
Nathan kembali ke apartment kira-kira selepas isya, setelah sebelumnya memastikan Dara sudah menelan protein dan meminum obat malamnya. Ketika akhirnya wanita itu terlelap, Nathan menitipkan pesan pada suster yang berjaga untuk lebih memperhatikan istrinya di kamar rawat VVIP tersebut.
Pria itu memiliki rasa penasaran tingkat tinggi terhadap suatu hal dalam benaknya. Bertekad untuk mencoba menemukan siapa pengirim brownies beracun itu pada Dara. Karena ini sudah kelewatan, mengancam nyawa dua orang sekaligus.
Dengan langkah terburu-buru ia mendatangi ruangan pengawas CCTV apartment, barangkali bisa menemukan jejak disana.
"Permisi.." Ucap Nathan ramah pada petugas yang berjaga.
"Saya baru saja mengalami kejadian tindak kriminal. Seseorang mengirim makanan beracun untuk istri saya. Bisa tolong saya untuk melihat rekaman kemarin? Di lorong lantai lima belas"
"Baik kak Nathan. Kemarin ya? Jam berapa?" Sahut petugas itu. Dia mengarahkan kursor, mencari-cari file yang diminta Nathan.
"Tepatnya saya kurang tahu. Mungkin siang, sekitar jam sebelas, kurang lebih"
Petugas tersebut mengikuti instruksi Nathan dengan patuh, bagai seorang anak yang menuruti perintah orang tuanya. Mereka berdua sama-sama memfokuskan sorot mata pada layar di depannya. Mengamati gerak gerik seseorang yang mungkin saja mencurigakan.
Beberapa menit berselang, titik terang mulai di temukan. Nathan meminta untuk meneliti salah satu rekaman dimana terlihat Dara sedang berdiri di depan pintu berbicara dengan seseorang yang di duga wanita. Tubuhnya tinggi, namun wajahnya hanya tersorot kamera dari arah samping nya.
Nathan tak mampu mengenali secara spontan, mungkin baru bisa jika diperhatikan lebih dalam lagi.
"Mas.. Boleh saya minta copy file yang bagian ini? Untuk kebutuhan penyelidikan"
"Boleh kak"
"Ini.." Nathan menyerahkan flashdisk ke tangan petugas, dan dengan hanya beberapa langkah kemudian bukti tersebut telah berada dalam genggamannya.
Meski belum menemukan dengan jelas siapa orang asing yang mengirimkan makanan itu ke tangan Dara, tapi setidaknya ia sudah memiliki bayangan tentang arah yang akan di tempuh selanjutnya.
Nathan melenggang keluar dari ruang pengawas setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih dan menghadiahkan selembar tip untuk petugas yang sudah membantunya. Tujuannya sekarang adalah ke kamar apartment nya, dan meneliti bukti rekaman itu lebih lanjut.
Mungkin selain gitaris, Nathan juga cocok dinobatkan sebagai detektif. Dengan tingkat fokus di atas rata-rata ia mengamati setiap detil dari rekaman video kamera pengawas, seakan tak akan membiarkan ada satu detik pun yang terlewatkan dari sorot matanya. Video itu dia saksikan dari layar laptop di ruang studio apartment nya.
Hatinya mendadak hangat ketika melihat sosok Dara yang berdiri sangat manis di depan pintu, berhadapan dengan orang yang membawa kotak makanan pembawa petaka itu. Kini, Dara memang telah jadi satu-satunya orang yang tak pernah luput dari pikirannya.
Kerinduan bisa begitu membuncah hanya dengan melihat sosoknya dari balik layar.
"Huufftt..." Pria itu melepas napas berat. Sambil meneguk minuman beralkohol yang dikemas dalam kaleng.
"Siapa perempuan ini. Pintar sekali dia menyamar. Bentuk tubuhnya juga sulit ditebak karena pakaiannya yang tebal" Nathan menyipitkan mata, berusaha mencari titik yang mungkin saja dapat memberi petunjuk.
"Apa orang ini ada hubungan dengan Dara? Atau.. Denganku?"
Menatap layar berjam-jam, bolak balik mengamati video, mencari referensi dan trik untuk mengidentifikasi gesture tubuh seseorang membuat matanya lelah. Rasa kantuk yang juga menyerang tiba-tiba tak dapat terelakkan. Nathan membenamkan wajah di atas meja. Di depan laptop yang masih menyala, pria itu terlelap secara tidak sengaja.
Menutup sementara penelitiannya malam ini. Sedikit berharap akan mendapat pencerahan dalam mimpi.
...***...
Nathan mendongakkan kepala tiba-tiba, terbangun dari tidur lelapnya semalaman. Dia terkejut oleh hal yang tak jelas, karena di ruangan itu dia hanya seorang diri. Matanya kembali menatap layar di depannya yang masih menyala. Ia benar-benar lelah hingga tak menyadari apa yang membuatnya bisa tertidur dalam kondisi seperti ini.
Sembari mengucek mata, Nathan tiba-tiba terfokus pada satu titik yang menyita perhatiannya. Dalam video yang di setel pada posisi pause tersebut, nampak jelas dalam penglihatannya sebuah sepatu yang digunakan wanita pengantar makanan itu.
Sneakers warna merah.
Deg!
Nathan bolak balik memperbesar ukuran gambar untuk memperjelas dugaannya. Lalu kembali memperkecil hingga beberapa kali step. Meyakinkan diri bahwa apa yang dilihatnya tidak ada kesalahan.
"Sepatu ini.." Gumamnya.
Ingatannya melayang pada momen yang telah terlewatkan beberapa lama. Tentang seorang wanita yang dengan sangat bersemangat mengabarkan padanya bahwa telah berhasil mendapat sepatu limited edition incarannya.
Sepatu sneakers dengan warna favoritnya. Wanita itu, adalah Monica!
.
.
.
Tok.. Tok.. Tok..
Nathan mengetuk gusar pintu rumah Monica. Setelah berhasil mengidentifikasi sosok wanita yang ada dalam rekaman video tersebut, Nathan langsung tancap gas tanpa berpikir lebih dari satu kali menuju tempat tinggal Monica. Berbekal lembaran foto sebagai bukti, tak ada lagi keraguan sedikitpun.
"Monica!" Teriak Nathan sambil terus mengetuk pintu itu tanpa jeda.
Cklek..
Tampak bi Nah yang tergopoh-gopoh membukakan pintu untuk nya. Sedikit bergidik ketika bertatap langsung dengan Nathan yang nampak di penuhi emosi.
"Bi Nah, mana Monica?"
"Eeh.. Non Monica mas? Ehh.. Ehmm.. Nona sepertinya sedang istirahat" Jawab bi Nah gemetar.
"Maaf bi, saya nggak bisa basa-basi lagi!" Pria itu menerobos masuk ke dalam, hingga membuat bi Nah hampir terdorong.
"Monica!" Panggil Nathan bagai orang kesetanan.
"Mas.. Mas Nathan maaf sekali, tapi nona sedang istirahat" Bi Nah mengiba.
"Saya harus bicara dengannya sekarang!"
"Bi Nah!" Panggil Monica yang ternyata sudah berada di ujung anak tangga. Menyaksikan asistennya yang berjuang menahan Nathan untuk masuk dan mungkin akan mengacak-acak seisi rumah.
"Biarkan. Saya sudah selesai istirahat. Bi Nah kembali saja ke dapur!" Perintahnya.
Asisten rumah tangga itu menuruti perintah sang nona dengan langsung berlalu dari hadapan Nathan yang dipenuhi kemurkaan. Sedangkan pria itu langsung menatap tajam dan melangkahkan kedua kaki mencapai ke arah Monica.
"Hei honey, ada apa sih bikin ribut dirumah orang?"
"Jangan lagi memanggilku dengan sebutan itu!" Ucap Nathan dengan nada yang mencapai setengah oktaf.
Mereka sudah saling beradu tatapan sekarang. Monica dapat melihat dengan jelas sorot mata lawannya yang berapi-api. Menandakan kemarahan yang teramat sangat.
"Calm down.." Selak Monica.
"Dosa apa yang telah kamu lakukan?!"
"What?"
"Mengakulah!"
"Aku nggak ngelakuin apa-apa Nath.." Monica mengelak tanpa dosa.
"Sneakers Nikey merah limited edition. Itu milikmu kan?!"
"Ya.. Itu milikku. Ada apa?"
"Apa yang kamu kirimkan pada istriku?"
Monica mengulas senyuman sinis di bibirnya.
"Tunggu.. Tunggu.. Jadi sekarang, kamu menuduhku melakukan sesuatu pada istrimu?"
"Itu bukan sekadar tuduhan!"
Nathan memperlihatkan selembar foto yang dibawanya pada Monica, tepat di depan wajahnya. Merasa sudah begitu muak dengan akting wanita itu.
"Ini kamu kan?!"
Monica berdecih, tak ada lagi sela baginya untuk mengelak.
"Aku nggak akan tanya kenapa kamu melakukannya. Tapi, sebagai sesama perempuan, apa kamu nggak punya hati?"
"Ha.. Ha.. Ha.." Wanita itu tertawa terbahak. "Kamu tanya apa aku nggak punya hati? Haduuh.. Nath.. Kan kamu sendiri yang sudah menghancurkan hatiku. Kenapa masih tanya sih"
"Ini masalah di antara kita. Kalau kamu mau balas dendam, lebih baik kamu sakiti aku! Jangan Dara! Apalagi anakku!" Hardik Nathan.
"Sudah kok! Aku sudah balas dendam denganmu. Ya walaupun nggak seberapa sih! Apa kamu nggak sadar, kalau yang sudah menjebloskan kamu ke penjara waktu itu adalah aku?"
Nathan terdiam.
"Semua itu adalah skenario ku. Nath, kamu itu bodoh atau apa? Bisa-bisanya masih percaya padaku"
"Kamu.."
"Iya. Aku, Monica yang jahat. Kamu mau bilang gitu kan? Udahlah.. Itu sih biasa aja. Toh kamu sekarang sudah bebas. Masih hidup, sehat, apa lagi? Semestinya nggak perlu heran lah kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini karena kamu sendiri juga sudah tau apa penyebabnya"
Nathan merasakan lidahnya yang mendadak kebas. Emosi yang kian memuncak malah membuatnya bisu.
"Kalau kamu tanya kenapa Dara juga kena imbasnya ya karena dia itu istri kamu. Ku rasa perlu sedikit diberi pelajaran. Aku masih berbaik hati lho, karena nggak melakukan apa-apa ke bunda kesayanganmu itu. Padahal bisa aja aku memberi sedikit 'hadiah' untuknya" Ucap Monica sambil memberi isyarat tanda kutip dengan kedua jari telunjuk nya.
Nathan kehilangan semua kesabarannya, walaupun lawannya adalah seorang wanita dia tak segan untuk berlaku kasar dengan menarik kerah baju Monica hingga membuat wajah mereka saling beradu.
"Jangan pernah libatkan ibuku dalam urusan kita! Aku nggak akan segan memberi pelajaran yang belum pernah kamu dapatkan sepanjang hidupmu jika tangan kotormu itu berani menyentuhnya!" Ucap Nathan dengan kalimatnya yang penuh penekanan. Sementara Monica hanya menampakkan ekspresi nyeleneh nya.
"Sekarang, aku punya alasan kuat untuk meninggalkanmu. Dengar! Hubungan kita, benar-benar sudah berakhir disini, saat ini, detik ini. Nggak ada lagi alasanku untuk mempertahankan iblis sepertimu"
Nathan melepaskan genggamannya pada kerah baju Monica dengan sedikit dorongan, membuat wanita itu tersentak hampir kehilangan keseimbangannya.
Hubungan yang sudah dirajut bertahun-tahun lamanya, pada akhirnya kandas. Apa yang sempat mereka perjuangkan berakhir sia-sia tak bersisa. Hanya ada kenangan buruk di akhir cerita.
Nathan dan Monica pernah mencoba, mengukir mimpi, berangan-angan tentang cinta yang abadi. Merencanakan kehidupan yang manis untuk menua bersama, menghabiskan sisa usia sambil terus berpegangan tangan. Bahkan terus berdua sampai langit ke tujuh.
Namun mereka tidak menyadari adanya takdir, yang pada akhirnya memporak-porandakan impian mereka, untuk terus bersama.