
Di sebuah sofa empuk ruang keluarga yang pada saat itu hanya diterangi dengan cahaya temaram lampu di atasnya, Dara secara tak sengaja tertidur sangat lelap. Ia nampak kelelahan namun tetap bertekad untuk menunggu Nathan pulang.
Posisinya miring menghadap meja di depan sofa itu, rambut panjangnya tergerai dan sedikit menggantung di tepian. Mimpi-mimpi indah membuainya, bagai tak ingin membuat wanita itu terjaga dari tidurnya.
Tapi tiba-tiba kedua mata teduh itu terbuka lebar, tak ada angin juga hujan, dan tak ada pula sesuatu yang mungkin bisa mengagetkannya. Dara mengerjap, seperti ada insting kuat yang menyesap dalam pikirannya.
Kini Dara telah sadar sepenuhnya, menyadari pula jika ia terlelap di atas sofa. Matanya mengedar ke seluruh ruangan, mencari-cari sesuatu yang ditunggu nya sejak berjam-jam yang lalu.
Namun tak ada yang berbeda, ruangan itu masih kosong dengan hanya di singgahi oleh dirinya sendiri. Nathan belum juga pulang, tak ada tanda-tanda kehadiran dirinya. Pikirannya mulai bertanya-tanya, kemana dan sedang apa suaminya sekarang?
Sesekali ia mengucek matanya yang masih menagih untuk diajak beristirahat lagi. Tapi entah bagaimana hatinya terasa tak nyaman, seperti ada sesuatu yang membuatnya merasa harus tetap terjaga.
Dia mulai terbayang-bayang Nathan yang tak jua ada kabarnya. Beberapa kali Dara mencoba untuk menghubungi nomor Nathan yang telah dimilikinya, tapi tak ada satupun panggilannya yang di jawab.
"Kamu kemana sih Nath.. Perasaanku kok nggak enak ya" Gumam Dara bagai bicara dengan diri sendiri sambil menggigiti ujung kuku jarinya.
Dara menoleh ke arah jendela tembus pandang di sebelah sofa tempatnya duduk saat ini. Pemandangan indah dari kota di malam hari terlihat begitu tenang. Jika dilihat dari lalu lintas yang lumayan lengang, dapat dipastikan sekarang sudah cukup larut malam.
Ia menilik jam yang tertera di layar ponsel. Ternyata benar dugaannya, sekarang sudah pukul 00:10 malam. Wanita itu mencoba peruntungannya untuk yang kesekian kalinya dengan kembali menghubungi nomor Nathan.
Tapi lagi-lagi dia harus kecewa, karena Nathan tetap konsisten dengan tak menerima satupun panggilan darinya.
"Huffhh..." Dara mendengus kesal.
Rasa kantuk yang tak gentar dengan terus menyerang kedua matanya kembali datang. Dara menguap hingga mengeluarkan sedikit air mata. Tak lupa ia juga menutup mulutnya dengan punggung tangan cepat-cepat.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Dara memutuskan untuk pergi ke kamar dan kembali mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang yang lebih nyaman daripada sofa.
"Ahh.. Nyaman.." Gumam Dara sesampainya di kamar sambil mengusap-usap sprei di ranjang yang terasa lembut. Ia tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar di atasnya, pikirannya terus merujuk pada Nathan hingga dirinya sendiri tak mengerti sebenarnya ada apa dengan suaminya? Kenapa Tuhan terus menetapkan pikirannya pada pria itu?
Kondisi seperti ini sangat jarang terjadi. Biasanya, ketika Nathan sedang tak berada di apartment ia hanya sedikit mengingatnya, lalu tak lama kemudian kembali melupakannya. Namun sekarang, seperti ada sesuatu yang entah apa maksudnya.
"Apa Nathan baik-baik saja?" Ucapnya bagai bertanya dengan diri sendiri.
Insting yang dimiliki Dara memang cukup kuat, tapi Tuhan sangat baik dengan tak menampakkan secara gamblang apa yang tengah terjadi saat ini. Mungkin perasaan Dara akan remuk, hancur berkeping-keping ketika mengetahui suaminya sedang 'tidur' dengan wanita lain.
Wanita yang masih dicintainya. Wanita dari masa lalunya. Monica, dia yang tak pernah hilang dari ingatan Nathan, selalu melekat di hatinya. Dan tak pernah benar-benar luput dari kehidupannya.
Setelah apa yang diberikan Nathan untuk Dara beberapa waktu lalu, tentu sudah membuat Dara semakin menyayangi dan berharap begitu banyak darinya. Kalung berlian pemberian Nathan yang begitu indah itu juga masih tetap berada di tempatnya, tak pernah sekalipun terlepas dari sana.
Meski sampai saat ini Nathan masih belum menyentuhnya lebih dalam, namun tak sedikitpun berkurang perasaan Dara untuknya. Seiring berjalannya sang waktu, rasa itu kian kuat, hingga terkadang menyesaki isi pikirannya sendiri.
...***...
"Cup.."
Nathan merasakan sebuah kecupan mendarat di salah satu pipinya. Dengan malas ia membuka mata dan mendapati seorang wanita cantik dengan pakaian seksi tepat di depannya. Ia me-reload isi pikirannya sebelum menyadari bahwa wanita itu adalah Monica.
"Good morning" Ucap Monica usai memberi kecupan di pagi hari.
Sinar mentari cukup terang menyesap masuk ke dalam ruangan yang memiliki banyak jendela besar di setiap sisi, membuat matanya sedikit silau. Satu hal yang juga baru disadari Nathan adalah dia tergeletak di sofa ruang tengah rumah Monica, yang artinya semalaman dirinya tidur disini.
Sekelebat memori tentang apa yang mereka lakukan tadi malam tiba-tiba lewat dalam ingatannya. Monica, hangat tubuhnya, seksi dan berisi. Bibirnya yang lembut, sensual, akhirnya setelah satu tahun lebih dia kembali merasakan semuanya lagi.
Rasa cintanya untuk Monica juga muncul kembali. Ia menatap lekat-lekat wajah manis dan cantik itu sambil sesekali membelainya. Monica yang tak mau kalah juga menggenggam balik tangan Nathan dan menciuminya penuh cinta.
"I love you" Ungkap Nathan.
Monica tersenyum menang. Ia berhasil mendapatkan kembali Nathan ke pelukannya.
"I love you more" Wanita itu meneruskan dengan memberi kecupan tepat di bibir Nathan.
Monica mengarahkan Nathan agar pria itu bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk tegap. Namun nampaknya sang kekasih masih bermalasan, ia melemahkan tubuhnya sendiri dan menjatuhkannya dalam pelukan Monica.
"Sayaang.."
"Hmm?" Sahut Nathan asal.
"Ayo bangun dulu.. Aku sudah siapkan sarapan untukmu"
"Nanti saja"
"Kenapa?"
"Begini saja ya"
Monica kembali tersenyum melihat tingkah Nathan yang manja padanya.
"Hhmm.. Kamu berat lho sayang.." Ucap Monica lembut.
"Masih kurang kah?"
Nathan mengangguk malas. Sementara Monica langsung terkekeh mendengar pengakuan pria yang terus menempel dengannya.
"Ayo kita sarapan dulu, nanti keburu dingin nggak enak lagi.. Come on.. come on.."
"Hmmhhh..." Pada akhirnya Nathan memenuhi perintah Monica dengan menegakkan tubuhnya lalu berusaha bangkit dan berjalan gontai menuju ruang makan.
Disana sudah tertata rapi menu sarapan beserta alat makan yang sudah disiapkan Monica untuknya. Ia menarik kursi untuk di duduki, sementara Monica dengan penuh perhatian meletakkan makanan ke atas piring.
"Ini kamu yang masak?"
"Iya dong.." Jawab Monica bangga.
"Kelihatannya enak.."
"Pasti enak karena aku memasaknya dengan cinta"
Monica menyerahkan piring yang telah diisi nasi goreng di atasnya pada Nathan. Dia merasa amat percaya diri pria itu akan menyukai masakannya di kali pertama ia belajar memasak.
"Aku cicipi ya" Tanpa ragu Nathan langsung menyuap sesendok nasi goreng itu ke mulutnya. Dan disaat itu juga dia merasakan bahwa tidak adanya kenikmatan dari apa yang dimasak oleh Monica.
Namun demi menjaga perasaan wanitanya, ia rela menahan ekspresi aneh dari wajahnya yang mungkin saja akan segera tergambar saat ini. Dengan segenap tenaga Nathan berusaha terlihat baik-baik saja di depan Monica yang tengah memperhatikan gelagatnya.
"Gimana sayang? Enak kan?" Tatapan mengharapkan pujian tersirat di wajah Monica yang nampak manis.
"Ehm.. Iya.. Ini enak. Terimakasih ya" Jawab Nathan sambil menyeruput air mineral di sebelah piringnya untuk menghilangkan sejenak rasa aneh di lidahnya.
Nathan mulai membandingkan dengan masakan Dara yang selalu terasa nikmat, Monica memang benar-benar kalah telak darinya. Ia melirik wanita itu yang makan dengan lahap masakan yang tercipta dari tangannya.
Bagaimana Monica bisa merasa bahwa apa yang masuk ke mulutnya itu baik-baik saja? Sementara dirinya, kini tak selera lagi melanjutkan sisa makanan di piringnya?
Tapi melihat ekspresi Monica yang begitu senang dengan pendapatnya, membuat Nathan terpaksa menghabiskan makanan itu demi menjaga perasaan kekasihnya. Ya, hanya demi orang yang dicintainya.
"Ahh.. I'm full.. Kamu mau tambah lagi sayang?" Tawar Monica usai menyelesaikan sarapannya.
"Hah? Hmmh.. Aku cukup honey. Terimakasih"
"Beneran nih? Tapi ini masih ada sisa"
"Iya.. Aku sudah full juga nih. Aku nggak bisa makan terlalu banyak pagi-pagi" Ucap Nathan dengan sangat berhati-hati.
"Oh.. Begitu ya?" Tanggap Monica.
"Ehm.. Honey, i'm sorry hari ini aku ada jadwal. Sepertinya aku harus pulang sekarang"
"Hmm? Kamu nggak mau mandi dulu?"
"Nanti di apartment saja.." Ucap Nathan sembari beranjak dari kursinya. Monica bergegas mendekat dan langsung memeluk erat tubuh jangkung Nathan, bagai tak ingin melepasnya lagi.
"Aku masih rindu kamu.." Ungkap Monica manja.
"Aku juga.. Tapi aku harus kerja honey" Balas Nathan sambil membalas pelukan Monica.
"Nanti kesini lagi ya..? Please.."
"Akan aku usahakan. Tapi nggak janji ya"
"Oke.." Sahut Monica dengan nada bicara yang lemah.
Wanita itu melepas pelukannya, lalu menatap wajah Nathan di depannya.
"Nath.. Aku nggak akan bisa menjalani hidup lagi jika tanpamu" Ucap Monica lirih.
Nathan membalas ucapan Monica dengan ciuman. Ia ******* bibir seksi wanitanya dengan lembut dan segenap perasaan yang meluap-luap.
"Stand by me?" Ucap Monica setelah melepaskan ciuman Nathan darinya.
"Iya.." Sahut Nathan sembari membelai wajah Monica yang berseri-seri.
"Aku pamit ya.." Ucap Nathan.
"Hati-hati sayang" Balas Monica.
Nathan menjawab dengan segaris senyumannya. Ia berbalik dan menjauh dari Monica, meraih jaketnya yang masih tergeletak di sofa ruang tamu lalu keluar dari rumah itu. Sementara Monica hanya maju beberapa langkah sambil mengamati pria itu dari kejauhan tanpa menemaninya keluar.
Dia berhasil, dan merasa jadi pemenang. Nathan telah kembali ke pelukannya lagi. Senyum kepuasan tersungging di bibir sensualnya sembari otaknya bekerja, memikirkan langkah selanjutnya untuk menyingkirkan Dara dari hidup Nathan.