
Hari sudah malam saat mereka sampai apartment, setelah sebelumnya menyempatkan diri untuk makan malam bersama di sebuah resto hidangan laut bandar djakarta.
Dara yang memesan ikan kerapu bakar dan kepiting asam manis tak dapat mengontrol nafsu makannya yang mendadak mengalami peningkatan. Hingga membuat Nathan kenyang duluan hanya dengan mengamati bagaimana ibu hamil itu menghabiskan hampir tiga piring nasi.
Nathan menghentikan paksa ketika Dara hendak melahap seluruh isi piring ketiganya, khawatir perut istrinya akan meletus akibat kelebihan muatan. Dan tentu saja apa yang dilakukannya mendapat penolakan barbar dari Dara.
Ia memberontak, mencubit, bahkan menggigit tangannya yang lebih terasa menggelitik daripada sakit. Namun Nathan tak bergeming, dengan tetap mengambil alih piring tersebut.
Nathan tak tahu apa yang menyebabkan istrinya tiba-tiba begitu rakus, mungkinkah bayi itu yang meminta ibunya untuk makan lebih banyak dari biasanya? Apapun itu, yang pasti Nathan merasa begitu takjub atas perubahan besarnya.
Ia menduga, setelahnya Dara pasti akan kekenyangan dan teler. Dan ketika akhirnya mereka sampai di apartment, ternyata dugaannya tak meleset sedikitpun.
Dara tertidur sangat lelap sejak di perjalanan. Hingga Nathan mesti menggendong nya turun dari mobil, menaiki lift, dan masuk ke apartment nya. Membawa beban berat ibu hamil di atas tangannya yang lebih mirip orang pingsan dibanding tidur.
Napasnya terengah-engah usai membaringkan tubuh Dara yang terkulai di atas ranjang. Walau kelelahan luar biasa, dan disisipi sedikit rasa jengkel, namun tetap tidak mengurangi rasa cinta untuknya.
Nathan justru sangat ingin menciuminya sampai bangun, setidaknya untuk membayar jasa menggendongnya.
Pria itu memandang lembut wajah teduh istrinya, mengulas senyum sambil menyibakkan sedikit rambut panjangnya yang terurai ke depan.
"Aku nggak tau, bagaimana hidupku jika tanpamu Dara.." Gumam Nathan.
Tangannya membelai wajah Dara yang terasa halus dibawah permukaan kulit jemarinya. Menelusuri setiap lekukan yang ada di sana. Lalu menghadiahi keningnya dengan kecupan.
"Tetap bersamaku ya Dara.." Bisik Nathan di telinga sebelah kiri Dara, dan entah bagaimana, secara alami bibir cantik itu mengukir senyum, meski dengan mata yang masih terpejam.
...***...
Dara baru benar-benar terbangun esok paginya, merasakan pegal di sebagian tubuhnya. Ia menggeliat di atas ranjang, merasa malas untuk bangun dari sana. Sebelah tangannya meraba permukaan kasur, mencoba mencari sesuatu. Dan ia tak menemukan Nathan di sampingnya.
Biasanya pria itu selalu ada di sisinya ketika ia membuka mata, pemandangan yang selalu terulang tiap pagi. Tapi pagi ini berbeda, sontak membuat kehampaan dihatinya.
"Naath.." Panggilnya.
Beberapa detik berlalu, dan tak ada jawaban di sana.
"Nathaan.." Dara mencoba peruntungannya lagi, namun tetap tak ada perubahan. Sepertinya memang Nathan sudah pergi entah kemana. Pikiran jeleknya menguasai, dengan menciptakan tuduhan sembarangan.
Ia membangunkan tubuhnya. Duduk setegak tongkat di atas ranjang. Sambil mengikat rambut panjang nya dengan karet membentuk kuncir kuda. Dara mengusap gusar wajahnya, ketidakhadiran Nathan saat ia membuka mata sungguh memberi andil besar dalam mengacak-acak ketentraman hatinya pagi ini.
Perlahan ia menurunkan kedua kaki, dan baru sadar bahwa kakinya sedikit bengkak.
Ia mengamatinya sambil mengusap-usap pelan, lalu sedikit memberi penekanan, dan tak ada rasa sakit yang timbul.
"Kenapa ya? Tapi kalau dilihat-lihat.." Dara menggantung kalimatnya sendiri "lucu juga" Sambungnya.
Ia melanjutkan niatnya untuk menuruni ranjang. Kemudian berjalan hati-hati menuju kamar mandi. Hendak membasahi wajah agar lebih segar, sekaligus mengusir perasaan jengkelnya.
.
.
.
Dara turun ke lantai satu, sembari kakinya melangkah, ia menyesap satu aroma yang menggugah selera ke rongga hidungnya. Ia yakin asalnya dari dapur, nampaknya seseorang sedang memasak di sana.
Pasti itu adalah mbak Asih, yang sudah start menyiapkan sarapan. Akhir-akhir ini asisten rumah tangga itu memang selalu mengambil alih tugas memasak yang biasanya di kerjakan Dara, sesuai dengan perintah tuannya.
Ketika akhirnya ia tiba di dapur, pemandangan lain justru mengejutkannya. Tak menyangka sama sekali, bahwa yang sedang memasak itu adalah Nathan.
Pria itu nampak sibuk dengan spatula di tangannya, mengaduk-aduk makanan di atas wajan. Dara menebak, ia sedang membuat nasi goreng. Entah ada angin apa, Dara tidak juga mengerti. Seorang laki-laki yang sebelumnya anti memasak, kini justru sedang melakukan hal yang di hindari nya.
Yang paling mencengangkan, Nathan justru terlihat begitu enjoy.
"Nathan?" Dara menghampiri nya, berdiri tepat di samping Nathan yang sedikit terperanjat karena terlalu fokus.
"Eh, sayang.. Kamu sudah bangun" Sahutnya tanpa mengalihkan sorot mata dari wajan di depannya.
"Kamu.. Masak?"
"Iya.." Jawabnya, ia melirik Dara yang nampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Bikin nasi goreng. Buat kamu"
"Aku nggak nyangka Nath"
"Semua orang pasti akan bilang begitu" Ujarnya. Ia mematikan kompor, dan bersiap untuk menyajikan nasi goreng yang masih mengepul itu ke atas piring.
Nathan menoleh, menghadiahi istrinya dengan senyuman. "Aku nggak merasa repot sama sekali. Karena ternyata, memasak itu seru juga"
Pria itu membawa sepiring nasi goreng dan meletakkannya di atas meja. Sementara Dara hanya memandangnya takjub.
"Ayo, kita sarapan. Kamu harus coba mahakarya kedua ku yang ini" Ucap Nathan yang terdengar begitu percaya diri, sambil menarik kursi untuk di duduki istrinya.
Dara terpana, sekaligus menyesal karena telah menuduh Nathan sembarangan dengan pikiran negatifnya. Ternyata ia begitu perhatian, dan sepertinya sikap manisnya itu akan jadi permanen, takkan berubah-ubah lagi seperti dulu.
Ibu hamil itu duduk, dan mendadak kelaparan hanya karena melihat sepiring makanan di depannya. Cepat-cepat ia meraih sendok, dan memasukkan suapan pertama ke mulutnya.
Pupil matanya membesar, terkejut dengan rasa makanan yang enak ini. Sambil terus mengecapnya, Dara bersiap untuk memberi penilaian untuk Nathan.
"Mmm.. Nath, ini beneran enak!"
Wajah Nathan berubah merah hanya karena melihat Dara yang tampak begitu antusias menyantap sajian buatannya. Pujian yang meluncur secara alami dari bibirnya juga terasa menyenangkan untuk di dengar.
Ia juga mengikuti apa yang Dara lakukan dengan menyuap makanan itu ke mulutnya. Kemudian menyadari, nasi goreng pertamanya ini memang memiliki rasa yang tidak buruk. Rasa asin nya pas, bersatu padu dengan bumbu yang tidak menyengat. Tingkat kematangan nasi nya yang juga tepat. Menjadi satu kesatuan yang cukup menggugah selera.
"Sepertinya kamu mewarisi bakat dari bunda Nath. Kenapa nggak mencoba merambah ke dunia kuliner juga?" Kalimat Dara menginterupsinya yang sedang asyik mengecap rasa masakannya. Nathan menoleh, dan mengukir senyum.
"Cuma baru bisa masak nasi goreng, kamu nyaranin aku buat bisnis kuliner?"
"Ini awal yang bagus! Mengingat bahwa ini adalah kali pertama bagi kamu memasak nasi goreng, tapi rasanya sudah seenak ini. Kurasa kamu juga pasti akan bisa masak hidangan lainnya yang pasti nggak akan kalah enaknya"
"Entahlah Ra.. Tapi aku lebih nyaman jadi gitaris" Imbuhnya.
Dara tidak lagi memberi argumennya, ia bungkam dan kembali melahap makanan di depannya, mengunyah dengan begitu cepat sampai habis tak tersisa.
...***...
"Sayang, maaf aku harus pergi sekarang. Tapi nggak akan lama kok, sore aku akan pulang" Ucap Nathan penuh nada penyesalan.
Usai sarapan bersama, ia buru-buru mandi dan bersiap untuk berangkat ke basecamp. Sebab ada hal penting yang harus dikerjakannya bersama kawan-kawan.
"Ini bukan kali pertama kamu pergi, jangan khawatir Nath. Aku akan baik-baik saja. Lagipula kan disini ada mbak Asih" Sahut Dara, berbicara dengan nada lembut dan menenangkan.
Nathan menatap wajah istrinya penuh cinta, sambil menyibak sedikit helaian rambutnya yang terlepas dari kunciran.
"Oke. Kalau ada apa-apa.."
"Jangan lupa langsung kabari kamu" Potong Dara menirukan kalimat yang selalu di ucapkan Nathan tiap kali ia akan pergi "Iya.. Aku nggak akan lupa" Lesung pipi yang memesona itu terpahat ketika senyumnya mekar sempurna.
"Kamu sampai hapal.." Ujar Nathan.
"Karena kamu selalu bilang begitu setiap mau pergi" Dara mencolek ujung hidung suaminya.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya" Pamit Nathan sembari mendaratkan kecupan di kening Dara, lalu turun ke bibirnya.
"Hati-hati.." Pesan Dara yang langsung di-iyakan oleh suaminya.
Nathan melenggang keluar dari apartment, sedangkan Dara melangkahkan kaki menuju lantai dua.
Saat pintu kamar terbuka, ia baru menyadari bahwa ponselnya berdering dan menggelepar di atas nakas akibat getarannya.
Dara meraihnya, ketika deringan itu masih berlanjut. Namun tak ada nama dari penelepon tersebut.
"Siapa ya?" Gumamnya.
Meski sedikit ragu, pada akhirnya ia memutuskan untuk menerima panggilan itu. Berpikir bahwa bisa saja ini suatu hal penting yang ingin seseorang sampaikan padanya.
"Halo?"
Hening beberapa detik.
"Halo?" Ulangnya.
"Dara?" Ucap seseorang di sana. Dara mengenali suara lembut itu dengan cepat.
"Ap-apa ini.."
"Bisa kita bertemu?"