An Angel From Her

An Angel From Her
115# Kepergiannya



Terlihat dari balik masker oksigen yang ditautkan pada area hidung dan mulutnya, Dara nampak seperti hendak mengatakan sesuatu pada Nathan. Ia membuka mulut susah payah, bahkan belum ada sedikitpun suara yang keluar.


Sebegitu lemahnya ia, hingga berucap saja jadi hal yang sulit. Nathan menyadari itu dan berusaha untuk menerjemahkan sendiri apa yang akan Dara sampaikan.


"Apa yang ingin kamu katakan sayang?"


Dara membuka lagi mulutnya, kali ini terdengar suaranya yang serak. "A.. An.." Ia nampak mengumpulkan tenaga lagi. "An.. Ang.."


"Iya?" Tanggap Nathan dengan sabar.


"Ang-gel.." Ucap Dara akhirnya.


"An-gel?"


Dara mengangguk perlahan ketika Nathan mengerti ucapannya.


"Angel? Angel siapa?" Pria itu berpikir sejenak. "Oh.. Apa maksudmu, Angel itu nama untuk anak kita? Dia memang perempuan sayang, bagaimana kamu tau?"


Dara diam lagi, kali ini air matanya menyembul dari kedua pelupuk mata yang lemah itu. Sementara Nathan takjub atas feeling kuat istrinya. Dia baru saja sadar, dan sebelum kelahiran putri nya, ia tidak pernah tahu apa jenis kelaminnya. Dan kini, bagai seorang peramal, Dara mendadak mengetahui bahkan menyematkan nama yang indah untuk bayi kecil itu.


"Itu nama yang bagus. Angel artinya malaikat. Dia memang malaikat sayang, milik kita yang berharga." Ucap Nathan dengan sorot mata berbinar.


Pria itu mengecupi punggung tangan Dara dengan kebahagiaan yang membuncah di hatinya.


"Sayang.. Aku tau, mungkin akan sulit bagimu untuk bisa memaafkan ku. Perbuatan ku sudah kelewatan karena menuduh mu sembarangan." Nathan berucap tanpa menatap Dara.


"Tapi biar bagaimanapun, aku tetap akan meminta maaf padamu. Dara, maafkan aku, atas semua yang kulakukan padamu. Sungguh aku.." Sambungnya namun terhenti ketika matanya terpusat pada wajah Dara.


Kedua mata sayu itu masih terbuka namun tampak kaku. Nathan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Dara, tak ada respon.


"Ra..?" Terdengar suara alat monitor hemodinamik dan saturasi yang diletakkan tepat di samping ranjang rawat Dara mendadak hilang irama gelombang detak jantung.


"Dara!" Panggil Nathan yang mulai diliputi kepanikan sebab otaknya juga memikirkan hal yang bukan-bukan. Ia menggoyang sedikit tubuh Dara, berharap wanita itu mengerjap dan memberi respon. Meskipun nampak sia-sia.


"Dara.. Ra! Jawab aku Ra!"


Tanpa pikir panjang lagi ia langsung menghambur keluar ruangan meminta pertolongan dokter untuk mengecek kondisi istrinya. Kakinya melangkah dengan gesit tanpa sedikitpun takut terjatuh.


Ia menemukan dokter yang merawat Dara, memberi info selengkapnya, kemudian mengikuti langkah sang dokter dan satu perawat yang menyertainya menuju ruang ICU tempat Dara terbaring.


Nathan menunggu dengan cemas masih dalam ruangan sebab merasa tidak nyaman jika harus keluar dari sana. Nampak dokter mulai menempelkan defibrillator di atas dada istrinya. Membuat hentakan di tubuh lemahnya.


Satu kali, irama jantungnya belum berubah, dengan grafik yang masih menunjukkan garis horizontal di monitor. Dua kali, tetap sama. Hingga kali ketiga dan yang terakhir, alat itu benar-benar tak merubah apapun.


Dokter meletakkan kembali alat pacu jantung ke tempatnya semula. Nathan menghampiri bersamaan dengan rasa penasarannya sebab dua tenaga kesehatan itu terlihat lemah tanpa harap.


"Dokter?" Ucapnya menatap serius lawannya. "Istri saya?" Lanjutnya.


"Mohon maaf pak Nathan, kami kehilangan ibu Dara."


Bak tersambar petir Nathan merasa ini seperti mimpi. Ia mengusap wajahnya dan memberi tepukan di pipi, ucapan dokter ini, tak mungkin kan? Dara baru saja sadar, dia pasti hanya tertidur lagi dan alatnya mungkin sudah rusak.


"Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya pak."


"Nggak mungkin!"


Nathan menyingkirkan dengan kasar tubuh dokter yang berdiri di depannya, kemudian menghampiri Dara yang sudah terbujur kaku dengan matanya yang menutup. Napasnya benar-benar sudah berhenti. Masker oksigen juga sudah ditanggalkan. Wajahnya lebih pucat di banding tadi.


"Ra.. Kamu ketiduran lagi kan? Aku tau, kamu ini benar-benar ***** Ra. Nanti bangun ya sayang. Please.. Please.."


Ia menggenggam tangan halus itu, seakan tengah mentransfer energi untuknya. Namun sebanyak apapun usaha yang dilakukannya, Dara tidak pernah membuka matanya lagi.


"Ra.. Jangan pergi Ra! Dara!."


Nathan terus menggoyangkan tubuh Dara, sambil berharap bahwa ini hanya mimpi buruk dan sebentar lagi ia akan bangun dengan kenyataan bahwa Dara masih disini, bersamanya, untuk melanjutkan kisah mereka lagi bersama buah hati yang cantik.


Beberapa menit berlalu, Nathan mulai putus asa. Keringat menjejak di dahi, dan air matanya tumpah dengan sendirinya. Menyaksikan Dara yang telah terbujur kaku, bahkan kata maaf dari bibirnya belum juga diikrarkan.


Dia, si pemilik lesung pipi yang mempesona itu kini pergi dengan membawa kepedihan di akhir hidupnya. Mungkin saja ia belum memaafkannya, masih ada yang belum terselesaikan. Kenapa dia ingin pergi begitu cepat? Bahkan disaat bayinya belum merasakan sekalipun pelukan hangatnya.


"Daraa.. Hiks.. Hiks.." Nathan histeris dan membenamkan wajah di atas tubuh istrinya. "DARAAAAAA!!" Pekiknya memecah keheningan malam.


...***...


Dunia seakan berhenti, bumi kehilangan daya untuk berputar, dan mentari kehilangan cahaya untuk memberi kehidupan, seiring dengan kepergian Dara yang sungguh mengejutkan.


Nathan tak memercayai kenyataan di depan mata, terus menyangkalnya, menganggap Dara hanya tertidur dan akan kembali bangun sebentar lagi. Ia terus berada di sisinya, sambil beberapa kali mengajaknya berbicara walaupun itu semua sia-sia.


Keenan datang tidak lama setelah seorang kerabat seprofesi nya mengabarkan berita duka tersebut. Ia meluncur dengan cepat dari rumahnya dan begitu terguncang begitu tiba di hadapan Dara yang sudah terbujur kaku dengan Nathan di sampingnya.


Pria itu menghampiri adiknya yang rapuh, dengan tangannya yang juga bergetar ia menepuk lembut bahu Nathan.


"Nathan.."


"Kak.. Jangan berisik. Dara sedang tidur. Dia butuh istirahat."


Keenan tak kuasa lagi menahan tangisnya dan sesak yang mendadak menyerang hatinya sebab menyaksikan Nathan yang mulai berhalusinasi. Ia memeluknya dengan erat, mencoba untuk memberi ketenangan semampunya.


"Dara belum mati kak.. Kenapa kakak terlihat sedih begitu sih. Dara masih hidup. Dia nggak akan kemana-mana."


Keenan tak menjawab, ini adalah hari dimana ia merasa patah hati untuk yang kedua kalinya. Putus cinta tidak termasuk, karena lebih menyakitkan ditinggal mati dibanding ditinggal pergi tapi masih tetap berada dalam satu alam, dan menghirup oksigen yang sama.


Kepergian papa sewaktu mereka masih anak-anak sungguh yang paling membekas, menciptakan kepedihan dan sesak yang tidak mampu lagi di gambarkan dengan kata-kata. Kali ini, ketika orang yang masih di cintainya pergi untuk selamanya, ia merasa seakan kembali ke masa itu, saat dirinya berada dalam titik terendah dalam hidup.


Ia terisak tanpa merenggangkan sedikitpun dekapannya pada Nathan. Tak ingin membiarkan sang adik menanggung ini semua sendirian.


"Kak.. Kenapa? Kenapa Tuhan tega sekali padaku? Apa ini hukuman atas semua perbuatan ku?"


"Ssshh.. Sshh.." Desah Keenan mencoba untuk menenangkan Nathan.


"Dara.. Hiks.. Hiks.. Aarrrhhh!!..." Tangisnya pecah, Nathan tidak mampu lagi membendung, hidupnya seakan tidak berguna lagi tanpa kehadiran Dara di sisinya. Selain itu, bagaimana nasib putri mereka yang masih berjuang untuk bisa keluar dari ruang NICU dan menghirup udara dengan normal?