dari suaminya, selagi itu tidak bertentangan dengan perintah agama.


Meskipun di point ini, ia tak yakin betul apa larangan Nathan bertentangan dengan ajaran agama atau tidak. Melarang istri bertemu dengan orang tuanya sendiri. Tapi yang pasti, jika ia menurutinya, hal itu akan menghindari mereka dari pertengkaran lebih besar yang mungkin saja akan terjadi.


"Iya Nath, aku nggak akan kemana-mana" Sahut Dara sembari melemparkan senyum ramahnya pada sang suami.


Nathan memandangi wajah Dara di depannya. Tak nampak sedikitpun amarah dari raut wajah teduh itu. Seperti sangat mudah baginya menuruti semua perkataan yang bahkan bertentangan dengan kehendaknya.


Bagi Dara, menahan semua keinginannya memang bukanlah hal yang baru. Sejak kecil, ia terbiasa berteman dengan hal semacam itu. Termasuk dengan mengubur dalam-dalam impiannya untuk menjadi seorang dokter dan relawan bagi orang-orang yang membutuhkannya.


"Aku pergi dulu" Pamit Nathan seraya berlalu dari hadapan Dara yang masih berdiri terpaku di tempatnya sedari tadi.


Wanita itu memperhatikan dengan saksama sang suami yang berjalan, menjauh darinya. Menggapai pintu dan menghilang dari pandangannya seketika. Ia menghela nafas, berusaha menetralisir perasaan yang tak dapat dijelaskan.


Ia kemudian menghampiri meja ruang makan yang di atasnya telah tersaji masakan yang diperuntukkan bagi suaminya. Pria itu tak menyentuhnya sama sekali. Ia pergi, tanpa menyantapnya terlebih dahulu. Menyia-nyiakan apa yang telah disiapkan sang istri dengan sepenuh hati.